Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Aris Rohmadi

Satu-satunya cara untuk menumbuhkan seorang anak yang baik adalah menjadikannya anak yang bahagia.

Riwayat Hidup Muhammad SAW

OPINI | 10 April 2011 | 06:07 Dibaca: 3930   Komentar: 2   1

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Nabi Muhammad saw berasal dari kabilah Quraisy, tepatnya keturunan Hasyim. Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdul Muthalib, cucu Hasyim. Ibunda beliau adalah Aminah binti Wahb yang berasal dari keturunan Bani Zuhrah, salah satu kabilah Quraisy. Setelah menikah, Abdullah melakukan pepergian ke Syam. Ketika pulang dari pepergian itu, ia wafat di Madinah dan dikuburkan di kota itu juga. Setelah beberapa bulan dari wafatnya sang ayah berlalu, Nabi pamungkas para nabi lahir di bulan Rabi’ul Awal, tahun 571 Masehi di Makkah, dan dengan kelahirannya itu, dunia menjadi terang-benderang. Sesuai dengan kebiasaan para bangsawan Makkah, ibundanya menyerahkan Muhammad kecil kepada Halimah Sa’diyah dari kabilah Bani Sa’d untuk disusui. Beliau tinggal di rumah Halimah selama empat tahun. Setelah itu, sang ibu mengambilnya kembali. Dengan tujuan untuk berkunjung ke kerabat ayahnya di Madinah, sang ibunda membawanya pergi ke Madinah. Dalam perjalanan pulang ke Makkah, ibundanya wafat dan dikebumikan di Abwa`, sebuah daerah yang terletak antara Makkah dan Madinah. Setelah ibunda beliau wafat, secara bergantian, kakek dan paman beliau, Abdul Muthalib dan Abu Thalib memelihara beliau. Pada usia dua puluh lima tahun, beliau menikah dengan Khadijah yang waktu itu sudah berusia empat puluh tahun. Beliau menjalani hidup bersamanya selama dua puluh lima tahun hingga ia wafat pada usia enam puluh lima tahun.
Pada usia empat puluh tahun, beliau diutus menjadi nabi oleh Allah. Ia mewahyukan kepada beliau al-Quran yang seluruh manusia dan jin tidak mampu untuk menandinginya. Ia menamakan beliau sebagai pamungkas para nabi dan memujinya karena kemuliaan akhlaknya. Beliau hidup di dunia ini selama enam puluh tiga tahun. Menurut pendapat masyhur, beliau wafat pada hari Senin bulan Shafar 11 Hijriah di Madinah. Bukti Kenabian Rasulullah SAW (Zainuri, 2009 : 3).

2. Rumusan Masalah

Dalam rumusan masalah ini akan dijelaskan beberapa hal sebagai berikut :

a. Bagaimanakah kondisi bangsa Arab Pra-Islam ?

b. Bagaimanakah keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW ?

3. Tujuan Penulisan Makalah

a. Agar dapat mengetahui Sejarah hidup Nabi Muhammad

b. Dapat mengetahui keberhasilan dakwah Nabi Muhammad

B. PEMBAHASAN

1. Arab Sebelum Islam

a. Kondisi Geo-Politik

Arab. Letaknya yang dekat persimpangan ketiga benua, semenanjung Arab menjadi dunia yang paling mudah dikenal di alam ini. Dibatasi oleh Laut Merah ke sebelah barat, Teluk Persia ke sebelah Timur, Lautan India ke sebelah selatan, Suriah dan Mesopotamia ke utara, dahulu merupakan tanah yang gersang tumbuh-tumbuhan di Pegunungan Sarawat yang melintasi garis pantai sebelah barat. Meski tidak banyak perairan, beberapa sumbernya terdapat di bawah tanah yang membuat ketenangan dan sejak dulu berfungsi sebagai urat nadi permukiman manusia dan kafilah-kafilah.

Semenanjung Arabia dihuni sejak hari-hari pertama dalam catatan sejarah. Sebenarnya penduduk teluk Persia telah membangun negara perkotaan, city-state, sebelum abad ketiga S.M. Para ilmuwan menganggap wilayah tersebut sebagai tempat kelahiran suku bangsa Semit, meski sebenarnya tak ada kata mufakat di antara mereka. Istilah Semit mencakup: Babilonia (pendapat Von Kremer, Guide, dan Hommel); kelmann, dan lain-lain); Afrika (Noldeke dan lain-lain); Amuru (A.T. Clay); Armenia (John Peaters); bagian sebelah selatan semenanjung of Arabia (John Philby); dan Eropa (Ungnand) (Bustaman Ismail, 2010 : 1).

Phillip Hitti, dalam karyanya yang berjudul, Sejarah Bangsa Arab, menyebut, ”Kendati istilah semi tmuncul belakangan di kalangan masyarakat Eropa, hal tersebut biasanya dialamatkan pada orang-orang Yahudi karena yang terkonsentrasi di Amerika. Sebenarnya lebih tepat ditujukan pada penduduk bangsa Arab yang, lebih dari kelompok manusia lain, telah mendapat ciri bangsa Semit secara fisik, kehidupan, adat istiadat, cara berpikir dan bahasa. Orang-orang Arab masih tetap sama sepanjang pen­catatan sejarah.”

Hampir semua hipotesis asal-usul kesukuan lahir dari kajian di bidang bahasa mengambil sumber informasi dari Kitab Perjanjian Lama, yang kebanyakan tidak bersifat ilmiah serta didukung oleh bukti sejarah yang akurat. Misalnya, Kitab Perjanjian Lama memasukkan bangsa lain yang pada hakikat­nya bukan bangsa Semit seperti Alamite dan Ludim, di waktu yang sama tidak mengikutsertakan beberapa bangsa Semit lain seperti Funisia dan Kanaan. Melihat pendapat yang beragam, saya lebih cenderung menerima bahwa kaum Semit muncul dari kalangan bangsa Arab. Menjawab pertanyaan siapa sebenarnya bangsa Semit dan siapa yang bukan, Bangsa Arab dan Israel memiliki keturunan asal usul serumpun melalui Nabi Ibrahim (Bustaman Ismail, 2010 : 2).

b. Makkah Sebuah Masyarakat Kabilah

Meski disebut sebagai kota negara, city-state, Makkah tetap merupakan masyarakat kesukuan hingga akhir penaklukannya pada masa Nabi Muhammad. Sistem kependudukan masyarakat dibangun menurut kabilah dimana anak-anak dari satu suku dianggap saudara yang memiliki pertalian hubungan darah. Seorang Arab tidak akan dapat memahami pemikiran negara kebangsaan melainkan dalam konteks sistem kesukuan (kabilah), “Adalah hubungan negara kebangsaan yang mengikat keluarga ke dalam kesukuan,sebuah negara yang didasarkan pada hubungan darah daging seperti halnya negara kebangsaan yang dibangun di atas garis keturunan. Adalah hubungan kekeluargaan yang mengikat semua individu ke dalam negara dan kesatuan. Hal ini dianggap sebagai agama kebangsaan dan hukum perundangan-undangan yang telah mereka sepakati.”

Setiap anggota merupakan asset seluruh kabilah di mana munculnya se­orang penyair kenamaan misalnya, ahli perang pemberani, orang terkenal dalam kebaikan dalam satu kabilah, akan membuat kehormatan dan nama baik seluruh garis keturunannya. Di antara tugas utama tiap pendukung kesukuan adalah mempertahankan bukan saja terhadap anggotanya melainkan setiap mereka yang secara sementara seperti tamu-tamu yang hadir di bawah bendera kabilah. Memberi proteksi pada mereka merupakan suatu kehormatan yang dicapai. Oleh karena itu, kota Makkah sebagai kota kenegaraan selalu siap menyambut setiap pendatang menghadiri perayaan, melakukan ibadah haji, atau pun sekadar lewat dengan rombongan berunta. Memberi pelayanan permintaan ini memerlukan keamanan dan fasilitas yang memadai, dan, oleh karena itu institusi kemudian dibangun di kota Makkah (di mana beberapa di antaranya oleh Qusayy sendiri): seperti Nadwa (lembaga perkotaan),Mashura(dewannasihat), Qiyada(kepemimpinan), Sadana (adminstrasi kota suci), Hijaba (pemeliharaan Ka’bah), Siqaya(pengadaan air minum buat para jemaah haji), Imaratul-bait (pemeliharaan kesucian Ka’bah),Ifa`da (mereka yang berhak memberi izin pada orang pertama yang melangkah dalam acara perayaan), Ijaza, Nasi (institutsi penyesuaian kelender), Qubba (membuat tenda mengumpulkan sumbangan bagi mengatasi keadaan darurat, A’inna (pemegang kendali kuda), Rafada (pajak untuk membantu para jemaah haji yang miskin), Amwal muhajjara (sedekah untuk kesucian),Aysar, Ashnaq (pembuatperkiraanrtanggunganawabkeuangan) Hukuma (pemerintahan),Sifarah (kedutaan), `Uqab (penentuan standar), Liwa (panjian) Hulwan-un­nafr (mobilisasi kesejahteraan).

Tugas berat ini menjadi tanggung jawab anak cucu keturunan Qusayy. Keturunan ‘Abdul-Dar misalnya mengambil alih tugas pemeliharaan Ka’bah, balai kelembagaan, dan hak-hak mengangkat panji pada semua staf pada saat peperangan. ‘Abd-Manaf mengatur hubungan luar negeri dengan penguasa Romawi, dan pangeran Ghassan. Hashim (putra lelaki ‘Abd-Manaf) mengadakan perjanjian dan dikatakan telah menerima perintah dari kaisar memberi kekuasaan pada orang Quraish untuk melakukan perjalanan melalui Suriah dalam keadaan aman.” Hashim dan kelompoknya tetap mempertahankan tugasnya sebagai kepala pengaturan makanan dan minuman untuk para jamaah haji. Kekayaannya telah memberi peluang melayani para jamaah haji dengan kebesaran seorang pangeran (Bustaman Ismail, 2010 : 6).

Sewaktu melakukan misi perdagangan ke Madinah, Hashim terpikat oleh seorang wanita bangsawan suku Khazarite, Salma bint ‘Amr. Ia menikah dan kembali bersamanya ke Makkah, namun saat dalam keadaan hamil ia memilih kembali ke Madinah dan melahirkan seorang putra, bernama Shaiba di sana. Hashim meninggal di Gaza pada saat melakukan misi perdagangan, dan memberi kepercayaan pada saudaranya, Muttalib, guna memelihara putranya yang saat itu, masih bersama sang ibu. Saat melakukan perjalanan ke Madinah, Muttalib berselisih paham dengan janda Hashim tentang penjagaan pemuda Shaiba, yang pada akhirnya ia berada pada pihak yang menang. Dengan kembali bersama paman dan keponakannya ke Makkah, orang salah pengertian dan mengira anak lelaki itu sebagai hamba Muttalib. Oleh sebab itu, nama julukan Shaiba menjadi ‘Abdul-Muttalib.

c. Kondisi Keagamaan di Jazirah Arabia

Menjelang masa kenabian Muhammad, Jazirah Arab tidak merasa akrab melihat semua bentuk reformasi keagamaan. Sejak berabad-abad penyem­bahan patung berhala tetap tak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman kaum Yahudi maupun upaya-upaya Kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir. William Muir, dalam bukunya, The Life of Mahomet, beralasan bahwa kehadiran kaum Yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisasi tersebarnya ajaran Injil melalui dua tahap. Pertama, dengan memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan Arab, dan untuk itu, mereka membuat penghalang, barrier, antara ekspansi Kristen ke utara dan penghuni kaum berhala di sebelah selatan. Kedua, para penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama Yahudi dalam memasukkan cerita legendaris guna menghabisi permintaan aneh-aneh agama Kristen. Saya tak dapat menerima teori pendapat ini sama sekali. Menurut pengakuan bangsa Arab, sebenarnya, sisa-sisa keagamaan monoteistik Nabi brahim dan Isma’il yang telah diubaholeh khurafat dan kebodohan. Cerita yang biasanya dimiliki oleh kaum Yahudi dan orang Arab umumnya merupakan hasil keturunan nenek moyang bersama.

Ajaran Kristen abad ke-7 itu sendiri tenggelam dalam perubahan dan mitos palsu dan terperangkap dalam stagnasi secara total. Dulunya Bangsa Arab yang mengikuti agama Kristen bukan disebabkan oleh sikap persuasif melainkan akibat kekejaman kekuasaan politik. Tak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan para penyembah berhala bangsa Arab di mana kemusyrikan mencengkeram begitu kuatnya. Lima abad lamanya upaya Kristenisasi mem­buahkan hasil nihil. Perpindahan terhadap agama Kristen hanya terbatas pada ban! Harith dari Najran, bani Hanifa dari Yamama, dan beberapa bani Tayy di Tayma’. Dalam masa lima abad, sejarah tidak mencatat adanya satu insiden apa pun yang menyangkut sikap penyiksaan para misionaris Kristen. Di sini sarigat berbeda dari nasib yang dialami oleh pengikut Muhammad sejak awal pertama di Makkah di mana kristenisasi dipandang sebagai suatu hal yang menyusahkan dan mendapat sikap toleran, sebaliknya Islam dianggap sebagai suatu yang membahayakan terhadap institusi keberhalaan bangsa Arab Menjelang masa kenabian Muhammad, Jazirah Arab tidak merasa akrab melihat semua bentuk reformasi keagamaan. Sejak berabad-abad penyem­bahan patung berhala tetap tak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman kaum Yahudi maupun upaya-upaya Kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir. William Muir, dalam bukunya, The Life of Mahomet, beralasan bahwa kehadiran kaum Yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisasi tersebarnya ajaran Injil melalui dua tahap. Pertama, dengan memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan Arab, dan untuk itu, mereka membuat penghalang, barrier, antara ekspansi Kristen ke utara dan penghuni kaum berhala di sebelah selatan. Kedua, para penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama Yahudi dalam memasukkan cerita legendaris guna menghabisi permintaan aneh-aneh agama Kristen.

Saya tidak dapat menerima teori pendapat ini sama sekali. Menurut pengakuan bangsa Arab, sebenarnya, sisa-sisa keagamaan monoteistik Nabi Ibrahim dan Isma’il yang telah diubah oleh khurafat dan kebodohan. Cerita yang biasanya dimiliki oleh kaum Yahudi dan orang Arab umumnya merupakan hasil keturunan nenek moyang bersama.

Ajaran Kristen abad ke-7 itu sendiri tenggelam dalam perubahan dan mitos palsu dan terperangkap dalam stagnasi secara total. Dulunya Bangsa Arab yang mengikuti agama Kristen bukan disebabkan oleh sikap persuasif melainkan akibat kekejaman kekuasaan politik. Tidak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan para penyembah berhala bangsa Arab di mana kemusyrikan mencengkeram begitu kuatnya. Lima abad lamanya upaya Kristenisasi mem­buahkan hasil nihil. Perpindahan terhadap agama Kristen hanya terbatas pada ban! Harith dari Najran, bani Hanifa dari Yamama, dan beberapa bani Tayy di Tayma’.

Dalam masa lima abad, sejarah tidak mencatat adanya satu insiden apa pun yang menyangkut sikap penyiksaan para misionaris Kristen. Di sini sarigat berbeda dari nasib yang dialami oleh pengikut Muhammad sejak awal pertama di Makkah di mana kristenisasi dipandang sebagai suatu hal yang menyusahkan dan mendapat sikap toleran, sebaliknya Islam dianggap sebagai suatu yang membahayakan terhadap institusi keberhalaan bangsa Arab (Bustaman Ismail, 2010 : 2).

2. Riwayat Hidup Nabi Muhammad Dakwah dan Perjuangannya

a. Sebelum Masa Kerasulan

Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Melalui kegiatan penggembalaan ini Beliau menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana demikian, dia ingin melihat sesuatu di balik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda ia sudah mendapat gelar al-amin, artinya orang yang terpercaya (Badri Yatim, 2002 : 17).

Pada usia yang keduapuluhlima, Muhammad berangkat ke Syiria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah menjanda yang bernama Khadijah. Dalam perdagangan ini Muhammad memperoleh keuntungan yang amat besar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamaran itu diterimanya dan perkawinan pun segera diselenggarakan. Ketika itu usia Muhammad 25 tahun dan khadijah 40 tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, Khadijah adalah wanita pertama yang masuk Islam dan banyak membantu Nabi dalam perjuangan menyebarkan Islam.

Peristiwa penting yang memperlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi pada usianya 35 tahun. Ketika itu bangunan ka’bah rusak berat, pada saat mau meletakkan hajar as semulawad pada tempat semula timbulah perselisihan. Perselisihan semakin memuncak, namun akhirnya para pemimpin Quraisy sepakat bahwa orang yang pertama masuk ke Ka’bah melalui pintu Shafa, akan dijadikan hakim untuk memutuskan perkara ini. Ternyata, orang yang pertama masuk itu adalah Muhammad. Ia pun dipercaya menjadi hakim. Ia lantas membentangkan kain dan meletakkan hajar aswad di tengah-tengah, lalu meminta seluruh kepala suku memegang tepi kain dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu, Muhammad kemudian meletakkan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian, perselisihan dapat diselesaikan dengan bijaksana, semua kepala suku merasa puas dengan cara penyelesaian seperti itu (Badri Yatim, 2002 :19).

b. Masa Kerasulan

Menjelang usianya yang keempat puluh, Muhammad sudah terlalu biasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke gua Hira, beberapa kilometer di uatara Makkah. Pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, Malaikat Jibril muncul dihadapannya, menyampaikan wahyu Allah yang pertama.

Dengan turunnya perintah berdakwah, mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungan sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Karena itulah, orang yang pertama kali menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat dekatnya.

Setelah beberapa lama dakwah tersebut dilaksanakan secara individual, turunlah perintah agar Nabi menjalankan dakwah secara terbuka. Mula-mula ia mengundang dan menyeru kerabat karibnya dari Bani Abdul Muthalib. Langkah dakwah seterusnya yang dilakukan Muhammad adalah menyeru masyarakat umum secara terang-terangan.

Banyak cara yang ditempuh para pemimpin Quraisy untuk menggagalkan dakwah Nabi.

3. Pembentukan Negara Madinah

Madinah terletak di daerah Hedzjaz bagian dari semenanjung arab yang terletak diantara dataran tinggi Nejd dan daerah pantai Tihamah. Di daerah ini terdapat tiga kota utama yaitu Ta’if, Makkah dan Madinah sendiri. Terletak 275 Km dari laut merah, Madinah berada di sebuah lembah yang subur, di sebelah selatan kota itu berbatasan dengan bukit air, di sebelah utara dengan bukit uhud dan sur, dan di sebelah timur serta barat dengan gurun pasir (Harah). Apabila hujan turun lembah itu menjadi tempat pertemuan aliran-aliran air yang berasal dari selatan dan Harrah sebelah timur. Daerah ini juga memiliki ose-ose yang dapat dipergunakan untuk lahan pertanian yang dapat menghasilkan sayur-mayur dan buah-buahan seperti kurma, jeruk, pisang dan lain-lain. Karena itu penduduknya mayoritas hidup dari bercocok tanam disamping berdagang dan berternak.

Madinah (Al-madinah Al-munawwarah) adalah sebuah kota dalam wilayah kekuasaan pemerintah kerajaan arab saudi sekarang. Kota itu dikenal sebagai tanah suci kedua umat Islam. Pada zaman Nabi Muhammad Saw dan Al-khulafa ar-rasyidin (empat khalifah pengganti Nabi), kota itu menjadi pusat dakwah, pusat pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota itulah Islam memancar keseluruh penjuru semenanjung arab dan kemudian keseluruh dunia. Kota ini mempunyai banyak nama antara lain Madinah an-nabi (kota nabi, disingkat menjadi al-madinah atau Madinah), Madinah ar-rasul (kota rasul), Taba, Tayyibah, Qaryah al-ansar, Al-asimah, Al-mubasakah, Al-mukhtarah, Bait rasul Allah, Sayyidah al-buldan, Dar al-iman, Dar al-abrar, Dar al-Akhyar, Dar as-sunnah, Dar As-salam, dan Dar al-haram. Akan tetapi kota ini lebih dikenal dengan Al-madinah al-Munawwarah (Van Hove, 2001 : 101).

Di kota ini terletak masjid “Nabawi” yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi makam beliau dan para sahabatnya. Masjid itu merupakan salah satu masjid yang paling utama bagi umat Islam setelah Masjidil haram di makkah dan Masjidil Aqsa di Yerussalem. Keutamaannya dinyatakan oleh Rasullullah SAW “shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu salat di masjid yang lain, kecuali di masjidil haram. Beliau juga bersabda “ jangan bersusah payah akan perjalanan kecuali ketiga masjid, masjidil haram, masjidku ini dan masjidil aqsa “ berdasarkan hadits – hadits tersbut kota Madinah selalu dikunjungi oleh umat Islam yang melaksanakan ibadah haji atau ibadah umrah sebagai amal sunnah.

Sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah nama kota itu adalah Yatsrib, dan diubah namannya menjadi Madinah al-munawwarah sejak Nabi Muhammad dan orang-orang muslim makkah (Muhajirin) hijrah ke Madinah pada tanggal 22 September 622. Penduduk Yatsrib, sebelum kelahiran Islam terdiri dari dua suku bangsa, yaitu bangsa arab dan bangsa yahudi. Semula daerah itu ditempati oleh suku Amaliqah (Baidah, bangsa arab yang sudah punah) dan kemudian ditempati oleh suku-suku arab lainnya. Secara bertahap kota itu menjadi berkembang dan menjadi kota penting kedua setelah Makkah di tanah Hedzjaz setalah kehadiran orang yahudi. Orang yahudi membangun permukiman pasa, dan benteng pertahanan agar mereka terhidar dari gangguan orang badui yang hidup sebagai nomad di sekitar Yatsrib (Van Hove, 2001 : 101-102).

Di Yatsrib tidak pernah ada seorang pemimpin dan suatu pemerintahan atas semua penduduk, yang ada adalah pemimpin-pemimpin suku yang memikirkan kepentingan suku-sukunya masing-masing. Mereka saling bersaing dan berperang untuk menanamkan pengaruh di masyarakat akibatnya diantara suku-suku yang ada itu dapat terjadi permusuhan, bahkan peperangan.

Penduduk Yatsrib sebelum Islam terdiri dari dua suku bangsa yaitu arab dan yahudi yang keduanya ini saling bermusuhan. Karena kegiatan dagang di Yatsrib dikuasai atau berada di bawah kekuasaan yahudi. Waktu permusuhan dan kebencian antara kaum yahudi dan arab semakin tajam, kaum yahudi melakukan siasat memecah belah dengan melakukan intrik dan menyebarkan permusuhan dan kebencian diantara suku Aus dan Khazraj. Siasat ini berhasil dengan baik, dan mereka merebut kembali posisi kuat terutama dibidang ekonomi. Bahkan siasat yahudi itu mendorong suku khazraj bersekutu dengan bani qainuqah (yahudi), sedangkan suku aus bersekutu dengan bani quraizah dan bani nadir. Klimaks dari permusuhan dua suku tersebut adalah perang Bu’as pada tahun 618 seusai perang baik kaum aus maupun khazraj menyadari, akibat dari permusuhan mereka, sehingga mereka berdamai.

Setelah kedua suku berdamai dan suku khazraj pergi ke Makkah, dan setelah di Makkah Nabi Muhammad SAW menemui rombongan mereka pada sebuah kemah. Beliau memperkanalkan Islam dan mengajak mereka agar bertauhid kepada Allah SWT karena sebelumnya mereka telah mendengar ajaran taurat dari kaum yahudi dan mereka tidak merasa asing lagi dengan ajaran Nabi maka mereka menyatakan masuk Islam dan berjanji akan mengajak penduduk Yastrib masuk Islam. Setibanya di Yatsrib meraka bercerita kepada penduduk tentang Nabi Muhammad SAW, dan agama yang dibawanya serta mengajak mereka masuk Islam. Sejak itu nama Nabi dan Islam menjadi bahan pembicaraan masyarakat arab di Yatsrib (Van Hove, 2001 : 101-102).

Tahun 621 sebanyak 10 orang suku khazraj dan 2 orang suku aus menemui Nabi SAW menyatakan dirinya masuk Islam, dan melakukan baiat kepada Nabi di Aqabah (baiat aqabah pertama). Pada musim haji berikutnya 622, sebanyak 73 orang rombongan haji dari Yatsrib baik yang suku Islam maupun yang belum mendatangi Nabi SAW untuk mengajak beliau hijrah ke Yatsrib. Pertemuan diadakan di aqabah dan pada waktu itulah terjadi baiat aqabah kedua. Beberapa bulan kemudian Nabi SAW bersama orang-orang mukmin Makkah hijrah ke Yatsrib sejak itu nama Yatsrib diganti al-madinah al-munawwarah. Hijrah tersebut merupakan peristiwa penting dalam sejarah Madinah sehubungan dengan pengembangan agama Islam. Karena penduduknya (kaum Anshari) bersedia menerima Nabi dan para pengikutnya dan di kota itu Nabi medirikan masjid nabawi.

Setelah Nabi hijrah ke Yatstrib, kedatangan Nabi dan umat Islam di Madinah telah mengubah segalanya dan tak lama setelah hijrah, Nabi menyusun konstitusi madinah. Dengan demikian madinah berubah menjadi negara dengan Nabi sebagai kepala negara. Menjelang wafatnya Nabi SAW wilayah kekuasaan negara Islam ini mencakup hampir seluruh wilayah Arabia dan Madinah merupakan ibu kotanya (Soekama, 1996 : 81).

Selanjutnya Nabi mempersaudarakan orang Islam Makkah dan Madinah berdasarkan ikatan akidah ukhuwah Islamiyah dan pebentukan umat itu diartikan sebagai proklamasi terbentuknya negara Islam dengan piagam madinah.

Dalam rangka mempekokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat diantaranya terdapat tiga dasar yaitu:

a.Pembagunan masjid, selain tempat sholat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin.

b.Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama muslim, antara kaum Muhajirin dan kaum Ansar (Badriyatim, 2002 : 195-196).

4. Langkah-Langkah Taktis di Madinah

Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam makin bertambah kuat. Selain tiga dasar di atas, langkah awal yang ditempuh Rasullullah setelah resmi mengendalikan Madinah adalah membangun kesatuan internal dengan mempersaudarakan orang muhajirin dan anshar. Langkah ini dilakukan sejak awal untuk menghindari terulangnya konflik lama diantara mereka. Dengan cara ini, akan menutup munculnya ancaman yang akan merusak persatuan dan kesatuan dalam tubuh umat Islam. Langkah politik ini sangat tepat untuk meredam efek keratakan sosial yang ditimbulkan oleh berbagai manuver orang-orang yahudi dan orang-orang munafik (hipokrif) yang berupaya menyulut api permusuhan antara Aus dan Khazraj, antara muhajirin dan ansar.

Setelah itu Rasulullah juga berupaya menyatukan visi para pengikut Nabi dalam rangka pembentukan sistem politik baru dan mempersekutukan seluruh masyarakat Madinah, sementara itu agar bangunan kerukunan menjadi lebih kuat, Rasulullah membuat konvensi dengan orang-orang yahudi. Dalam konteks ini tampak kepiawaian Nabi dalam membangun sebuah sisem yang mengantisipasi masa depan. Di Madinah, Nabi bersama semua elemen pendudukk Madinah berhasil membentuk structur religio politics atau ”Negara Madinah”. Untuk mengatur roda pemerintahan, semua elemen masyarakat Madinah secara bersama menandatangani sebuah dokumen yang menggariskan ketentuan hidup bersama yang kemudian lebih dikenal sebagai konstitusi atau Piagam Madinah (Mi’tsaq Al-Madinah) (Zubaidi, 2007 : 195-196).

C. PENTUP

1. Simpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Nabi Muhammad saw berasal dari kabilah Quraisy, tepatnya keturunan Hasyim. Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdul Muthalib, cucu Hasyim. Ibunda beliau adalah Aminah binti Wahb yang berasal dari keturunan Bani Zuhrah, salah satu kabilah Quraisy.

b. Menjelang masa kenabian Muhammad, Jazirah Arab tidak merasa akrab melihat semua bentuk reformasi keagamaan. Sejak berabad-abad penyem­bahan patung berhala.

c. Langkah-langkah yang dilakukan Rasulullah untuk membentuk masyarakat Madinah adalah membangun kesatuan internal dengan cara mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Kemudian Rasulullah setelah dapat membentuk negara Madinah dan untuk mengatur permerintahan semua elemen masyarakat Madinah yaitu membuat dokumen ketentuan hidup bersama yang ditandatangani oleh Nabi yang dikenal dengan konstitusi (Madinah).

2. Saran

Kritik dan saran yang membangun selalu dinantikan Untuk perbaikan makalah ini dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, 2002, Sejarah Peradapan Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Ismail, Bustaman, 2010, Sekilas Sejarah Arab Sebelum Islam, http://hbs.wordpress.com di akses 15 Maret 2011.

Karya, Soekama dkk, 1996, Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta : Logos.

Van Hoeve, 2001, Ensiklopedi Islam, Jakarta : Ichtisar Baru.

Zainuri, 2009, Biografi Tokoh Dunia Kumpulan Biografi dan Profil Para Tokoh Terkenal Dunia, http://kolom-biografi.blogspot.com diakses 10 Maret 2011.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Perjanjian Linggarjati: Saksi …

Topik Irawan | | 26 July 2014 | 16:11

Kompasianer Dalam Kunjungan Khusus ke Light …

Tjiptadinata Effend... | | 26 July 2014 | 18:13

Susah Move On dari Liburan? Ini Tipsnya..! …

Sahroha Lumbanraja | | 26 July 2014 | 18:08

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Saya Juga Ingin Menggugat Kecurangan Bahasa …

Gustaaf Kusno | | 26 July 2014 | 17:05


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 2 jam lalu

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 5 jam lalu

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 5 jam lalu

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 10 jam lalu

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: