Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Nody Arizona

Bukan pejabat yang maha kuasa

Kakek di Bawah Bendera Revolusi

REP | 24 May 2011 | 11:54 Dibaca: 592   Komentar: 2   0

TUKIMIN meninggal dunia pagi hari di tanggal 20 Desember 2005 pada usia 80 tahun.

Kalau saja ada sesuatu yang diwariskan kepadaku, salah seorang keturunan generasi ketiganya, adalah sebuah buku Dibawah Bendera Revolusi karangan Ir. Soekarno, proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia.

Buku setebal lebih dari 600 halaman itu terlihat angkuh di antara sejumlah buku yang belakangan ini mulai menyesaki kamarku. Warnanya mulai memudar, mungkin lusuh. Di bagian tepi setiap lembarnya tampak menghitam dan tak utuh lagi. Buku itu sempat menjadi santapan rayap. Meski begitu, setiap pembacanya masih bisa membacanya dengan lengkap, sebab tidak ada bagian yang hilang dari buku itu.

Saya menganggap buku Dibawah Bendera Revolusi sebagai warisan paling istimewa dari kakek. Jauh lebih berharga dari sejengkal tanah yang meski dibagi dengan keturunannya yang banyak, dan nyaris saja memicu perseteruan di antara anak keturunannya.

Ceritanya, saya menemukan buku itu di rumah salah seorang paman, sekitar 3 tahun setelah kematian kakek, dan saya meminjamnya. Karena mengetahui buku itu milik kakek, maka saya pun tidak berniat lagi mengembalikannya meskipun telah rampung membaca. Buku ini saya rasa akan lebih nyaman di tangan saya, barangkali juga berguna, karena terbaca dan menjadi amal zariyah bagi kakek ketika ada teman yang meminjamnya.

Sulit sekali untuk melacak asal buku itu. Darimana kakek mendapatkannya?

Tentang kakek, saya tidak tahu persis masa mudanya bagaimana atau di masa-masa Pagebluk 1965. Saya baru terlahir pada 1987.

Selain buku itu kakek memiliki koleksi lukisan banteng. Seperti dua sisi mata uang, lukisan itu memiliki dua gambar yang tampak serupa kisah bersambung. Gambar satu terpampang banteng dengan wajah penuh amarah dengan dua tanduk yang terbentuk sempurna, dan kalau dibalik ada gambar lain lagi, gambar banteng yang melawan serangan tiga macan sekaligus.

Mengenai lukisan itu sama gelapnya dengan buku Dibawah Bendera Revolusi. Siapa yang menggambar saya tidak tahu. Cuma dalam ingatan saya, lukisan itu telah lama ditaruh gudang. Baru-baru ini saja mulai dipajang lagi di rumah induk keluarga kami. Kini menjadi rumah salah seorang paman yang kebetulan fungsionaris partai berlambang banteng.

Benar saja kalau buku dan lukisan banteng itu tidak pernah terlihat. Menyimpan buku dan mungkin lukisan itu adalah satu hal yang membahayakan di bawah rezim Orde Baru. Dari informasi yang saya ketahui di masa Orde Baru cukup mudah mengiring seseorang ke penjara karena pemilikan benda-benda yang dianggap berkaitan dengan Partai Komunis Indonesia.

Di lembaga pers mahasiswa tempat saya berkegiatan sekarang, para senior saya sempat bercerita kalau mereka hendak membaca buku-buku “terlarang” meski sembunyi-sembunyi. Bahkan ada memastikan pintu dan jendela kamar kos terkunci terlebih dahulu sebelum membaca.

Buku juga yang membuat lembaga pers mahasiswa itu dibredel dan nyaris tinggal nama saja. Pada 1996 para senior menerbitkan resensi buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karangan Pramoedya Ananta Toer di salah satu terbitannya. Tabloit ECPOSE, nama media itu, tidak pernah sempat didistribusikan kepada mahasiswa.

Tabloid yang telah selesai cetak itu ditahan di Dekanat atas perintah Dekan FE Universitas Jember saat itu, lalu entah diapakan saya tidak tahu.

Buku mempunyai kekuatan tersendiri dalam mempengarui sejarah suatu bangsa. Buku punya kekuatan menyimpan memori kolektif sebuah bangsa. ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah,” kata Milan Kundera seorang novelis asal Ceko .

Barangkali memori kolektif rakyat yang menjadi alasan mengapa Orde Baru mempunyai ketakutan akut terhadap buku. Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto hendak menghilangkan memori kolektif bangsa terhadap komunisme dan ideologi kritis lain yang mungkin akan membahayakan Pancasila, atau lebih tepatnya kekuasaan, melalui pemberangusan buku dan pemenjaraan sejumlah penulis.

Kakek sepengetahuan saya tidak pernah tampak suntuk dalam bacaan. Dibawah Bendera Rovolusi adalah buku miliknya. Barangkali saya baru bertemu di masa senjanya saat penglihatannya sudah mulai menurun. Saat masih di Sekolah Dasar (SD) saya selalu melihat kakek membaca koran sambil menikmati secangkir kopi.

Sekali lagi, apa yang terjadi pada kakek di masa-masa revolusi dan kaitannya dengan buku Dibawah Bendera Revolusi itu masih menjadi pertanyaan bagi saya. Baru belakangan ini saya mencoba menelusuri biografi kakek melalui awalnya buku Dibawah Bendera Revolusi yang ada di tangan saya. Barangkali ini seperti menelusuri jejak benang kehidupan saya sendiri.

Dia orang yang pertama kali dan sampai beberapa lama setelahnya selalu membonceng saya dengan sepeda tua dan tubuh rentanya ke masjid untuk sholat Jum’at. Dia orang yang setiap tanggal muda selalu saya cari-cari untuk meminta uang jajan tambahan dari uang pensiunnya. Dan betapa terlambatnya, kalau saya baru mencari tahu kisah masa muda sekarang ini, tepatnya setelah hampir enam tahun setelah pemakamannya.

Paman saya yang menjadi fungsionaris partai berlambang banteng mengatakan bahwa kakek dulunya seorang fungsionaris Partai Nasional Indonesia dan mengidolakan sosok Soekarno. Barangkali berkaitan jika sosok kakek saya yang berapi-api itu mengidolakan Soekarno yang meledak-ledak dalam setiap pidatonya. Ya, pidato yang menurut sejumlah penulis sejarah dikatakan mampu menyihir pendengarnya.

Dari kisah sumber yang sama, salah satu lukisan itu adalah tiruan lukisan Raden Saleh. Memang benar itu adalah lukisan Raden Saleh yang berjudul Tarung Banteng Macan yang dilukis tahun 1834. Kalau tidak karena cintanya pada pilihan politiknya, kakek pasti tidak menyimpan lukisan banteng itu dan sebagian besar tulisan-tulisan Bung Karno.

“Selain Dibawah Bendera Revolusi ada pula Sarinah,” kata paman saya, menyebut buku lain karangan Soekarno milik kakek.

Buku Dibawah Bendera Revolusi adalah kumpulan karangan Soekarno yang terdiri dari 2 jilid. Jilid yang ada di tangan saya merupakan jilid pertama cetakan ketiga tahun 1964. Beberapa buku lain lagi tidak diketahui keberadaannnya. Hanya Sarinah, buku Soekarno mengenai perempuan Indonesia yang bisa terlacak kini berada di salah seorang paman yang lain.

Kakek lahir di Jember pada 1925. Saya duga keluarganya yang erat kaitannya dengan perkebunan kemungkinan besar datang dari Pulau Madura. Entah berapa generasi sebelum kakek saya lahir. Perkebunan di Jember sendiri baru dibuka sekitar pertengahan tahun 1800.

Di masa mudanya di aktif sebagai pastisipan Partai Nasionalis Indonesia entah sebagai apa. Bahkan nama salah satu anak lekakinya diambil dari akronim Marhein Menang (Henang).

Saya sempat berpikiran buruk tentang kakek di periode tahun 1965 yang kelam itu. Di masa-masa itu sedikit saja dia kurang tepat meletakkan diri pasti dia akan menjadi korban pemusnahan masal terhadap orang PKI atau yang dianggap terkait dengannya. Tetapi tidak, kakek hanyalah pecinta Soekarno dan berada di garis aman saat peristiwa itu terjadi.

Kakek, meskipun dia mencintai Soekarno, saya yakin dia bukan seorang penggemar biasa yang tersihir oleh pidato-pidato bergeloranya saja. Dari kepemilikan sejumlah buku karangan Soekarno ia pasti paham dengan apa yang dicita-citakan Soekarno.

Dibawah Bendera Revolusi, buku dengan sampul memudar itu menjadi berharga bukan hanya karena isi pikiran pengarangnya, namun juga lantaran kaitan sejarahnya bagi keluarga kami. []

Buku ini adalah buku kumpulan karangan Ir. Soekarno.

Buku ini adalah buku kumpulan karangan Ir. Soekarno.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Transjakarta vs Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | | 31 October 2014 | 12:36

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | | 30 October 2014 | 22:57

Juru Masak Rimba Papua Ini Pernah Melayani …

Eko Sulistyanto | | 31 October 2014 | 11:39

Green Bay dan Red Island Beach, Dua Pesona …

Endah Lestariati | | 31 October 2014 | 11:47

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 4 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 4 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 5 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Demokrasi Pasar Loak …

Budhi Wiryawan | 7 jam lalu

Pak Jokowi Tolong Fokus pada Potensi, Sambil …

Thomson Cyrus | 7 jam lalu

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | 7 jam lalu

Transjakarta VS Kopaja AC, Pengguna Jasa …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kasus MA, Pornografi dan Siapa Para …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: