Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Godefridus

Aku warga negara Indonesia, yang mencintai dan bangga terhadap negaraku.

Apa yang Dibanggakan dari Bangsa dan Negara Kita?

OPINI | 24 September 2010 | 14:47 Dibaca: 144   Komentar: 2   2

Segelintir saja kamu yang di masa lalu

Datang, duduk, dan memberikan gagasan

Katanya, kamu adalah utusan dari ribuan rakyat

Kepalamu dipenuhi dengan harapan dan visi mereka tentang Bangsa dan Negara ini

Tetapi benarkah kamu mewakili ribuan rakyat tersebut?

Jangan-jangan Bangsa dan Negara ini hanya ide dan visi kalian segelintir,

yang beruntung mendapat pendidikan yang baik pada jamanmu.

Aku meragu dan menggugat seperti itu karena untuk sekarang kesepakatan yang kamu buat ternyata tidak disetujui semua.

Kau Soepomo tak menghendaki pembentukan Negara Islam, tetapi visi dan cita-cita Islam bisa diterapkan di Bangsa dan Negara yang akan lahir, yang kamu bidani.

Maksudmu baik tetapi sekarang itu disalah tafsir….

Kau juga Soekarno tidak menghendaki pembentukan Negara Islam karena sadar akan keanekaragaman suku, bangsa, budaya Negara Indonesia ini.

Apakah Kau tidak pernah membayangkan bahwa generasi-generasi sekarang masih mau membentuk Negara Republik Maluku Selatan, dan Negara Papua Merdeka, Negara Aceh yang berfondasikan Islamisme?

Untuk sementara memang spirit mereka dapat diredam, tetapi ingat itu belum mati….

Semangat mereka akan kuat jauh berlipat-lipat daripada sebelumnya jika keadilan tidak ada di Negeri ini….

Aku generasi muda menangis dan menangis. Aku tidak lagi menemukan apa pun yang kubanggakan dari bangsa dan Negara ini. Hanya kisah dan kisah tentang perendahan martabat manusia; Hanya kisah dan kisah tentang manipulasi hukum; hanya kisah dan kisah jumlah rakyat miskin yang semakin bertambah; hanya kisah dan kisah tentang saudara-saudari kita yang tidak digaji tetapi malah disiksa, diperkosa, direndahkan martabatnya oleh majikannya di perantauan negara seberang.

Almarhum Hari Russli pernah kita hukum karena memplesetkan lagu Garuda Pancasila: “ayo maju-maju” diplesetkan “tidak maju-maju.’ Aku masih terlalu kecil saat ia dihukum. Andaikan aku sudah besar saat itu, aku ingin bersamanya mempertanggungjawabkan perbuatannya dan bahkan siap berhadapan dengan pengadil. Rusli tentu tidak ingin merendahkan Pancasila. Tetapi ketimpangan antara idealisme dan kenyataanlah yang membuat dia marah. Dia marah karena para pejabat hanya memanfaatkan rakyat. Rakyat diperlukan saat kampanye. Setelah berhasil duduk di kursi pemerintahan dan perwakilan kebutuhan dan kepentingan rakyat dilupakan.

Aku marah dan marah terhadap kamu sekalian yang digaji oleh uang rakyat tetapi tidak bekerja dengan baik. Anda-anda diupahi dengan mahal tetapi kinerja Anda tidak membawa kemaslahatan bagi banyak orang.

Kami yang bekerja di sektor swasta sesungguhnya iri. Jujur kami iri. Waktu kerja kami panjang. Hasil produksi kami tinggi. Tetapi gaji kami sangat kecil. Kami tidak dapat memberikan kualitas kehidupan bagi keluarga kami.

Kamu yang duduk untuk mengatur kebijakan publik….Mengapa kamu tidak mengatur UMR yang adil? Mengapa pula kamu menyimpan otoritasmu untuk menekan majikan yang tidak tahu diri dan serakah? Ataukah kamu sekalian sudah disuap?

Tolong tanggapi seruan kami!!!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Baduy, Eksotisme Peradaban Ke XV yang Masih …

Ulul Rosyad | | 20 December 2014 | 23:21

Batita Bisa Belajar Bahasa Asing, …

Giri Lumakto | | 21 December 2014 | 00:34

Penulis Kok Dekil, Sih? …

Benny Rhamdani | | 20 December 2014 | 13:51

Bikin Pasar Apung di Pesing, Kenapa Tidak? …

Rahab Ganendra 2 | | 20 December 2014 | 20:04

Real Madrid Lengkapi Koleksi Gelar 2014 …

Choirul Huda | | 21 December 2014 | 04:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 22 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 24 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 20 December 2014 09:14

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 December 2014 08:49

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 20 December 2014 07:59


Subscribe and Follow Kompasiana: