Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Gushar Pramudito

menembus batas masa lalu, masa kini dan masa depan

Keris Mpu Gandring (3)

OPINI | 10 June 2010 | 00:28 Dibaca: 375   Komentar: 5   0

Sepeninggal Tunggul Ametung, Ken Dedes menjadi seorang janda kembang. Rencana Ken Arok untuk memperistri seorang nawiswari atau ardana reswari yaitu wanita utama dengan tanda keluar cahaya dari rahimnya. Wanita yang akan melahirkan raja tanah jawa, wanita itu adalah Ken Dedes. Ken Arok tidak bisa melupakan peristiwa beberapa tahun yang lalu, saat Ken Dedes turun dari kereta, kainnya tersingkap sehingga cahaya kemuliaan memancar dari rahimnya. Cahaya keemasan itu lambang bakal lahirnya raja besar dari rahim tersebut.

Dengan terbunuhnya Tunggul Ametung satu halangan telah tersingkirkan. Kini tinggal menaklukkan hati Ken Dedes. Rupanya Ken Arok sangat ahli dalam mengatur strategi. Walaupun betapa inginnya ia segera memperistri Ken Dedes, tapi ia tidak gelap mata dan terburu-buru melamarnya. Hal utama sepeningal Tunggul Ametung yang ia lakukan adalah menduduki jabatan akuwu Tumapel yang kosong. Ken Arok adalah prajurit pengawal yang disegani karena keberanian dan kesaktiaannya. Sehingga ia bisa segera menduduki jabatan akuwu tersebut.

Setelah Ken Arok menduduki jabatan akuwu barulah ia mendekati Ken Dedes untuk diperistri. Rupanya semua yang menjadi kehendak Ken Arok kesampaian, Ken Dedes sang nawiswari bisa ia peristri, jabatan akuwu ia duduki, dan sebuah keris pusaka yang sakti buatan mpu Gandring ditangannya.
Saat diperistri Ken Arok, Ken Dedes sedang hamil tiga bulan dari suami pertamanya TunggulAmetung. Di kemudian hari anak dalam kandungan Ken Dedes itu lahir bayi laki-laki yang diberi nama Anusapati. Setelah diperistri Ken Arok, Ken Dedes melahirkan tiga anak laki-laki yaitu Mahesa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan satu anak perempuan yaitu Dewi Rimbu.

Ken Arok tidak puas hanya beristri Ken Dedes, maka ia kawin lagi dengan Ken Umang. Dari perkawinannya dengan Ken Umang Ken Arok mempunyai dua anak laki-laki yaitu Tohjaya dan Twan Wregola serta satu perempuan bernama Dewi Rambi. Jadi Ken Arok dari dua istri mempunyai lima anak kandung laki-laki, dua anak kandung perempuan dan satu anak tiri laki-laki.

Ken Arok terus berusaha mengapai cita-citanya menjadi penguasa tanah jawa, maka ia mulai memperluas wilayah Tumapel. Setelah memperluas wilayah Tumapel sampai hampir semua wilayah sebelah timur Gunung Kawi. Ekspansi berikutnya adalah sepanjang pesisir utara dari Surabaya sampai Pasuruhan. Saat itu di Kerajaan Kediri sedang terjadi ketidakpuasan para Brahmana terhadap raja yang berkuasa yaitu Sri Kertarajasa. Ken Arok melihat situasi itu dengan cerdik, mak ia memihak kepada para Brahmana yang teraniaya. Kemudian banyak Brahmana yang lari ke Tumapel minta perlindungan Ken Arok. Kedatangan para Brahmana semakin memperkuat dukungan kekuasaannya, karena kaum Brahmana diikuti oleh umatnya.

Melihat gelagat Ken Arok yang terus memperluas wilayah kekuasaannya Raja Kerajaan Kediri melihatnya sebagai ancaman. Maka dengan alasan melindungi dan menyembunyikan para Brahmana musuh Kerajaan Kediri, Sri Kertarajasa memerangi Ken Arok. Pertempuran demi pertempuran terjadi namun ternyata pasukan Ken Arok tidak mudah ditaklukkan. Puncak pertempuran terjadi pada tahun 122 di desa Ganter (sekitar Pujon) Ken Arok bisa mengalahkan dan membunuh Sri Kertarajasa sehingga runtuhlah Kerajaan Kediri.

Kemudian Ken Arok mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Singasari. Ken Arok dinobatkan menjadi raja pertama Singosari dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Kini tercapailah apa yang menjadi kehendak Ken Arok, memperistri nawiswari dan menjadi raja di tanah jawa.

Sibuk mengapai cita-cita menjadi raja dan memperluas kekuasaannya membuat Ken Arok tidak terlalu memperhatikan anak-anaknya. Terutama anak tirinya, Anusapati. Anusapati lebih banyak bermain dan berteman dengan orang-orang di luar istana. Salah satu teman Anusapati adalah Ki Pengalasan. Mereka berdua sering terlihat di arena sabung ayam maupun di tempat perjudian. Dari pergaulan itulah Anusapati mendengar desas-desus bahwa ayahnya bukanlah Ken Arok tapi Tunggul Ametung yang mati dibunuh oleh Kebo Ijo saat ia masih dalam kandungan.

Anusapati bertanya kepada ibunya, Ken Dedes tentang desas-desus yang ia dengar di luar tembok istana bahwa ia bukan anak Ken Arok tapi anak Tunggul Ametung. Tentu saja Ken Dedes tidak bisa berbohong atas kebenaran tersebut, selain itu Anusapati saat itu sudah dewasa. Ia berhak mengetahui siapa sebenarnya ayah kandungnya. Tetapi Ken Dedes masih ragu-ragu apakah benar Kebo Ijo yang membunuh ayahnya.

Anusapati sangat penasaran ingin tahu cerita selengkapnya tentang kematian Tunggul Ametung. Akan tetapi semua sumber di lingkup istana membenarkan bahwa Kebo Ijolah yang membunuh ayahnya dengan keris buatan mpu Gandring. Keris itu sangat ampuh, tetapi sampai saat ini tetap tidak bersarung sebagaimana ketika Ken Arok mengambilnya dari mpu Gandring. Saat ini keris tersebut disimpan di istana dan tidak banyak orang yang tahu tempatnya. Rasa penasaran Anusapati semakin menjadi karena sebagai pangeran yang tinggal di istana ia belum pernah melihat keris itu.

Karena tidak mendapat penjelasan dari orang-orang tua di istana, Anusapati dan sahabatnya Ki Pengalasan mencari informasi tentang peristiwa terbunuhnya Tunggul Ametung di lingkungan penjudi dan pencuri, dimana banyak diantara mereka yang tahu sejarah perjalanan hidup Ken Arok. Akhirnya dari berita dan keterangan yang diperoleh Anusapati mengetahui bahwa yang membunuh Tunggul Ametung sebenarnya Ken Arok bukan Kebo Ijo. Berita itu kemudian disampaikan kepada Ken Dedes ibunya.

Sebenarnya Ken Dedes masih ragu-ragu dengan berita tersebut, tapi Anusapati berhasil menyakinkan ibunya bahwa Ken Aroklah yang membunuh Tunggul Ametung dengan keris mpu Gandring. Kemudian keris itu disimpan sangat rapat oleh Ken Arok, sehingga tidak ada orang yang tahu dimana keris itu disimpan. Jika tidak ada rahasia terhadap keris itu pastilah disimpan bersama dengan pusaka lainnya. Setelah Ken Dedes bisa diyakinkan bahwa Tunggul Ametung dibunuh oleh Ken Arok. Anusapati minta ibunya mencari tahu dimana keris mpu Gandring disimpan oleh Ken Arok.

Tidak sulit bagi Ken Dedes mengorek keterangan Ken Arok dimana menyimpan keris mpu Gandring itu. Memang Ken Arok punya istri muda Ken Umang tapi Ken Dedeslah wanita pujaan hatinya. Ternyata keris itu disimpan diperaduan Ken Arok. Anusapati minta ibunya untuk mengambilkan keris tersebut. Betapa takjub Anusapati melihat pamor keris tersebut. Kemudian ia menemui sahabatnya Ki Pengalasan untuk menyusun strategi balas dendam atas kematian ayahnya, Tunggul Ametung. Dengan imbalan yang mengiurkan Ki Pengalasan menyanggupi permintaan Anusapati sahabatnya.

Tahun 1247, hari Kamis Pon, minggu Landhep. Saat senjakala dimana matahari kembali ke peraduan. Orang-orang mulai menyalakan lampu minyak. Sang Amurwabumi sedang bersantap, tiba-tiba Ki Pengalasan menyelinap masuk dan menusuk dari belakang dengan keris mpu Gandring. Ken Arok meninggal seketika dengan keris menancap di punggungnya, maka gegerlah seisi istana.

Anusapati yang berada tidak jauh dari tempat tersebut segera mencabut keris di punggung Ken Arok kemudian lari mengejar sang penyelinap yang belum jauh berlari. Saat Ki Pengalasan hendak melompat pagar istana untuk melarikan diri, dengan cekatan Anusapati menusuknya dengan keris mpu Gandring. Ki Pengalasan meninggal seketika. Kutukan mpu Gandring terus bekerja, empat nyawa sudah melayang di ujung keris buatannya.

Bersambung…….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 13 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 13 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 20 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: