Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Erico Pieter

Saya adalah saya.

Wanita Pahlawan Nasional Indonesia

OPINI | 21 April 2011 | 20:01 Dibaca: 12278   Komentar: 1   0

Dari 149 tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, di antaranya terdapat 12 wanita yang menyandang gelar itu. Berikut adalah keduabelas wanita tersebut:


Tjoet Nja’ Dhien (1848–1908)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Aceh
Dianugerahi pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno

Bersama suaminya, Teuku Umar, beliau memimpin perang melawan pasukan Belanda sejak tahun 1880. Setelah suaminya gugur, ia tetap berjuang berperang melawan Belanda. Ia berhasil ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, hingga akhir hayatnya.


Tjoet Nja’ Meutia (1870–1910)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Aceh
Dianugerahi pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno

Memimpin pasukan melawan Belanda bersama suaminya sejak tahun 1905. Ketika suaminya tertangkap dan dihukum mati, beliau tetap melanjutkan perjuangan. Ia kemudian gugur dalam peperangan pada tahun 1910.


Raden Adjeng Kartini (1879–1904)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Tengah
Dianugerahi pada 2 Mei 1964 oleh Presiden Soekarno

Dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan karena pikiran dan pandangannya mengenai emansipasi wanita, khususnya hak berpendidikan serta hak memperoleh kebebasan dan persamaan hukum bagi kaum perempuan. Pikiran dan pandangannya itu ditulis dalam surat kepada teman-temannya di Eropa. Surat-suratnya itu kemudian dikumpul, dibukukanan, dan diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Licht di Belanda pada tahun 1911. Buku itu kemudian diterjemahkan ke Bahasa Melayu dan diterbitkan di Hindia Belanda dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang pada tahun 1922.


Raden Dewi Sartika (1884–1947)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Barat
Dianugerahi pada 1 Desember 1966 oleh Presiden Soekarno

Beliau memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan dengan mendirikan Saloka Istri pada tahun 1904, yang merupakan sekolah khusus perempuan pertama di Hindia Belanda. Sekolah yang didirikannya berkembang hingga merambah seluruh wilayah Pasundan, hingga ke wilayah Sumatera. Beliau juga sempat mendapat bintang penghargaan dari pemerintah Hindia Belanda atas usahanya memberdayakan perempuan.


Martha Christina Tiahahu (1800–1818)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Maluku
Dianugerahi pada 20 Mei 1969 oleh Presiden Soeharto

Mengangkat senjata terjun langsung dalan medan perang melawan Belanda sejak umur 17 tahun, membantu ayahnya yang merupakan pembantu Kapitan Pattimura. Ia tertangkap ketika berusaha membebaskan ayahnya yang tertangkap lebih dulu. Ia dihukum diasingkan ke Pulau Jawa, namun ia wafat dalam perjalanan ke Pulau Jawa. Jasadnya kemudian dibuang ke Laut Banda.


Maria Walanda Maramis (1872–1924)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Sulawesi Utara
Dianugerahi pada 20 Mei 1969 oleh Presiden Soeharto

Memperjuangkan pendidikan dan pemberdayaan bagi kaum ibu-ibu dengan mendirikat organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT) pada tahun 1917. Pada tahun 1919, beliau memperjuangkan agar wanita memiliki hak suara di lembaga perwakilan Minahasa Raad. Usahanya membuahkan hasil setelah pada tahun 1921, Pemerintah Hindia Belanda memperbolehkan wanita memberikan suaranya dalam Minahasa Raad.


Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1872–1946)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Daerah Istimewa Yogyakarta
Dianugerahi pada 22 September 1971 oleh Presiden Soeharto

Istri dari K.H. Ahmad Dahlan. Beliau memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita dengan mengadakan pengajian untuk kalangan wanita yang akhirnya berkembang menjadi Lembaga ‘Aisyiyah dalam organisasi Muhammadiyah. Ia juga aktif mengajarkan bahwa perempuan mempunyai hak untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, serta menentang praktik kawin paksa.


Nyi Ageng Serang (1752–1828)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Tengah
Dianugerahi pada 13 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto

Pemimpin daerah Serang, wilayah dalam Kerajaan Mataram, dikenal dekat dengan rakyat dan sering membantu rakyat. Pada usianya yang lanjut, beliau memimpin pasukan dari tandu, membantu Pangeran Diponegoro melawan Belanda selama 3 tahun.


Hj. Rangkayo Rasuna Said (1910–1965)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Sumatera Barat
Dianugerahi pada 13 Desember 1974 oleh Presiden Soeharto

Pernah dipenjara Belanda pada tahun 1932 karena memprotes ketidakadilan Pemerintah Hindia Belanda. Di masa kemerdekaan, beliau juga pernah duduk menjadi anggota DPR-RIS dan Dewan Pertimbangan Agung. Semasa hidupnya, beliau juga aktif memperjuangkan persamaan hak pria dan wanita.


Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (1923–1996)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Jawa Tengah
Dianugerahi pada 30 Juli 1996 oleh Presiden Soeharto

Ibu Negara RI sejak 1967 hingga akhir hayatnya. Pada masa revolusi kemerdekaan, ia bergabung ke Laskar Puteri Indonesia, membantu menyelenggarakan dapur umum serta bantuan kesehatan bagi pejuang Indonesia. Semasa menjadi Ibu Negara, ia dikenal dengan gagasan proyek monumentalnya, terutama Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional, Rumah Sakit Kanker Dharmais, dan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita.


Hj. Fatmawati Soekarno (1923–1980)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Bengkulu
Dianugerahi pada 4 November 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid

Penjahit Bendera Pusaka “Sang Saka Merah Putih” yang dikibarkan pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Beliau juga ialah istri ketiga Soekarno dan Ibu Negara RI yang pertama, mendampingi Presiden Soekarno hingga ia memilih keluar dari Istana pada tahun 1953 karena tidak menyetujui Soekarno menikah lagi. Selepas keluar dari Istana, beliau aktif dalam kegiatan sosial, terutama pada anak-anak penderita tubercolosis. Untuk itu, ia menggalang dana untuk membangun rumah sakit yang sekarang bernama RSUP Fatmawati.


Opu Daeng Risadju (1880–1964)
Asal Daerah/Daerah Pengusul: Sulawesi Selatan
Dianugerahi pada 3 November 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Melakukan pemberontakan terhadap tentara NICA pada tahun 1946. Beliau berhasil ditangkap beberapa bulan kemudian dan mengalami penyiksaan yang menyebabkan beliau menjadi tuli hingga akhir hayatnya.

Demikian para pahlawan wanita kita. Mohon maaf jika ada yang salah atau hal yang tidak berkenan. Terima kasih atas kesediaannya melihat tulisan saya ini.

Tulisan di atas diambil dari berbagai sumber.
Tulisan ini juga di-post di forum kaskus: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8081995

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 11:15

Si Gagah yang Terlelap …

Findraw | | 03 September 2014 | 09:17

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | | 03 September 2014 | 08:39

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | | 03 September 2014 | 08:10

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Oposisi Recehan …

Yasril Faqot | 3 jam lalu

Ini Nilai Ujian Kuliah Politik Pertanian …

Felix | 5 jam lalu

Florence Sihombing Disorot Dunia …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Manuver Hatta Rajasa dan Soliditas Koalisi …

Jusman Dalle | 8 jam lalu

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Transparansi Pengadaan Alutsista di TNI …

Putra Perkasa | 8 jam lalu

Kontroversi Panjat Pinang dan Serunya …

Kompasiana | 8 jam lalu

Ala Backpacker menuju Negri di Atas Awan …

Wilda Hikmalia | 8 jam lalu

Krisis Kesetiaan …

Blasius Mengkaka | 9 jam lalu

Hadiah Istimewa Dari Pepih Nugraha …

Tur Muzi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: