Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Pengelanasemesta

Hanya seseorang yang terus berusaha memaknakan hidupnya...

Pernikahan Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah

REP | 31 July 2011 | 06:59 Dibaca: 852   Komentar: 1   0

Dalam suatu pernikahan, wali perempuan lazimnya akan menggunakan lafazh “ankahtu/jawwaztu” atau “saya nikahkan/saya kawinkan” sebagai kalimat ijabnya, lalu pengantin laki-laki akan menyambutnya dengan lafazh “qabiltu” atau “saya terima.”

Pada pernikahannya dengan Fatimah, putri Nabi saw,  Ali Bin Abi Thalib menggunakan redaksi qabul yang memiliki makna yang jauh lebih dalam dari “saya terima.”

Demikianlah, setelah para sahabat yang diundang Nabi saw berkumpul, beliau menyampaikan khutbah pengantar nikah sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan aku mengawinkan Fatimah dengan ‘Ali. Aku mempersaksikan kalian bahwa aku telah (segera akan) menikahkan Fatimah dengan Ali dengas maskawin empat ratus mitsqaal perak jika Ali ridha (dengan perkawinan/maskawin) itu. Perkawinan yang sesuai dengan sunnah (kebiasaan yang berlaku) serta ketentuan (agama) yang diwajibkan. Maka, semoga Allah menghimpun apa yang terserak dari keduanya, semoga Allah memberkati keduanya, memperbaiki kualitas keturunan keduanya, menjadikan keturunan-keturunan mereka pembuka pintu rahmat, sumber-sumber hikmah, dan pemberi rasa aman bagi ummat. Demikian ucapanku dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk hadiri sekalian.”

Ali bin Abi Thalib sendiri, pengantin pria, tidak hadir saat itu karena ada suatu tugas dari Nabi saw. Sambil menanti kedatangannya, undangan disuguhi hidangan dari kurma. Sesaat kemudian, Ali pun tiba. Rasul tersenyum kepadanya sambil bersabda:

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku mengawinkanmu dengan Fatimah. Sungguh aku telah mengawinkanmu dengannya dengan maskawin empat ratus mitsqaal perak.”

Mendengar  ucapan Nabi saw tersebut, maka Ali pun menjawab: “Radhiitu Ya Rasulullaah (Aku rela/puas hati wahai Rasulullah).” Ali pun langsung bersujud sebagai bentuk syukurnya kepada Allah swt.

Jawaban Ali bin Abi Thalib itu sangatlah mengagumkan. Ia tidak menjawabnya dengan lafazh qabiltu (saya terima) tetapi radhiitu (saya rela/puas hati). Menerima belum tentu diiringi dengan puas hati, tetapi puas hati pasti menerima…

(Membaca Ulang Sirah Nabi saw).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 9 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 10 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 11 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gimana Terhindar dari Jebakan Oknum Trading …

Adhie Koencoro | 8 jam lalu

Dari Priyo Sampai Ahok, Akhirnya Demokrat …

Auda Zaschkya | 8 jam lalu

Daya Tarik Kota Emas Prag, Ditinggalkan …

Cahayahati (acjp) | 8 jam lalu

Cycling, Longevity and Health …

Putri Indah | 9 jam lalu

Menemukan Pembelajaran dari kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: