Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Frial Ramadhan

Terus berjuang dengan ikhlas...

Belanda itu pahlawan???

OPINI | 12 June 2011 | 00:57 Dibaca: 360   Komentar: 2   0

1307796105261262251

sumber : KITLV.pictura.dp-nl

Pernahkah kalian mengingat masa SD kalian? atau masa-masa SMP dan SMA kalian? kalau kalian masih ingat maka baiklah ingatan kalian. Sekarang pernahkah kalian mengingat pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah kalian saat SD, SMP ataupun SMA? Mungkin jika kalian ingat kalian akan ingat suatu pelajaran yang terkadang membuat mata kita mengantuk bagia yang tidak menyukainya namun bagi yang menyukainya membuat jiwa kita berkobar-kobar untuk menunjukkan rasa nasionalisme kita. Pelajaran yang dimaksud dan kaan dibahas disini ialah pelajaran sejarah. Ya, sejarah merupakan pelajaran yang mendidik kita sewaktu kita kecil hingga SMA. Dengan diberinya pelajaran sejarah di sekolah maka kita mengenal identitas kita sebagai sebuah bangsa dari bangsa yang berdiri sendiri dalam kerajaan seperti Majapahit, Mataram, Sriwijaya, Goa, Tallo dan lain-lain hingga masa-masa mengalami penjajahan Belanda dan Jepang kemudian menjadi bangsa yang nerdeka.

Pelajaran sejarah bagaimanapun telah mendidik kita untuk menjadi seorang manusia yang dapat memahami identitasnya. Pelajar sejarah di sekolah kita pun secara tidak langsung telah menanamkan rasa kebanggan kia sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Kerap kali pelajaran sejarah (terutama pada masa orde baru) menyuruh kita untuk melihat para pahlawan yang telah berjuang untuk bangsa ini dengan mengangkat senjata seperti Jenderal Sudirman, Pangeran Diponegoro dan lain-lain untuk mengusir penajah seperti Belanda. Terkadang pula pelajaran sejarah di sekolah secara tidak langsung menyuruh kita untuk membenci Belanda karena ia merupakan penajajah kelas berat yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun (menurut kurikulum sejarah orde baru umumnya).

Belanda memang telah menjadi subjek yang memainkan kekuasaan di Indonesia sejak membuka Sunda Kelapa dan kemudian membangun pemerintahan di Batavia(Jakarta sekarang) tahun 1619  dibawah pimpinan JP Coen. Dalam literatur-literatur sejarah yang diajarkan di sekolah, Belanda, dalam hal ini diwakili oleh VOC (Perusahaan dagangBelanda), telah melakukan monopoli dagang terhadap pelabuhan-pelabuhan di Nusantara. Mereka memonopoli rempah-rempah dengan cara berdiplomasi dan ahkan melakukan politik adu domba seperti yang dilakukan oleh VOC pada Mataram Islam yanng berujung pada pembagian Mataram tahun 1755.

Dalam pelajaran sekolah kita diajarkan bahwa Belanda telah berbuat tidak baik karena telah menyiksa rakyat pribum, apalagi ketika memasuki abad 19 dimana eksploitasi kolonial sedang mencapai puncaknya. Pada abad 19 dilakukan tanam paksa yang menyuruh pribumi untuk menanam tanaman yang laku di pasaran seperti gula, kopi dan nila pada 1/5 lahan mereka. Para petani meluangkan waktunya untuk menanam tanaman tersebut sehingga waktu menanam bagi petani untuk menanam padi semakin berkurang. Menurut Knight, seorang petani budidaya nila menghabiskan waktu 176 hari dalam setahun untuk menanam, merawat, memotong dan menyerahkan nila itu, ditambah lagi 76 hari kerja pada pabrik gula (Elson;1988). Hal tersebut membuat petani kurang waktu untuk menanam padi dan menyebabkan involusi pertanian. Menurut Geertz, penduduk Jawa pada masa itu semakin miskin sehingga terjadi kemiskinan karena kurangnya bahan pangan sementara pertumbuhan penduduk semakin tinggi.Apa yang dilakukan oleh Belanda pada masa itu merupakan hanya sekelumit karena masih banyak lagi kebijaka dan perlakuan Belanda kepada para petani di Hindia Belanda (Indonesia sekarang).

Dibalik pederitaan itu ternyata ada beberapa hal positif yang telah dilakukan oleh Belanda kepada pribumi. Hal tersebut ternyata dilakuakn jauh sebelum masa politik etis (yang biasanya dijadikan tonggak penulisan sejarah untuk melihat “sifat baik” Belanda). Salah satu jasa Belanda ialah memperkenalkan tanaman kopi di Priangan kepada para penduduk pribumi pada abad 18. Hal tersebut membuat pribumi menjadi mengenal bagaimana cara mengolah kopi. Selain itu berkat penjajahan Belanda pula, kita mengenal transportasi ,modern seperti kereta api. Rel kereta api dibangun untuk mengangkut komoditi perdagangan dari pabrik ke pelabuhan. Sistem uang pun diperkenalkan oleh Inggris pada masa Raffles (1811-1815) dan dilanjutkan dengan kebijakan pintu terbuka oleh Belanda pada tahun 1870 yang membuat para pemodal asing giat menanamkan modalnya di Hindia Belanda sehingga uang telah masuk hingga pedesaan yang dahulu hanya memperkenalkan sistem barter. Ekspor produksi pun meningkat besar-besaran dalam dekapan kolonialisme Belanda dan belum pernah kita mengekspor dengan hebat seperti pada masa Belanda walaupun kita sudah merdeka. Sartono dan Djoko Suryo telah memaparkan bagaimana ekspor gula sangat meningkat setelah tahun 1870 hingga masa depresi ekonomi melanda Hindia Belanda tahun 1930.

Dari sedikit uraian diatas memang telah kita ketahui segala halnya tentang Belanda. Sekarang kita tidak dapat lagi memusuhi Belanda dalam pelajaran sekolah. Bagi mahasiswa yang mendalami ilmu sejarah mungkinsangat terbiasa dengan hal ini, namun pemikiran ini tidak boleh hanya dimiliki mahasiswa dan doseen saja, masyarakat luas pun harus mulai memikirkan ulang sudut pandang kepada Belanda. Sejarah tidak dapat dipakai untuk membenci suatu bangsa namun sejarah harus dipakai untuk memaparkan masa lampau dengan jujur dan objektif  sehingga masyarakat tidak terbawa pada perasaan nasionalisme berlebihan sehingga membuat kita benci pada Belanda.

13077962081662069726

statsiun kereta api di depok 1939 (sumber : KITLV)

1307796310690634832

Kereta api Solo-Tasikmalaya tahun 1919 (sumber : KITLV.pictura.dp-nl)

1307796665639109962

Pasar ikan di Manado tahun 1930 (sumber KITLV.pictura.dp-nl)

13077968781988209545

Pabrik gula Jatiwangi di Indramayu tahun 1940

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Satu Malam di Tanjung Bira …

Abdul Rahim | 7 jam lalu

Unjuk Rasa Tuntut Upah Layak di DIY …

Musfingatun Sakinat... | 7 jam lalu

Cody Simpson - Java Sounds Fair 2014 …

Tari Nadya | 7 jam lalu

Unek-unek untuk Presiden Baru …

Folly Akbar | 8 jam lalu

Risalah 365 Doa & Zikir Sehari-Hari …

Nur Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: