Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ibnu Muhammad

pemuja karya-karya orang lain. Selalu belajar dari yang lain. Bak lebah yang tak usai-usai memproduksi selengkapnya

Abu Darda Ra

OPINI | 11 November 2010 | 07:13 Dibaca: 1106   Komentar: 0   0

12894595021176264256

Abu Darda tak asing ditelinga kita, kita akan langsung ingat sejarah bila mendengar nama itu. Nama asli Abu Darda adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj, yang kemudian dia terkenal dengan kunyahnya yaitu Abu Darda ,ia hapal al-Quran dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam perang Uhud Rasulullah bersabda mengenai dirinya “ Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir” Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang Uhud. Dia berasal dari Kabilah Khajraj sebuah Kabilah di daerah Yaman, namun beliau kemudian berpindah ke Yatsrib (sekarang Madinah Munawaroh) bersama Kabilah `Aus, yang mana Khajraj dan `Aus adalah lambing dari kaum Anshor di kota Madinah.

Dimasa jahiliyyah dia dan sahabat akrabnya Abdullah bin Rawaha masih dalam kemusyrikannya, namun setelah datingnya islam yang pertama masuk islam adalah Abdullah bin Rawaha, sedangkan abu Darda masih taat dengan apa yang dilaksanakan nenek moyangnya saat masa jahiliyyah itu. Bahkan kecintaannya terhadap apa yang dia sembah, berhala yang dia sembah diletakan dikamar yang terspesial dengan dihiasi dengan hiasan yang serba mahal. Namun, walau berbeda keyakinan Abu Darda dengan Abdullah bin Rawaha tidak putus hubungan sebagai sahabat dekat. Bahkan, Abdullah bin Rawaha berjanji akan menjenguknya suatu saat untuk masuk ke ajaran yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Suatu hari, saat Abu Darda berada di tokonya, disekitar jalan pasar terlihat ada keramaian, karena ada segerombolan orang yang datang. Abu Darda menghampiri keramaian itu, ternyata gerombolan itu adalah kelompok Nabi Muhammad dan sahabatnya yang baru pulang dari perang Badr. Abu Darda langsung secara sepontan menanyakan kepada lelaki disampingnya namun dengan tanpa suara keras, dia menanyakan perihal kawan dekatnya itu, dia merasa senang ketika mendengar Abdullah bin Rawaha kembali dengan selamat dari peperangan itu.

Kegiatan rutin peribadatan yang dilakukan oleh Abu Darda dan aktifitasnya untuk menjaga tokonya sudah sangat difahami oleh Abdullah bin Rawaha, Abdulloh bin Rawaha sudah sangat faham dengan jadwal kegiatan yang dilakukan Abu Darda. Maka, disuatu hari, Abdulloh bin Rawaha sengaja pergi untuk berkunjung kerumah Abu Darda namun disaat Abu Darda berada di toko. Abdulloh telah merasa inilah saatnya mengajak kawannya itu memeluk ajaran yang benar dan menjauhi gelapnya kemusyrikan.

Kemudian, Abdullah pergi keruma abu Darda dengan membawa kampak yang dia sembunyikan, dia tahu bahwa yang dirumah hanya istri Abu Darda, sesampainya dirumah Abu Darda, ternyata istrinya sedang berada didepan rumah, seakan terlihat dari mukanya rasa letih karena tengah mengerjakan tugas rumah tangga. Langsung Abdulah menyapa kepada istriny, tak lama kemudian istri Abu Darda memohon izin karena akan menyelesaikan tugasnya. Abdullah pun dipersilahkan masuk kerumah, dan minta izin kepada istri Abu Darda untuk mengunjungi tempat-tempat kawan dekatnya itu. Karena Ummu Darda (Istri Abu Darda) tahu kekentalan persahabatan mereka, tanpa sungkan Ummu Darda pun mengiyakan apa yang diminta oleh Abdullah, karena Abdullah walau berbeda keyakinan, namun telah dianggap satu keluarga.

Kesempatan Abdullah yang telah difikirkan matang-matang ahirnya dia lakukan juga, dia keluarkan kapak yang dia sembunyikan, dan dia masuk ke kamar teristimewa Abu Darda, dimana dikamar itu Abu Darda simpan patung sesembahan Abu Darda dan istrinya. Abdullah tanpa ragu langsung menghancurkan patung-patung itu yang terhias dengan kain mahal, dan wewangian yang didatangkan dari daerah asalnya yaitu Yaman. Sesampainya dikamar, Abdullah sabetkan kapaknya itu, hingga berhala yang disembah dan dipuja Abu Darda pecah berkeping-keping. Abdullah hanya merusak patung-patung yang menyebabkan kemusyrikan dihati sahabatnya itu, namun ruangannya masih terlihat rapih.

Setelah selesai, dia pamit kepada Ummu Darda dengan menitipkan salam persahabatan kepada Abu Darda. Firasat tak enakpun menyapa hati Ummu Darda. Dia langsung masuk ke kamar suaminya itu. Ternyata, apa yang tidak dia bayangkan dapat terjadi, patung-patung pujaan suaminya telah luluh lantak, dan dia langsung menuduh pelakunya adalah Abdullah bin Rawaha. Dia seketika pucat, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, karena takut apa yang akan dilakukan suaminya kepadanya atas kejadian itu.

Siang hari setelah waktu dzuhur, diterik matahari yang sedang menyengat dan memanasi kota Madinah saat itu. Abu Darda pulang dengan membawa hasil hari itu. Namun abu Darda melihat Ummu Darda duduk dipintu dengan keadaan pucat. Seperti biasa, Ummu Darda menyambut suaminya itu, dan abu Darda pun menyapa istrinya dengan penuh keharmonisan. Namun ada yang dirasa beda oleh Abu Darda, dia langsung bertanya apa yang terjadi kepada istrinya itu, sehingga mukanya terlihat amat pucat?. Ummu Darda tidak bisa menjawab langsung, hanya dia berisyarah kedalam kamar teristimewanya. Abu Darda dengan segera masuk kedalam kamar, ternyata semua patung-patungnya telah luluh lantak. Darahnya naik, hingga mukanya terlihat merah dan otot lehernya sangat kelihatan sekali. Ummu Darda sangat cemas dan takut, karena tak pernah melihat suaminya seperti itu. Namun. Ternyata dalam kemarahannya itu Allah alirkan hidayahNya, Abu Darda berfikir, jikalau patung-patung itu berkehendak baik kepadanya, kenapa dia tidak dapat melindungi dirinya (Abu Darda berseloroh dalam hatinya). Benar apa yang dikatakan Abdullah Bin Rawaha sahabatku, bahwa apa yang aku puja adalah batil.

Langsung dia keluar dengan muka merah, Ummu Darda pun merasa takut akan terjadi hal yang tidak dibayangkan antara suaminya dengan sahabatnya itu. Namun ternyata Abu Darda keluar mencari Abdullah Bin Rawaha untuk diajak ke rumah Rasululloh untuk mengikatkan janjinya menaati ajaran yang dibawa Nabi Muhammad yaitu masuk islam.

Dari sini Abu Darda dan keluarganya memeluk islam, dan dia mulai mengejar apa yang telah didahului oleh para sahabat nabi lainnya. Dia giat untuk menjalankan dan memahami agama, menghafal alquran dan al-hadist. Dan beliau munculah sifat kezuhudannya disela pengembarannya didalam islam, bahkan putrinya yang bernama Darada akan dinikahi oleh anak pejabat kerajaan, oleh Yazid anak Muawwiyah bin Abi Sofyan. Namun Abu Darda menolaknya karena takut putrinya lupa akan kewajibannya kepada Allah ditengah kemegahan yang dimiliki Yazid dan keluargannya.

Dan kebanggan Nabi kepadanya, hingga Nabi bersabda: “’Uwaimir adalah hakim umatku. Dan sebaik-baiknya tentara adalah ‘Uwaimir.” Dari Anas diceritakan bahwa Rasulullah wafat dan al-Qur’an belum dikumpulkan selain empat orang; Abu Darda, Mu’adh, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.”

Inilah sekilas perjalanannya dalam menapaki perjalanan islam melalui persahabatan.

Setelah Abu Darda memeluk islam dia mengejar segala pengetahuan yg tertinggal bahkan hingga ada sekitar 200 kurang lebih hadis yg diriwayatkany, kemudian dia mengejar untuk menghafal alquran, dia menghafal quran setelah berumur,namun dengan kesungguhannya dia mampu menghafalnya sampai selesai. Bahkan, alquran di tulis oleh para sekretaris nabi Zaid bin Stabit dan diantara 4 sahabat ini Abu Darda juga termasuk dari 4 sahabat itu. Setelah nabi meninggal dan kekhalifahan digantikan oleh Abu Bakar, Umar ,hingga Ustman bin Afan.

Dimasa Umar bin Khattab beliau ditunjuk oleh Umar untuk menjadi qadi (hakim) di tanah Syam, namun beliau menolaknya. Saat Umar mendengar bahwa Abu Darda menolak dia sempat marah. Namun setelah Umar tahu maksud Abu Darda menolak menjadi qadi karena ada keterikatan,dan dia mau jika di Syam dia hanya sebagai pengajar alquran dan alhadist dan ilmu pengetahuan lainnya. Mendengar planning Abu Darda yang baik dan ikhlas itu Umar hilang marahnya dan menyambut dengan senang rencananya.

Sesampainya di Syam Abu Darda semakin mendekatkan diri kepada Allah dan mengajarkan apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Hingga harta yg dia urusi, dia tinggalkan. Hampir-hampir keluarga beliau terbengkalai, sampai Salman Alfarisi sahabat dalam peperangany yang mengemban amanat sebagai pasukan perang menegur Abu Darda akan hal ini, dia berkata ”hai sahabatku Abu Darda, kamu punya hak kepada Allah, dan keluargamu pun punya hak atas kamu. Ingat jangan kau sia-siakan hak itu”. Mendengar perkataan itu Abu Darda langsung mengurus hartanya untuk keperluan keluarganya itu.

Abu Darda di Syam dengan semangatnya selalu mengibarkan bendera islam, dengan memberi nasihat disemua tempat. Bahkan yang amat mashur adalah perkataanya kepada penduduk syam ”jadilah kamu orang yang berpengetahuan, jika tidak maka orang yang mencari pengetahuan, atau orang yang menyengaja untuk mendengarkan pengetahuan,dan janganlah kalian menjadi kelompok terahir, yaitu kelompok yang tidak masuk kategori tiga tadi dan menjadi orang yang bodoh namun tak merasa bodoh”.

Dia berdakwah dengan seabreg pengalaman,karena beliau pernah terjerumus dalam lembah kemusyrikan,jadi amat hibrah tentang hal itu. Sehingga metode dakwahnya amat mengena. Suatu ketika beliau berhutbah di mimbar jami’ (mesjid) dan jamaah semuanya terisak tangis karena perkataan beliau amat sangat menyentuh hati. Sehingga mulai dari situ setiap ada kajian ilmu pasti dipadati oleh para jama’ah.

Kemudian setelah Umar bin khattab meninggal dan tampu kekhalifahan digantikan oleh Ustman bin Afan. Diwaktu itu beliau diangkat menjadi qodi untuk dikirim ke Demaskus (Syiria). Beda halnya saat kepemimpinan ia menolaknya, namun disaat Kekhalifahan Ustman dia menerimanya,karena beliau telah mempunyai kapabel untuk mendudukinya dengan seabreg pengalaman di Syam dan dia berfikir dengan jabatan juga islam harus ditegakan.

Di Demaskus Abu Darda dan keluarganya hidup, dan dia mengemban tugas sebagai seorang qodi. Adapun anaknya yang bernama Darda telah dia nikahkan dengan seorang pemuda yang tak bergelamor oleh harta ,pemuda itu sederhana namun berkaliber keilmuan islam yang tak diragukan lagi oleh Abu Darda untuk menuntun Darda anaknya.

Semua harta yang berada di Yaman, Madinah, dan Syam digunakannya untuk agama, bahkan hampir dia tak punya apapun. Pada suatu hari ada segerombolan tamu yang bersua dengannya dirumahnya, waktu itu musim dingin dan musim dingin didaerah arab itu sampe mendekati derajat 10 celsius. Para tamu saat itu bermalam dirumah Abu Darda. Malam yang dingin dan tentunya dimusim dingin itu malamnya lebih panjang dibanding siangnya, para tamu merasa kedinginan karena tak ada selimut, ahirnya ada satu orang yang ingin masuk ke kamar Abu Darda untuk meminta selimut, namun sahabat yang lain menghelainya. Tapi pemuda itu tak mau menuruti cegahan dari temen-temennya. Ahirnya pemuda itu masuk, namun ketika masuk dia melihat Abu Darda dan istrinya tidur tanpa berselimut, bahkan kain yang dipakainya amatlah tipis dan tak mampu untuk menahan dinginnya malam seperti itu. ”ada apa sahabatku” sapa Abu Darda. ‘‘kami kedinginan,dan kami butuh selimut” jawab pemuda itu. ”jika ada selimut pasti telah kami berikan” balik Abu Darda sambil menundukan kepala. Ternyata semua hartanya telah ditaruh di Madinah untuk keperluan agama Allah,dan setiap dia mendapat penghasilan langsung dia kirimkan. ” kami taruh harta kami ditempat yang amat jauh dan sulit dijangkau, supaya kami tak terbebani oleh harta kelak” Abu Darda memberikan kalam hikmahnya kepada pemuda tadi. Pemuda itu faham bahwa semakin banyak harta maka beban pertanggung jawabannya semakin berat dan lama. Oleh itu nabi miskin dan cinta orang-orang miskin,dan dalam doanya nabi mengharap dikumpulkan dengan orang-orang miskin. Pemuda itu keluar dan meneruskan malamnya dengan tanpa penahan dingin.

Begitu zuhudnya Abu darda, dari seorang yang sibuk akan harta dan patung yang dipujanya. Membelok lurus karena tetesan hidayah Allah, bahkan beliau menjadi penyebar islam dan mengikuti semua peperangan setelah perang uhud, itu membuktikan keimanan beliau yang amat besar. Beliau wafat di demaskus pada tahun 32 Hijriyyah.

Semoga kita mendapat manfaat dan diberi tegukan air hidayah Allah dan diberi kesabaran untuk berpegang teguh dengan mengaplikasikan ajaran Allah yang telah disebarkan nabi Muhammad dan pengikutnya. Karena berpegang agama amat sulit,apalagi dimasa sekarang yang fitnah telah menyebar luas. ‘‘agama dizaman sekarang ibarat memegang bara api, dipegang terselut panas, dijatuhkan mati”. .kama qol. Hanya rahmat dan hidayahNya yang mampu membimbing kita semua, dengan melangkah di koridor ajaran yang hak menurut Allah. Penulis inget perkataan Syekh Zaki Mubarak ”lakukanlah hak walau sedikit pengikutnya, dan jauhi yang bathil walau banyak pengabdinya”.

Dari goresan ini penulis berdoa semoga ini sebagai motivasi untuk kita melangkah menapaki dan merealisasikan ajaran islam yang tersimpan dalam quran dan alhadist. Bagi yang telah taat maka akan memperkokoh ketajaman dan semangat juangnya, yang pernah berlumuran dosa supaya merubah jalan hidup ini untuk menjadi orang yang selamat, turuti kata hati jangan nafsu kita jadikan nomer satu, rem nafsu kita dengan akal. Maka nabi berwasiat sebelum berbuat pandang dan perhitungkan dulu efeknya, jika baik teruskan,jika tidak maka tinggalkan. Jangan merasa tak mampu karena dosa kita telah menumpuk, rahmatNya mengalahkan murkaNya.

Jangan berkecil hati, Abu Darda dari perbuatannya musyrik yang jelas dalam quran semua dosa akan diampuniNya kecuali menyekutukanNya (musyrik), namun dengan kesadarannya menuruti kata hati dan menggunakan akalnya (dikala marah kepada Abdulla) maka dia menjadi pemangku dan pembawa kibaran bendera islam.

Kapan lagi kita tobat, jika tidak dari sekarang.

Kapan lagi kita baik, jika tidak dari sekarang.

Sedikit kesalahan akan lebih ringan.

Banyak salah disertai penyesalan dan pengakuan akan mendapat keringanan.

Tiada hari kecuali baik dan baik. Jika kita baik minimal kita tak aniaya pada diri sendiri.

Ya robb semoga ini menjadi tambahan amal kami, dan kuhadiahkan ini untuk kawanku yang telah pulang kesisiMu, semoga dia diampuni dosanya dan dijadikan didalam kuburnya bagai malam pengantin yang merasa cepat melalui malamnya.jadikan dia husnul hotimah di ahir hayatnya. Sahabatku selamat jalan (Amelia Hany Rosyana Kristianty binti Hendra Gunawan) lahir Bandung, 26 Agustus 1989. Wafat 13 Setember 2010/ 4 Syawwal 1431 H…. .alfatihah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penolak Parcel Natal dan Tahun Baru itu …

Gaganawati | | 27 December 2014 | 16:12

Ini Alasannya Kenapa Wanita Memilih …

Muhammad | | 27 December 2014 | 16:59

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22

Si ‘Arogan’ Itu Punya Kenangan di …

Aditya Nawara | | 27 December 2014 | 15:47

Kompasiana BlogTrip: Jejak Para Riser …

Kompasiana | | 24 December 2014 | 18:26


TRENDING ARTICLES

Jangan Panggil “Om/Tante” pada …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka, Petir Perempuan …

Bambang Wahyu Widay... | 8 jam lalu

Hadapi ISIS, TNI-Polri Sasar Kantong …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Mengucapkan Natal Bukan Berarti Anda Sudah …

Daniel Setiawan | 11 jam lalu

FPI “Tercekik” Jokowi Menghapus …

Gunawan | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: