Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Patta Hindi

Lahir di Sulawesi Selatan, tapi tumbuh kembang di Kendari Sulawesi Tenggara I Mengajar di Universitas selengkapnya

Merajut Persatuan Bangsa

OPINI | 17 August 2011 | 03:06 Dibaca: 1722   Komentar: 4   1

13135067681921784598

Foto ; Art Jogja 2011 # koleksi pribadi

Sukarno seringkali mengulang-ulang dalam pidatonya persatuan. Kata-kata itu diserukannya sebagai bagian dari perjuangan untuk merdeka. Ia mengartikulasi segala perbedaan dari beragam pulau, budaya, agama dan golongan masyarakat Indonesia. Sejak  masa perjuangan hingga menjadi presiden, Sukarno tidak henti-henti mengumandangkan kata persatuan itu karena ia tahu, Indonesia dengan pulau yang begitu besar dan terpisah, penduduk yang terbagi  dalam budaya, agama, ras dan golongan—untuk mencapai merdeka tidak ada yang bisa dilakukan selain terus memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam konsep berbangsa dan bernegara, kesatuan menjadi perekatnya dalam entitas bersama. Konsep kesatuan inilah yang ditumbuhkan sejak lama, ikrar dalam sumpah pemuda; jong ambon, jong celebes, jong java, jong sumatra dan sebagainya yang merasa bertanah air satu, berbahasa dan berbangsa satu. Nasionalisme dari pulau-pulau itu pun diikat dalam wadah nasionalisme bangsa Indonesia. Tak hanya itu, persatuan tertuang pula dalam ideologi bangsa, Pancasila. Yang dimuat dalam sila ketiga, persatuan Indonesia. Sila ini merupakan ideologi kehidupan bersama, dari latar belakang budaya, suku, agama dan ras yang tersebar antar pulau Indonesia, bhineka tunggal ika. Entitas ini menjadi semangat hidup bangsa, yang hidup sebagai slogan ideologis dan kultural.

Seperti apa persatuan bangsa itu?, Yudi Latif memberi sumbangan penting dalam diskursus persatuan berbangsa dan bernegara, dalam bukunya Negara Paripurna (2011) ia memberikan konsep kesatuan bangsa sebagai reaksi kesadaran atas penjajahan negara asing (kolonial). Persatuan bangsa juga dilihat atas dasar kemauan dan kehendak bersama (common desire to unity) sebagai proses yang terus menerus seperti ungkapan filsuf Ernest Renan.

***

13135068801489513205

Foto : Menghargai Pahlawan Bangsa (koleksi pribadi)

Namun akhir-akhir ini, persatuan menjadi sulit untuk dipermanai lagi yang kemudian mengarah pada kemorosotan dalam berbangsa, persatuan seolah-olah menjadi frase yang rapuh (fragile). Munculnya aksi-aksi separatisme dan konflik SARA menjadi contoh nyata retak persatuan bangsa itu. Apa yang ditakutkan bung Karno tentang musuh persatuan (disintegrasi) terjadi dengan jelas sekarang ini. Musuh persatuan nampak dari konflik sosial, separatisme dan gerakan-gerakan yang merongrong persatuan Indonesia dengan beragam bentuk teror semakin sering terjadi.

Ancaman disintegrasi sebagai musuh persatuan itu bisa saja dieliminir dengan cara memandang politik pengakuan (political recognition). Cara pandang kesetaraan atas perbedaan agama, etnis, budaya dan ras sebagai bentuk penerimaan eksistensi guna mencipatakan kehidupan yang damai. Negara dituntut pula membuka ruang-ruang publik dan menjamin kesejahteraan rakyatnya, terlebih bagi masyarakat yang terpinggirkan, marginal dan minoritas.

Persatuan sebagai identitas nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara penting ditumbuhkan. Membangun persatuan memang tidak mudah. Tantangan kedepan di era globalisasi ini adalah bagaimana menjaga kesatuan bangsa yang luas ini. Konflik kebangsaan yang mengarah disintegrasi setidaknya musti diantisipasi baik yang berasal dari dalam maupun dari luar. Perubahan yang semakin cepat dan dinamis akan semakin banyak pula tantangan yang datang. Identitas kebangsaan yang direkatkan atas dasar—etnis, agama, bahasa dan budaya tidak selalu dilihat sebagai sesuatu yang tetap namun juga dilihat sebagai sesuatu yang pasang surut.

Persatuan bangsa menjadi kata yang tidak bisa dilepaskan untuk menyongsong masyarakat yang adil dan makmur. Kiranya pidato kemerdekaan Sukarno pada saat hari proklamasi yang ke-7 tahun 1952 di Jakarta bisa menjadi renungan kembali dalam merayakan kemerdekaan yang ke-66 ini guna merekatkan persatuan bangsa Indonesia. Sukarno dalam maklumatnya berkata “…tiap kali kata-kata proklamasi kemerdekaan itu didengungkan kembali, tiap kali pula kita berada di dalam keadaan jang berbeda-beda. Tetapi bagaimanapun djuga berbeda-beda keadaanja, namun djiwanja, semangatja, api-keramatnja, adalah laksana api jang tak kundjung padam…”.

Dirgahayu Indonesia, bersatu Indonesialu, damai dan sejahtera rakyatnya, 160811

Tags: 17agustus

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 4 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 5 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 5 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 6 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: