Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Iman Kurniawan

Berjalan menyusuri waktu..

Dunia Pantomim

OPINI | 11 October 2011 | 01:22 Dibaca: 2414   Komentar: 3   2

1318256386634786383

Pantomim merupakan gerakan dan mimik dengan imajinasi

Apa yang terlintas dibenak saya ketika mendengar kata pantomim. Seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan make-up putih-putih melakukan gerakan-gerakan imajiner yang atraktif, estetis, bahkan terkadang megundang tawa.

Sepengetahuan saya pantomime sudah ada sebelum saya lahir, ia berkembang, berevolusi sampai saat ini. Menurut Aristoteles dalam Poeticsnya, pantomim sudah dikenali sejak zaman Mesir Kuno dan India. Kemudian dalam perkembangannya menyebar ke Yunani.

Apa itu pantomim, menurut saya pantomim adalah seni pertunjukan yang memvisualisasikan suatu objek atau benda tanpa menggunakan kata-kata, namun menggunakan gerakan tumbuh dan mimik wajah. bahkan pantomime memvisualisasikan rasa dengan gerakan tubuh dan mimiknya. Pantomim merupakan pertunjukan bisu.

Menariknya pantomime, ia mampu memvisualisasikan apa yang tidak bisa kita lihat dengan kasat mata, misalnya pantomimer mampu memvisualisasikan mimpi seseorang yang sesungguhnya tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, pantomimer mampu memvisualisasikan detak jatung dengan gerakan yang estetis, dll. Tetntunya semua itu harus melaui sebuah eksplorasi kreatif dari pemahaman seorang pantomimer tentang tema yang dia angkat. Pantomime merupakan seni pertunjukan yang mampu mempertunjukkan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada dan tidak mungkin terjadi pada di dunia nyata, misalnya seorang pantomimer melempar-lempar bola pimpong yang kemudian terbang jauh hingga keluar angkasa, kemudian jatuh lagi ke bumi, sungguh aneh namun ada di dunia pantomime.

Ketika kecil saya mengenal seorang pantomimer yang kerap kali saya lihat aksinya melaui layar kaca TVRI, Septian Dwi Cahyo. Namun sekarang tidak lagi saya jumpai pertunjukan pantomimenya, ia lebih sering bermain sinetron ketimbang pantomime. Lambat laun saya akhirnya tahu banyak aktor pantomime di Indonesia, di Jakarta Sena-Didi Mime kolosal: Solodat, Stasiun, Lobi-lobi Hotel Pelangi, Se Tong Se Tenggak. Di Yogyakarta ada seorang pantomimer yang tetap eksis menekuni dunia pantomime hingga saat ini, Jemek Supardi. Diantara karyanya, Manusia Batu (9186), Kpyoh (1987), Patung Selamat Datang (1990-an), Eksodos (2000), dan masih banyak lagi ( saya tidak hapal sangking banyaknya karya Jemek Supardi). Kemudian di Yogyakarta saya mengenal pantomimer Broto Wijayanto, Indi Reza, Bengkel Mime, selebihnya saya tidak tahu.

Konon banyak pantomimer-pantomimer di Yogyakarta, namun tidak dikenal luas di masyarakat. Mungkin eksistensi dan kekonsistenan dari seorang pantomimer tersebut masih harus kita pertanyakan lagi. Artinya sejauh apa perkembangan dunia pantomime di Yogyakarta? Bagaimana para senior mengakomodir serta tetap terus memberi suport kepada pantomimer muda atau yang baru saja memulai untuk menekuni dunia pantomime. Jangan sampai mereka layu sebelum berkembang. Bagaimanapun juga harus ada generasi penerus pantomime di yogyakarta. Pantomime harus semarak tumbuh di Yogya, sebagaimana dengan seni-seni lainnya yang ada di Yogya khususnya, indonesia umumnya. Mungkin perlu diadakan pertemuan-pertemuan khusus yang rutin diagendakan, entah dua minggu sekali atau sebulan sekali. Pertemuan-pertemuan bisa dalam bentuk diskusi, latihan bersama, work shop dan study pentas, dan lain-lain. Semoga seni pantomime mampu untuk tetap survive dan tumbuh berkembang bumi yogyakarta dan indonesia. Salam Budaya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 2 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 4 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 6 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Trans TV, Raffi Is Not Our Prince! …

Gilang Parahita | 8 jam lalu

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | 8 jam lalu

Koalisi Akal Sehat Mengawal Pelantikan …

Effendi Siradjuddin | 8 jam lalu

Selamat Bertugas Pak Jokowi …

Toni Pamabakng | 8 jam lalu

Misteri Hantu Rumah Tua …

Raphael Jose Riberu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: