Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Mahaji Noesa

DEMOs. Rakyat yang bebas dan merdeka

Revitalisasi Benteng ‘Fort Rotterdam’ di Makassar

REP | 06 November 2010 | 07:27 Dibaca: 671   Komentar: 3   1

Bentuk Benteng Berubah dari Masa ke Masa

Sejak dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa X, Tunipalangga Ulaweng, Benteng Ujungpandang telah mengalami banyak perubahan, dari segi bentuk maupun konstruksi bangunan yang ada di dalamnya. Bahkan satu-satunya gerbang masuk ke Benteng Ujungpandang sekarang ini yang berada di sebelah barat, sebenarnya dulu merupakan pintu belakang.

Benteng Ujungpandang, merupakan salah satu dari sejumlah benteng yang dibangun pada masa Kerajaan Gowa, sebagai pengawal dari benteng induk Somba Opu. Tatkala pihak kolonial Belanda berhasil menaklukkan Kerajaan Gowa, Benteng Somba Opu, termasuk sejumlah benteng pengawal lainnya, seperti Benteng Kale Gowa, Benteng Panakkukang, Benteng Barombong, Benteng Garassi, Benteng Mangara Bombang, dan Benteng Ana’ Gowa dihancurkan rata dengan tanah. Kecuali Benteng Ujungpandang yang sampai kini masih berdiri kokoh di arah selatan Kantor Balai Kota Makassar.

Awal dibangun, pintu gerbang utama masuk ke Benteng Ujungpandang berada di sebelah timur. Gerbang utama tersebut kemudian tertutup dihalangi kehadiran sejumlah gedung permanen. Seperti Kantor Pos Besar Makassar, serta kantor-kantor lainnya yang dibangun berhimpitan dengan gerbang dan dinding benteng di bagian timur. Bahkan lokasi berupa lorong yang dibuat mengantarai dinding benteng dengan gedung-gedung permanen itu, sejak puluhan tahun lalu pun telah dipadati puluhan bangunan rumah tinggal.

Saat ini, melalui APBN 2010 dikucurkan dana sekitar Rp 8,9 miliar untuk merevitalisasi Benteng Ujungpandang. Namun begitu, belum tampak tanda-tanda jika Kantor Pos Besar Makassar serta sejumlah gedung lainnya di sebelah timur akan dibongkar atau direvitalisasi untuk membuka kembali gerbang depan Benteng Ujungpandang yang selama puluhan tahun tertutup.

Hal sama terlihat terhadap sejumlah bangunan milik Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Makassar yang dibangun menghimpit dinding Benteng Ujungpandang di bagian utara. Demikian juga jejeran gedung ‘Sao Soro Kannae’ milik Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sulsel yang mendempet rapat di dinding benteng bagian selatan, kondisinya masih seperti biasa. Belum terlihat tanda-tanda bangunan atau gedung yang menutup Benteng Ujungpandang tersebut akan dibersihkan atau diruntuhkan, seperti wacana yang sudah lama berkembang di tengah warga Kota Makassar.

Pekerjaan Revitalisasi Benteng Ujungpandang saat ini, dilakukan melalui program kegiatan pengelolaan kekayaan budaya Kantor Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan revitalisasi yang dimulai pertengahan September 2010, dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana PT.Graha Makmur Jaya Perkasa dalam masa kontrak 100 (seratus) hari kerja.

Sejumlah rangka konstruksi atap bangunan dalam Benteng Ujungpandang telah dibongkar dan diganti dengan balok kayu baru serta atap genteng yang baru. Demikian pula terlihat banyak kosen pintu dan jendela dari kayu diganti. Sejumlah tembok yang retak dan terkelupas, telah diplester dengan campuran semen hingga tampak mulus. Pekerjaan dilakukan oleh sejumlah tukang kayu dan tukang batu dari Kota Makassar. Pekerjaan pengecoran beton menggunakan tulang besi tampak akan dilakukan di bagian atas atap Bastion Bone. Tak terlihat ada tenaga kepurbakalaan yang mendampingi atau mengawasi setiap hari ketika tukang-tukang bekerja memperbaiki bangunan bersejarah peninggalan masa lalu di areal seluas 28.595 meter bujursangkar tersebut.

Bangunan-bangunan yang diperbaiki atap, dinding, kosen-kosen pintu dan jendela dalam Benteng Ujungpandang saat ini, umumnya telah berusia tua. Dibuat pada saat Benteng Ujungpandang diambil alih Belanda pasca ‘Perjanjian Bungayya’ atau setelah Cornelis Speelman mengganti nama Benteng Ujungpandang pada tahun 1686 dengan nama Benteng ‘Fort Rotterdam’.

Mulanya, menurut Drs.Bachtiar Hafid, seniman pelukis kelahiran Kabupaten Pinrang, Sulsel, 1947, tata lingkungan, dinding dan semua konstruksi bangunan yang ada di dalam Benteng Ujungpandang bernuansa asli nenek moyang bangsa Indonesia. Dinding benteng yang mengelilingi areal seluas hampir 3 ha, bagian dalamnya dibuat dari timbunan batu karang dan tanah liat. Sedangkan di bagian luar terbuat dari lapisan batu sejenis batu bata campuran tanah liat dan pasir.

Dalam karya lukisan Benteng Ujungpandang (Benteng Fort Rotterdam) abad XVII yang dibuat Bachtiar, semua bangunan yang ada dalam benteng bentuknya berupa rumah panggung tradisional khas daerah Makassar. Di bagian tengah benteng terdapat bangunan istana raja yang atapnya ditandai dengan ‘timpa laja’ bersusun empat menghadap timur diapit bangunan rumah untuk lasykar-lasykar Kerajaan Gowa. Di bagian kiri, terdapat sejumlah bangunan berfungsi sebagai gudang makanan, tempat penjagaan, kandang kuda, serta tempat tinggal para juru pelihara..

Menurut, Bachtiar yang juga adalah pimpinan Sanggar Lukis Ujungpandang, dan sejak tahun 1987 menempati salah satu ruang di gedung Bastion Mandarsyah Benteng Ujungpandang, perubahan bentuk dinding dan bangunan-bangunan di dalam Benteng Ujungpandang mulai terjadi ketika Cornelis Speelman menjadikan benteng ini sebagai markas pertahanan militer di masa kolonial Belanda.

‘’Sudut asli dinding benteng bagian depan yang bentuknya setengah bulatan, dan sudut dinding belakang berupa kotak segi empat, kemudian diubah oleh pihak Belanda menjadi bentuk segi tiga dengan tonjolan tajam. Perubahan bentuk yang sama dilakukan pada bagian gerbang utama di sebelah timur dan di pintu belakang sebelah barat benteng,’’ jelas Bachtiar Hafid.

Pelukis spesialis wajah sejumlah raja, tokoh sejarawan dan pemimpin spiritual masa lalu di Sulsel ini, pada tahun 2005 pernah secara khusus melakukan pameran tunggal karya lukis di Kota Makassar, bertema ’Bentuk Benteng Ujungpandang dari Abad ke Abad’ – mulai abad XVI hingga XX. ‘’Untuk membuat lukisan tersebut, saya banyak mendapat inspirasi dari sejumlah catatan sejarah serta sketsa-sketsa masa lalu Benteng Ujungpandang yang dibuat oleh Francois Valentyin asal Belanda,’’ akunya.

Seiring dengan pelaksanaan Revitalisasi Benteng Ujungpandang saat ini, Bachtiar, pelukis yang mendapat pengakuan dari International Bioraphical Centre Cambridge CB2QP, England, sebagai ‘’The who’s suko in the 2 th, centry-Award’’ (16 Maret 2001) menyatakan, bangunan-bangunan yang terdapat dalam Benteng Ujungpandang sekarang lantai dasar aslinya sebenarnya sudah tertimbun sekitar 4 hingga 5 meter ke dalam tanah.

Beberapa bangunan dalam Benteng Ujungpandang, seperti bangunan Bastion Mandarsyah dan bangunan di tengah benteng yang pada masa kolonial Belanda difungsikan sebagai Gereja, ditunjuk sebagai contoh, dibangun mengambil gaya neo gotik atau bangunan-bangunan ala Eropa pada abad XVI – XVII.

Bangunan bergaya neo-gotik, langit-langit ruangannya selalu tinggi dari lantai dasar, konstruksi pintu-pintu masuk maupun jendela umumnya berukuran besar seperti sengaja dibuat untuk mengerdilkan orang-orang yang masuk ke dalamnya. Tapi sekarang, pintu maupun langit-langit ruang lantai bawah kedua bangunan berlantai dua tersebut kini menjadi rendah. Lantai dasar aslinya selama lebih tiga abad mengalami perubahan, ditimbun naik mengikuti perkembangan muka jalan yang ada di luar benteng agar tidak terembes luapan air terutama di musim hujan.

‘’Jika kita memasuki ruang lantai pertama di bangunan Bastion Mandarsyah atau bangunan bekas gereja di Benteng Ujungpandang sekarang, seperti kita masuk ruang tahanan bawah tanah yang sempit dan sumpek. Jarak antara lantai dasar dengan langit-langit atau plafonnya kurang lebih dua meter. Kondisi ruangan bawah yang sudah dinaikkan lantainya, sangat jelas berbeda dengan lantai atas yang tinggi dan lapang sebagaimana ciri bangunan bergaya neo-gotik di Eropa pada abad pertengahan,’’ jelas Bachtiar.

Hampir semua lantai bangunan yang ada dalam Benteng Ujungpandang sekarang ini, bukan lagi lantai aslinya. Sudah berulangkali direnovasi, ditinggikan, dan lantai masa lalu sudah diganti dengan tegel-tegel model baru.

‘’Untuk membuktikan apakah lantai asli bangunan-bangunan lama yang ada dalam Benteng Ujungpandang sudah tertanam jauh ke dalam tanah, tidak sukar, gali saja di dekat setiap dinding bangunan yang ada maka akan diketahui sudah seberapa jauh lantai dasar yang asli tertimbun,’’ tandas Bachtiar.

Salah seorang anggota dari sebuah rombongan pengunjung mengaku asal Jakarta yang berwisata ke komplek Benteng Ujungpandang, pekan terakhir Oktober 2010 mengatakan, pekerjaan revitalisasi Benteng Ujungpandang saat ini lebih layak jika dikatakan sebagai rehabilitasi bukan revitalisasi. ‘’Karena pekerjaan yang dilakukan lebih dominan hanya untuk mempermulus bagian-bagian dinding bangunan yang terkelupas atau retak, serta mengganti konstruksi rangka atap, kosen pintu dan jendela yang terancam keropos,’’ katanya.

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 7 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 11 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 12 jam lalu

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: