Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Andi Akbar

berikan anak-anak kesempatan...

Belajar Sejarah Itu ……

OPINI | 18 January 2011 | 19:13 Dibaca: 135   Komentar: 2   1

12953311731239092156Ada satu hal mengapa orang harus belajar sejarah. Satu hal itu adalah kejujuran. Sejarah adalah sebuah pertanggungjawaban kepada tiga masyarakat sekaligus: masyarakat masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Sebagai sebuah pertanggungjawaban, maka objektivitas peristiwa mendapat tempat untuk diagungkan.

Proses penceritaan kembali peristiwa yang dianggap sejarah memang tidaklah gampang. Di sana akan ditemui kendala untuk berendah hati (baca: bersikap jujur) mengungkap apa yang benar-benar terjadi. Apalagi kalau itu menyangkut pelaku sejarah yang mengingat-ingat serta mematut-matut perannya dalam peristiwa yang diceritakannya.

Belajar sejarah adalah belajar untuk menanam, memupuk, mengembangkan serta mengekalkan sikap untuk adil kepada siapa saja. Kepada masa lalu yang mempunyai hak untuk ditempatkan dan diceritakan apa adanya. Kepada masa kini yang mempunyai hak untuk mendapatkan cerita apa adanya. Kepada masa depan yang mempunyai hak mendapat bekal agar tidak jatuh pada lubang yang sama.

Belajar sejarah belajar menumbuhkan sikap demokratis. Sejarah terlahir dari sebuah atau beragam pertanyaan. Jawaban atas pertanyaan tersebut tidaklah diwajibkan sama. Dibutuhkan sikap empati terhadap orang lain yang berpegang pada jawabannya masing-masing. Biarlah kebenaran diberikan kepada konteksnya.

Belajar sejarah adalah belajar tampil dengan modal yang dimiliki tanpa meminjam, menambah, mengurangi. Citra pada akhirnya akan tampil sesuai dengan aslinya. Semogalah kita belajar menghayati dimensi kualitas. Sebab segala innerlichkeit, jati diri, kita sebenarnya mendambakan arti, makna, mengapa dan demi apa kita saling bergandengan yang berkreasi aktif dalam sendra tari agung yang disebut kehidupan.

Belajar sejarah adalah belajar memupuk keberanian untuk menyalahkan diri sendiri apabila memang kita salang melangkah. Kesalahan langkah kita bisa saja disebabkan oleh sikap kita yang tidak tahu atau bisa juga disebabkan jalan kita yang dibelokkan. Kalau begitu, sejarah juga merupakan pergumulan antara nurani dan ambisi. Cerita tentang manusia yang saling mengekspresikan kemanusiaannya masing-masing.

Pada akhirnya belajar sejarah adalah belajar tentang kehidupan itu sendiri dengan guru yang tak pernah bisa dibatasi. Sebuah proses belajar yang tidak harus disempitkan menjadi kuliah atau sekolah, melainkan belajar dalam makna yang universal. “Historia vitae magistra” lirih Huizinga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kurikulum 2013: Buku, Seminggu Dibagikan …

Khoeri Abdul Muid | | 20 August 2014 | 17:25

Hati-hati, Cara Mengutip Seperti Ini Pun …

Nararya | | 20 August 2014 | 20:09

Menanti Keputusan MK …

Wisnu Aj | | 21 August 2014 | 02:20

Obat Benjut Ajaib Bernama Beras Kencur …

Gaganawati | | 20 August 2014 | 14:45

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Dapur Umum di Benak Saya …

Itno Itoyo | 12 jam lalu

Bonsai MK dan KPU, Berharap Rakyat Cueki …

Sa3oaji | 13 jam lalu

Menunggu Aksi Kenegarawanan Hatta Rajasa …

Giens | 14 jam lalu

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 18 jam lalu

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: