Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Lambang UI Dibuat oleh Mahasiswa ITB

REP | 07 July 2011 | 06:06 Dibaca: 2774   Komentar: 2   1

1310017445811941203

Hanya Universitas Indonesia (UI) lah satu-satunya universitas yang memegang nama negara kita. Maka, kebanggaan ini jadilah kebanggan seluruh orang, bukan hanya kebanggan mereka yang kuliah di UI saja. Bagi yang kuliah di UI, jangan mengaku mahasiswa UI jika belum tahu makna apa yang ada di balik lambang yang selalu diagung-agungkan ini. Bicara sejarah memang bisa membuat semua orang muak dan tak mau mendengar. Bahkan ada yang bilang, “apalah arti sebuah nama?” sama seperti ketika kita melihat bahasan panjang mengenai makna suatu lambang, pasti dalam hati kita berkata, “ah, apa pentingnya itu diketahui!”. Jika direnungi padahal setiap hari kita terpapar oleh tanda. Apalagi kita sebagai mahasiswa UI, pastinya di setiap tugas paper atau makalah kita terpampang Makara yang sangat identik dengan lambang UI.

Menurut pakar semiotika yaitu ilmu membaca tanda, disinilah pentingnya setiap orang mempelajari semiotika. Satu alasan utama kenapa kita harus belajar seperti ahli semiotika adalah agar kita bersifat ingin tahu dan selalu membaca makna yang tersirat di setiap tanda yang kita lihat. Semiotika sendiri tidak mengajarkan tentang apa yang harus kita pikirkan, melainkan bagaimana kita berpikir dan bagaimana menggali yang ada di bawah permukaan. Prinsip dasar semiotika adalah ingin menjadikan setiap orang kritis atas segala yang ada di sekitarnya. Begitu juga dengan lambang UI. Idealnya, sebagai mahasiswa UI paling tidak kita harus mau cari tahu asal-usul dari Makara yang dijadikan sebagai lambang kebanggaan kampus kita tersebut.

Ketika hal ini coba ditelusuri ke bagian Humas UI, maka wakil kepala bagian Humas UI Dra. Farida Haryoko, M. Psi pun menjawab, “menurut pembuatnya, sebenarnya gambar yang terlihat di makara itu adalah pohon, meski tidak pernah dijelaskan itu pohon apa, tapi intinya pohon berikut cabang dan kuncup itu melambangkan ilmu pengetahuan dengan cabang-cabang ilmu pengetahuannya, sementara kuncup-kuncup tersebut suatu saat akan mekar dan menjadi cabang ilmu pengetahuan baru”.

Lambang UI ini dirancang oleh seseorang bernama Sumaxtono (nama aslinya adalah Sumartono). Ia adalah mahasiswa jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat itu ditugaskan untuk membuat lambang UI. Setelah makna dari lambang UI ini dipublikasikan, muncullah kontra yang datang dari pendiri Fakultas Hukum UI Arifin Surya Atmadja. Arifin menyampaikan surat kepada rektor Gumilar mengenai ketidaksetujuannya atas makna dibalik lambang UI. Menurutnya, ada makna politik di balik lambang UI tersebut. Ia mengatakan bahwa sebenarnya jumlah cabang pada pohon yang ada di Makara itu ada 17 dan jumlah kerang yang ada di dasar airnya ada 8. Itu menunjukkan tanggal kemerdekaan RI yaitu tanggal 17 bulan Agustus. Namun hal ini dibantah oleh Srihadi yang merupakan kawan akrab Sumaxtono. Srihadi yang dulu sama-sama mengenyam pendidikan Seni Rupa di ITB menyatakan bahwa tidaklah mungkin Sumaxtono mengaitkan hal tersebut ke dalam politik karena Sumaxtono adalah orang yang bebas dan memiliki seni yang tinggi. Lagipula menurutnya, saat mencari ide pembuatan lambang itu, Sumaxtono berjalan-jalan ke candi-candi, diantaranya Candi Kalasan dan Candi Prambanan yang terdapat banyak lambang Kala dan Makaranya. Menurutnya itu hanyalah interpretasi bentuk saja, dulu belum ada interpretasi seperti itu.

Memang lambang UI pernah mengalami beberapa kali perubahan. Lambang UI pertama kali digunakan yaitu pada tahun 1952 dan ditemukan di buku kurikulum Fakulteit Teknik untuk tahun ajaran 1952-1953. Farida sendiri pernah melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh Srihadi mengenai kapan pertama kali lambang Makara digunakan sebagai lambang UI. “Saya juga lihat sendiri fotonya, ada bus untuk studi tur gitu lalu di kacanya ada lambang Makara dan di bawahnya ada tulisan ‘Jurusan Seni Rupa UI’ dan warnanya masih hitam,” katanya menjelaskan.

Mengenai warna yang terdapat pada Makara di setiap fakultas, Farida juga menjelaskan bahwa itu bukanlah Makara. “Itu Dwaja, bukan Makara namanya. Saya juga gak tau kenapa warnanya beda-beda gitu, sampai sekarang belum ada referensi yang tepat soalnya,” ujarnya. Jika kita bertanya-tanya mengapa setiap fakultas diberi warna identitas hijau, biru, orange, merah, dan lain-lain ternyata hal ini juga belum ada jawabannya. Menurut dugaan Farida warna-warna tersebut memang berasal dari masing-masing fakultas. “Dulu kan UI yang berkembang fakultas-fakultasnya tuh, nah mungkin aja dari dulu mereka udah tentukan warna sendiri, masalah filosofisnya ya kami enggak tahu,” katanya. Untuk lebih lanjut mengenai Dwaja ini, rencananya Farida sedang menyusun tim untuk menelusurinya. “UI kan punya jurusan Sejarah, harusnya sejarah UI juga ditelusuri dong. Makanya rencananya kita mau tanya-tanya juga nih ke sana karena sewaktu-waktu kita pasti butuh datanya,” ujar perempuan yang sehari-harinya berkantor di lantai 6 gedung rektorat ini.

13100185441537054849

Lambang Makara UI beserta maknanya

Kini jelaslah sudah bahwa setiap tanda pasti memiliki makna dan sejarah panjang dibaliknya. UI dengan lambang Makara yang sudah terkenal seantero negeri mempunyai makna yang sarat dengan nilai sejarah dan kebudayaan. Kita sebagai bagian di dalamnya wajib mengerti, minimal tahu apa artinya. Sayangnya, untuk urusan warna kuning dan Dwaja dari tiap fakultas masih menjadi misteri. Lalu adakah yang tertarik untuk menelusurinya?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 7 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 8 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 12 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: