Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Widi The Great Gubernur Roma

Seorang laki-laki yang memiliki tingkat keasalahan 0,000001% dan Seorang yang memiliki gelar The Great.

Islam, Yahudi, dan Nazi

OPINI | 28 November 2010 | 15:54 Dibaca: 1965   Komentar: 3   0

Sesuatu yang saya temukan ketika lagi browsing.. Sangat menarik menegenai NAZI, Islam, dan Yahudi. Tulisan ini saya ambil dari www.eramuslim.com dan merupakan sebuah tulisan yang berisi tanya dan jawaban. Berikut petikannya:

PERTANYAANNYA:
Asaalammu’alaykum Wr. Wb,

Saya tidak sengaja membaca tentang Brigade Handjar yaitu pasukan tempur dari Bosnia yang dibentuk oleh Militer Jerman selama perang dunia II untuk memerangi partizan (pejuang) Yugoslavia pimpinan Josip Broz Tito. Di internet saya baca kalau Brigade Handjar terdiri dari mayoritas Muslim Bosnia dan beberapa Muslim Albania. Yang menarik orang yang berperan utama merekrut para Muslim Bosnia dan Albania ini adalah Mufti Masjid Al-Aqsa saat itu yang bernama Syech Amin Al-Hussaini. Saya lihat foto sang Mufti ini di internet ketika diundang ke Jerman dan berbicara langsung dengan Hitler. Adanya Brigade Handjar ini membuat Muslim Bosnia dianggap sebagai kaki-tangannya Nazi-Jerman oleh Orang-orang Serbia, yang karenanya dijadikan alasan oleh orang Serbia untuk memerangi dan membalas dendam kepada Muslim Bosnia selama Perang Balkan dekade 90-an. Dengan alasan Brigade Handjar adalah antek Nazi-Jerman membuat zionis yahudi juga menjelekkan Muslim Bosnia dan Islam.

Saya ingin bertanya lebih jauh kepada Bapak pengasuh rubrik “Di Balik Konspirasi” mengenai kebenaran Brigade Handjar ini, dan siapakah sebenarnya Amin Al-Hussaini dan kenapa dia mau membantu Nazi merekrut Muslim Bosnia untuk masuk Brigade Handjar??

Mohon pencerahannya Pak,

Jazakumullah,

Wassalammu’alaykum Warahmatullaahi Wabarakatuh,

JAWABANYA:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Saudara Tito yang dirahmati Allah SWT, dalam mencermati perjalanan sejarah, kita tentu harus menilainya dengan keadaan di masa itu sendiri. Muslim Bosnia, dan juga banyak Muslim lainnya di masa Perang Dunia II memang bersekutu dengan Nazi Jerman. Jumlah pasukan Muslim yang bergabung dengan Nazi cukup banyak: sekitar 5.000 orang Arab, 2.000 Muslim India, 40.000 Muslim Bosnia dan Sandzak, 30.000 Muslim Albania, 75.000 Muslim Kaukasus Utara, 40.000 Muslim Tartar Volga, 180.000 Muslim Turki, 20.000 Muslim Tatar Krim, dan juga 200.000 Muslim Soviet dimana yang terakhir ini bertugas sebagai tenaga pembantu dalam berbagai pekerjaan kasar dalam Wermacht atau angkatan perang Nazi Jerman (baca: Legiun Muslim Hitler; N. Hidayat; Nilia Pustaka, 2007)

Bahkan saya punya gambar adanya orang Indonesia yang menjadi bagian dari tentara Nazi Jerman. Walau sejarah Indonesia tidak banyak membuka diri terhadap jasa Nazi Jerman atas perang kemerdekaan Indonesia, namun jasa pasukannya Adol Hitler ini bagaimana pun ada. Ini fakta. Salah satu instruktur pertama badan intelijen resmi Indonesia adalah seorang perwira U-Boat Nazi Jerman yang mendarat di Jawa. Kolonel Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia, dilatih olehnya.

Bukan itu saja, di Indonesia pun pernah berdiri Partai Nazi, walau tidak mendapat sambutan meriah kala itu (baca: Orang Nazi dan Partai Nazi di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme; Wilson; Komunitas Bambu, 2008)

Dalam Jihad Afghan, para Mujahidin pun juga bersekutu dengan CIA bukan? Bahkan Jamaludin al-Afghani pun ternyata pernah menjadi kaki-tangan dari CIA, seperti halnya Gulbuddin Hekmatyar, Rassul Sayyaf, dan lainnya. Dan seorang Usamah bin Laden pun pernah dipelihara CIA. Beberapa bulan sebelum kejadian 911, Usamah sakit dan dirawat di Pakistan. Kepala CIA Timur Jauh dan Kepala Intelijen Pakistan menjenguknya. Ini merupakan salah satu fakta jika peristiwa 911-WTC merupakan insider job.

Dalam Perang Dunia II, Mufti Palestina AlHusayni memang bersekutu dengan Nazi dan kawan baik dari Adolf Hitler. Mereka di kala itu saling memanfaatkan. Sejarah sekarang, dengan berbagai dokumennya yang telah dideclassified-kan, telah membongkar fakta jika segala kebuasan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II ternyata didukung penuh dengan dana amat besar dari Rockefeller dan kakek George Walker Bush, dua keluarga berpengaruh Yahudi Dunia. Al-Husayni tentu saat itu, sepertinya, tidak tahu akan fakta jika Hitler pun tengah diperalat Yahudi.

Dan tentang permusuhan Yahudi terhadap umat Islam, itu bersifat abadi hingga akhir zaman. Jadi, bukan karena Muslim Bosnia sekutu Nazi Jerman yang menyebabkan itu, tapi karena Yahudi adalah tentaranya Dajjal dan Muslim adalah tentaranya Muhammad SAW.

Dalam hubungannya dengan Nazi, puluhan ribu Muslim Bosnia direkrut Hitler dan dikelompokkan ke dalam Brigade Handjar atau yang resminya bernama 13. Waffen Gebirgs Division de SS ‘Handschar’ (kroatische Nr.1). Ini legiun Muslim Bosnia pertama yang direkrut akhir 1943.

Pada Juli 1944, dibentuk Legiun Muslim Bosnia kedua bernama 23. Waffen Gebirgs Division der SS ‘Kama’ (kroatische Nr.2) atau Brigade Kama. Kedua legiun atau brigade ini akhirnya digabungkan Himmler menjadi satu kesatuan yakni IX. Waffen-Gebirgs Korps der SS (kroatisches). Pasukan ini menderita kekalahan mengikuti kekalahan pasukan induknya, Nazi-Jerman, dan menyerah kepada pasukan Inggris di Saint Veit de Glan di Austria, 12 Mei 1945.

Siapakah Imam Al-Husayni? Dia adalah seorang Mufti Besar Palestina sejak 1921 hingga 1948. Keturunan Klan Husayni ini sangat keras menentang rencana perpindahan kaum Yahudi yang terserak di seluruh dunia ke Palestina, sebagaimana mandat dari Kongres Zionis Internasional I di Basel, Swiss, tahun 1897. Sebab itu, Inggris yang mendukung penuh rencana Zionis Yahudi itu memburunya. Pada tahun 1941 Husayni bertemu empat mata dengan Adolf Hitler. Hitler terkagum-kagum padanya.

Seperti yang sudah disinggung banyak literatur. Adolf Hitler dengan keyakinan rasialnya meyakini jika bangsa Aryan merupakan jenis manusia unggul yang berasal dari ras Romawi kuno yang perkasa, tinggi besar, berkulit putih, rambut jagung, dan mata yang biru bersinar. Melihat sosok Husayni yang tinggi besar, berkulit putih, berambut jagung, dengan mata yang biru bercahaya, Hitler terpesona dan menduga kuat jika Husayni masih satu keturunan dengan bangsa Romawi, nenek moyang ras Aryan.

Sebab itu Adolf Hitler sangat menghormati Husayni. Apalagi kepentingan politik keduanya dalam hal permasalahan Yahudi dunia sama. Husayni memusuhi Yahudi karena ingin mempertahankan tanah suci Palestina, sedangkan Hitler memusuhi Yahudi karena dendam sejarah dan juga pandangan politik rasialnya. Keduanya pun bersekutu.

Dalam perang hal tersebut sangat dimungkinkan. Kepentingan bersama bisa menyatukan dua kelompok yang sepertinya tidak mungkin disatukan. Mungkin lebih kurang sama seperti fakta politik di negeri ini sekarang, dimana kelompok Islam Liberal dan NeoLib (plus kelompok kuffar palangis) ternyata bisa didukung “kelompok Islam literal berjenggot”. Semua itu bisa dimungkinkan karena kesamaan kepentingan yang bernama: Kekuasaan. Kita tahu jika yang namanya “Kekuasaan” sekarang ini memiliki arti sebagai “Boleh merampok uang umat sebanyak mungkin dengan resmi dan legal”. Itu saja. Wallahu’alam bishawab. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

sumber: www.eramuslim.com
diambil dari: http://winatajournal.blogspot.com/2010/05/islam-yahudi-dan-nazi.html

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 14 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 21 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 22 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 22 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: