Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Jefri Anto

Duta Indonesian Youth Conference 2012 Provinsi Sulawesi Tengah

Pemuda dalam Lintasan Sejarah: Potret Pemikiran Pemuda Indonesia (1908-1998)

OPINI | 05 November 2010 | 04:26 Dibaca: 769   Komentar: 0   0

“Masa depan bangsa ada di tangan pemuda” demikian pepatah lama mengatakan. Ungkapan ini bukan kata belaka melainkan memiliki semangat konstruktif bagi pembangunan dan perubahan. Pemuda tidak selalu identik dengan kekerasan dan anarkisme tetapi daya pikir revolusionernya yang menjadi kekuatan utama. Sebab, dalam mengubah tatanan lama budaya bangsa dibutuhkan pola pikir terbaru, muda dan segar.

Perkembangan pemikiran pemuda Indonesia mulai terekam jejaknya sejak tahun 1908 dan berlangsung hingga sekarang. Periodisasinya dibagi menjadi 6 (enam) periode mulai dari periode Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, Aksi Tritura 1966, periode 1967-1998 (Orde Baru).

Periode awal yaitu periode Kebangkitan Nasional tahun 1908, ditandai dengan berdirinya Budi Utomo yang merupakan organisasi priyayi Jawa pada 20 mei 1908. Pada periode ini, pemuda Indonesia mulai mengadopsi pemikiran-pemikiran Barat yang sedang booming pada saat itu. Pemikiran-pemikiran tersebut antara lain adalah Sosialisme, Marxisme, Liberalisme, dll. Pengaruh pemikiran ini terhadap pemikiran pemuda saat itu tergambar jelas pada ideologi dari sebagian besar organisasi pergerakan yang mengadopsi pemikiran Barat serta model gerakan yang mereka pakai. Dari beberapa gerakan yang terekam dalam sejarah Indonesia, salah satu yang paling diminati adalah model gerakan radikal. Salah satu gerakan radikal yang terbesar pada saat itu adalah Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1926. Pemberontakan ini merupakan percobaan revolusi pertama di Hindia antara 1925-1926. Selain mengadopsi pemikiran Barat, para pemuda di masa itu juga menerapkan esensi dari kebudayaan Jawa, Islam, dan konsep kedaerahan lainnya sebagai pegangan (ideologi).

Periode berikutnya yaitu, Periode Sumpah Pemuda 1928, ditandai dengan Kongres Pemuda yang dilangsungkan pada bulan Oktober 1928. Peristiwa ini merupakan pernyataan pengakuan atas 3 hal yaitu, satu tanah air; Indonesia, satu bangsa; Indonesia, dan satu bahasa; Indonesia. Dari peristiwa ini dapat kita gambarkan bahwa pemikiran pemuda Indonesia pada masa ini mencerminkan keyakinan di dalam diri mereka bahwa mereka adalah orang Indonesia dan semangat perjuangan mereka dilandasi oleh semangat persatuan.

Selanjutnya, pada periode Proklamasi 1945, umumnya para pemuda bertindak sebagai pejuang di medan perang. Namun, tetap ada yang berjuang di spektrum intelektualitas yang terdiri dari para mahasiswa, wartawan muda, aktivis pergerakan, antara lain Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, Adam Malik, Syarief Thayeb dan lainnya. Mereka yang disebut di atas yang menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok demi segera diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia.

Periode selanjutnya yaitu periode Aksi Tritura 1966, yang dilatar belakangi oleh kondisi politik dan ekonomi yang carut-marut pada masa Demokrasi Terpimpin di paruh kedua tahun 1965 yang menyebabkan gerakan pemuda untuk beroposisi menentang rezim Soekarno. Berbeda dengan orientasi pemikiran pemuda di masa sebelumnya, para pemuda angkatan 1966 lebih memilih lepas dari orientasi pemerintah saat itu dan menyuarakan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Namun, aksi ini nampaknya tidak akan berhasil tanpa dukungan dari pihak militer. Ada kesan seolah-olah pemuda berada dalam kendali pihak luar (militer) yang merupakan kekuatan utama rezim Orde Baru. Provokasi militer dan rezim Orde Baru kepada pemuda tentang PKI pasca G/30 S, bisa dikatakan berhasil. Dikatakan berhasil karena dalam tiga point isi dari tritura disebutkan bahwa:

a. Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya

b. Bersihkan kabinet dari unsur-unsur PKI, dan

c. Turunkan harga

Dalam periode ini, muncul sosok pemuda idealis (Soe Hok Gie) yang sampai saat ini belum kita temukan penggantinya. Dia secara cermat mengamati pergerakan militer bersama rezim orde baru yang pada saat itu dianggap sebagai penolong. Sayang, dia meninggal di usia muda (27 tahun) akibat menghirup gas beracun sewaktu mendaki gunung Semeru. Sebuah kalimat dari Soe Hok Gie yang dikutip dari buku Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani, “Orang yang mati muda, tidak kehilangan idealismenya” dan Soe Hok Gie pun mengalaminya.

Dalam periode akhir yang dikaji dalam tulisan ini yaitu periode Orde Baru (1967-1998), peran pemuda sebagai agen perubahan ditekan dengan tindakan represif dari militer yang merupakan kekuatan utama dari rezim Orde Baru. Banyak peristiwa berdarah yang melibatkan pemuda terjadi di periode ini antar lain, Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, Peristiwa Tanjung Priuk, Peristiwa Talang Sari tahun 1989, serta yang tidak terlupakan aksi mahasiswa tahun 1998 untuk menegakkan reformasi dan menumbangkan rezim Orde Baru.

Pada masa rezim Orde Baru berkuasa, istilah pemuda mengalami perubahan menjadi remaja atau anak muda yang disebabkan oleh peralihan kegiatan dan minat mereka yang bernuansa politik menjadi hiburan semata. Hal ini didukung oleh temuan bahwa di tahun 1980-an, peredaran VCD, gambar, maupun majalah porno beredar bebas di pasaran. Hal ini diduga merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk menekan angka demonstrasi dan kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Orde Baru, sehingga tercipta stabilitas keamanan.

Pada tahun 1970-an juga terjadi pemberangusan hak asasi manusia dengan melarang anak muda berambut gondrong. Alasan yang dikemukakan pemerintah saat itu adalah pemuda berambut gondrong dianggap berandalan yang tidak mengisi alam kemerdekaan dan era pembangunan Orde baru dengan hal-hal positif. Selanjutnya dikatakan bahwa pemuda gondrong dianggap bertingkah-laku kebarat-baratan yang negatif dan melupakan budaya dan kepribadian nasional. Dari kenyataan ini, dapat kita simpulkan bahwa kekuasaan Orde Baru pada masa awal rupanya tergantung pada selera pejabatnya. Mereka tidak bisa memisahkan antara persoalan pribadi dan masalah publik, semata-mata itu dilakukan demi menunjang stabilitas “nasional” dan melancarkan roda pembangunan dan “investasi asing” di Indonesia.

Menengok perkembangan pemikiran pemuda Indonesia di masa sekarang, kita dapat melihat bahwa pemuda kita mengalami stagnasi pemikiran yang menyebabkan bangsa kita kekurangan pemikir-pemikir baru yang ide dan gagasannya masih baru, muda dan segar. Stagnasi berpikir ini dipengaruhi oleh budaya hedonistik yang masih melekat dalam diri sebagian besar pemuda Indonesia. Mereka masih menempatkan hiburan dan hura-hura pada prioritas teratas dalam hidup mereka. Selain itu, stagnasi pemikiran pemuda Indonesia juga dipengaruhi oleh mulai terkikisnya budaya membaca di kalangan pemuda Indonesia. Padahal, dengan membiasakan diri membaca, khasanah pemikiran kita khususnya pemuda akan terasah sehingga lahir pemikiran-pemikiran baru yang orisinil, segar dan bermutu.

Dengan melihat perkembangan pemikiran pemuda dari tahun 1908-1998, kita dapat merefleksi sekaligus bercermin dari semangat perubahan yang mereka lakukan. Semangat pembaruan yang lahir dari pemikiran mereka merupakan buah dari kerja keras dan disiplin. Sebagai penerus tongkat estafet perjuangan yang menjadi simbol kemajuan suatu bangsa, kita wajib meneladani semangat dan idealisme mereka agar kelak lahir Soekarno-Soekarno baru, Soe Hok Gie-Soe Hok Gie baru, serta pemikir-pemikir baru yang memiliki pola pikir baru, kreatif dan segar.

Melalui peringatan hari Sumpah Pemuda tahun ini, sudah saatnya kaum muda Indonesia kembali menggali pemikiran-pemikiran brilian dalam dirinya demi masa depan yang lebih baik. Banyak hal positif yang bisa dikaji dan ditumbuh kembangkan agar pemuda lebih kreatif, idealis, intelektual, mandiri, dan profesional. Jangan sampai tergerus oleh zaman dan sejarahnya sendiri, karena tidak mampu melawan arus zaman.

Akhirnya, marilah kita sambut peringatan hari Sumpah Pemuda ini dengan kembali menelusuri jejak-jejak semangat dan perubahan pemikiran pemuda-pemuda pada perjuangan sebelumnya dan berjanji dalam hati bahwa kita akan melakukan perubahan demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik. Agar pepatah “masa depan bangsa ada di tangan pemuda” bukan hanya isapan jempol belaka. Semangat persatuan tahun 1928 wajib direnungkan kembali agar kita mampu belajar dari sejarah.

*Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Angkatan 2008

FKIP Universitas Tadulako.

Terdaftar sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMSA) UNTAD.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Apakah yang Lebih Baik daripada …

Ade Hermawan | | 23 December 2014 | 06:03

Belajar Setia dari Tentara Suriah atau Lebih …

Abanggeutanyo | | 23 December 2014 | 05:27

Empat Modal PSSI Berprestasi di 2015… …

Achmad Suwefi | | 23 December 2014 | 07:07

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Fachri Hamzah Ucapkan Selamat Natal dan …

Gunawan | 3 jam lalu

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 11 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 13 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 15 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: