Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Iden Wildensyah

Bertualang, menulis, dan percaya kalau benih kebaikan itu akan menghasilkan buah kebaikan http://idenide.blogspot.com/ follow me @idenide selengkapnya

Panon Hideung

OPINI | 21 October 2010 | 02:11 Dibaca: 3120   Komentar: 22   5

Gedung Sate (mahanagari.multiply.com)

Gedung Sate (mahanagari.multiply.com)

Kisah Gadis Sunda Yang Cantik Jelita

Panon hideung berarti mata yang hitam, tapi bukan berarti semua bolanya matanya hitam tak ada putihnya. Panon hideung menunjukkan mata yang cantik. Panon hideung direfresentasikan sebagai gadis sunda yang cantik jelita. Pernah mendengar lirik lagu Panon Hideung? di lagu ini, digambarkan bagaimana sosok cantik jelita gadis sunda itu. Lirik lagu itu seperti ini,

Panon hideung pipi koneng [Mata hitam pipi kuning]
Irung mancung Putri Bandung [Hidung mancung putri Bandung]
Putri saha di mana bumina [Anak siapa di mana rumahnya]
Abbi reseup kaanjeunna [Aku suka padanya]
Siang wengi kaimpi-impi [Siang malam terimpi-impi]
Hate abdi sara redih [Hatiku merasa sedih]
Teuemut dahar [Lupa makan]
Teuemut nginum [Lupa minum]
Emut kanu geulis [Ingat pada si cantik]
Panon Hideung [Mata hitam]

Dalam bataviase bahkan panon hideung dituliskan “Panon Hideung, “lagu rakyat Sunda”, lumayan populer di dunia. Tampil asli di film Eastern Promises karya David Cronenberg (2007)), dibawakan gitaris Django Reinhardt (2005) dalam aransemen jazz, atau dalam dentingan bouzouki yang begitu memukau dipetik pakarnya, John Stamatiou Sporos, dan banyak lagi”.

Miss Eulis si Panon Hideung (bataviase.wordpress.com)

Miss Eulis si Panon Hideung (bataviase.wordpress.com)

Adalah Ismail Marzuki, komposer nasional asal Betawi, yang menulis lirik di atas sekitar tahun 1936-1937. Saat itu, Ismail Marzuki berjumpa dan jatuh cinta pada mojang Parahyangan yang sangat cantik bernama Miss Eulis. Miss Eulis adalah bintang radio, penyanyi kroncong berdarah Sunda dan Arab. Tampaknya Miss Eulis memang bermata indah, hidung mancung dan berkulit kuning langsat. Ochi Chyornye pun digubah Ma’ing sesuai dengan suasana hatinya saat itu.

Hati wanita mana yang tak luluh. Ismail Marzuki pun berhasil menikahi Miss Eulis pada 1940, dan memberinya nama Eulis Zuraidah [sumber: tulisan Barlan Setiadijaya, Surianto Kartaatmadja, Remy Silado dalam Bataviase]

Panon Hideung Dalam Catatan Pram

Ada sesuatu yang lain dalam buku Pram, terutama ketika mengikuti perjalanan dari Anyer ke Panarukan. Dalam buku itu selain perjalanan menyusur pulau Jawa ada yang menarik lainnya yaitu saat melintasi Kota Bandung. Menarik sekali membaca sedikit penjelasan Pramoedya Ananta Toer tentang Panon Hideung dalam bukunya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Berikut kutipan tentang panon hideung itu:

”Gelar Bandung sebagai Parijs van Java jelas menerangkan, bahwa sudah sejak semula tempat ini jadi tujuan wisata. Maka wajar-wajar saja bila lahir lagu puji-pujian yang dipersembahkan pada ”Mojang Priangan” pada umumnya dan gadis Bandung pada khususnya, sebagaimana dituangkan dalam lagu melankolis ”Panon Hideung” alias ”Mata Hitam”. Berpuluh tahun lagu ini berkumandang di darat, laut, dan udara. Dalam tahanan di penjara Bukitduri, waktu aku belajar lagu-lagu Eropa dan Amerika dari seorang perwira TNI, juga tahanan, untuk pertama kali kudengar dari mulutnya, bahwa ”Panon Hideung” bukan lagu asli Sunda; itu nyanyian orang-orang Rusia Putih emigran setelah Revolusi Bolshevik. Kemudian ia menyanyikan dalam terjemahan Inggris berjudul ”Far over the Sea”. Dalam pembuangan di pulau Buru, 1972, semua organisator buruh sekaligus peserta pendiri Pertamina, R.P.R. Situmeang, dengan alasan apa aku tak pernah tanyakan, memberi sanggahan: yang benar bisa sebaliknya, ”Far over the Sea” boleh jadi mengambil dari ”Panon Hideung, melodinya”. Sebenarnya tidak sulit untuk melacak mana yang lebih tua. Tetapi masa penahanan dan pembuangan tak memberi kesempatan. Masa bebas pun ternyata juga tidak, karena disibuki hal-hal lain. Yang jelas pada tahun belasan abad ini memang ada beberapa orang Rusia Putih yang bergerak di bidang panggung Indonesia secara profesional. Tanpa penyelidikan sejarah, authentisitas dan antisitasnya, sulit menunjuk orang Rusia tersebut sebagai matarantai penghubung” [Sumber: Pramoedya Ananta Toer. ''Jalan Raya Pos, Jalan Daendels'' hal 67-68]

Nah, sepertinya kisah Panon Hideung itu terus menjadi legenda sampai saat ini. Terbukti dari beberapa orang yang saya tanya, perihal gadis sunda, rata-rata mereka bilang cantik jelita. Sayangnya itu dulu, saat Bandung masih teduh, sejuk dan dingin. Kalau sekarang setelah pembangunan merajalela dimana-mana, panas suhu Bandung meningkat, terik matahari terasa gadis Bandung kata T Bahtiar sudah harus bersiap jadi hitam legam.

Mari kita jaga lingkungan!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 4 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 6 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cinta Sejati …

Adhikara Poesoro | 8 jam lalu

Mengenal Air Asam Tambang …

Denny | 8 jam lalu

Afta dan Uji Kompetensi Apoteker …

Fauziah Amin | 8 jam lalu

Demo BBM vs Berpikir Kreatif …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa (Paradigma Baru …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: