Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muhammad Al Jaelani

Love For All Hatred For None

Selamat Tahun Baru

OPINI | 09 December 2010 | 04:28 Dibaca: 442   Komentar: 0   0

Desember 2010 tepatnya pada tanggal 07 bertepatan dengan 1 Muharam, yakni tahun baru menurut kalender Hijriah. 1 Januari 2011 adalah titik awal pergantian tahun menurut perhitungan kalender Masehi. Dalam menentukan hitungan hari kalender Hijriah berbeda dengan kalender Masehi. Kalender Hijriyah dalam menghitung hari berpatokan pada peredaran rembulan (Qomariyah), sedangkan kalender Masehi dalam menghitung hari berpatokan pada peredaran bumi mengelilingi matahari (Syamsiyah). Jumlah hari dalam setahun menurut perhitungan rembulan sekitar 354-355 hari sedangkan jumlah hari dalam setahun menurut perhitungan peredaran bumi mengelilingi matahari sekitar 365-366 hari. Perhitungan Qomariyah lebih cepat 11 hari dari perhitungan Syamsiyah.

Adapun asal mula perhitungan kalender hijriah atau biasa disebut dengan kalender islam adalah ketika Islam di pimpin oleh Khalifah Rasyidah yang ke dua yakni, Hadhrat Umar bin Khotob ra. Waktu itu banyak versi perhitungan kalender yang membingungkan umat, dan tiap-tiap kabilah Arab memiliki perhitungan yang berbeda satu dengan yang lain. Sedangkan awal kalender Masehi ditetapkan berdasarkan pada saat Yesus atau Nabi Isa as lahir.

Kalender yang beredar sebelum Islam memiliki perhitungan dalam kurun waktu 19 tahun akan ada 7 tahun yang dalam satu tahunnya memiliki 13 bulan. Bulan yang ketiga belas disebut dengan bulan Nasi’. Pada umumnya kalender yang beredar sebelum Islam hanya memiliki hari dan bulan. Adapun perhitungan tahun disandarkan kepada peristiwa-peristiwa besar yang terjadi, seperti tahun gajah. Dimana Pasukan Abrahah pada saat itu hendak menghancurkan Kabah.

Karena adanya perbedaan dalam menentukan bulan Nasi’ maka banyak umat yang kebingungan dalam menghitung bulan, masing-masing kabilah Arab menentukan sendiri-sendiri apakah sudah masuk bulan Muharam atau masih bulan Nasi’. Ketika turun surah At-Taubah:38 yang menerangkan bahwa Tuhan tidak menghendaki peperangan pada bulan Muharam,maka Nabi Muhammad saw meniadakan perhitungan bulan Nasi’. Karena bisa membingungkan perhitungan, banyak yang tidak tepat dalam menentukan bulan Muharam. Seharusnya dalam bulan Muharam tidak ada peperangan tapi karena masih ada yang berpendapat bahwa menurut perhitungan belum masuk Muharam tapi Nasi’ maka ada segolongan Kabilah Arab yang berperang, padahal Al-Quran melarang mengadakan peperangan pada saat bulan Muharam.

Pada 638 M Islam memiliki perhitungan kalender sendiri. Pada saat itu Hadhrat Umar ra membentuk tim yang terdiri dari enam orang yakni : Hadhrat Usman bin Affan ra, Hadhrat Ali bin Abi Thalib, Hadhrat Abdurrahman bin Auf, Hadhrat Sa’ad bin Abi Waqas, Hadhrat Talhah bin Ubaidillah, dan Hadhrat Zubair bin Awwam.

Ada tiga usulan dari tim ini dalam menentukan awal tahun Hijriah, diantara yang diusulkan yaitu,

1. Awal tahun Hijriah bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad saw,

2. Awal tahun Hijriah bertepatan dengan awal turunnya wahyu, dan

3. Awal tahun Hijriah bertepatan dengan Hijrahnya Nabi Muhammad saw.

Maka ditentukanlah oleh Hadhrat Umar ra, bahwa awal tahun hijriah bertepatan dengan hijrahnya Nabi Muhammmad saw dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah terjadi pada 662 M, jadi peresmian kalender Hijriyah atau Islam 17 tahun setelah terjadinya hijrah Nabi Muhammad saw.

Sampai sekarang dalam kesehariannya negara-negara Islam banyak menggunakan kalender hijriyah. Sedangkan kalender Masehi yang digunakan oleh orang-orang Kristen sudah mulai dipakai oleh hampir setiap Negara di dunia.

Selain itu, masih ada kalender lain yang beredar di Indonesia. Seperti kalender China, kalender Saka (Hindu), kalender Jawa, kalender Jawa-Islam, dll.

“Inna fi khalqi samawati wal ardi wakhtilafillaili wannahari laayatilliulil albab”. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta dalam pergantian malam dan siang ada tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang menggunakan akal.(Q.S. Ali Imran: )

Sudah menjadi tradisi bagi kebanyakan umat manusia dalam menyambut tahun baru, baik itu tradisi kearifan lokal maupun tradisi keagamaan. Masing-masing membawa warna yang berbeda-beda dalam perayaannya. Misalnya, tahun baru hijriah yang jatuh pada 1 muharam, sebagai tahun baru Islam. Ada juga tahun baru Masehi yang memiliki warna konsumerisme atau penuh dengan nuansa gemerlapnya materi, terlalu kental warna keduniawiannya. Pada akhirnya warna keagamaan tidak dimunculkan, padahal yesus mengajarkan kesederhanaan dalam menjalani pola kehidupan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

Waspada Komplotan Penipu Mengaku Dari …

Fey Down | | 21 December 2014 | 23:23


TRENDING ARTICLES

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 5 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 6 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 7 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 7 jam lalu

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: