Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Aradea Rofixs

Aktifitas: wirasuasta : suka membaca. Suka berimajenasi. Penggiat sastra komunitas tangan bicara pekalongan. : selengkapnya

Suksesi Berdarah Raja-raja Singasari (4)

OPINI | 08 June 2011 | 14:56 Dibaca: 3682   Komentar: 2   0

Jika bercerita tentang kerajaan Singasari. Maka, yang terlintas dibenak kita pasti: cerita tentang dendam yang panjang. Tentang pembunuhan berantai. Juga tentang kelicikan-kelicikan yang mengerikan — yang terjadi dalam “sebuah perang dingin” disebuah istana nan megah. Mendung gelap serta pertumpahan darah yang tak berkesudahan. Yang selalu mewarnai lingkaran suksesi Raja-raja di Kerajaan Singasari itu ‘konon’ menurut Kitap Pararaton: dendam membara itu sampai berlarut-larut dari generasi ke generasi.

Masih menurut Pararaton: semua pembunuhan yang terjadi selain bermula dari kutukan Mpu Gandring seorang Pembuat Keris yang dibantai oleh Kenarok — untuk melenyapkan “saksi” kunci terhadap rencana yang telah ia susun sebelumnya. Juga karena doa dari seorang pertapa yang bernama Mpu Purwa ayah dari Kendedes yang memohon agar semua keturunannya dapat menjadi Raja.

Jika Mpu Gandring menyanggupi membuat keris dalam jangka Setahun tapi Ken Arok, baru lima bulan sudah datang. Lalu, Kerispun diambil dan Sang-Mpu melarang karena belum selesai. Sampai terjadi perebutan sengit yang berujung pada Kematian sang-Mpu tersebut. Betapa sangat mengerikan. Kutukan tersebut mampu membakar ambisi. Menyalakan api dendam. Dan seperti ada suhu panas di hati mereka; dari Kenarok sampai kepada para keturunannya baik Keturunannya yang notabene adalah bangsawan dan orang-orang berpengaruh pada masa-nya. Bisa-bisanya sampai mereka mengubur dalam-dalam rasa persaudaraan.

Dari sinilah “NILAI” lebih-nya dari sebuah sejarah. Sesungguhnya kita bisa mengambil sebuah pelajaran yang sangat berharga: yakni “Nngunduh woh-ing Pakarti” (memetik buah dari apa yang kita tanam) Ketika “Wangsa Rajasa” yang dibangun oleh Ken Arok dengan menghempaskan Tunggul Ametung kemudian memperistri Kendedes istri Tunggul Ametung yang waktu itu tengah hamil 3 bulan — pun akhirnya harus menuai buah dendam yang panjang dari para keturunannya di kemudian hari.

Tak terkecuali, pada kenaikan tahta Anusapati —- putra sulung KenDedes dengan Tunggul Ametung — yang harus membunuh ayah tirinya yakni Kenarok, terlebih dahulu. Kenarok mati tertikam sebilah keris yang dahulunya pernah digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung.*1). Hal itu dilakukan Anusapati setelah ia mengetahui duduk perkara — tentang insiden kematian ayahnya — dari ibunya sendiri Kendedes yang juga istri Ken Arok. Dia; Kendedes adalah orang yang menyaksikan secara langsung peristiwa pembunuhan tersebut. Tertulis dalam Kitab Pararaton, Peristiwa itu terjadi pada tahun 1244m.

Anusapati membunuh Kenaroh dengan menyuruh seorang pembunuh bayaran dan setelah pembunuh bayaran tersebut berhasil melaksanakan tugasnya. Anusapati pun membunuh pembunuh bayaran tersebut, guna menghilangkan jejak. Dan, Anusapati pun naik tahta menjadi Raja ke 2.

Namun Anusapati tidak begitu lama berkuasa di Singasari. Ia hanya menjadi Raja sekitar 2 tahun. Yakni dari tahun 1247m sampai 1249m ketika pada tahun itu juga, Paji Tohjaya yang dalam “setatusnya masih adik tiri Anusapati” — setelah mendengar kabar berhembus, jika yang membunuh ayahnya ‘Kenarok’ adalah Anusapati — maka ia merencanakan pembunuhan terhadap Anusapati.

Perencanaan pembunuhan yang sangat menarik serta “licik” yaitu dengan memanfaatkan kesenangan Anusapati yakni ’sabung ayam’. Maka dalam sebuah arena sabung ayam yang sudah direncanakan itu, Tohjaya pun menikam Anusapati yang tengah lengah, dengan menggunakan keris Mpu Gandring kembali.

(Tohjaya adalah anak pertama KenArok dari permaisuri kedua yakni Ken Umang.) Dalam prasasti “Mula Malurung” disebutkan pada waktu itu Tohjaya berkedudukan sebagai Raja Kediri yang bersetatus Raja bawahan Singasari. Akan tetapi se-meninggalnya Anusapati. Akhirnya Tohjaya-red berkuasa di kerajaan Singasari. (namun dalam Negarakertagama tak ada nama Tohjaya tertulis sebagai Raja Singasari. Mungkin karena kekuasaannya yang singkat. Jadi ia diindikasikan sebagai sebuah pembrontakan apalagi kitab “Negarakertagama” yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada masa pemerintahan Hayamwuruk adalah kakawin yang diperuntukkan sebagai persembahan leluhurnya “Kendedes”. Sedang Tohjaya adalah bukan anak Ken Dedes) meski dalam Pararaton Ia dicatat berkuasa selama setahun yakni dari tahun 1249m sampai 1250.

Lalu kemudian dalam sebuah insiden yang cukup dramatis pula, ia; Tohjaya dibunuh oleh orang-orang kepercayaan-nya sendiri.

“Diceritakan dalam kitab Pararaton: ketika Tohjaya minta pendapat dari para mantri, Nhayaka dan Pranapaja tentang sosok kedua keponakannya yakni ‘Ranggawuni anak dari Anusapati, cucu Ken Dedes dengan Tunggul Ametung’ serta ‘Mahesa Cempaka putra Maahisa Wonga Teleng, cucu Ken Dedes dengan Ken Arok’. Para Nhayaka kemudian berpendapat jika mereka berdua-red tak ubahnya seperti duri dalam daging yang lambat laun — hanya menunggu saat tepat — dan, jika ada kesempatan mereka pasti akan balas dendam dan merebut tahta yang sesungguhnya masih hak mereka.”

Maka Tohjaya segera menyuruh senopati Lembu Ampal untuk melenyapkan mereka berdua. Dengan satu ancaman “Jika mereka berdua (Ranggawuni dan Mahisa Cempaka) tidak mati. Maka, sebagai gantinya adalah nyawanya Lembu Ampal sendiri”

Masih dalam naskah pararaton: diceritakan, konon rencana pembunuhan yang akan dilakukan Lembu Ampal tersebut tercium oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sehingga mereka berdua pun menyembunyikan diri.

Al-hasil Lembu Ampal pun gagal melaksanakan tugasnya. Karena tak menemukan buruannya dan ia ketakutan sendiri — karena “kegagalan” artinya sama dengan kematian. Lalu, ia pun menyembunyikan diri. Namun, dalam persembunyiannya Lembu Ampal tak sengaja, justru bertemu dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dan Lembu Ampal pun berserah, minta ampun dan berbalik mengabdi pada mereka berdua.

Selanjutnya berkat siasat Lembu Ampal — Dengan menghasut segenap warga; mengadu domba antara orang-orang Rajasa dengan orang-orang sinelir maka terjadilah huru-hara dikerajaan, sampai akhirnya ditengah-tengah huru hara tersebut Tohjaya ditemukan dalam keadaan tewas, terbunuh.*1)

Selanjutnya Ranggawuni pun naik tahta. Menjadi Raja Singasari ke 3 ia bergelar Wisnuwardhana. Dan, memimpin Singasari bersama sama Mahisa Cempaka yang bergelar Narasingmurti, selama 14 tahun .

Rangga Wuni dan Mahisa Cempaka adalah “Dwi tunggal” (satu kesatuan yang tak terpisahkan) yang dapat menyatukan dua kubu antara keturunan Ken Arok dengan keturunan Tunggul Ametung yang sama-sama berasal dari Ken Dedes. Mereka berdua sama-sama menyebut dirinya sebagai Raja dalam satu kerajaan dan mereka pun saling menghormati satu sama lainnya. sehingga suksesi berikutnya pun tak ada lagi pembunuhan berdarah. Dimana Kertanegara anak dari Rangga wuni pun naik tahta menjadi Raja ke 4 Singasari, dengan damai dan tentram. Dibantu oleh putra Mahisa Cempaka yakni Dyah Lembu Tal, yang saling bekerja sama, bahu membahu.

PEMBRONTAKAN JAYAKATWANG

Pembrontaan Jayakatwang atau Jayakatong bermula dari hasutan Arya wiraraja. Dia; Wiraraja-red adalah Bupati Sumeneb — yang kecewa terhadap kepemimpinan Kertanegara, Raja Singasari — karena kepindahannya ke Sumeneb, bermula karena ke tidak sepahamannya dengan cara-cara kepemimpinan Kertanegara. Lalui karena sikap kritisnya itu, ia-pun dimutasi ke sumenep. Sedangkan Jayakatwang adalah Bupati gelang-gelang — itu sesungguhnya masih saudara sepupu Kertanegara. Karena dalam prasasti “Mula Murung” disebutkan Jayakatwang masih keponakan Wisnuwardhana atau Ranggawuni ayah dari Kertanegara.

Akan tetapi Jayakatwang sendiri masih merupakan cicit dari Kertajaya raja kediri terakhir yang dikalahkan Ken Arok. (di duga: kalau Jayakatwang menjadi sepupu kertanegara karena ikatan perningkahan dengan anggota keluarga Keraton Singasari atau bisa dibilang ‘yang ada tali darahnya dengan Singasari adalah istrinya Jayakatwang yang bernama Turukbali’, seperti yang tertera dalam prasasti Mula Murung) makanya, seperti disebut dalam tembang Harasawijaya: Jayakatwang konon amat dendam pada wangsa Rajasa karena alasannya jelas. Bahwa nenek moyangnya yakni “Kertajaya” dibunuh Kenarok, pendiri wangsa Rajasa.

Dan, kebencian Jayakatwang tersebut sudah menjadi rahasia umum. Jadi dengan mudah Arya Wiraraja dapat mengendus hal tersebut — Sehingga, Arya wiraraja mengutus putranya “wirondaya” yang tujuannya menyarankan supaya Jayakatwang membrontak Singasari. Karena waktunya sudah tepat. Sebab Singasari tengah kosong karena para Prajurit-nya banyak yang ikut sertakan dalam ekspedisi menaklukkan kerajaan Melayu di luar Jawa. Seperti yang disebutkan dalam kidung Harasawijaya pula: dalam penyerangan tersebut Jayakatwang lebih menggunakan taktik Arya Wiraraja. Ia menyerang dari utara dengan pasukan kecil. Dan, ketika Kertanegara mendengar dari telik sandi jika kerajaannya diserang — ia pun mengutus menantunya, putra Dyah Lembu Tal yakni Raden Wijaya untuk menghadapi pasukan Gelang-gelang dengan membawa semua pasukan yang ada. Akan tetapi, meskipun Raden Wijaya menang; mampu menahan serangan tersebut.

Tapi, serangan itu bukan serangan yang sesungguhnya. Maka datanglah serangan kedua yang datang dari arah selatan dengan dipimpin Kebo Mundarang serta jumlah pasukan yang lebih besar. Karena pasukan Singasari tengah dibawa ke utara semua, maka istana pun kosong dan pasukan Gelang-Gelang dapat dengan leluasa menyerang. Sampai, Kartanegara pun Tewas dalam serangan tersebut.

Setelah Singasari runtuh pada tahun 1292, Jayakatwang pun membangun kembali kejayaan Krajaan Kediri yang waktu itu telah menjadi kerajaan bawahan singasari yakni Kadipaten Kediri.

Lalu Raden Wijaya pun — atas saran Arya Wira raja ia menyerahkan diri. Dan atas sikapnya juga saran dari Arya Wiraraja pula, selain dia di ampuni dia juga diberi hadiah ”pampasan” berupa tanah dihutan Tarik.

MUNCULNYA KERAJAAN MAJAPAHIT

Raden Wijaya adalah satu-satunya garis keturunan Kerajaan Singasari yang tersisa yakni dia adalah cicit Kenarok sedangkan anak Kertanegara semuanya berjumlah 4 orang adalah putri Semua. Karena mereka hidup pada masa pengungsian — semula yang dikawini Raden Wijaya hanya 2 — tapi akhirnya ke empat-empatnya putri dari Kertanegara tersebut dijadikan istri Raden Wijaya semuanya.

(bersambung)

NB: doc dan daftar rujukan ada pada penulis dan penulis bersedia memberikan tergantung guna dan keperluannya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41



HIGHLIGHT

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | 8 jam lalu

Lagi-lagi Kenaikan BBM …

Anni Muhammad | 9 jam lalu

Jokowi Dorong Gubernur Blusukan Pantau Stok …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Laporkan Diklat Kepelautan yang Melakukan …

Daniel Ferdinand | 9 jam lalu

Bau Apek Hilang dengan Kispray 3 in 1 …

Fadlun Arifin | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: