Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Priadarsini (dessy)

penikmat jengQ, pemerhati jamban, penggila serial Supernatural, pengagum Jensen Ackles, penyuka novel John Grisham, pecinta selengkapnya

Rindu Soeharto??!!

OPINI | 18 May 2011 | 19:35 Dibaca: 327   Komentar: 10   0

Indo Barometer tiba-tiba mengumumkan hasil survey mengenai “Presiden Indonesia mana yang paling disukai?” dari 1200 koresponden dengan komposisi 36,5% untuk Soeharto lalu berturut-turut 20,9% Susilo Bambang Yudhoyono, 9,8% Soekarno, 9,2% Megawati Soekarnoputri, 4,4% BJ Habibie dan 4,3% Abdurrahman Wahid.

Kemudian secara dramatis media-media pun melansir, bahwa rakyat Indonesia merindukan Soerharto dan masa Orde Baru (ORBA). Dan juga secara mengejutkan banyak yang mengagung-agungkan masa ORBA. Kemudian ada juga mengatakan “merindukan ketegasan Soeharto”.

Buat saya masa ORBA adalah masa kelam bagi bangsa Indonesia. Masa yang tak ingin saya ulangi melewatinya. Orde yang menyisakan kelamnya hingga saat ini.

Masa ORBA itu ibarat membungkus bangsa ini dengan kemasan yang indah dan bagus, tapi memiliki isi yang sangat buruk bahkan busuk.

Hal yang paling menonjol dalam ORBA adalah pelanggaran HAM berat, KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) juga tak ada kebebasan berpendapat dan menentukan pilihan.

Ketegasan dimasa ORBA berarti adalah pelanggaran HAM diantaranya Pembunuhan Masal 1965 (tanpa disidangkan), Penembakan Misterius (Petrus), Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh, DOM Papua, Tanjung Priok, Kasus 27 Juli, Penjajahan di Timor Timur, Trisakti 12 Mei 1998, Kerusuhan 13-14 Mei 1998.

Itu baru yang tampak belum lagi bila yang menyampaikan kritik terhadap pemerintah “dibungkam” dengan ancaman, intimidasi bahkan “dilenyapkan”.

Tentu media tidak boleh memberitakan berbagai pelanggaran HAM tersebut, bila ada yang berani, konsekuensinya wartawannya “dibungkam” atau bahkan medianya di bredel.

Apakah ketegasan yang seperti itu yang sekarang ini sedang dirindukan?

Lalu KKN yang telah berurat akar. Dijaman ORBA bila ingin makmur, ikutlah cara-caranya yang “elegan” diantaranya menyuap, korupsi bersama, menjilat, kolusi dan nepotisme. Ingin karier atau bisnis lancar harus pandai menggunakan cara tersebut, kalau jalan yang dipilih adalah kejujuran, maka karier tersendat, bisnis terhambat. Dan ini merata disemua lini yang mengakibatkan monopoli yang tak terhindarkan, menghasilkan pejabat tinggi yang tak berkualitas dan tentu berakhir dengan kehancuran perekonomian negara.

Dan warisan KKN itulah yang sudah bagai benang kusut yang hingga sekarang masih belum terurai.

Bila ada yang mengatakan KKN jaman ORBA tidak dilakukan dengan fulgar, seperti saat sekarang yang dengan terang-terangan tersaji diberbagai media. Sekali lagi saya ingatkan, saat ORBA semua media “dibungkam”, sedang sekarang media bebas memberitakan apapun juga walau terkadang ada beberapa yang menyesatkan demi kepentingan sang pemilik, belum lagi KPK yang bekerja tak pandang bulu. Walaupun belum bisa diberantas secara menyeluruh, namun dengan kasak kusuk media dan KPK juga masyarakat yang bisa dengan mudah bersuara, saya yakin lama kelamaan akan membuat pelaku KKN jera.

Dengan cara-cara ORBA tersebut, maka terciptalah bangsa yang penuh dengan ketakutan sehingga menampilkan sebuah negara yang aman, damai dan tenteram. Tak ada berita negatif apapun tentang negara Indonesia yang tergambar “gemah lipah loh jinawi”.

Belum lagi kewajiban bagi seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) beserta keluarganya juga keluarga TNI/POLRI diwajibkan memilih GOLKAR saat pemilu. Dan kita memiliki Wakil Rakyat yang hanya “tidur karena hanya tau kata setuju saat sidang menentukan nasib rakyat” juga menerima laporan Presiden dan memilih secara aklamasi Soeharto menjadi Presiden setiap periode. Bila tidak mengikuti aturan main, karier pun terhenti. Gambaran demokrasi yang terbelenggu ketakutan.

Berbeda dengan sekarang, anggota DPR bebas berpendapat, walaupun wakil rakyat kita yang sekarang masih jauh dari harapan, karena lebih mementingkan kepentingan partai dari pada kepentingan rakyat. Namun rakyat saat ini sudah cerdas bisa menilai dan bebas bersuara, maka saya yakin rakyat bisa menjadi kontrol dan akan melahirkan wakil rakyat yang lebih berkualitas dikemudian hari.

Demikian juga untuk media saat ini yang masih mengutamakan kepentingan pemiliknya dari pada menyampaikan kebenaran sebuah berita, dengan kecerdasan masyarakat dan kebebasan juga kemudahan mencari berbagai informasi yang bisa diperoleh, di kemudian hari akan hanya menyisakan media yang benar-benar berkualitas.

Buat saya perjuangan angkatan 98 untuk reformasi yang bisa kita nikmati saat ini jauh lebih baik dari pada masa ORBA. Sekarang kita bebas berpendapat salah satunya menulis di kompasiana atau berkomentar di twitter dan media lain tanpa takut “dibungkam”.

Dan bila sekarang masih jauh dari harapan kita, saya hanya ingin mengingatkan segala sesuatu butuh proses. Segala borok yang tampak saat ini adalah karena kebebasan yang telah kita raih di era reformasi dan nantinya akan menjadi kontrol bagi para pejabat kita.

Di masa yang akan datang saya selalu optimis Indonesia akan menjadi lebih baik. Walau generasi saat ini berteman akrab dengan segala sesuatu yang instan namun bukan berarti segala sesuatu harus serba instan.

Nikmatilah proses reformasi menuju Indonesia yang lebih baik tak hanya kulitnya namun juga isinya. Ayolah generasi muda bangkitlah, jadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga untuk kemajuan Indonesia di masa depan. Teruslah berkarya dan berbuat sesuatu untuk bangsa ini sekecil apapun itu akan sangat berguna.

Sambutlah Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2011 dengan harapan baru.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

LIVE STREAMING KOMPASIANIVAL 2014 …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 08:30

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Aku dan Kompasianival 2014 …

Seneng Utami | | 22 November 2014 | 02:18

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Seru! Beraksi bareng Komunitas di …

Kompasiana | | 19 November 2014 | 16:28


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 13 jam lalu

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 14 jam lalu

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 18 jam lalu

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 23 jam lalu


HIGHLIGHT

Inilah 3 Pemenang Blog Movement “Aksi …

Kompasiana | 9 jam lalu

LIVE STREAMING KOMPASIANIVAL 2014 …

Kompasiana | 9 jam lalu

Mendidik Anak untuk Mandiri …

Jurnalistikiii Onth... | 11 jam lalu

Pemeran Film Dokumenter “Act of …

Handy Fernandy | 11 jam lalu

Asyiknya Wisata di TRMS Serulingmas …

Banyumas Maya | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: