Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ahmad Jayakardi

Kakek seorang cucu...............

Che Guevara, sang Ikon Budaya Pop Itu

HL | 24 December 2010 | 17:40 Dibaca: 988   Komentar: 52   7

12931647191101316799

sumber: Google

Anda semua pernah melihat karya grafis di atas ini kan? Sosok yang macho, ganteng dengan ciri khas rambut gondrong dan baret hitam yang saat ini menjelma menjadi ikon dalam budaya pop. Sering muncul di kaos, topi, mug, buku dan sebagainya. Biasanya disertai penjelasan tulisan : CHE GUEVARA, bla, bla, bla. Sebagai karya grafis, tokoh ini sama populernya dengan lukisan bibir dower, lidah menjulur, logo band Inggris The Rolling Stones karya seniman grafis John Pasche itu.

Tapi siapakah CHE GUEVARA?

Lahir sebagai Ernesto Guevara Lynch de La Serna di Rosario, Argentina 14 Juni 1928 dari keluarga blasteran Spanyol, Basque dan Irlandia, dan tewas terbunuh di Bolivia 9 Oktober 1967. Biasa dipanggil El Che atau Che saja.

Agak sulit mendeskripsikan apa keahlian orang yang multi talenta seperti ini. Dokter, Penulis, Birokrat, Ekonom, Petualang, Pejuang Sosialis, dan masih banyak lagi. Tapi namanya lebih banyak dikaitkan dalam perannya sebagai Pemimpin Gerilyawan Komunis.

Meskipun dia menolak keras ketika disebut Komunis.

Masa pembentukan karakter

Sejak muda dia sudah melahap literatur kelas “berat”, Karl Marx, Fredriech Engels dan Sigmund Freud. Dia terlahir di lingkungan yang berkecukupan, golongan ‘borjuis’yang bertahun-tahun kemudian dimusuhinya. Tumbuh di tengah pergolakan politik di wilayah Amerika Selatan. Krisis politik yang parah di Argentina dibawah pemerintahan fasis kiri Juan Peron menanamkan benih kebenciannya akan peran politisi militer, imperialisme dan kapitalisme ala AS.

Uniknya dia tidak tertarik untuk ikut-ikutan gerakan mahasiswa penentang Juan Peron. Dia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik ketika kuliah di Universitas Buenos Aires, tempat dia belajar Kedokteran dengan spesialisasi penyakit kulit.

Perjalanannya yang pertama berkeliling Argentina Utara 1949 mengantarnya untuk bersentuhan langsung dengan kaum miskin dan sisa suku Indian yang tertindas. Kecanduan oleh perjalanan itu, dia mengulanginya 1951 dengan sepeda motor Norton 500, bersama sahabatnya Alberto Granado. Perjalanan itu menempuh 12.000 km dalam waktu setahun dari Argentina, Chili, Peru, Colombia hinggaVenezuela. Perjalanan itu ditulisnya dalam buku harian dan diterbitkan menjadi buku. Diterjemahkan dalam bahasa Inggris 1996 dengan judul “The Motorcycle Diaries” kemudian difilmkan dengan judul sama 2004. Film yang disutradarai Walter Salles ini memperoleh 2 nominasi Oscar 2005.

Perjalanan ini menghasilkan pertanyaan besar dalam dirinya. Mampukah dia sebagai dokter nantinya bisa menyembuhkan penyakit kemelaratan dan kesengsaraan yang menjadi menu sehari-hari rakyat Amerika Latin? Menurutnya, perubahan hanya bisa dilakukan dengan revolusi!. Dia segera menanggalkan semua kemungkinan untuk menjadi profesional dan hidup berkecukupan, dan memilih “jalan pedang“. (meminjam istilah dari buku Musashi).

Masa Petualangan

Segera setelah lulus, dia merantau ke Bolivia lalu kemudian menetap di Guatemala. Di saat itu Guatemala dikuasai oleh golongan militer sayap kiri pimpinan Jendral Jacobo Arbenz. Karena menolak untuk menjadi Komunis, Che tidak bisa masuk dalam golongan elit pemerintahan dan tetap miskin. Hidupnya ditopang dengan kegiatannya menulis.

Tindakan Arbenz untuk me-nasionalisasi-kan perusahaan Amerika, United Fruit membuat AS terprovokasi. Invasi langsung dengan serbuan pasukan melalui Honduras gagal. Kemudian melalui CIA yang mengagitasi golongan militer sayap kanan. Pemerintahan Arbenz berhasil diruntuhkan dari dalam Juli1954. Pimpinan beralih ke Kolonel Monzon.

Kegiatan klandestin Che di Guatemala sudah mulai terdeteksi AS. Sejak saat itu dia sudah termasuk daftar orang Komunis yang berbahaya yang dicari pemerintah AS. Kegagalan revolusi Arbenz memberi Che kesadaran penting, bahwa kegiatan imperialisme AS tidak bisa ditahan hanya dengan tentara reguler. Arbenz seharusnya mempersenjatai rakyat untuk melawannya.

Revolusi Kuba

1293165134774066650

foto karya Alberto Korda 5 maret1960 sumber: Wikipedia

Che mengungsi ke Mexico City dan bekerja di rumah Sakit Swasta. Disana dia bertemu dengan pejuang revolusioner Kuba yang sedang dalam pelarian, Fidel dan Raul Castro. Che memutuskan bergabung dengan para pejuang ini dan menuju Kuba ketika persiapan mereka sudah matang.

Tahun 1956 itu Kuba merupakan sebuah bisul yang siap meletus. Jenderal Fulgencio Batista yang memperoleh kekuasaan dengan kudeta militer 1952 memerintah Kuba dengan represif. Ribuan lawan politiknya dibantai. Sementara itu perusahaan-perusahaan AS mendominasi perekonomian Kuba dengan menguasai 80% peredaran barang, 100% industri minyak, 40% industri gula yang merupakan tulang punggung ekonomi Kuba, tetapi membiarkan 95% petani tebu tetap miskin.

Fidel Castro mulai mendirikan basis perlawanan rakyat dengan mengadakan pelatihan tentara dan mendirikan partai baru “Gerakan 26 Juli”. Bentrokan fisik segera terjadi dengan tentara pemerintah. Berkat dukungan petani dan kemudian golongan buruh perkotaan, tentara pemberontak semakin menguasai keadaan. Tanggal 2 Januari 1959. Tentara Rakyat di bawah pimpinan Che Guevara memasuki Havana dan Jenderal Batista melarikan diri ke AS.  Che yang semula hanya berperan sebagai dokter tentara berangsur mendapat kepercayaan sebagai pemimpin pasukan. Di ajang inilah dia mendapatkan reputasinya karena kekejamannya membantai lawan-lawannya.

Sebagai Birokrat

Pada saat revolusi dimenangkan, Che Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba. Dianggap bertanggung jawab menggiring pemerintahan Castro ke dalam komunisme independen yang tidak hanya mengekor Uni Sovyet. Dia menyusun Hukum Agraria baru yang menyita tanah berlebihan milik kaum feodal (yang kemudian dijadikan contoh oleh PKI). Diangkat menjadi Presiden Bank Nasional Kuba, mendirikan. Departemen Industri yang berhasil mengantarkan Kuba lepas dari dominasi AS.

Dia juga dianggap orang yang bertanggungjawab atas kegiatan kontra spionase yang menyebabkan kegagalan invasi AS ke Kuba April 1961. Peristiwa yang kemudian terkenal sebagai “Skandal Teluk Babi” itu mencoreng muka AS di dunia internasional dan mendiskreditkan pemerintahan Kennedy di dalam negeri AS sendiri.

Berkat tindakannya yang lugas, keras, idealis dan “hajar-bleh” tanpa pandang bulu, dia segera dijadikan musuh bersama, tidak saja oleh AS, tapi juga oleh Uni Sovyet.

Ketika memimpin delegasi Kuba ke  Solidaritas Asia-Afrika di Aljazair Februari 1965, Che ‘berteriak’ keras mengecam kebijakan bantuan Uni Sovyet yang berdasarkan ‘tebang-pilih’. Kebijakan yang hanya memberi bantuan kepada Negara sekutunya berdasarkan kemampuan Negara itu untuk membayar kembali pinjaman itu. Kebijakan yang disebutnya sebagai kebijakan ‘kapitalis’. Atas desakan Uni Sovyet dan sekutunya, Fidel Castro segera menyingkirkan sahabatnya itu dari lingkungan birokrasi pemerintahannya.

Che Guevara dan Indonesia

12931649871859290260

Bung Karno & Che Guevara, 12 Maret 1960 sumber:kalbukita.blogspot.com

Pada 12Juni 1959 belum genap enam bulan sesudah Revolusi Kuba meraih kemenangan, Castro mengutus Che untuk mengunjungi 14 negara Asia, kebanyakan negara peserta Konperensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Pada kesempatan inilah Che berkunjung ke Jakarta dan menyempatkan diri ke Borobudur. Setahun kemudian pada 13 Mei 1960, Bung Karno sebagai presiden RI mengunjungi Kuba. Di Bandara Jose Marti, Havana, Bung Karno disambut oleh Presiden Kuba Fidel Castro, Che Guevara, dan deretan pejabat Kuba lain. (Gus Dur sebagai Presiden RI juga pernah mengunjungi Kuba, April 2000)

Sebagai Pejuang Gerilya Internasional buronan CIA

Tersingkir dari pemerintahan tidak membuat Che patah arang. Api idealismenya belum menyurut apalagi padam. Dia membentuk pasukan gerilyawan militan di Kuba dan segera terjun ‘ikut-campur’ dalam pergolakan Kongo membantu gerilyawan Simba yang berhaluan kiri, untukmelawan angkatan bersenjata Kongo yang didukung CIA dan serdadu bayaran Arika Selatan pimpinan Mike Hoare.

(Kongo yang merdeka dari Belgia 1960 dalam bentuk Republik dengan Presiden Joseph Kasa Vubu dan Perdana menteri (yang Marxist) Patrice Lumumba. Tahun 1965 Lumumba terbunuh oleh kudeta Angkatan Bersenjata Kongo pimpinan Joseph Mobutu yang didukung CIA. Kudeta ini menampilkan Moishe Tschombe sebagai PM baru yang kemudian dituduh balik oleh Sovyet sebagai boneka AS. Kudeta ini menyeret pertikaian besar2an dengan pendukung Lumumba).

Pemberontakan ini berhasil dipadamkan 1966 dan Che hidup menggelandang di Eropa sebagai orang yang paling dicari CIA. Meskipun secara sembunyi2 kembali ke Kuba menengok isteri dan anaknya, Che kembali memutuskan bergerilya membantu gerilyawan sosialis di Bolivia. Merubah penampilannya, mencukur jenggot dan memotong rambutnya, Che masuk ke Bolivia sebagai Adolfo Mena Gonzalez dan kembali salah perhitungan dalam memperkirakan kekuatan tentara Bolivia dukungan CIA.

Tanggal 8 Oktober 1967 Che tertangkap oleh pasukan khusus Bolivia dan di-eksekusi sehari setelah itu, tanpa pengadilan.

Tanggal 12 Juli 1997 jenazahnya di-ekstradisi ke Kuba dan dimakamkan kembali dengan upacara kemiliteran sebagai pahlawan di Santa Clara, propinsi Las Villas, basis gerilya Che sewaktu Revolusi Kuba dahulu.

Epilog

Che menjadi legenda, justru setelah kematiannya. Ia dikenang karena penampilannya yang romantis, gayanya yang menarik, sikapnya yang tak kenal kompromi dan pengabdian seumur hidupnya untuk idealismenya. Ia juga idola bagi para anti kemapanan, keberanian tindakannya untuk melawan sesuatu yang dianggap tidak benar. Ia diidolakan justru oleh kaum muda AS dari lingkungan kapitalis-borjuis, kaum yang dilawannya sampai akhir hidupnya.

Fotonya, hasil karya Alberto Korda mengilhami banyak orang, menjadikannya barang jualan dan gimmick, ikon dalam budaya pop.

1293165239164400631

sumber: Google

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 11 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: