Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Laurentia

Seorang pekerja yg ingin belajar

Belajar dari Elizabeth I

OPINI | 26 August 2010 | 05:42 Dibaca: 747   Komentar: 1   0

Salah satu tokoh sejarah yang saya kagumi adalah Ratu Elizabeth I dari Inggris. Beliau adalah seorang ratu yang membawa Inggris pada kejayaan. Beliau lahir dari keluarga kerajaan yang hancur sehancur-hancurnya. Lha bagaimana tidak ancur, wong bapaknya sendiri yang menghukum mati sang ibunda.Tapi dari pengalaman pahit tersebut tidak muncul seorang wanita cengeng yang terpuruk dalam kepahitan. Justru muncul seorang pemimpin luar biasa yang mencintai rakyatnya dan mengesampingkan kepentingan dan perasaan pribadinya.

Elizabeth I pernah mengalami pukulan hebat saat sepupunya Mary Stuart kedapatan bersekongkol merencanakan pembunuhan kepadanya dengan tujuan merebut tahta Elizabet. Mary Stuart merasa dirinya lebih berhak atas tahta tersebut karena dirinya didukung separuh rakyat Inggris yang beragama Katolik Roma dan juga mendapat angin dari Raja Philip dari Spanyol yang juga Katolik fanatik.Semantara Elizabeth sendiri seorang Protestan yang masih merupakan agama minoritas di Eropa. Saat penadilan Inggris memutuskan hukuman mati untuk Mary Stuart, Elizabeth merasa keberatan karena ia merasa hukuman itu tidak pantas bagi seorang keturunan raja dan bagaimanapun juga Mary adalah sepupunya. Tapi dia sadar hukum adalah hukum dan harus dijalankan siapapun pelanggarnya. Tidak boleh ada pengampunan karena apa yang dilakukan Mary adalah tindakan kudeta dan penghianatan terhadap ratu sebagai simbol negara.

Pukulan kedua datang dari pria yang dicintainya yaitu Sir William Raleigh. Sang pria lebih memilih wanita lain yang lebih muda dan segar ketimbang sang ratu. Kalau saya jadi Elizabeth mungkin sudah saya pites tuh William Raleigh, lha kok berani-beraninya bikin ratu patah hati.Tapi Elizabeth mengampuninya dan mendapat bantuan dari Raleigh saat Inggris diserang Raja Philip dari Spanyol yang ngamuk karena sekutunya Mary dihukum mati. Elizabeth lebih mengedepankan kepentingan bangsanya yang membutuhkan keahlian Raleigh untuk menghadapi serangan Spanyol.

Seberapa banyak pemimpin seperti Elizabeth sekarang ini. Yang sadar ada kepentingan yang lebih tinggi dari kepentingan dan perasaan pribadinya? Yang menjalankan hukum dengan tegas walau hatinya mungkin menolak? Yang mau mengampuni jika itu baik untuk bangsanya? Tidak ada istilah pengurangan hukuman atau remisi untuk Mar Stuart dengan alasan kesalahan administrasi misalnya (Lho kok jadi nyindir seseorang ya? hehehe) Yang tidak membiarkan perasaan pribadinya mempengaruhi keputusan politisnya demi kepentingan bangsanya? Dan itu semua dilakukan oleh seorang jomblowati sejati seumur hidup dari keluarga broken home kelas berat. Lebih mengagumkan lagi wanita itu dari abad pertengahan.Di Indonesia saja beberapa tahun lalu saat ada calon presiden wanita banyak pihak yang berkotek tentang Haramnya seoarng wanita menjadi pemimpin. Betapa kita tertinggal terlalu jauh….

Surabaya , 26 Agustus

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Jangan Bakar Jembatan …

Bonekpalsu | 7 jam lalu

Kios Pasar Pon Diperjual Belikan Oknum …

Fajar Agustyono | 7 jam lalu

Kuda-kuda yang Terluka …

Feri Sapran | 8 jam lalu

Dari Desa untuk Bangsa: Sinergi Kepemimpinan …

Mamang Haerudin | 9 jam lalu

BBM Naik, Pelayanan SPBU Pertamina …

Jonatan Sara | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: