Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Pengelanasemesta

Hanya seseorang yang terus berusaha memaknakan hidupnya...

Masuk Islamnya Umar bin al-Khaththab

OPINI | 26 July 2011 | 16:03 Dibaca: 736   Komentar: 0   1

“Ya Allah, kukuhkanlah Islam dengan keislaman Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar Ibn al-Khattab,” demikian do’a Nabi saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Tirmidzi. Do’a ini terkabul dengan masuk islamnya Umar Ibn al-Khattab beberapa waktu kemudian.

Masuk islamnya tokoh yang satu ini terkesan begitu tiba-tiba. Itu terjadi setelah Umar kagum dengan apa yang dibacakan oleh Fatimah, adiknya, dari wahyu al-Qur’an, yaitu Surat Thahaa ayat 2-6. Padahal, saat itu, dia datang ke rumah sang adik untuk memberinya “pelajaran” karena telah memeluk Islam dan meninggalkan kepercayaan para leluhur.

Umar memang sempat meluapkan kemarahan kepada adiknya itu, juga kepada Sa’id, suaminya, dengan memukul mereka berdua hingga terluka. Terlukanya kedua orang itu membuatnya menyesal dan merasa iba. Umar memang berwatak keras. Namun, di saat yang sama ia juga adalah seorang pengiba.

Saat itulah Fatimah membacakan wahyu sebagaimana tersebut di atas. Umar terkagum-kagum dan terkesan dengan ayat al-Qur’an yang didengarnya itu. Jiwanya bergetar sehingga muncullah tekad dalam dirinya untuk segera menemui Nabi saw dan menyatakan keislamannya.

Do’a Nabi saw dan ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya bisa jadi memang menggerakkan hatinya untuk menerima Islam.  Namun, hal itu tidak berarti bahwa Umar tidak mengalami suatu proses sama sekali sebelum menyatakan keislamannya. Islam telah menyentuh hatinya jauh-jauh hari sebelum peristiwa pemukulan saudaranya. Benih iman telah bersemai di dalam hatinya jauh sebelum ia memeluk Islam.

Simaklah riwayat yang dituturkan oleh Ibn Ishaq bahwa ketika Ummu Abdillah binti Abi Khatmah hendak bersiap-siap berangkat hijrah ke Habasyah, Umar mengetahui itu, lalu berkafa kepadanya: “Semoga keselamatan menyertai kalian.”

Ummu Abdillah menceritakan ucapan Umar itu kepada suaminya, Amir bin Rabi’ah, lalu berkomentar: “Aku melihat kelemahlembutan pada air mukanya yang tidak pernah terlihat selama ini. Aku merasa bahwa Umar bersedih hati karena kami harus hijrah.” Mendengar komentar istrinya itu, Amir bin Rabi’ah berkata: “Apakah engkau mengharap keislaman Umar? Dia tidak akan memeluk Islam sebelum keledai al-Khattab memeluk Islam!”

(Membaca Ulang Sirah Nabi saw).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 17 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 19 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 19 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 20 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: