Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Khairunnisa Musari

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala" selengkapnya

Situs Biting Menguak Sejarah antara Lumajang, Sumenep, Majapahit, dan Indonesia

OPINI | 30 April 2011 | 12:26 Dibaca: 5861   Komentar: 18   1

13041669741165246500

Gunung Semeru

Saya benar-benar tinggal menetap di Lumajang adalah ketika duduk di bangku SMU. Saya ingat betul, dulu ketika menjelang kelulusan SMP, kawan-kawan saya di Bontang, Kalimantan Timur, kerap bertanya, “Lumajang itu ada dimana? Lumajang itu ada di Sumatra mana? Dan lain-lain.” Setelah saya meneruskan sekolah di Lumajang, kawan-kawan di Lumajang malah balik bertanya, “Rumah kamu di Bontang itu di atas rawa-rawa ya? Rumah kamu itu terbuat dari papan di atas sungai? Dan lain-lain.”

Gaung kota Lumajang memang cukup wajar jika tidak didengar oleh teman-teman saya di Bontang. Kebanyakan teman-teman saya yang melanjutkan sekolah di Tanah Jawa memilih tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau Surabaya. Namun demikian, yang cukup memiriskan hati adalah ketika teman-teman saya yang asli Surabaya ternyata juga banyak yang tidak mengetahui tentang Lumajang. Ketika saya melanjutkan kuliah di Surabaya, kawan-kawan saya di Surabaya kerap bertanya, “Lumajang itu apanya Jember? Apa sih yang terkenal dari Lumajang? Di Lumajang apa ada supermarket? Lumajang ada bioskop gak sih? Dan lain-lain.”

1304167292504447272

Kantor Bupati Lumajang

Ya, saya sangat menyadari banyaknya pertanyaan yang muncul tentang Lumajang adalah karena ketidaktahuan, disamping juga mungkin beberapa diantaranya adalah nada-nada sumbang yang meremehkan sebuah kota kecil yang tidak familiar ditelinganya. Namun demikian, saya merasa nyaman tinggal di kota kecil ini. Meski saya tidak benar-benar selalu menetap lama di kota ini, tapi keberadaan anak-anak saya yang bersekolah di Lumajang otomatis membuat saya harus pulang ke kota ini. Sejauh-jauhnya saya pergi, saya tetap akan pulang ke Lumajang. Karena di sinilah anak-anak dan orangtua saya menetap.

Nah, belakangan saya baru mengetahui tentang sejarah kota Lumajang di masa lalu yang menarik untuk dikuak. Ya, ternyata Lumajang memiliki peran dalam sejarah kelahiran Nusantara yang pada akhirnya kita kenal dengan nama negara Indonesia ini.

Berikut kisahnya yang saya kutipkan dari sejumlah suntingan sumber, terutama dari akun Pages Fesbuk “Ayo… Dukung Situs Biting Lumajang-Jatim Jadi Benda Cagar Budaya” dan “Kawal Kerja Tim Cagar Budaya Lumajang”. Kebetulan seorang teman jurnalis yang beberapa kali mewawancarai saya ikut mengadvokasi penyelamatan  Situs Biting Lumajang ini. Dia men-tag saya untuk bergabung dalam Pages tersebut.

———————————————————————————————-

13041664681211600555

Pada tahun 1300-an, Kerajaan Lamajang atau yang di dalam Babad Tanah Jawa sering disebut Majapahit Timur adalah suatu kerajaan besar. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah Tiga Juru, yaitu Lamajang, Panarukan, Blambangan serta ditambah dengan daerah-daerah seperti Sumenep (Madura) dan Bali.

Kerajaan Lamajang didirikan oleh seorang tokoh pengatur siasat yang mumpuni dan menjadi arsitek utama Kerajaan Majapahit, yaitu Arya Wiraraja. Arya Wiraraja adalah seorang negarawan dan tokoh politik internasional yang sebelumnya adalah seorang Adipati Sumenep. Ia sangat pandai berdiplomasi dengan sejumlah pedagang dan pejabat kerajaan luar negeri di zamannya. Wiraraja adalah keturunan Raja Airlangga dan Singosari yang kemudian memimpin Kerajaan Majapahit Timur (Lamajang) karena berhasil membantu Raden Wijaya memberontak pada Jayakatwang Raja Singosari.

Kebesaran Lamajang saat itu dikenal bukan saja karena luasnya daerah kekuasaan, tetapi juga karena disana merupakan basis pemerintahan tokoh-tokoh yang disegani. Wiraraja memiliki putra bernama Adipati Nambi. Nambi inilah yang sebenarnya teman seperjuangan Raden Wijaya yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Berkat campur tangan dan pemikiran Wiraraja dan Nambi, Kerajaan Majapahit ini dapat berdiri dan menguasai nusantara hingga separuh dunia.

Juru Kunci Makam Ki Joyoboyo menuturkan, Arya Wiraraja memilih Kerajaan Lamajang untuk dipimpinnya karena negeri ini makmur dan damai. “Jika Kerajaan Lamajang dipadankan dengan Kerajaan Majapahit yang ada di Mojokerto, Kerajaan Lamajang jauh lebih besar.”

Diceritakannya, sejarah Lumajang yang paling dikenal adalah saat Adipati Nambi hendak menjenguk Wiraraja yang sedang sakit keras. Saat menjenguk, Nambi dihasut Mahapatih, salah seorang adipati dari Kerajaan Majapahit yang licik.

Mahapatih sesungguhnya dititah Raja Kertanegara untuk menyampaikan pesan sembari menjenguk Wiraraja. Usai menjenguk, Mahapatih ketika menemui Kertanegara bukannya bercerita tentang sakitnya Wiraraja, melainkan bercerita tentang Nambi yang dikatakannya sedang menyusun kekuatan untuk memberontak (makar) pada Majapahit. Kertanegara pun percaya dan terpengaruh. Kertanegara kemudian mempersiapkan pasukannya untuk menyerbu Kerajaan Lamajang.

Nambi yang mengetahui akan adanya penyerbuan Majapahit, lalu mencoba menyampaikan melalui surat dari daun lontar bahwa berita pemberontakan tersebut tidak benar. Sayang, Kertanegara yang saat itu masih terlalu muda menjadi raja, sudah terlalu marah dan emosi serta tetap ingin menghancurkan Kerajaan Lamajang yang Kota Raja-nya lebih besar dibanding Majapahit.

13041665741306590358

Akhirnya, terjadilah perang besar yang kita kenal dengan Perang Paregreg. Nambi bersama pengikutnya terus berperang dengan seluruh kekuatan untuk menjaga dan mempertahankan tanah kelahirannya. Sayang, karena kalah pasukan dan persenjataan, Nambi kalah dan tewas. Akibat perang itu, Lamajang mulai tenggelam dan menjadi bawahan Majapahit.

Pasca peperangan, Benteng Kota Raja Lamajang hancur. “Meski hancur, sisa bangunan kerajaan masih ada, yaitu Situs Biting,” ungkap Juru Kunci Makam Ki Joyoboyo.

Ya, Situs Biting adalah peninggalan peradaban Kerajaan Lamajang. Situs ini terletak di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang. Dari situs inilah, kita dapat menyaksikan kebesaran Kerajaan Lamajang. Disana terdapat benteng dengan ketebalan 6 meter, tinggi 8-10 meter dan panjang sejauh 10 km.

Disamping tembok benteng Kota Raja, di situs ini dijumpai adanya menara pengawas dan juga makam petilasan Minak Koncar. Minak Koncar dahulu adalah seorang Adipati yang menjadi tokoh legenda di Lamajang.

Lokasi Situs Biting mencapai 135 hektar. Lokasi ini banyak menyimpan potensi benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Majapahit. Dalam sejumlah penggalian, pernah ditemukan ujung keris serta manik-manik. Bahkan pernah ditemukan kepingan uang emas.

Sayang, Situs Kerajaan Lumajang Kuno ini kini terancam musnah. Seorang pengembang real estate telah membeli lahan kerajaan tersebut untuk diperluas menjadi komplek perumahan. Jarak antara bangunan perumahan dengan situs kerajaan bersejarah ini kini hanya berjarak 40 meter. Bahkan, ada bagian tembok kuno yang nyaris terkena buldoser.

1304167785638835693

Terancamnya Situs Biting

Terancamnya situs Kerajaan Lamajang menarik para pemerhati sejarah yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit (MPPM) karena gundukan tanah yang banyak bata bagunan kerajaan hendak dibuldoser. Mengetahui pengembang perumahan hendak membuldoser sisa Kerajaan Lumajang Kuno, MPPM segera memberikan surat mengenai perusakan situs sejarah melanggar undang-undang (UU).

Upaya lain juga dilakukan oleh Warga Arya Wang Bang Pinatih se-Bali. Mereka berencana untuk melakukan pemugaran lantaran di dalamnya terdapat situs sejarah makam Minak Koncar. Minak Koncar ternyata adalah nama lain Ida Banyak Wide yang merupakan ayah dari Warga Arya Wang Bang Pinatih. Ida Banyak Wide adalah leluhur warga Bali. Oleh karena itulah, Warga Arya Wang Bang Pinatih berencana untuk turut serta menyelamatkannya.

Meski sejauh ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang menyetujui rencana pemugaran tersebut, namun kegiatan tersebut masih belum bisa dilaksanakan. Pasalnya, situs itu berada dibawah pengelolaan cagar budaya Trowulan, Mojokerto.

Mmm… Sejarah ini sangat menarik perhatian saya. Saya membayangkan, bisa jadi saya adalah salah satu turunan dari Wiraraja dan Nambi. Hehehe… Bukannya gedhe rumangsa, tapi saya memiliki darah Sumenep dari Ibu saya. Bapak Ibunya Ibu saya berasal dari Sumenep yang kemudian karena sesuatu hal yang saya tidak ketahui kemudian berpindah ke Lumajang. Bisa jadi kepindahan tersebut karena memang bagi mereka Lumajang adalah tanah leluhur sekaligus tanah harapan. Yang jelas, yang saya pahami dari keluarga besar Ibu saya, Lumajang dan Sumenep adalah 2 tempat yang tak terpisahkan karena terhubungkan oleh hubungan darah. Mbah saya dipanggil oleh anak-anaknya dengan sebutan Romo (Rama). Saya juga lupa, entah siapa orangtua dulu yang pernah bercerita pada saya bahwa Ibu saya putus darah birunya karena menikah dengan orang biasa. Samar-samar saya juga teringat, di masa kecil dulu, ada orangtua yang pernah memberi pesan agar saya mengingat sejarah keluarga Sumenep. Entahlah, saya juga tidak ingat mengapa dulu saya tidak begitu terkesan dengan cerita orangtua tersebut. Buat saya, punya darah biru atau tidak, bukan hal yang terlalu penting dipikirkan…

1304167551685390371

Pura Mandara Giri Semeru Agung

Apapun itu, hikmah yang saya peroleh dari kisah tersebut adalah memahami benang merah antara Lumajang, Sumenep, Majapahit, dan Indonesia. Bahkan, dari kisah ini saya mulai dapat meraba mengapa pemeluk agama Hindu mendirikan Pura Mandara Giri Semeru Agung di Senduro, Lumajang. Bisa jadi, karena leluhur mereka Minak Koncar berada di tanah ini. Setiap perayaan keagamaan Hindu, banyak warga dari berbagai penjuru, termasuk dari Bali, yang berbondong-bondong mengunjungi Pura Mandara Giri ini. Pura ini adalah Pura termegah yang berada di luar Pulau Bali.

Ya, intisari dari sejarah Situs Biting yang saya kisahkan ini adalah tentang bagaimana menyelamatkan jejak peradaban  sejarah agar tetap terjaga kelestariannya. Pasti tak banyak yang mengetahui bagaimana Lumajang ternyata memiliki peran besar dalam melahirkan Nusantara yang kemudian bertransformasi menjadi Indonesia seperti yang kita kenal saat ini. Kepada para pembaca yang mengetahui bagaimana caranya membantu penyelamatan Situs Biting Lumajang dari ancaman developer, Please help us… Please, do something together…!!!

* Gambar diambil dari www.inilah.com, www.hindubali.org, www.beritajatim.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: