Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Pengelanasemesta

Hanya seseorang yang terus berusaha memaknakan hidupnya...

Masuk Islamnya Umar bin al-Khaththab

OPINI | 26 July 2011 | 16:03 Dibaca: 729   Komentar: 0   1

“Ya Allah, kukuhkanlah Islam dengan keislaman Abu al-Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar Ibn al-Khattab,” demikian do’a Nabi saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan at-Tirmidzi. Do’a ini terkabul dengan masuk islamnya Umar Ibn al-Khattab beberapa waktu kemudian.

Masuk islamnya tokoh yang satu ini terkesan begitu tiba-tiba. Itu terjadi setelah Umar kagum dengan apa yang dibacakan oleh Fatimah, adiknya, dari wahyu al-Qur’an, yaitu Surat Thahaa ayat 2-6. Padahal, saat itu, dia datang ke rumah sang adik untuk memberinya “pelajaran” karena telah memeluk Islam dan meninggalkan kepercayaan para leluhur.

Umar memang sempat meluapkan kemarahan kepada adiknya itu, juga kepada Sa’id, suaminya, dengan memukul mereka berdua hingga terluka. Terlukanya kedua orang itu membuatnya menyesal dan merasa iba. Umar memang berwatak keras. Namun, di saat yang sama ia juga adalah seorang pengiba.

Saat itulah Fatimah membacakan wahyu sebagaimana tersebut di atas. Umar terkagum-kagum dan terkesan dengan ayat al-Qur’an yang didengarnya itu. Jiwanya bergetar sehingga muncullah tekad dalam dirinya untuk segera menemui Nabi saw dan menyatakan keislamannya.

Do’a Nabi saw dan ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya bisa jadi memang menggerakkan hatinya untuk menerima Islam.  Namun, hal itu tidak berarti bahwa Umar tidak mengalami suatu proses sama sekali sebelum menyatakan keislamannya. Islam telah menyentuh hatinya jauh-jauh hari sebelum peristiwa pemukulan saudaranya. Benih iman telah bersemai di dalam hatinya jauh sebelum ia memeluk Islam.

Simaklah riwayat yang dituturkan oleh Ibn Ishaq bahwa ketika Ummu Abdillah binti Abi Khatmah hendak bersiap-siap berangkat hijrah ke Habasyah, Umar mengetahui itu, lalu berkafa kepadanya: “Semoga keselamatan menyertai kalian.”

Ummu Abdillah menceritakan ucapan Umar itu kepada suaminya, Amir bin Rabi’ah, lalu berkomentar: “Aku melihat kelemahlembutan pada air mukanya yang tidak pernah terlihat selama ini. Aku merasa bahwa Umar bersedih hati karena kami harus hijrah.” Mendengar komentar istrinya itu, Amir bin Rabi’ah berkata: “Apakah engkau mengharap keislaman Umar? Dia tidak akan memeluk Islam sebelum keledai al-Khattab memeluk Islam!”

(Membaca Ulang Sirah Nabi saw).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Korban-korban Kebijakan dan Peraturan JKN …

Yaslis Ilyas | 8 jam lalu

Latihan Siang Malam, Prajurit TNI Dipantau …

Mirza Gemilang | 8 jam lalu

Memasuki Hari ke Enam Belas Berada di …

Taufiq Rilhardin | 8 jam lalu

Pacaran? Tidak Harus dengan Kekerasan! …

Stevani Dewi | 8 jam lalu

Transisi Swallow Go Internasional Dikenal …

Tenny Rizka Firsti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: