Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Petrik Matanasi

Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan. Kuliah sejarah 7 tahun di UNY Jogja. Kini selengkapnya

Mitos Yonker di KNIL

OPINI | 29 August 2010 | 08:48 Dibaca: 2121   Komentar: 0   0

Ternyata tentara memiliki mitosnya sendiri. Tidak jarang mitos itu menjadi sebuah jimat dalam pertempuran bagi para prajurit bawahan. Mitos akan membuat mereka percaya diri, juga bisa membuat mereka tidak berdaya dalam pertempuran. Begitu juga para serdadu KNIL, khususnya dari Ambon, memiliki mitos yang terangkat dari legenda seorang prajurit legendaris zaman VOC. Tersebutlah seorang Ahmad alias Yonker. Nama paling belakang adalah nama yang merujuk pada anak-anak bangsawan yang biasanya menjadi perwira militer di Eropa sana.

Yonker adalah nama besar dalam kalangan KNIL Ambon. Kapitan Yonker adalah legenda sekaligus mitos bagi banyak prajurit KNIL selama beberapa abad, hingga lenyapnya KNIL dari muka bumi. Peran kapitan Yonker terhadap Belanda sangatlah besar.

Yongker terlahir dengan nama Ahmad anak dari Kawasa seorang Sangaji (bupati) yang berkuasa di pulau Manipa—menurut dokumen-dokumen VOC. Ketika kawasa ditangkap oleh VOC, putra Kawasa, Ahmad—yang lalu dipanggil Yonker oleh orang-orang Belanda—dibawa oleh VOC ke Batavia pada tahun 1655. Istilah Sangaji yang sama dengan bangsawan, sebagai anak bangsawan Ahmad layak disebut Jonkher seperti anak laki-laki bangsawan Eropa yang biasanya menjadi perwira militer. Sebagai militer kolonial, Yonker pernah dikirim melakukan ekspedisi militer pada abad XVII, tidak hanya sebatas Jawa tetapi juga ke Sumatra, Sulawesi bahkan ke India Selatan.

Ia menerima banyak hadiah dari pemerintah kolonial atas keberanian, kepemimpinan dan keterampilan militernya dalam peperangan. Ia mencapai pangkat kapten dalam dinas militer Belanda, VOC. Sebutannya adalah ‘Kapiten Yonker’. Kehebatan Yonker ini menginspirasi bahkan membuat sebuah mitos Yonker dikalangan serdau Ambon dimasa depan. Banyak yang percaya bahwa Yonker tidak pernah mati, bersama istrinya dia menjadi sepasang merpati putih. Serdadu KNIL Ambon ada yang percaya bahwa bila ada sepasang merpati putih melintasi pasukan, maka kemenangan ada ditangan mereka dan tidak akan ada korban dipihak mereka.

Yonker sudah menjadi semacam dewa pelindung bagi mereka. Banyak hal yang lalu terkuak tentang Yonker. Kendati dipuja kalngan KNIL Ambon yang Kristen, Yonker bukan seorang Kristen melainkan masih Islam sepererti keluarganya di Maluku dulu. Dongeng pembaptisannya dikalangan serdadu KNIL terpelihara. Yonker selam hidupnya menikah dengan wanita asal Sulawesi Selatan. Kematian Yonker sendiri adalah karena orang-orang Belanda mengkhianatinya. Oleh perwira Belanda dia dituduh perkhianat. Mungkin saja perwira Belanda itu cemburu atas kharisma Yonker.

Hadiah tanah yang didapatnya ada di Jakarta Utara—sekarang daerah itu dinamakan Pejongkoran. Pemberontakan di Ambon terakhir kali terjadi dalam skala besar pada zaman Pattimura. Setelah itu tidak ada cerita lagi. Pada abad XIX, eksploitasi atas Ambon tidak semassif masa-masa sebelumnya. Rempah-rempah dari Maluku nyaris dilupakan orang Belanda sedang eksploitasi masa itu sudah beralih ke pulau Jawa lalu pulau Sumatra yang dimulai pada akhir abad XIX. Pertimbangan ini menjadi kebijakan pemerintah kolonial dalam merekrut serdadu kolonialnya dengan mengambil orang-orang Ambon.

Perekrutan orang-orang Ambon dalam KNIL selama seabad telah membuat sebagian orang Ambon kerap disalahkan sejarah Indonesia sebagai antek kolonial. Sebenarnya tidak semua orang Ambon suka menjadi serdadu KNIL. Terkadang, salah kaprah dalam sejarah Indonesia terjadi ketika banyak yang mengindentifikasikan KNIL dengan Ambon. Banyak yang berpikir bahwa sebagian terbesar komposisi pasukan KNIL adalah serdadu-serdadu dari Ambon. Secara jumlah serdadu Ambon bukan penyumbang terbanyak dalam di KNIL. ORang Jawa justru lebih banyak. Hanya saja serdadu Ambon mendapat fasilitas hidup lebih baik di tangsi bersama serdadu dari Minahasa, Menado dan Timor. Sedang orang-orang Jawa dan suku lainnya tidak mendapat hal sama dengan serdadu Ambon.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | 1 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 9 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 13 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: