Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Tatengger Sejarah Labuhanbatu Kian Tak Lestari

REP | 28 February 2011 | 05:49 Dibaca: 915   Komentar: 0   0

Berjarak sekira 300-an meter dari perempatan Jalan M Said, Jalan Lobusona dan Jalan Tugu Juang 45 Rantauprapat, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Kondisi fisik infrastruktur jalan darat memprihatinkan.Hingga, penghujung jalanan yang hanya beraspal sekedarnya itu, akan ditemui gedung bernama Tugu Juang 45. Bagunan yang diharap menjadi bukti sejarah perjuangan dalam upaya merebut dan memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia di Labuhanbatu dari tangan Penjajah Kolonial Belanda pada masa lalu itu, kini, terkesan ‘terabaikan’. Seiring perkembangan jaman.

Pekan Silam, penulis melakukan kunjungan ke fasilitas umum (Fasum) itu. Berlokasi, di pinggir jantung kota Rantauprapat. Tepatnya di Kelurahan Ujung Bandar, kecamatan Rantau Selatan, Labuhanbatu-Sumut. Menyambangi tempat bersejarah perjuangan para laskar pejuang Sumatera Timur Selatan (STS) merebut kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan Penjajah Belanda dan cikal bakal awal pelaksanaan roda Pemerintahan Daerah Labuhanbatu tersebut, terlihat kesan kurang adanya kepedulian yang tinggi dalam pelestariannya. Pasalnya, kondisinya yang kian mengalami kerusakan-kerusakan terus terjadi. Fisik bangunan yang diresmikan pada 15 Agustus 1996 lalu oleh Bupati Labuhanbatu yang kala itu dijabat H Banua Ispensyah Rambe.

Syahdan, terealisasi atas kerjasama dengan jalinan kerjasama Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Pembudayaan (BP) Kejuangan 45 Labuhanbatu yang diketuai oleh H Djalaluddin Pane.Ketika itu, terlihat kondisinya masih menyimpan beberapa arsip perjalanan sejarah Labuhanbatu. Baik, tentang sejarah gerilya para pejuang maupun tahapan-tahapan perkembangan dan beberapa kali terjadinya pemindahan Ibukota Pemerintahan Labuhanbatu. Sebelum akhirnya, pada posisi penempatan sekarang, di kota Rantauprapat.

Kondisi faktual sekarang ini, berbalik arah 180 derajat. Bahkan, kondisi prasarana lainnya seperti ketersediaan WC dan kamar mandi, jauh dari fungsi yang diharapkan. Belum lagi, beberapa tempat dilokasi itu, kian semak. Karna, ditumbuhi rerumputan. Selain perlunya terus dilestarikan sebagai pusat sumber dan data sejarah bagi penambah pengetahuan generasi muda. Khususnya masyarakat Labuhanbatu dalam mengenal sejarah daerah Labuhanbatu. Juga, pemanfaatan lokasi Tugu Juang 45 yang tepat di lereng Bukit Barisan itu memiliki Panorama alam yang sungguh menakjubkan. Dapat dikelola sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) dalam mengundang para Wisatawan Domestik. Bahkan, tak tertutup kemungkinan kehadiran wisatawan manca negara (Wisman).

Sebab, beberapa pengunjung yang ditemui di lokasi itu mengaku sering berkunjung hanya sebagai tempat rekreasi dan santai. Bahkan, takjarang oleh para muda-mudi lainnya dijadikan sebagai tempat mejeng. Ironis, malah kurang mengetahui persis fungsi bangunan itu. Terlebih lagi, kaitan dengan sejarah berdirinya Labuhanbatu. “Kami hanya mangkal disini untuk rileks bang. Sebab, disini tempatnya, selain sunyi jauh dari kebisingan dan kesibukan kota. Pemandangan alamnya dengan latar Bukit Barisan juga dapat membuat hati tenang,” beber salahseorang pengunjung.

Tapi, tentang fungsi pendirian gedung sejarah itu, mereka akunya kurang tahu pasti. Disitu, sebenarnya pernah terjadi pusat Pemerintahan Sipil Militer, dibawah pimpinan M Djamaluddin Tambunan selaku pejabat Bupati Militer dengan Sekretarisnya Abdul Gani dan Ketua DPR Labuhanbatu Abdul Rahim Ja’far. Dan, Letnan Satu Ibrahim Effendi Pardede sebagai perwira yang diperbantukan. Selain itu juga, pada tempat ini sekaligus dijalankannya Komando Angkatan Darat yang dipimpin Kapten A Manaf Lubis sebagai Komandan Sumatera Timur Selatan (STS).

Sedangkan, Kapten M Sukardi sebagai Komandan BAT Arjuna. Kapten Rami Budiharjo sebagai Komandan BAT X. Komisaris Polisi pada masa itu dipundak Elisa Siregar. Untuk Inspektur Polisinya di jabat Rustam Effendi Harahap.

Syahdah, alasan memilih tempat tersebut sebagai basis pertahanan militer dan menjalankan roda Pemerintahan Labuhanbatu. Karena memiliki daerah teritorial yang strategis. Dikelilingi oleh rawa-rawa (kini menjadi persawahan warga-red). Dan, lokasinya didaratan tinggi. Serta, berada di lereng Bukit Barisan yang memiliki hutan lebat. Sehingga, mengandung unsur dan mampu menyulitkan pihak musuh (penjajah) untuk melakukan penyerangan.

Memang, pihak DHC BP Kejuangan 45 Labuhanbatu sebagai penggelola tempat itu telah berupaya melakukan pelestariannya. Seiring, dengan pembangunan satu unit rumah bagi penjaga yang ditugas merawat Tugu Juang. Namun, minimnya pengalokasian dana yang diberikan oleh Pemerintahan setempat, penyebab kesan ‘terbengkalainya’ objek sejarah dan objek wisata yang seharusnya menjadi kebanggaan para generasi muda sebagai penerus perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Akankah kondisi gedung itu tetap dipertahankan demikian yang pada gilirannya asset sejarah Pemkab Labuhanbatu itu, mengalami terjadinya degradasi dan kerusakan-kerusakan fungsi oleh ulah segelintir oknum tangan jahil dan tak bertanggung jawab.

Beberapa Prasasti Sebagai Bukti Pergerakan TNI

Pelestarian berbagai objek dan tempat yang dapat dijadikan bukti sejarah proses terjadinya upaya perebutan dan usaha mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia di Labuhanbatu perlu segera dilakukan. Seiring, kian melemahnya pemahaman generasi muda terkait sejarah-sejarah yang ada di daerah bermotto Ika Bina En Pabolo itu.

Padahal, beberapa objek khususnya prasasti yang dapat dijadikan sebagai bukti nyata adanya pergerakan laskar-laskar yang terakhir tergabung di dalam wadah Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada masa itu. Antara lain, Prasasti Aek Kanopan (sekarang Labuhanbatu Utara) sebagai bukti terjadinya penumpukan pejuang ditahun 1947 untuk mengirimkan bala bantuan dalam perjuangan yang dilakukan oleh Laskar Medan Area. Demikian diungkapkan H Harun Syah A K Sekretaris DHC BP Kejuangan 45 Labuhanbatu khusus kepada penulis, belum lama ini, di kediamannya di kawasan jalan Beringin-Rantauprapat.

Selain itu, tambahnya, Prasasti Kampung Mesjid. Itu, sebagai bukti sejarah pernah terjadi penyerangan yang dilakukan TNI terhadap pos pertahanan Belanda di Kampung Mesjid pada tanggal 15 Juni 1949. Juga, prasasti Pulo Hoppur, NA IX-X (Labuhanbatu Utara). Penumpukan pasukan TNI yang akan dikirimkan untuk melakukan penyerangan ke pos pertahanan Belanda di Kampung Pajak. Prasasti Pulo Bargot, Marbau. Merupakan sejarah penyerangan pasukan TNI dibawah pimpinan Nurdin Nasution. Ke pos pertahanan Belanda di Marbau.

Prasasti Kualuh Selatan, Bandar Lama (Labuhanbatu Utara). Dimana, pada Agustus 1945 jelang terjadinya Proklamasi Kemerdekaan RI dan situasi dalam kondisi gencatan senjata. Namun, pihak Belanda melakukan pelanggaran dengan melakukan penyerangan ke tubuh pertahanan TNI. Dampaknya, kontak senjata tak terelakkan. Prasasti Kota Pinang, Bukit Simpang 3 -Kota Pinang (Labuhanbatu Selatan). Sejarah kenangan pada tahun 1949 sebagai pos pertahanan Belanda digempur TNI. Dan, Prasasti Tugu Juang 45 di Ujung Bandar, Rantau Selatan sebagai basis pertahanan TNI dan roda Pemerintahan Labuhanbatu.

Selain itu, Prasasti Hutagodang, Sei Kanan (Labuhanbatu Selatan). Sebagai pengenang sejarah terjadinya penyerangan melalui udara yang dilakukan pihak Belanda ke dalam wilayah pertahanan TNI disana.

H Harun Syah AK sebagai eks Laskar Pesindo Tanjungbalai-Asahan yang selanjutnya sejak tahun 1948 tergabung didalam TNI dan kemudian hari menjadi salah seorang staf pada Pemerintahan Sipil Militer di Labuhanbatu dalam urusan mengawasi dan melaksanakan pemerintahan daerah, melihat kondisi Tugu Juang 45 yang ada di kelurahan Ujung Bandar, Rantau Selatan itu, merasa sudah sepantasnya dilakukan perawatan dan pengelolaannya secara lebih diperhatikan.

Alasannya, kondisi gedung itu kian mengalami kerusakan-kerusakan. “Dahulu terjadi upaya pengrusakan tempat bersejarah itu. Sehingga hal itu dilaporkan kepada pihak berwajib,” ungkapnya.

sumber :

http://www.facebook.com/note.php?note_id=87701409302

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Menanti Doraemon Menjadi Nyata …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 December 2014 | 11:36

Refleksi Hari Ibu; Dilema Peran Ibu di Era …

Agus Purwadi Umm | | 22 December 2014 | 02:24

Perbaiki Sikap Berkendaraan agar Hemat BBM …

Fajr Muchtar | | 22 December 2014 | 06:22

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 12 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 13 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 13 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: