Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Proses Terbentuknya Kesadaran Nasional dan Identitas Indonesia

OPINI | 31 May 2011 | 18:19 Dibaca: 1774   Komentar: 0   0

Sejak di terapkanya sistem tanam paksa di Indonesia, negara Belanda memperoleh keuntungan yang luar biasa, sistem tanam paksa ini dikecam oleh kaum moralis-liberalis di Belanda. Diantaranya adalah Conraad Theodore Van Deventer. Ia adalah penganjur politik etis. Pada tahun 1899, van deventer dalam majalah De Gids menyebutkan bahwa jutaan (uang) yang dihasilkan oleh indonesia untuk negri Belanda adalah satu Hutang Budi (Ean Eereschuld) bagi bangsa Belanda. Hutang budi ini harus dibayar oleh pemerintah Belanda dengan memperbaiki kesejahteraan rakyat Indonesia.
Untuk membalas budi baik bangsa indonesia, pemerintah Balanda melaksanakan Trilogi Van Deventer, yang meliputi tiga bidang pembangunan, yaitu :

a. Edukasi (pendidikan)
b. Irigasi (pengairan)
c. Transmigrasi (perpindahan penduduk)
  1. Perkembangan Pendidikan Barat
Sejak dilaksanakannya politik etis awal abab ke-20. penyelenggaraan pendidikan bumi putera ini bertujuan untuk menghasilkan pegawai administrasi Belanda yang terampil, murah, dan terdidik. Hasil pendidikan itu kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan industri.
Beberapa sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda antara lain :
1. Sekolah rendah Setingkat SD
a) Europesche Lagere School (ELS)
Didirikan pada tahun 1817 dengan lama belajar 7 tahun. Sekolah ini diperuntukan bagi keturunan Eropa.
b) Hollandsch-Inlandsche School (HIS)
Didirikan pada tahun 1914 dengan lama belajar 7 tahun. Sekolah ini di peruntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli.
c) Twede Klasse School (Sekolah Kelas Dua)
Didirikan pada tahun 1892 dengan lama belajar 3 tahun. Sekolah ini diperuntukan bagi masyarakat biasa.
d) Easte Klasse School (Sekolah Kelas Satu)
Didirikan pada tahun 1914 dengan lama belajar 4-5 tahun. Sekolah ini untuk anak golongan bangsawan Indonesia.
e) Volks School (Sekolah Rakyat)
Didirikan pada tahun 1907 dengan lama belajar 3 tahun.
f) Vervolg School (Sekolah Sambungan)
Didirikan pada tahun 1914 sekolah ini sebagai kelanjutan dari sekolah rakyat dengan lama pendidikan 2 tahun.
2. Sekolah Rendah Setingkat SMP/SMA
a) MULO (Meer Uitgergebreid Lager Onderwijs)
Sekolah ini merupakan sekolah rendah yang diperluas dengan lama pendidikan 3-4 tahun didirikan pada tahun 1914
b) AMS (Algemeene Middlebare School)
Sekolah ini merupakan Sekolah Menengah Umum kelanjutan Mulo dengan lama belajar 3-4 tahun didirikan pada tahun 1915.
c) Kweeks School
Sekolah keguruan dengan lama belajar 6 tahun. Sekolah ini berdiri pada tahun 1851.
3. Pendidikan Tinggi
a) OSVIA (Opleiding School Voor Indische Ambtenaren)
Sekolah pendidikan pegawai pribumi (pamong praja) dengan lama belajar 5 tahun. Sekolah ini berdiri pada tahun 1900.
b) STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen)
Sekolah ini untuk medidik dokter pribumi yang didirikan pada tahun 1902 dengan lama belajar 7 tahun.
c) GHS (Geneekundige Hooge School)
Sekolah tinggi kedokteran dengan lama belajar 6 tahun. Sekolah ini berdiri pada tahun 1927.
d) RSH (Rechtskundige Hooge School)
Sekolah tinggi hukum yang didirikan pada tahun 1924 dengan lama belajar 5 tahun.
e) THS (Technische Hooge School)
Sekolah tinggi teknik yang didirikan pada tahun 1920.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Bahaya Susu …

Hikmawati . | 8 jam lalu

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Remang-remang Kunang-kunang …

Harry Ramdhani | 9 jam lalu

Panggung Rising Star Indonesia Gagal …

Pietro Netti | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: