Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muthofarhadi

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus puluhan bahkan ratusan selengkapnya

Makarnya Muawiyah

OPINI | 10 January 2011 | 06:35 Dibaca: 279   Komentar: 4   0

Saya Cinta Ahlul Bait Rasul Muhammad saw

Kebencian Bani Umayyah yang oleh Allah swt dalam Al Qur’an Surat Al Isra ayat 60 mereka dijuluki sebagai al syajarah al Mal’unah (pohon kayu terkutuk/terlaknat) kepada Rasulullah saw dan Ahlul Ba’itnya memang tak disangsikan lagi, termasuk diantaranya sekenario pembunuhan terhadap Imam Husain ra, perencanaan pembunuhan itu disusun sendiri oleh Muawiyyah bin Abu Sofyan dan dilanjutkan oleh Yazid bin Muawiyah, adapun buktinya adalah surat yang dikirimkan oleh Muawiyyah kepada Yazid berikut isi surat itu :

Kepada Yazid dari Muawiyyah bin abi sufyan, tak pelak, kematian adalah peristiwa yang sungguh menyeramkan dan sangat merugikan bagi seorang lelaki berkuasa seperti ayahmu. Namun, biarkanlah, semua peran telah kumainkan. Semua impianku telah kuukirkan pada kening sejarah dan semuanya telah terjadi, Aku sangat bangga telah berjaya membangun kekuasaan atas nama para leluhur Umayyah.

Namun, yang kini membuatku gundah dan tak nyenyak tidur adalah nasib dan kelanggengan pada masa-masa mendatang, Maka camkanlah, putraku, meski tubuh ayahmu telah terbujur dalam perut bumi, kekuasaan ini, sebagaimana yang di inginkan Abu sofyan dan seluruh orang, haruslah menjadi hak abadi putra-putra dan keturunanku.

Demi mempertahankannya, beberapa langkah mesti kau ambil, Berikan perhatian istimewa kepada warga syam. Penuhi seluruh kebutuhan dan saran-saran mereka, Kelak mereka dapat kaujadikan sebagai tumbal dan perisai. Mereka akan menjadi serdadu-serdadu berdarah dingin yang setia kepadamu.

Namun, ketahuilah, kedudukan dan kekuasaan ini adalah incaran banyak orang bak seekor kelinci manis ditengah gerombolan serigala lapar. Maka, waspadalah terhadap empat tokoh masyarakat yang ku sebut dibawah ini :

Pertama adalah ‘Abdurahman ra bin Abu Bakar ra, pesanku, jangan terlalu khawatir menghadapinya, ia mudah di bius dengan harta dan gemerlap pesta. Benamkan dia dalam kesenangan, dan seketika ia menjadi dungu, bahkan menjadi pendukungmu.

Kedua Abdullah ra bin Umar bin al Khatab ra, ia menurut pengakuannya, hanya peduli pada agama dan akherat, seperti mendalami dan mengajarkan Al qur’an dan mengurung diri dalam mihrab masjid. Aku meramalkan, ia tidak terlalu berbahaya bagi keududukanmu, karena dunia dimatanya adalah kotor, sedangkan panji-panji Muhammad adalah harapan pertama dan terakhir. Biarkan putra kawanku ini larut dalam upacara-upacara keagamaanya dan menikmati mantra-mantranya

Ketiga adalah ‘Abdullah ra bin Zubair ra, Ia seperti ayahnya bisa memainkan dua peran, serigala dan harimau. Pantaulah selalu gerak geriknya, jika berperan sebagai serigala, ia hanya melahap sisa-sisa makanan harimau dan ia tidak akan mengusikmu. Apabila memperlihatkan sikap lunak, sertakanlah cucu Al ‘Awam ini dalam rapat-rapat pemerintahanmu. Namun jika ia berperan seperti Harimau, yaitu berambisi merebut kekuasaanmu, maka janganlah mengulur-ulur waktu mengemasnya dalam keranda. Ia cukup berani, cerdik dan bangsawan.

Keempat adalah Husain ra bin Ali ra bin Abi Thalib, sengaja aku letakkan namanya pada urutan terakhir, karena ayahmu ingin mengulasnya lebih panjang. Nasib kekuasanmu sangat ditentukan oleh sikap dan caramu dalam menghadapinya. Bila kuingat namanya, kuingat pada kakek, ayah, ibu dan saudaranya. Bila semua itu teringat, maka serasa sebongkah kayu menghantam kepalaku dan jilatan api cemburu membakar jiwaku. Putra kedua musuh bebuyutanku ini akan menjadi pusat perhatian dan tumpuan masyarakat.

Pesanku, dalam jangka sementara, bersikaplah lembut padanya, karena, sebagaimana kau sendiri ketahui, darah Muhammad mengalir di tubuhnya, Ia pria satria, putra pangeran jawara, susu penghulu para ksatria. Ia pandai, berpenampilan sangat menarik, dan gagah.

Ia mempunyai semua alasan untuk disegani, dihormati dan di taati.

Namun, bila sikap tegas dibutuhkan dan keadaan telah mendesak, kau harus mempertahankan kekuasaan yang telah kuperoleh dengan susah payah ini, apapun akibatnya, tak terkecuali menebas batang leher al Husain dan menyediakan sebidang tanah untuk menanam seluruh keluarga dan pengikutnya. Demikianlah surat pesan ayahmu yang ditulis dalam keadaan sakit. Harapanku, kau siap-siap melaksanakan pesan-pesanku tersebut “.

1300244200692513093

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerennya Taman Film Bandung …

Fajr Muchtar | | 14 September 2014 | 21:01

Bangga Menjadi WNI …

Alfarizi | | 15 September 2014 | 00:05

Pelaut dan Makanan …

Gunawan Setyono | | 15 September 2014 | 05:20

Sebaiknya Minum Obat Penunda Haid atau Tidak …

Rumahkayu | | 14 September 2014 | 23:57

Registrasi Online Kompasianival 2014 …

Kompasiana | | 15 September 2014 | 01:36


TRENDING ARTICLES

Jokowi dan UU Pilkada Potret Kenegarawanan …

Ninoy N Karundeng | 3 jam lalu

Ahok Emang Cerdas Kwadrat …

Ifani | 4 jam lalu

Koalisi Pembodohan …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Budaya Bali Tak Pernah Minder …

Pradhany Widityan | 8 jam lalu

Ahok Sebut Nachrowi Jadi Wagub, Nara Girang …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Acer Aspire Switch 10 dengan Mode Beragam …

Indira Monica | 7 jam lalu

Pengisian Bensin di Pom Tidak Sesuai, Sudah …

Anggi Irna Mantika | 7 jam lalu

Menyimak Ahok …

Ahmad Risani | 7 jam lalu

Bertobatnya Seorang Koruptor …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Buat Keju Sendiri Yuk …

Fidiawati | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: