Artikel

Sejarah

Rofi' Uddarojat

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Moslem Activist, Manchester United Lover, Has a big passion on Politic, Economy, History, Philosophy, and Islamic Tought. Student Of Paramadina University...

Doorstoot Naar Djokja: Tempatmu Bukan Tempatku (Bag. 2)


REP | 07 February 2011 | 20:42 Dibaca: 85   Komentar: 0   Nihil

Minggu pagi 19 Desember, setelah dilaporkan bahwa tentara Belanda sudah mendarat di Indonesia dan siap menyerang Djokja, maka timbullah perselisihan antara para pemimpin Indonesia dengan para petinggi TNI. Para petinggi TNI, dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman lebih memilih pergi meninggalkan Djokja untuk memimpin perang gerilya. Namun, Bung Karno lebih memilih bertahan dan membiarkan ditangkap Belanda agar bisa mengadakan perundingan dan diplomasi. Tapi karena saya yakin alasan mereka semua karena kecintaannya pada Indonesia, tak ada konflik yang berimbas pada perpecahan. Karena pada akhirnya kedua perjuangan ini, bergerilya dan berdiplomasi, menjadi perjuangan satu kesatuan yang berhasil membuat Indonesia diakui oleh dunia Internasional. Tapi yang tentang ini akan saya bahas pada bagian akhir tulisan ini.

Ada kisah menarik dan menggugah tentang ini, yaitu ketika Panglima Besar Soedirman mengajak Bung Karno untuk pergi meninggalkan Djokja karena tentara Belanda akan menyerang kota Djokja. Namun seperti yang saya ungkapkan diatas, Bung Karno dan segenap pemimpin Indonesia menolak untuk pergi dan akan berdiplomasi dengan Belanda. Terjadi dialog yang cukup menggugah perasaan nasionalisme kita. Diceritakan Bung Karno dan Jenderal Soedirman mengadakan pembicaraan empat mata. Bung Karno memberi saran kepada Soedirman agar bersembunyi dalam kota untuk berobat terlebih dahulu. Karena sewaktu itu Soedirman sudah menderita TBC yang menggerogoti paru-parunya.

Saran tersebut ditolak Soedirman dengan alasan kalau sampai seorang Panglima Besar bisa ditangkap musuh, efek psikologisnya terhadap seluruh prajurit akan sangat berat dan akan meruntuhkan semangat perjuangan. Sebaliknya, Soedirman mengajak Bung Karno ikut berangkat ke luar kota untuk melanjutkan perjuangan. Namun Bung Karno menolak. Dia kemudian menjelaskan, dirinya dan Bung Hatta akan tetap tahan di Istana, agar bisa melanjutkan perjuangan dengan cara diplomasi.

Bung Karno mengungkapkannya dengan dramatis, seperti telah dicatat oleh Cindy Adams, penulis biografinya:

“Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan perang bersama pasukanmu. Tempatmu bukan tempat pelarianku. Aku harus tinggal disini, dan mungkin bisa berunding untuk kita serta memimpin rakyat kita.”

Soedirman menjawab, “…jika Bung Karno tetap disini, boleh jadi Bung akan dibunuh?”

“…dan kalau kita kalau aku keluar dari sini? Belanda mungkin menembakku? Dalam kedua hal tersebut, aku bakal menghadapi kematian. Tetapi jangan khawatir, aku tidak takut.”

“Pasukan kita selalu menguburkan Belanda yang mati. Kita perang dengan cara berada, akan tetapi…” Soedirman mengepalkan tinjunya ke atas sambil berkata, “…saya akan peringatkan Belanda, kalau mereka menyakiti Soekarno, maka bagi mereka tidak pernah ada lagi kata ampun. Belanda akan mengalami aksi pembunuhan besar-besaran.”

Soedirman dengan langkah pelan, kemudian berjalan keluar ruangan. Sesaat kemudian, dengan wajah cemas, dia kembali menengok Bung Karno, sambil bertanya, “Apakah ada intruksi terakhir sebelum saya berangkat?”

Bung Karno menjawab, “Ya jangan adakan pertempuran di jalan-jalan dalam kota. Kita dengan cara itu tidak akan mungkin bisa menang. Akan tetapi pindahkanlah tentaramu keluar kota. Dirman, berjuangkanlah sampai mati. Aku perintahkan kepadamu untuk menyebarkan seluruh tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lembah dan bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya semesta.”

“Sekalipun kita harus kemabali memakai cara amputasi tanpa obat bius atau menggunakan daun pisang sebagai perban, jangan biarkan dunia berkata, kemerdekaan dihadiahkan dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia, kita membelo kemerdekaan dengan harga mahal, dengan darah, keringat, dan tekad yang tidak pernah kunjung padam.”

Kemudian Bung Karno melanjutkan, “Jangan keluar dari lembah dan bukit sampai Presiden-mu memerintahkannya. Ingatlah, sekalipun para pemimpin tertinggi tertangkap, otang yang dibawahnya harus menggantikan, baik di militer, maupun sipil. Indonesia…tidak akan menyerah.”

Menurut Mangil, pengawal pribadi Bung Karno, sebelum berpisah Bung Karno masih sempat memberikan tambahan pesan, “Dirman, inilah pesanku kepadamu. Sebagai seorang prajurit, sebahai seorang Jenderal, sebagai seorang Panglima TNI, jangan menyerah. Besarkan jiwamu, tebalkan semangatmu dan hidupkan kesetiaanmu kepada Negara, Tanah Air, dan Bangsa Indonesia.”

Perpisahan antara Bung Karno dengan Soedirman dicatat Ali Sastroamidjojo sebagai berikut: “Pada waktu Pak Dirman datang ke Istana Presiden untuk minta diri, saya melihat sendiri, betapa kondisi beliau sudah sangat lemah, oleh karena tiga bulan menderita sakit paru-paru.”

“Ketika Bung Karno mendengar Pak Dirman akan berangkat ke luar kota untuk memimpin perang gerilya, Bung Karno memberi nasihat agar beristirahat saja serta berobat lebih dulu di Djokja, sampai nanti sembuh. Agar segera bisa kembali kuat, untuk bekal dalam meneruskan perjuangan. Tetapi Pak Dirman tetap teguh kepada tekadnya. Bung Karno langsung memeluk sambil memberikan doa restu. Begitulah, Pak Dirman kemudian melangkah keluar dengan tegap, berangkat memimpin perang gerilya.”

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: