Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muthofarhadi

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus puluhan bahkan ratusan selengkapnya

September Kelabu

OPINI | 05 September 2010 | 12:54 Dibaca: 698   Komentar: 4   -1

Cerita itu begitu membekas dalam pikiranku. Jenderal Ahmad Yani, dan jenderal-jenderal lainnya, itu dibunuh oleh anak buah Kartosuwiryo. Kenapa bisa begitu? tanya saya, karena setelah Kartosuwiryo dan anak buahnya menyerahkan diri, akhirnya mereka dieksekusi mati juga.

Cerita itu mungkin tidak pernah ditulis, dalam sejarah perjuangan, atau sejarah-sejarah lain yang ada di Indonesia.

Cerita tersebut membekas, karena dituturkan, sedangkan kebanyakan sejarah, adalah dibaca. Seperti kejadian G/30-S/PKI adalah sejarah yang dibaca. Namun sejarah G/30-S/PKI juga dilihat di TV namun sedikit yang dituturkan.

Cerita yang dituturkan kepada begitu membekas, bahkan sampai mendidihkan darah. Namun itu cukuplah untuk diambul pelajarannya.

September kelabu itu bermula, dari kejadian dikediaman para Jenderal AD, dini hari tanggal 1 Oktober rumah kediaman beberapa Jenderal AD disatroni pasukan tak dikenal, yang berpakaian tentara dari resimen Cakrabirawa (sekarang Paspampres).

Kediaman A.H. Nasution, dengan menyisakan bekas-bekas tembakan dan salah satu tembakan mengenai Ade Irma Suryani Nasution (6 tahun). Kediaman Letjend. Ahmad Yani dengan tembakan-tembakan mengenai tubuhnya dan menyisakan darah di lantai. Kediaman DI Panjaitan, juga hampir sama dengan dikediaman Ahmad Yani. Beberapa yang lain adalah Sutoyo Siswomiharjo, S. Parman, MT Haryono, ajudan AH Nasution Lettu Piere Tendean, dan dua orang pamen di Yogyakarta Kolonel Katamso dan Letkol Sugiyono. Ajudan Menteri Leimena Brigadir Karel Sasuitubun juga mati dalam peristiwa September kelabu dinihari di tanggal 1 Oktober.

Peristiwa September kelabu ini tidak diketahui kapan bermulanya, karena itu salah satu saja yang menjadi permulaan konflik di RI adalah ide untuk berkonfrontasi dengan Malaysia.

Konfrontasi itu berawal dari kemerdekaan yang diberikan oleh Inggris kepada Malaysia. Kemerdekaan itu menjadikan Malaysia, sebagai negara boneka Inggris, yang masih identik dengan Negara Imperialis dan Kolonialis. Inggris adalah negara di Eropa yang sudah menjajah negara Amerika, Australia, dan Malaysia, sehingga bendera-bendera mereka mirip.

Inggris, meskipun sudah memberikan kemerdekaan kepada wilayah jajahannya, namun masih memberikan ketakutan bagi Indonesia. Kenyataannya, pada masa membela kemerdekaan Jenderal Mouler dari Inggris yang memimpin Sekutu dan mendarat di Surabaya menjadi pertempuran yang dikenal dengan peristiwa 10 November.

Kekawatiran akan terganggunya kemerdekaan Indonesia menjadikan RI memilih untuk menggunakan cara peperangan untuk menundukkan Imperialisme termasuk di Malaysia.

Beberapa pasukan dikirim ke Malaysia, namun tidak ada kekompakan pada jenderal-jenderal TNI khususnya AD. Sehingga banyak pasukan yang sudah sampai di Malaysia (Marinir/ALRI) mati dalam gantungan, dan terjadi kekalahan TNI di perbatasan Kalimantan karena kurangnya bantuan.

Peristiwa kekalahan di Malaysia menyebabkan rakyat non TNI yang tergabung dalam PKI mengusulkan angkatan ke-5 untuk membantu mengganyang Malaysia.

Akhirnya bukan solusi untuk mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dan memperoleh kemenangan, namun justru bergolak menjadi ketidak nyamanan di dalam negeri.

Isu-isu politik mulai merebak dan dengan gencar semua elemen partai baik itu sipil maupun militer terbawa arus politik.

Manusia Indonesia waktu itu, dapat dipetakan dalam afiliasi politiknya, dan pada saat itu tidak ada politik semu, semua menunjukkan eksistensinya.

Semua berusaha merebut hati rakyat khususnya merebut hati Presiden RI agar ide-idenya disetujui.

Dan akhirnya pada September tanggal 30 tahun 1965 terjadilah penculikan para Jenderal yang sebagian besar adalah Jenderal-jenderal yang tidak setuju konfrontasi dengan Malaysia dan juga menolak angkatan ke-5.

Di satu sisi para Jenderal itu adalah aset TNI khususnya AD, namun di sisi lain mereka menolak ide Presiden Soekarno untuk berkonfrontasi dengan Malaysia. Di sisi lain mereka secara politis telah berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia yang mengusulkan Angkatan ke-5. Termasuk Letnan Dua Piere Tendean yang menjadi mata-mata TNI di Malaysia adalah korban G-30-S/PKI.

Namun dibalik itu ada juga kekecewaan yang pernah ada pada tubuh TNI meskipun tidak semuanya, pada para Jenderal yang diculik itu. Misalnya kepada AH Nasution, para tentara bekas PRRI/Permesta pernah kecewa dengan keputusannya AH Nasution menggempur para pejuang PRRI dengan pasukan yang memusuhi komunis, yang mana pasukan PRRI memusuhi komunis. Kepada Ahmad Yani, kekecewaan timbul dari anak buah Kartosuwiryo yang sudah turun gunung dan berhasil kembali kepada TNI, mereka tidak mendapati Kartosuwiryo, bahkan sampai kepada mereka berita bahwa Kartosuwiryo setelah turun gunung yang disambut oleh Letkol. Ahmad Yani kemudian dieksekusi mati.

Begitulah dan begitulah, saya sendiri tidak tahu hanya mendengar dan mebaca, bahkan yang dilihat di Filmpun tidak bisa menjadi bahan referensi, bahwa Jenderal-Jenderal itu dibunuh oleh pasukan eks Kartosuwiryo, wallahua’alamubishowab

Allah swt yang memisahkan yang benar dengan yang salah, dan Allah swt tidak akan salah menempatkan yang di surga dan di neraka. Semoga kita bisa menjadi hamba-hamba Allah swt yang taqwa. aamiin.

Tags: g-30/s/pki

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 16 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 21 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 22 November 2014 23:42

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 November 2014 21:41

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Pomegranate, Buah Legenda Penumpas Penyakit …

Dara Nadira Daulay | 7 jam lalu

Jumlah Kasus HIV/AIDS di Kota Magelang, …

Syaiful W. Harahap | 8 jam lalu

9 Mitos Perihal Jerawat di Muka …

Tabloid Cantik | 8 jam lalu

Jokowi Siap Tak Populer, Produser Tak Siap …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Tigaratus Guru Non-PNS di Gunungkidul Belum …

Bambang Wahyu Widay... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: