Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Mohammad Adlany

Tegakkan Keadilan

Tentang Tasawuf dan Irfan Islami

OPINI | 21 May 2011 | 23:45 Dibaca: 161   Komentar: 0   0

Oleh: Bandeh Khudo

Kosa kata “tasawuf” dan “irfan” dalam banyak karya tulis digunakan dalam arti yang sinonim. Malah sebagian ulama menganggap bahwa tasawuf sinonim dengan irfan Islami. Oleh karena itu, mereka tidak membenarkan penyandaran kata itu kepada selain Islam, seperti tasawuf Kristen, tasawuf Yahudi, dan tasawuf India.

Ajaran irfan semestinya sudah ada bersama kehidupan manusia. Jika seseorang tidak menginginkan akalnya hanya terbatasi oleh materi dan memandang dunia ini sebagai materi semata, begitu apabila ia tidak ingin melihat bahwa dunia ini hanya bersifat rasional, dan pada waktu yang sama, ia juga tidak menafikan wujud materi, sebenarnya ia telah memiliki pola pemikiran irfani. Ya, tidak seluruh irfan memiliki substansi ajaran agama, baik dahulu maupun sekarang.

 Atas dasar ini, irfan memiliki dua klasifikasi: irfan agamis dan irfan non-agamis. Sebelum ajaran Islam datang, seluruh jenis irfan ini pernah ada. Dalam ajaran Zoroaster dan Kristen, kita masih dapat menemukan urat-urat nadi ajaran-ajaran irfani. Dalam ajaran Budha yang tidak bisa kita sebut sebagai agama, kita juga masih dapat melihat urat-urat nadi ajaran-ajaran agama.

Atas dasar ini, kita dapat berasumsi bahwa irfan telah dilahirkan bersama agama. Akan tetapi, irfan tidak sama dengan agama. Dengan demikian, irfan sudah sejak dulu sebelum Islam muncuk ke permukaan, khususnya dalam aliran Stoicisme, Cynicisme, dan area peradaban Helenik; yakni Athena, Roma, dan Yunani. Di arean peradaban inilah, Plotinus dan para pengikut aliran Neoplatonisme mengerahkan tenaga untuk mempelajari masalah ini. Mereka berhasil mewujudkan sebuah pandangan irfan. Bapak seluruh pemikiran ini adalah Plato. Hal ini berlanjut hingga agama Islam muncul.

 Irfan dalam ajaran Islam memiliki beberapa periode:

 1. Dari sejak Al-Quran diturunkan hingga permulaan abad ketiga, irfan banyak memiliki dimensi zuhud. Pada periode ini, kita hanya mendengar banyak para pembesar zahid. Di sini kita tidak pernah mendengar terminologi arif. Abu Hasyim Kufi, Hasan Bashri, dan lain sebagainya kita sebut sebagai para zahid agung.

2. Dari sejak permulaan abad ketiga, ajaran zuhud mulai mengenal dan bertabrakan dengan ajara-ajaran lain yang sedang berkembang di Yunani, Iran, India, Mesir, dan tempat-tempat lain. Dengan pertemuan ini, ajaran zuhud memiliki ajaran gabungan dan mulai bergerak ke arah irfan. Ada satu kriteria utama yang merupakan ajaran zuhud menjadi irfan. Dalam ajaran zuhud, seluruh tolok ukur adalah rasa takut kepada Allah. Sedangkan dalam irfan, barometer utama adalah kecintaan kepada Allah. Pada hakikatnya, dari sejak Hallaj, Rabi’ah, Sibli, Bayazid, dan tokoh-tokoh  yang lain melontarkan konsep “kecintaan kepada Allah”, irfan Islami mulai muncul dan tersebar luas di kalangan masyarakat.

Tidak diragukan lagi, kondisi sosial, historis, politik, dan kemasyarakatan kala itu sangat mempengaruhi masalah ini. Kala itu, pondasi utama kemunculan agama Islam adakan keadilan dan tauhid. Muslimin pada abad kedua dan ketiga Hijriah melihat agama yang berkembang kala itu sangat berbeda dengan agama yang pernah dibawa oleh Rasulullah saw. Sebagai contoh, kelakukan, ucapan, dan perilaku para penguasa dari  Dinasti Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah tidak serupa sama sekali dengan ucapan dan perilaku Rasulullah saw. Melihat semua ini, masyarakat akhirnya memiliki kecondongan kepada ajaran irfan dan mencari hakikat Islam sejati yang spiritualnya tidak bergantung kepada kegemerlapan dunia.

Realita ini adalah faktor utama mengapa irfan Islami tersebar luas. Banyak periode yang juga telah dilalui oleh perkembangan irfan ini.

Irfan Islami dalam Sejarah

Jika kita ingin menelaah irfan Islam secara global, ada 4 periode yang dapat kita jadikan sebagai patokan utama:

Pertama, dari sejak kemunculan irfan hingga masa Hallaj dan Rabi’ah.

Kedua, dari sejak masa Rabi’ah hingga masa Bayazid dan Abu Sa’id Abul Khair.

Ketiga, dari masa Abul Khair hingga Ibn Arabi.

Keempat, dari masa Ibn Arabi hingga masa kini.

Periode pertama merupakan periode pertumbuhan irfan yang  banyak menekankan prinsip ajaran pada Al-Quran, Sunah, kezuhudan, ibadah, dan lain sebagainya.

Dari abad ketiga hingga permulaan abad keempat Hijriah, irfan Islami bergerak menuju irfan yang berlandaskan pada kecintaan kepada Allah. Pada periode ini, banyak juga syuhada yang guggur. Kematian Hallaj merupakan perwakilan dari gerakan yang ingin mendeklarasikan bahwa Tuhan dan manusia bak dua sisi uang logam ini. Ketika ia menyatakan ungkapan “anal haqq”, maksudnya adalah masalah ini. Sayangnya, pemikiran zuhud yang dimoinan kala itu tidak dapat mengunyah pernyataan. Akhirnya, Hallaj pun digantung.

Pada masa berikutnya, Abu Said Abul Khair telah melakukan dua hal penting dalam kultur Persia: pertama, ia berhasil memasukkan ajaran irfan ke masjid dan mushalla-mushalla. Dengan tindakan ini, ia berhasil melenyapkan keterasingan irfan dari kultur Islam; kedua, ia mampu menyederhanakan bahasa irfan dan berhasil menarik perhatian masyarakat kepada ajaran ini.

Setelah Abu Sa’id meninggal dunia, masyarakat membacakan syair-syair irfani di masjid-masjid. Sebelum ini, pembacaan syair irfani di masjid dilarang. Sunah ini tersebar luas di dunia Islam berkata usaha para pujangga seperti Sanaei, Aththar, Maulana, dan lain sebagainya. 

Pada hakikatnya, aliran irfan Khurasani yang dipelopori oleh Sanaei, Aththar, Jami, dan Maulana adalan penerus ajaran Hallaj, Bayazid Busthami, dan Abu Sa’id Abul Khair. Ini adalah salah satu cabang penting irfan Islami pada masa itu.

Cabang irfan yang lain muncul dari sejak masa Ibn Arabi hidup. Irfan ini lebih bersifat rasionalis ketimbang cerapan hati (dzauq). Perbedaan antara Ibn Arabi dan Maulana adalah bahwa dalam pemikiran Ibn Arabi, ada sebuah sistem untuk menafsirkan fenomena. Segala sesuatu diinterpretasikan dengan saling berhubungan dan teratur. Untuk itu, irfan Ibn Arabi bersifat setengah filosofis dan ilmiah. Irfan ini, berbeda dengan diklaim oleh sebagian orang, tidak bersifat dzauqi. Sekalipun demikian, irfan ini sangat dalam dan oleh karena itu sangat berpengaruh. Sayangnya, irfan ini banyak berkembang di belahan barat Dunia Islam. Sementara itu, irfan Khurasani banyak berkembang di belahan timur Dunia Islam. 

Ibn Arabi yang muncul pada abad keenam Hijriah berhasil mempengaruhi seluruh ajaran dan aliran irfan. Sampai sekarang pun, tidak ada satu pun aliran irfan baru yang muncul ke permukaan. Para pakar yang muncul setelah itu seperti Mulla Shadra dan mereka yang muncul setelah periode Shafaiyah hanya menggabungkan aliran irfan Ibn Arabi dan irfan Khurasani. Sebenarnya aliran ini adalah betuk irfan ilmiah dari irfan Ibn Arabi dan dzauq irfan Khurasani. Muncullah Hikmah Muta’aliyah Mulla Shadra.

Aliran irfan Ibn Arabi bak sebuah pohon. Akar pohon ini merambat ke dalam beberapa aliran. Ini berarti bahwa ia mengenal seluruh jenis pemikiran ini. Akan tetapi, ia tidak hanya bersandarkan pada aliran-aliran ini. Ia juga mengenal dengan baik irfan dzauqi Khurasani, Hakim Turmudzi, aliran filsafat yunani, India, dan Iran kuno. Ia memanfaatkan seluruh jenis aliran ini dan membangunnya menjadi sebuah aliran khusus. 

Mungkin sebagian orang berkeyakinan bahwa aliran irfan Ibn Arabi tidak memiliki daya tarik khusus sebagaimana yang dimiliki oleh aliran irfan Khurasani. Tapi, menurut hemat penulis, sekalipun aliran irfan Ibn Arbai memiliki banyak problem seperti, aliran ini sangat memiliki daya tarik dan tersusun secara teratur. Untuk itu, bisa diklaim bahwa aliran irfan Ibn Arabi adalah bak sebuah lautan yang bermuara dari tujuh sungai. Jelas, maksud dari angka tujuh adalah ungkapan alegoris. Maksud sebenarnya adalah banyak, karena muara irfan Ibn Arabi lebih banyak dari angka ini. 

Kriteria Irfan Islami

Irfan Islami memiliki beberapa kriteria. Yang terpenting adalah kesesuaian aliran ini dengan syariat Islam. Kita tidak bisa mengklaim ada sebuah aliran irfan dalam Islam yang bertentangan dengan Al-Quran dan Sunah. Jika terbukti ada sebuah ajaran irfan yang bertentangan dengan norma agama, kita terpaksa harus melakukan takwil. 

Kriteria kedua irfan Islami adalah irfan Islami memiliki tingkatan-tingkatan yang harus dititi secara bertahap. Seoorang pesuluk pada hari pertama tidak dapat langsung sampai ke peringkat akhir. Irfan ini harus dilalui melalui suluk yang harus ditempuh secara bertahap satu peringkat demi peringkat.

Kriteria ketiga, seluruh tingkah dan perilaku seorang pesuluk harus hanya dilandasi oleh taqarub kepada Allah, bukan cinta dunia dan harta benda. Artinya, sekalipun kita memandang irfan ini sebagai sebuah perantara dan fasilitas untuk membersihkan diri, kita sebenarnya telah terjauhkan dari jalan irfani. 

Kriteria keempat, irfan Islami tidak pernah bertentangan dengan masyarakat. Orientasi irfan berpihak kepada masyarakat. Abu Sa’id Abul Khair pernah mengungkapka, “Arif adalah orang yang bersama masyarakat dan berada dalam masyarakat, tapi bukan dari masyarakat.” “Hiduplah bersama masyarakat, tapi janganlah seperti masyarakat.” 

Kriteria kelima, segala sesuatu harus bergerak menuju suatu arah yang dapat memperluas ruang gerak manusia, bukan malah membatasinya. Segala sesuatu yang membatasi ruang gerak manusia berarti ia bukan irfan. 

Kriteria keenam, kecenderungan ke arah keindahan. Tak satu pun aliran irfan di dunia ini yang memiliki kecenderungan kepada keindahan seperti irfan Islami. Segala sesuatu yang indah adalah menifestasi Allah.

Kriteria ketujuah, sastra yang sangat transedental. Artinya, arif berada dalam puncak sastra puisi dan prosa.

Kriteria kedelapan, irfan Islami memiliki kemampuan untuk menarik hati kalangan bangsawan dan kalangan papa. Dalam irfan Islami, tidak ada istilah kedudukan tinggi dan rendah. Seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama rata. 

Mungkin irfan Islami masih memiliki kriteria yang lain. Tapi delapan kriteria ini adalah kriteria-priteria penting dalam irfan Islami.

Keistimewaan Irfan Islami

Irfan Islami memiliki beberapa keistimewaan yang dianggap sangat baru oleh manusia di abad modern ini. Kita telaah beberapa keistimewaan irfan pada kesempatan berikut ini: 

Pertama, seseorang akan dipenuhi oleh kesendirian. Ketika ia mendalami ajaran-ajaran irfani, ia tidak pernah berpikir bahwa ada sebuah kesendirian yang mutlak. Mungkin ia terpisah, tapi ia tidak sendirian. Ketika kita mengatakan terpisah, ia memiliki sebuah pokok. Ia terpisah darinya dan merasa asing. Tapi ini bukan berarti ia sendirian.

Kedua, irfan dapat memuaskan naluri keindahan yang dimiliki oleh seesorang. Tidak ada suatu apapun dalam pandangan seseorang yang lebih menarik daripada keindahan. Irfan Islami dapat memenuhi naluri ini dengan sempurna. 

Ketiga, irfan Islami membantu seseorang untuk menyingkap seluruh kemampuan yang dimiliki. Mengenal diri adalah pondasi utama ajaran irfan. Dan hal ini memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengenal dirinya dengan baik.

Keempat, irfan Islami dapat memberikan kesempatan kepada seseorang untuk merasakan rasa sakit yang dimiliki oleh orang lain. Irfan tidak akan membuat seseorang merasa terasing dari orang lain. Sebaliknya, irfan dapat menyatukan dengan perasaan orang lain. Manusia dapat dikatakan manusia ketika ia menghormati orang lain dan merasakan penderitaannya.

Kelima, irfan Islami dapat mewujudkan ribuan makhluk sehati dan sejiwa. Di manapan kita menginjakkan kaki, kita pasti memiliki makhluk yang sejiwa. Dalam ungkapan Maulana, kesehatian itu lebih manis daripada kesamaan bahasa. Ini adalah sebuah masalah yang sangat penting. Pondasi utama ajaran irfan berdiri tegak di atas kesehatian, bukan kesamaan bahasa. Setiap orang yang memiliki pemikiran seperti kita, di manapun ia berada, ia berarti bersama kita. 

Keenam, irfan Islami memperkenalkan ajaran spiritual masa lalu kepada kita dalam jumlahnya yang sangat banyak.

Ketujuh, irfan Islami mengajarkan kita supaya terus melangkah ke depan. Dalam ajaran ini ditegaskan, janganlah berjalan di tempat. Melangkahlah satu langkah ke depan. Seluruh yang Anda miliki adalah sedikit. Melangkahlah satu langkah ke depan.

Kedelapan, irfan Islami memperkenalkan Hadirat Qudsi kepada kita. Dan ini adalah yang terpenting. Kehidupan manusia bukan cuma tidur, makan, membakar amarah, dan mengumbar syahwat. Sekalipun demikian, ajaran ini tidak menafikan sisi jasmaniah dan material manusia. Kecintaan jasmaniah bukanlah ujuran jalan, tapi permulaan sebuah jalan. Jika Dunia Barat hari ini menetapkan kenikmatan jasmaniah sebagai pondasi seluruh kenikmatan, pemikiran seperti ini dinafikan dalam ajaran irfan Islami. Iya, irfan Islami tidak menafikan hal ini. Menurutnya, kenikmatan jasmaniah bukan ujung perjalanan, tapi permulaan sebuah perjalanan.

Apakah Tasawuf adalah Irfan?

Dalam banyak karya tulis, kosa kata “irfan” dan “tasawuf” diartikan sebagai dua kata yang sinonim. Sebagian ahli malah menganggap “tasawuf” sinonim dengan “irfan Islami”. Atas dasar ini, mereka tidak memperbolehkan kosa kata ini digabungkan dengan kosa lain yang tidak Islami, seperti tasawuf Yahudi, tasawuf Kristen, dan tasawuf India. Sekarang, dalam tradisi kalangan orientalis, terminologi seperti ini sangat banyak ditemukan. Ketika mereka mengatakan “tasawuf” atau “sufisme”, maksud mereka tidak lain adalah “irfan Islami”. Akan tetapi, dalam tradisi mazhab Syiah, tasawuf memiliki arti negatif dan irfan memiliki arti positif.

Dalam tradisi mazhab Syiah, kata “tasawuf” biasanya digunakan untuk orang-orang yang menampakkan diri sebagai orang sufi atau aliran-aliran irfan palsu. Atas dasar ini, mereka tidak menyebut para figur seperti Mulla Husainquli Hamadani, Qadhi Tabatabaei, Allamah Tabatabaei, dan Imam Khomeini sebagai figur-figur sufi. Mereka adalah orang-orang arif.

Supaya kita dapat menemukan perbedaan yang jelas antara irfan dan tasawuf, pertama kali kita harus mendefinisikan tasawuf dengan baik.

Dalam sebagian definisi, tasawuf tidak memiliki perbedaan dengan irfan, khususnya irfan amali. Mari kita perhatikan beberapa contoh di bawah ini: 

- Ma’ruf Karkhi menulis, “Tasawuf adalah menerima seluruh hakikat, mengucapkan segala sesuatu dengan penuh kejelian, dan tidak merasa memerlukan segala sesuatu yang ada di tangan manusia.”

- Abu Sa’id Abul Khair menulis, “Tasawuf adalah kesabaran menerima perintah dan larangan Ilahi, serta rida dan menerima segala ketentuan Ilahi.”

- Ketika Ibn Arabi ditanya tentang maksud tasawuf, ia menjawab, “Tasawuf adalah melakukan seluruh tata krama syariat, baik secara lahiriah maupun batiniah. Dan ini adalah akhlak yang mulia.”

Jelas sekali, jika maksud tasawuf adalah definisi-definisi yang telah disebutkan oleh para tokoh di atas, tasawuf tidak memiliki perbedaan sama sekali dengan irfan amali, dan tak seorang pun menentang hal ini. Malah sebaliknya, kita harus melangkahkan kaki untuk mewujudkan tasawuf seperti ini dalam kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, apabila kita ingin mendefinisikan tasawuf dengan melihat realita di alam nyata, banyak orang yang telah dikenal sebagai sufi tidak layak menyandang definisi-definisi tersebut di atas, baik dalam ranah ilmiah maupun amaliah. Mereka bukan hanya tidak mengamalkan syariat, bahkan mereka melarang para murid mereka untuk mengamalkannya. Mereka bukan hanya tidak melarikan diri dari dunia dan kegemerlapan duniawi, mereka malah berlomba-lomba menumpuk dunia. Mereka bukan hanya tidak melarikan dari dari ketenaran, malah seluruh mimpi dan keinginan mereka adalah ketamakan. Mereka bukan hanya tidak mau bertobat, mereka malah menganggap diri mereka lebih tinggi dari arti tobat sehingga memiliki maqam kemaksuman. Mereka menganggap diri mereka bersambung dengan air kur yang tidak dapat dinajiskan oleh apapun.

Jika tasawuf dicela dalam beberapa hadis, hal ini menunjukkan bahwa definisi-definisi di atas tidak memiliki pengejawantahan di dunia nyata. Jika tidak demikian, mengapa Rasulullah saw dan para Imam Maksum as harus menentang aliran tasawuf?

Kisah tentang perdebatan Imam Shadiq as dengan golongan sufi banyak disebutkan dalam buku-buku referensi hadis. Pembaca yang berminat menelaah masalah ini bisa merujuk buku Hadiqoh Al-Syi’ah karya Mulla Ahmad bin Ahmad yang lebih dikenal dengan nama Muqaddas Ardebili (wafat tahun 993 H.). Mungkin sebagian sanad hadis-hadis yang termaktub dalam buku ini masih berproblema, tapi secara keseluruhan membuktikan bahwa cercaan dan kritikan pedas yang ada dalam hadis-hadis ini menunjukkan definisi-definisi tasawuf di atas tidak terwujudkan dalam diri—paling tidak—sebagian mereka yang mengaku sufi. Jika tidak demikian, tidak alasan para Imam Maksum as mencerca dengan mengkritik mereka dengan sangat pedas.

Satu hal layak kita perhatikan di sini. Pertama kali, irfan Islami dan tasawuf juga sama-sama pernah mengalami penyelwengan. Irfan Islami sebenarnya adalah sebuah ajaran-ajaran batin yang pernah diberikan kepada para sahabat khusus. Banyak sahabat terkemuka seperti Uwais Qarani, Abu Hamzah Tsumali, Kumail bin Ziyad, dan lain sebagainya memiliki ajaran-ajaran ini. Ahlul Bait as memiliki dua keistimewaan: pertama, mereka menguasai hati manusia (kekuasaan batiniah) dan kedua, mereka memegang tampuk pemerintahan di tengah masyarakat luas (kekuasaan lahiriah). Sekalipun pihak oposisi berhasil merebut kekuasaan lahiriah ini, masih menyaksikan kekuasaan batiniah mereka dalam relung kalbu masyarakat. Untuk menghadapi kekuasaan ini, para perampas kekuasaan lahiriah itu menciptakan aliran-aliran batiniah sempalan.

Seorang sufi seperti Sufyan Tsauri yang berpakaian compang-camping dan ahli zuhud pernah memprotes Imam Shadiq as yang berpakaian serba bersih dan teratur rapi. Imam Shadiq as mengambil Sufyan dan memasukkannya ke bagian dalam pakaiannya yang kasar. Ia lantas berkata, “Saya masih mengenakan pakaian kasar di bagian dalam pakaianku supaya saya tidak membiasakannya terhadap pakaian halus dan lembut. Engkau sendiri mengenakan pakaian halus dan lembut di bawah pakaian yang kasar dan compang-camping ini.”

Fenomena lahiriahisme ini masih terus menerus melakukan perlawanan hingga masa kini. Sekalipun demikian, irfan hakiki mash tetap meneruskan kehidupan dengan berpindah-pindah dari dada ke dada.

Sebuah Kata Bernama “Spiritual”

Pada dasawarsa terakhir ini, ada sebuah terminologi yang mencuat ke permukaan; yaitu kosa kata “spiritual”. Sebagian penulis mengklaim, era modern ini adalah era spiritual. Sebagian penulis juga memprediksikan, abad XXI adalah abad spiritual. Jika tidak demikian, tidak ada abad lagi setelah ini. Artinya, menghadapi fasilitas pembunuh masa yang berhasil mereka ciptakan, modernisasi, dan tuntutan-tuntutan kehidupan industri, jika mereka tidak bergerak ke arah spiritual, mereka akan musnah ditelan masa.

Pertanyaan yang penting sekarang adalah apakah maksud dari kosa kata “spiritual” ini? Terminologi ini sudah berpuluh-puluh tahun mencuat dalam tulisan-tulisan para pakar Dunia Barat. Tapi, sayangnya sampai sekarang belum ada definisi kongkrit yang diberikan oleh mereka. Oleh karena itu, batasan-batasan terminologi dan persamaan serta perbedaannya dengan agama dan irfan tidak begitu jelas.

Tapi satu hal yang sangat jelas bagi kita. Bangsa Barat, dengan bersandarkan pada pondasi humanisme dan sekularisme, ingin menjawab seluruh kebutuhan spiritual manusia abad modern. Oleh karena itu, spiritualisme yang sedang berkembang di Dunia Barat, pada umunya, berlandaskan pada asas sekular dan ideologi liberal. Sebagai contoh nyata, sebagian spiritualisme Timur yang sedang aktif di Dunia Barat seperti Budhisme dan Hinduisme sejalan dengan prinsip sekular Barat, atau paling tidak, bentuk spiritualisme yang telah disesuaikan dengan prinsip ini.

Spiritualisme baru tidak meyakini sebagai aliran yang berbasiskan keyakinan kepada Tuhan, apalagi harus berlandaskan ajaran agama. Mereka mencari spiritual di luar ruang lingkup ajaran agama Ilahi. Berdasarkan realita ini, para penyembah setan dan aksi penjinakan jin juga dihitung sebagai ajaran-ajaran spiritual.

Berdasarkan keyakinan Dunia Barat di atas, maksud dari “spiritualisme” adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan guna memunculkan resistensi dalam diri kita untuk menghadapi kegundahan batin yang sekarang ini sedang mengancam setiap jiwa manusia. Spiritualisme seperti ini tidak mewajibkan sebuah keyakinan terhadap Allah, tidak memerlukan ajaran-ajaran para nabi, dan juga tidak butuh kepada dunia lain yang akan muncul setelah dunia ini. Yang diperlukan oleh manusia dalam spiritualisme ini adalah sebuah keridaan batin yang sesuai dengan kehidupan duniawi ini.

Dengan ini, jelas bahwa spiritualisme yang dalam ajaran agama dan spiritualisme seperti ini sangat berbeda. Spiritualisme agama tidak membatasi kehidupan manusia hanya di dunia ini. Bahkan, kehidupan asli bagi manusia adalah alam akhirat. [http://www.shabestan.net/id/] http://teosophy.wordpress.com

 

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 7 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 7 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 11 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 14 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 19) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Meninjau Konsistensi kehalalan Produk …

Donny Achmadi | 9 jam lalu

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: