Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Reni Wulandari

Pemudi yang punya banyak mimpi Untuk Indonesia sejahtera bercita-cita sebagai penulis handal, biarkan pena bicara....

Momentum Kemerdekaan

REP | 17 August 2011 | 18:17 Dibaca: 218   Komentar: 1   0

17 Ramadhan 1932 H= 17 Agustus  2011 M

Satu hari menjadi pengenang momentum berharga bagi kita, sebagai gerbang kehidupan kita, sebagai pedoman dan sebagai tujuan dari adanya kita. 17 Ramadhan bertepatan dengan nudzulul Quran dimana momentum ini adalah gerbang menuju peradaban yang gemilang kemerdekaan dari kebodohan,  datangnya cahaya setelah kegelapan, Surat Al Alaq yang terbaca dengan terbata dan menggigil oleh Rasulullah tercinta itu,  Awal turun Al Quran telah memerdekan dengan perintah membaca sehingga dari kejahiliyahan menuju kecermelangan generasi karena Al Quran, momentum ramadhan momentum berharga, momentum penuh makna tertebar rahmat. Kita pun tahu kemenangan perang badarpun terjadi pada bulan ramadhan, fathu Makkah juga terjadi bulan ramadhan, penaklukan yaman pun juga terjadi pada bulan ramadhan, Kemudian diproklamasikan kemerdekaan Negara tercinta kita inipun pada akhir bulan ramadhan, yang sebelumnya para tokoh kita terdaluhu telah bersusah payah merebut kemerdekaan ini dengan kesusahpayahan yang berlandas pada keyakinan penuh pada Allah akan kemerdekaan Negara tercinta maka yakinlah bahwa proklamasi itu layak dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di jum’at terakhir bulan ramadhan.

Subhanallah Allah telah mengatur dengan begitui indahnya momentum berharga bagi kemerdekaan kita.

Kemudian sesungguhnya untuk apa kita merdeka itu?

Apakah tujuannya?

Apakah selama ini peringatan 17an sekedar ceremonial belaka tanpa bekas yang mengakar bagi yang memperingatinya.

Ok marilah sedikit menilik pada pembukaan UUD 1945 yang selalu terbaca ketika upacara disana jelas terpampang tujuan kemerdekaan itu : memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Inilah yang ingin dibangun oleh tokoh Negara kita dulu dari kelima point itu sesungguhnya islampun memberikan jalan menuju kesana dengan proses pendidikan kita dalam puasa.

Puasa ramadhan telah mendidik kita dengan tujuan seperti yang tertera dalam tujuan Kemerdekaan RI. Adanya kewajiban zakat fitrah diakhir ramadhan membentuk pribadi yang peduli sekitar dan dari situ dapat menuju tercapainya kesejahteraan umum,

kemudian momentum nuzdulul Quran pada bulan ramadhan dan menjadikan bulan ramadhan adalah bulan Al Quran menjadi salah satu pendidikan menuju cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa karena dalam Al quran adalah cahaya menuju kegemilangan ilmu,

beranjak selanjutnya kita melihat bahwa ramadhan adalah sarana pendidikan kita agar bisa merasakan laparnya kaum papa, dari situ menumbuhkan jiwa solidaritas dan hal ini dapat mencapai 2 tujuan kemerdekaan Negara kita yaitu melindungi segenap bangsa, menuju perdamaian abadi. Puasa juga menjadi sarana pembentuk tujuan pelaksanaan ketertiban dunia yang berdasar awal pada kedisiplinan dimana puasapun sangat mendidik kita dalam hal kedisiplinan.

Dari sini tujuan kemerdekaan bukanlah narasi impian semata “Narasi kemerdekaan bukanlah sebuah ekspresi cita-cita semata tetapi ia adalah janji. Pada setiap anak bangsa dijanjikan perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan bisa berperan di dunia global”. (anies baswedan) Perwujudan cita-cita itulah yang disebut oleh Anies Baswedan sebagai sebuah janji. Dan janji itu menunggu pelunasannya oleh para pemimpin bangsa!

Tujuan kemerdekaan Indonesia adalah menuju kebebasan dari penjajah, nah puasapun mempunyai out put bagi alumninya adalah merdeka dari kungkungan hawa nafsu yang merongrong jiwa…

hmmmmmmmmmm apakah benar Puasa bisa memerdekan kita dari penjajahan hawa nafsu yang berlebihan jikalau kita masih melihat “consumer kapitalis” merajalela di hamper setiap kota di negeri ini. Waaah consumer kapitalis yang dia membeli berlebihan, membeli banyak hal tanpa mempertimbangkan kebermanfaatannya, yang dia hanya mengandalkan keinginan dan nafsunya, dengan gaya hidup yang berlebihan. Sebagai contoh coba kita jalan di daerah suhat, perempatan ITN, daerah pasar besar, kemudian pasar belimbing atau hamper disetiap sudut kota menjelang berbuka puasa selalu kita akan melihat pola konsumsi masyarakat yang mengandalkan keinginan setelah merasa bahwa telah tertahan dari makan dan minum selama sehari menjadikan menjelang buka adalah waktu yang tepat untuk memerdekan kelaparan dan kehausan selama sehari dengan membeli berbagai produk yang padahal belum tentu semua muat dalam tubuh mereka, belum lagi ketika kita melihat pusat perbelanjaan menjelang hari raya, wuiiih full abis dari pusat perbelanjaan dari kalangan kebawah sebut saja pasar tradisional hingga kalangan tingkat ekonomi tinggi semuanya full seakan-akan mereka berlomba-lomba menuju kemenangan dengan memperlihatkan ini

“lho kekayaanku “

dengan membeli berbagai barang bukan pertimbangan kebutuhan mendasar namun lebih pada keinginan dan gengsi tingkat tinggi. memang benar dalam teori ekonomi tentang kenginan

“keinginan manusia itu tak terbatas tapi sesungguhnya kebutuhan manusia terbatas” jika kita mengetahui hakikat penggunaan harta kita dan teori ekonomi islam adalah kita melakukan konsumsi untuk mencapai falah bukan keinginan yang berlebih-lebihan sehingga berakibat pada kemewahan, ketidak puasan, keserakahan dan sangat cinta dunia, mungkin inilah awal dari terbentuknya jiwa koruptor yaitu jiwa yang takpernah puas dengan kehidupan dunia, merasa kurang terus, serakah, kurangnya sikap qona’ah, bukankah sikap ini telah diperingatkan oleh Allah dalam Al Quran

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. QS. Al-Isro’; 16.

Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. QS. Al-Waqi’ah: 41-45.

mereka hidup mewah dan terjerumus pada syahwat dan kelazatan duniawi. Maka Allah swt memberitahu bahwa kehidupan yang mewah akan menempah keburukan bagi kehidupan dunia dan akhirat. Sungguh sangat jelaslah Allah memperingatkan tentang kemewahan ini.  Inilah manusia yang tidak merdeka secara hakiki, walaupun mereka mengikuti pendidikan ramadhan namun tak berbekas berkahnya ramadhan.

Ok dalam konteks kenegaraan kita masih melihat keterjahaan masih melanda negeri tercinta ni tapi inipun tak bisa digeneralisir untuk semua, saya berusaha menyoroti kebelum merdekaan dari daerah malang raya saja.

Tujuan awal dari kemerdekaan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, kemudian  sudahkah kita melihatnya di malang raya ini, pendidikannya? Di tengah maraknya anak-anak putus sekolah, justru pemerintah menggulirkan program sekolah unggulan berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI).

Keberadaan dua sekolah ini dilema bagi dunia pendidikan kita. Di satu sisi pemerintah ingin membangun pendidikan unggulan, di sisi lain munculnya nuansa diskriminatif karena mahalnya biaya, berarti RSBI/SBI hanya mengakomodasi kalangan orang kaya.

hmmm semakin terasa klo sekolah berkualitas tinggi hanya untuk kaum berduit.

Beranjak ke pembangunan infrastuktur, apakah sudah merdeka dengan tujuan mensejahterahkan bangsa, dilihat saja daerah malang selatan masih banyak jalanan yang rusak dan tidak diperbaiki, kemudian adanya ketimpangan pembangunan dalam satu daerah saja, yang sebenarnya malang raya itu sangatlah kaya raya namun kendala kebijakan public dan fasilitas public yang belum memadai sehingga sempat muncul isu pemekaran daerah kabupaten malang yang sangat luas ini dan belum puasnya masyarakat dengan fasilitas yang diberikan pemerintah.

Yaaa ini hanya kegundahaan kami, entah jika pemerintah sudah sangat bekerja keras menuju kemerdekaan yang hakiki. Kami rakyat kecil berusaha berkontribusi untuk negeri sekecil apapun itu yang diawali dengan belajar dan menyebarkannya dg wacana yang dilanjut amal nyata untuk masyarakat dimulai dari memerdekan diri pribadi kemudian sekitar yang kami sangat yakin kemerdekaan hakiki bangsa tercinta ini pasti tercapai.

Berdoa dalam ramadhan untuk negeri tercinta lebih sejahterah dan berkah bukan menjadi negeri yang dimurka Allah karena kemewahannya. Beraksi untuk negeri…….

Nice quote yg menginspirasi untuk negeri dari kawan2ku nan jauh

Think globally act locally

Aku untuk negeriku/bangsaku

Negeri ini lebih aku cintai dari diriku sendiri

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: