Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muhibbuddin Abdulmuid Yassin Marthabi

Saya manusia biasa yang makan dan minum…bisa lapar dan haus..yang bisa senyum dan sakit…bisa gembira selengkapnya

Islam, Tragedy 11 September 2001 dan Hiroshima Nagasaki

OPINI | 24 June 2010 | 21:26 Dibaca: 1105   Komentar: 29   2

Tanpa mengurangi rasa duka cita yang mendalam atas kejadian tanggal 11 September 2001 itu, label Teroris yang dikenakan kepada Umat Islam, memicu perseturuan baru dan sesungguhnya telah menciptakan medan “pertempuran” baru, yaitu arena perdebatan dan paradigma pemikiran. Stigma paradigma tersebut menjadi kian tajam dan menyulut pembalikan kejahatan kemanusiaan kepada pihak Barat sendiri. Lantas muncul satu opini umum, bukan hanya dari umat Islam, bahwa tragedy 11 September 2001 yang dianggap sebagai kejahatan “terbesar” bagi rakyat Amerika, ternyata masih jauh bobot kejahatannya dibandingkan dengan jumlah korban dan kehancuran Nagasaki dan Hiroshima pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, yang jelas-jelas sengaja juga dilakukan oleh orang Amerika. Atas kejadian tersebut umat Islam di seluruh dunia tidak mengutuk Amerika dan tidak juga menyebut Amerika Serikat sebagai Teroris.

Tanggal 11 September 2001 merupakan hari sangat kelabu dan menyakitkan bagi rakyat Amerika dan beberapa negara lainnya, termasuk Indonesia. Saat itu terjadi peristiwa berdarah, dua pesawat terbang telah dibelokkan hala tujunya dan ditabrakkan ke menara kembar WTC di New York. Dua menara tersebut seketika luluh lantak dan lumat merontok ke bumi. Hampir 3000 nyawa melayang dalam hitungan menit.

Ancaman Senjata Nuklir masih ada

Ancaman Senjata Nuklir masih ada

Dalam pengusutannya, ternyata dibuktikan bahwa semua pelakunya adalah beragama Islam. Maka tersentaklah dunia, yang kemudian menjadi sebab dari banyaknya opini dunia yang mengarah kepada keterlibatan umat Islam seluruhnya dalam hari kelabu tersebut.  Berbagai macam tindakan provokasi dan pengungkapan kebencian ditujukan kepada beberapa umat Islam di Amerika, Inggris dan negara-negara lainnya. Bukan hanya berupa tulisan dalam media, tetapi tidakan kekerasan juga.

Sekilas periistiwa itu menyulut api permusuhan dan kebencian kepada Islam dan umat Islam. Umat Islam menjadi bahan kutukan dan tercipta suatu suasana aliran baru, Islamphobia-isme. Umat Islam dituduh sudah menyusun rencana jahat dan melaksanakan kejahatan yang menodai nilai kemanusiaan. Hampir semua media Barat, menuding Islam sebagai penyebabnya. Tak ayal lagi, umat Islam di beberapa negara Barat menerima perilaku berbeda dan beberapa kejadian kekerasan dari umat lainnya.

Tidak hanya itu, label Terorist juga diterbitkan dan “dipatenkan” sebagai hak milik umat Islam. Alangkah ironisnya, pelakunya yang hanya beberapa orang, tapi sudah dibuat semacam konklusi akhir, bahwa 1,5 billion umat Islam di dunia, “terlibat” di dalamnya. Tidak hanya itu, negara yang dianggap melindungi tokoh utama dalam tragedy itu, Osama Bin Laden serta pemerintah Iraq, menerima “pembalasan”nya. Afghanistan dan Iraq dijatuhi bom tertubi-tubi, hingga deritanya masih terasa rakyat di kedua negara tersebut hingga  sekarang. Stempel “kekerasan” ditempelkan begitu saja di tubuh umat Islam, sehingga semua tindakan kejahatan dan kerusuhan selalu dikaitkan dengan umat Islam. Memang tidak semua umat Islam terlibat dalam kejahatan itu, tetapi orang yang terlibat dalam kejadian tersebut adalah semuanya umat Islam, begitulah alasannya. Maka pantas dan tepat jika umat Islam mendapat sorotan tajam dan “kutukan” dari umat-umat agama lainnya serta terutama keluarga korban.

Nuklir di Nagasaki dan Hiroshima

Sebagai manusia yang beragama Islam, penulis sangat tidak rela umat Islam diberi label sebagai Teroris dan memeluk agama Teroris. Tanpa mengurangi rasa duka cita yang mendalam atas kejadian tanggal 11 September 2001 itu, label Teroris yang dikenakan kepada Umat Islam, memicu perseturuan baru dan sesungguhnya telah menciptakan medan “pertempuran” baru, yaitu arena perdebatan dan paradigma pemikiran. Stigma paradigma tersebut menjadi kian tajam dan menyulut pembalikan kejahatan kemanusiaan kepada pihak Barat sendiri. Lantas muncul satu opini umum, bukan hanya dari umat Islam, bahwa tragedy 11 September 2001 yang dianggap sebagai kejahatan “terbesar” bagi rakyat Amerika, ternyata masih jauh bobot kejahatannya dibandingkan dengan jumlah korban dan kehancuran Nagasaki dan Hiroshima pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, yang jelas-jelas sengaja juga dilakukan oleh orang Amerika. Atas kejadian tersebut umat Islam di seluruh dunia tidak mengutuk Amerika dan tidak juga menyebut Amerika Serikat sebagai Teroris.  Harga yang harus dibayar sangat besar jika sampai melabelkan Teroris kepada umat Islam. Maka jalan yang tepat dan bermartabat adalah introspeksi dan tidak menyalahkan serta menunjuk tangan ke bangsa dan umat lainnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: