Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ay_satriya Tinarbuka

Mahasiswa abadi jurusan Filsafat Sastra Mesin di kampus kehidupan ... :D

Antara PKI dan Partai Demokrat

OPINI | 30 September 2011 | 17:43 Dibaca: 387   Komentar: 3   0

[Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti angota partai, hanya sekedar opini agar masing-masing waspada]

Tahun 60-an, rakyat Indonesia merasa dikhianati oleh PKI akibat kelakuannya yang radikal serta paham atheisme. Kini, rakyat Indoneisia tengah meradang, marah dengan pengkhianat bangsa bernama koruptor. Jika rakyat Indonesia terpancing untuk melampiaskan amarahnya terhadap para koruptor, maka siapakah yang akan jadi sasarannya? Kemungkinan besar adalah Partai yang mulai diidentikkan sebagai sarang koruptor, Demokrat.

Jaman tahun 60-an, apa yang mendorong para pemuda PKI menggerebek rumah Duta Besar Amerika sehingga menemukan dokumen Dewan Jenderal sehingga menyebarkan kemarahan di kalangan elemen bangsa? Kalo cuman kebetulan kok kayaknya kecil kemungkinannya, tentulah ada yang mengarahkan atau memancing pemuda PKI melakukannya.

Jaman sekarang, apa yang membuat seorang wartawan olahraga berhasil mengabadikan gambar Gayus nonton tenis di Bali? Kecil kemungkinan seorang wartawan yang ditugasi meliput jalannya pertandingan tenis malah memelototi penonton buat mencari wajah Gayus …

Usut punya usut, ternyata sang wartawan olahraga mendengar desas-desus adanya wajah Gayus di barisan penonton. Lalu, siapakaha yang mulai menyebarkan desas-desus? Intelejen kah? Demikian pula dengan para pemuda PKI yang menggerebek rumah Duta Besar, dipancing oleh intelejen kah?

Dalam kasus kayak Gayus dan penggerebekan rumah Duta Besar, seorang intelejen takkan sudi terlibat langsung. Ia akan menggunakan perantara. Siapa pun bisa menjadi perantara, tak peduli presiden atopun rakyat jelata. Ingat, sikap Soekarno yang terkesan melindungi PKI menjadi salah satu penyulut kebencian terhadap PKI, kan? Sehingga berpesta-poralah rakyat Indonesia membantai anggota PKI …

Mari tingkatkan kewaspadaan agar tragedi kemanusiaan di tahun 60-an tidak terulang, dimulai dengan pertanyaan “Apakah presiden saat ini terkesan melindungi koruptor?” …

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 20 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 21 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 23 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: