Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

M Farid W Makkulau

Regular called 'Etta Adil', a learner who live in village that has lost track of selengkapnya

Mengurai Sejarah Pangkep yang Bersahabat

OPINI | 05 February 2011 | 05:58 Dibaca: 1847   Komentar: 4   1

12968856051847942815

Logo Hari Jadi Pangkep ke 51

—  Refleksi Hari Jadi Kabupaten Pangkep ke 51 Tahun —

PANGKEP merupakan daerah yang jejak sejarahnya tenggelam, terlupakan dan dilupakan, bahkan oleh generasi mudanya sendiri.  Tak banyak yang tahu bahwa Pangkep merupakan bekas wilayah Kerajaan Siang, Barasa dan Lombasang (Labakkang). Di masa pemerintahan Hindia Belanda, daerah ini merupakan bekas wilayah Regentschappen Onderafdeeling Pangkajene yang membawahi tujuh wilayah adat gemeenschap, yaitu kekaraengan Pangkajene, Balocci, Bungoro, Labakkang, Ma’rang, Segeri dan Mandalle. (Lihat : Makkulau, 2005 ; 2007 ; 2008).

Tak banyak orang yang memahami betapa istimewanya sebenarnya daerah ini, jika ditinjau dari aspek sejarah dan budayanya. Potensi SDA dan SDM-nya dari dahulu sangat bisa diandalkan, menopang kehidupan sosial ekonomi politik daerah lainnya. Berikut ini beberapa uraian fakta sejarah yang mengungkapkan betapa bersahabatnya masyarakat dan pemerintah daerah ini.

Pertama, Pada masa pemerintahan Kerajaan Siang, menurut catatan Portugis—sebagaimana dicatat Antonio de Payva dalam dua kali periode kunjungannya ke Siang, 1542 dan 1544—Karaeng Siang, jauh sebelum kedatangan Portugis telah menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan – kerajaan di Semenanjung barat kepulauan Nusantara, bahkan menampung dan memberi ruang niaga bagi komunitas pedagang Melayu yang semakin gencar kedatangannya ke Siang paska jatuhnya Kerajaan Malaka, tahun 1511.

Diatas dasar ekonomi maritim dan membuka jaringan perniagaan interinsuler dengan pelabuhan – pelabuhan tetangga di pesisir barat Sulawesi, jaringan perniagaan terbatas dengan pelabuhan tetangga menjadi tonggak awal Kerajaan Siang menjadi salah satu unit teritori politik mandiri (Fadhillah. et. al, 2000). Siang kemudian berkembang sebagai pusat politik dan ekonomi sekitar Abad XIV sampai akhir Abad XVI.  Kerajaan Siang menjalin kontak niaga langsung dengan para pedagang Melayu yang datang dari sebelah barat kepulauan nusantara, bahkan dari Patani (Thailand Selatan). Saat kedatangan Antonio de Payva ke Siang, telah ditemukan komunitas pedagang melayu di sepanjang pesisir pantai barat Siang yang telah berbaur dengan penduduk pribumi setempat. Keturunan dari komunitas pedagang melayu itulah yang sampai sekarang kita temukan bermukim di Kelurahan Tumampua, Anrong Appaka dan Tekolabbua, dengan gelar Ince atau Unda.

Kedua, masyarakat Siang adalah masyarakat yang terbuka menerima pendatang. Catatan pelaut Portugis lainnya, Manuel Pinto, mencatat bahwa penduduk Siang ketika itu 40.000 jiwa, padahal saat itu Siang sedang menurun pengaruhnya sebagai Kerajaan yang berpengaruh di semenanjung barat jazirah Sulawesi Selatan. Berdasar Tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, sebagai bukti betapa bersahabatnya masyarakat Siang ketika itu, pada saat kedatangan bangsa Portugis—Orang Makassar menyebutnya  To Paranggi, To artinya orang dan Paranggi artinya Portugis—melakukan penyambutan dengan menyajikan makanan yang disebut Apang Paranggi (Apem Paranggi), yaitu makanan sejenis  roti yang sesuai dengan lidah orang Eropah. Makanan sejenis Apem ternyata khas tradisi makanan orang pesisir dan dikenal di hampir semua kebudayaan daerah yang bersentuhan dengan dunia pelayaran dan peniagaan.

Ketiga, Dalam tradisi tutur yang berkembang di Pangkajene diyakini bahwa Siang mempunyai tempat istimewa dibandingkan dengan kerajaan lainnya. Kendati Siang pernah menjadi vasal Gowa pada akhir Abad XVI, adat Siang mengharuskan agar raja – raja dari negeri besar lain yang melintasi teritori Siang memberi hormat pada “Karaeng Siang”. (Fadhillah, et.al,  2000 : 17). Dalam kompleks benteng Siang, terdapat Sumber air penting pada masa itu yang disebut Bubung Tallua, yang merupakan simbolisasi hubungan antara Kerajaan Luwu, Bone dan Gowa dengan Siang. Bubung Tallua adalah suatu sumur besar yang lubangnya dibagi tiga oleh sanrangan, yakni semacam silinder kecil yang terbuat dari batang pohon lontar. Konon, rasa air ketiga sanrangan kecil berbeda. Dahulu, bila orang Luwu dan Bone ingin ke Gowa atau sebaliknya, biasanya singgah mengambil air di Bubung Tallua. Ketiga sanrangan merepresentasikan persahabatan tiga kerajaan besar (Bone, Gowa dan Luwu) yang ditampung oleh Siang. Jadi, simbolisasi Bubung Tallua merefleksikan kedudukan Siang sebagai melting-pot ketiga masyarakat negeri, bukan hanya manusianya, tetapi juga budayanya. (Fadillah, et.al : 2000).

Keempat, Wujud persahabatan masyarakat dan pemerintah daerah ini juga sudah ditunjukkan sejak masa kekuasaan Kerajaan Lombasang, yang berada di sebelah utara Siang. Lombasang adalah nama tua dari Labakkang, yakni sebuah konfederasi beberapa entitas kekuasaan politik : Malise, Lombasang, Leange (Bombong Tallua). Unit-unit pemukiman utama Lombasang berada di tepi Sungai Soreang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Labakkang. Pusat kerajaannya diduga mengalami perpindahan dua kali dalam kurun waktu lima abad sejak sekurang-kurangnya Abad XVI, yaitu Lembang dan kemudian dipindahkan ke Kamponga.

Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe, Karaeng Labakkang XXII sendiri mengungkapkan bahwa kata ” Labakkang ” (Bahasa Makassar) berasal dari kata ” A’labba ” yang berarti lebar dan ” A’gang ” yang berarti berteman atau bersatu. Kedua kata ini, menurutnya mengacu kepada Kondisi wilayah Labakkang yang luas / lebar serta karakter masyarakat Labakkang yang suka berteman. Hal ini mendapatkan konfirmasi di lapangan bahwa masyarakat Kecamatan Labakkang dihuni oleh dua etnis mayoritas, yakni etnis Bugis pada bagian timurnya dan etnis Makassar pada bagian baratnya. Kenyataan ini menurut Andi Bahoeroe Karaeng Gaoe (Karaeng Loloa) karena pada waktu itu Somba Labakkang meminta bantuan orang – orang dari Bone dan Soppeng untuk membuka hutan dan  lahan pertanian pada bagian timur Labakkang sehingga pendatang Bugis tersebut akhirnya menetap disitu secara turun temurun. Begitu pula halnya dengan kedatangan Orang – orang Gowa dan Galesong ke Labakkang bagian barat untuk menetap, membuka hutan dan bercocok tanam dengan persetujuan Somba Labakkang. Kedua etnis ini hidup rukun dan damai. (Nyonri, Disbudpar Pangkep, 2007 : 6).

Kelima, Persahabatan antar etnis di daerah ini juga sangat kompleks karena proses kawin mawin, bukan hanya penguasa negeri tapi juga rakyatnya. Itulah sebabnya sistem budaya yang mewarnai kehidupan masyarakat daerah ini adalah tradisi kultural bugis dan makassar sekaligus. Kerajaan Siang punya hubungan kekeluargaan dengan keluarga kerajaan Luwu, Soppeng, Wajo, Tanete, dan Bone karena pihak keluarga Kerajaan Gowa juga mengadakan hubungan perkawinan (kawin-mawin) antar keluarga Kerajaan Luwu. Kemudian Luwu kawin-mawin dengan Soppeng, Soppeng kawin-mawin dengan Tanete dan Tanete kawin-mawin dengan Bone. Ringkas cerita, keturunan produk sistem kawin - mawin itulah yang mampu menjalin hubungan kekeluargaan / kekerabatan semakin luas.

Beberapa negeri atau kerajaan lainnya, seperti Barasa (Pangkajene), Lombasang (Labakkang), Segeri, dan beberapa unit teritori politik lainnya juga mengadakan kawin mawin antar keluarga kerajaan. Barasa berafiliasi Gowa, Bone dan Soppeng.  Demikian pula Ma’rang dan Segeri. Sedang Labakkang lebih banyak dengan Gowa, walaupun pada mulanya Labakkang merupakan keturunan raja – raja Luwu, Soppeng dan Tanete. Tradisi kawin-mawin inilah yang menyebabkan masyarakat Pangkep saat ini telah menyatukan darah orang Bugis Makassar dalam wujud keturunan, bahasa, tradisi dan adat – istiadat. (Makkulau, 2005).

Keenam, Dalam perjalanan sejarahnya daerah ini menjadi perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa. M Taliu BA (1997), juga menyebutkan bahwa Kampung “Tumampua” (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni  mayoritas orang Bone berdarah Siang berpenutur Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh mayoritas orang Gowa berpenutur Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan.

Sekedar diketahui bahwa penamaan Kampong Tumampua sebenarnya bermula pada saat Gowa mengasingkan Raja Bone XIV, La Tenriaji To Senrima (saudara dari raja Bone XIII, La Maddaremmeng Matinroe ri Bukaka) ke Siang. Raja Bone ini melakukan peperangan terhadap Kerajaan Gowa karena menganggap apa yang dilakukan Gowa dengan serangan militernya ke Bone adalah bentuk penjajahan suatu Negara atas Negara lain, melanggar kedaulatan Kerajaan Bone, meskipun Gowa beralasan bahwa peperangan yang dilakukannya adalah dalam rangka proses pengislaman. La Tenriaji To Senrima tertangkap, ditawan, dan diasingkan ke Siang. (A. Sultan Kasim, 2002).

Pada waktu diasingkan ke Siang inilah, dibuka Kampung yang sampai sekarang masih ada—dinamai “Tumampua”—Tumampua sendiri berarti orang yang berasal dari Mampua. (Tu = orang ; Mampua = nama negeri atau kerajaan kecil di Bone). Dalam Sejarah Bone diketahui bahwa La Tenriaji To Senrima (Raja Bone XIV) yang kalah perang dari gabungan pasukan Gowa–Wajo–Luwu dalam Bunduka ri Pasempe (Musu Pasempe’, 1646) kemudian diasingkan ke Siang bersama pengikut–pengikut setianya, sebagian besar diantaranya  berasal dari Mampua bersama rajanya, Arung Mampu. (A. Sultan Kasim, 2002 : 64 – 67 ; Makkulau, 2007).

Tentunya fakta – fakta sejarah diatas hanya sebagian kecil saja yang bisa disebutkan, betapa sebenarnya Kabupaten yang meski secara hukum formal baru berusia 51 Tahun ini (8 Februari 1960 – 8 Februari 2011), pada dasarnya sudah memiliki riwayat persahabatan yang sangat kental dengan daerah lainnya dalam perjalanan sejarahnya. Akhirnya, Pesan saya, “Jangan sekali – kali melupakan Sejarayya” (Jasmerayya).  Kalau beberapa waktu lalu Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan bahwa Pangkep sangat potensial dijadikan miniatur Sulawesi Selatan, sebenarnya hal tersebut sangat beralasan, bukan hanya dari segi wilayahnya yang mewakili semua karakter wilayah—tiga dimensi—juga Pangkep sangat refresentatif, bukan hanya dari segi sosial budaya masyarakatnya, tapi juga secara ekonomi dan politik sangat bersahabat.

Demikian yang dapat saya sampaikan.  DIRGAHAYU KABUPATEN PANGKEP KE - 51 TAHUN. (*)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Miss Sarah Ballard, Guru Inggris Madrasah …

Eddy Roesdiono | | 18 September 2014 | 12:24

Kritik kepada Mahfud MD …

Hendra Budiman | | 18 September 2014 | 13:21

Memperluas Keterbacaan Kompasiana Melalui …

Pepih Nugraha | | 18 September 2014 | 15:37

Tidak Ada Porter di Australia …

Roselina Tjiptadina... | | 18 September 2014 | 10:45

Nangkring Bareng Paula Meliana: Beauty Class …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 10:14


TRENDING ARTICLES

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 9 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 9 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Bawang putih, Penangkal Setan dan Halusinasi …

Mawalu | 7 jam lalu

Mengkritisi Struktur Kabinet Jokowi-JK …

Rusdianto Sudirman | 7 jam lalu

Bahagiaku …

Zahrah Al Syitaa | 8 jam lalu

Mendukung Pilkada Langsung untuk Pembangunan …

Muhammad Rezanda Al... | 8 jam lalu

Amnesti Bersyarat, Pemerintah Akan Lebih …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: