Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Bambang Priantono

Saya seorang multiplyer, dan saat ini mengajar bahasa Inggris disebuah lembaga pendidikan satu tahun yg selengkapnya

Menjelajah Candi Klero, Tengaran, Semarang

REP | 14 March 2011 | 12:57 Dibaca: 740   Komentar: 7   0

Pagi-pagi sekitar pukul 5.30, selepas sholat Subuh, saya langsung berancang-ancang berangkat menuju Candi Klero, yang berada sekitar 60 km selatan kota Semarang. Dalam tas ransel hanya ada air mineral 1,5 liter dan tustel digital. Kenapa saya pergi pagi-pagi sekali? Agar pulang ke Semarang nanti tidak kesorean, terlebih cuaca yang tidak menentu semenjak tahun kemarin akibat Mbak Nina yang tak kunjung pergi. Dari Halte Imam Bonjol, saya naik bis ¾ jurusan Salatiga yang berputar lewat jalan tol Banyumanik. Tarifnya Rp 7000,- untuk sampai ke Terminal Pos Tingkir Salatiga. Sepanjang perjalanan menuju Salatiga, mulai kawasan Tembalang hingga Bawen, kabut sangat tebal, sehingga bispun harus perlahan. Saya hanya duduk-duduk saja sambil selonjoran kaki. Karena bisnya kecil, jadi saya tidak leluasa selonjor, terlebih jarak antar kursi yang sempit.

Sekitar pukul 6.30 saya sudah sampai di Terminal Tingkir, Salatiga. Disitu saya naik colt yang sudah ngetem sedari saya datang. Saya bilang ke Candi Klero, dan bayar Rp. 2000,-. Tapi sayangnya saya diturunkan ke Kleronya, bukan ke candi yang dimaksud, jadi apa boleh buat, saya jalan kaki saja sambil menikmati jalanan. Menggelandang lagi (toss ke Mbak Evi). Sekitar 1 km kemudian saya baru ketemu jalan ke Candi Klero…kurang sedikit sudah dekat perbatasan Boyolali nih. Letaknya di RT 20 RW 5, Dusun Ngentak, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Setelah yakin akan lokasinya, saya langsung memasuki gapura dusun dan berhenti sejenak di sebuah rumah yang penghuninya berjualan nasi tumpang dan bubur lemu. Saya memilih sarapan nasi tumpang lengkap dengan tempe goreng tepung, sembari mendengarkan curhatan seorang warga desa yang mengalami penganiayaan sehari sebelumnya. Hmmm…warga yang ramah nih. Saya ditanya juga asal-usul…dan saya hanya jawab dengan suara pelan, karena nanti kalau kelamaan ngomong bakal ketahuan logatnya dari mana. Hahahahaa.

Oh iya, setelah selesai makan dengan membayar Rp. 3000,- , saya langsung cabut (tapi pasti pamitan dulu dong) ke arah timur. Melewati hutan pinus dan kebun talas disisi jalan desa. 100 meter kemudian, ketemu dech Candi Klero alias Candi Tengaran ini. Sepi…tidak ada siapa-siapa, dan disebelah candi itu sendiri ada area pemakaman desa, menambah mistiknya suasana. Saya masuk ke dalam dan seperti biasa, jepret kiri dan kanan dari berbagai sudut candi. Tapi kawasan candi ini termasuk terawat. Rumput-rumput menghijau, diselingi bebungaan yang cantik apalagi banyak kupu-kupu disana. Wow, pendek kata asri sekali.

Saya juga bertemu dengan penjaga candi yang datang bersama 2 anaknya. Ngobrol kiri kanan soal Candi Klero ini, sampai akhirnya tanpa sadar logat Jawa Timuran saya terdeteksi oleh dia (hahahahaha). Memang sedikit sekali rujukan yang didapat tentang Candi Klero ini. Tapi ada deskripsi sedikit yang saya dapat dari dia (asem, lupa nanya lama lagi).
1.    Candi Klero dari bawah ke atas total tingginya 6 meter sekian.
2.    Luas candi berkisar 14 x 14 meter
3.    Ditemukan pada tahun 1995
4.    Diperkirakan dibangun pada abad ke-8 atau 9 Masehi
5.    Sebenarnya masih ada lapisan batu-batuan lagi dibawah candi, tapi sengaja ditutup agar tidak menggoyahkan struktur candi yang sudah direstorasi.
6.    Candi Klero sama sekali tidak memiliki ukiran, dan sebagian besar batuan yang dibuat menyusun sudah tak lagi asli.
7.    Hanya ada satu ruang yang berisi sebuah Yoni dan biasa dipakai oleh orang luar desa untuk melakukan ritual, sampai ada larangan menyalakan dupa karena akan merusak bebatuan candi.
8.    Pada saat ditemukan pertama kali, ditemukan juga arca Siwa yang kini disimpan di Balai Konservasi Purbakala di Prambanan.
Candi Klero sendiri tidak banyak didatangi. Hanya satu atau dua orang yang datang per harinya. Sementara di musim seperti sekarang kadang sama sekali tidak didatangi. Saya baru beranjak pergi sekitar pukul 9.00 WIB saat si penjaga dan dua anaknya harus ke seberang jalan karena akan membantu membuat panggung untuk acara kesenian tradisional. Sementara saya sendiri memilih balik ke Salatiga untuk ketemu salah satu mpers yang koas di RSUD Salatiga.

Oh ya, sebagai petunjuk menuju Candi Klero, berikut ini dari saya.
Dari Semarang :
Jika menggunakan kendaraan pribadi, terus saja ke arah selatan. Lewati Pos Tingkir dan cari gapura RT 20 RW 5 Ngentak, Klero yang berada diseberang persis PT Nesia Pan Pacific Knit (kalau dari Semarang anda di sisi kiri jalan). Kemudian masuk saja ke dusun itu dan telusuri sampai 100 meter dari gapura. Tempatnya agak tersembunyi memang.

Sementara jika menggunakan angkutan umum, dari Semarang bisa naik bis jurusan Solo minta berhenti di Candi Klero (dianjurkan ekonomi saja). Atau jika ingin berpetualang sedikit, naik bis kecil jurusan Salatiga (Rp. 7000,-) dan naik colt jurusan Klero (Rp 2000,-) minta diturunkan di seberang PT. Nesia. Jarak dari Semarang sekitar 58 km, dan 10 km dari pusat kota Salatiga. Sementara dari Solo sekitar 47 km arah barat laut.

Semoga informasi yang sedikit ini bisa bermanfaat. Candi-candi kecil juga perlu perhatian.

Tulisan ini juga saya publikasi di situs saya : http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/3042

Semarang, 13 Maret 20111300060519110921481

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 9 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 16 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 17 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 17 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: