Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muhammad Nurdin

sebagai guru sejarah dan sosiologi di SMA di kota Bandung tentu saja perlu berwawasan luas,karenanya selengkapnya

Sejarah Pengumpulan Hadist : Keistimewaan Periwayatan Dalam Islam .

REP | 26 October 2011 | 19:32 Dibaca: 843   Komentar: 5   8

Perjalanan mencari ilmu dan periwayatan  hadist dalam Islam sangat istimewa yang tidak dijumpai didalam  agama-agama yang lain termasuk agama Nasrani dan Yahudi.Memang periwaytan buykan hal yang baru,dan telah dikenal orang jauh sebelum Islam,tetapi periwayatan sebelum Islam tidak menganggap penting terhadap kebenaran ceriteranya.Tetapi dalam Islam proses periwayatannya sangat penting dan sesuai dengan metoda ilmiyah yang sangat ideal.                                                    

Bahkan dalam periwayatan hadist bukan hanya ceriteranaya yang penting,tetapi juga penyelidikan keondisional para periwayatnya  dan kebenaran ceriteran itu dengan fakta yang sebenarnya.Berbeda dengan periwayatan yang dilakukan orang-orang  sebelum Islam,mereka tidak menganggap penting terhadap kebenaran ceriteranya, penyelidikan keadaan para periwayatnya dan kebenaran ceriteranya itu dengan fakta yang sebenarnya. Mereka tidak memiliki sifat kritis,pembahas,penilai dan penyaring segala yang di riwayatkan seperti yang dimiliki Islam.                                                                                        

Oleh sebab itu yang mereka riwayatkan itu tidak mengandung nilai-nilai suci yang harus diagungkan.Inilah yang menyebabkan dalam periwayatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum Islam bercampur baur dengan domngengan-dongengan bohong  selaras kepentingan mereka waktu itu.Konsekuwensinya terdapat berbgai ceritera-ceritera yang saling bertentangan satu dengan lainnya,meskipun membahas hal yang serupa dalam kitab yang dan pasal-pasal yang  sama  pula.                                                                                                                                                              

Sementara para perawi Islam,mereka sangat menyadari bahwa sewmuja hukum syara’ halal dan haram itu harus berdasarkan kepada keterangan-keternagna yang ada dalam al Qur’an ,bukanlah hasil buatan seseorang perawi. Bagi umat Islam menambah-nambah sesuatu yang tidak dasar hukumnya itu dianggap”Bid’ah”dengan sanksi hukumannya sangat berat.Karena dalam perspektif muslim menambah atau mengurangi sesuatu dalam urusan agama,serupa halnya dengan menambah dan mengurangi sesuatu dalam agama Islam.                                           

Dalam hal ini,al Qur’an yang diriwayatkan secara mutawatir(hadist yang diriwayatkan dengan banyak sanadnya yang berlainan perawinya ,yang mustahil berkonspirasi untuk mengadakan hadist tersebut)telah dijamin kemurniannya,melahirkan keyakinan dan kepastian ,karena didalamnya sama sekali tidak ada yang meragukan. Dan sudah seharusnya para peneliti dengan sungguh-sungguh meneliti kebenaran sesuatu hadist yang disandarkan kepada Rasulullah,Nabi Muhammad SAW.                                                                      

Karenanya para perawi memperketat dan menetapkan syarat-syaratnya bagi periwayatan,dasar-dasar dan kaedahnya yang menjadi ketentuan dalam ilmu naqid(ilmu kritik)baik pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang.Maka dari itu perhatian terhadap kebenaran,keautentikan riwayat ,mengadakan penelitian dan mengkritiknya ,baik sanad mauopun matannya adalah ciri khusus yang hanya terdapat dalam sistem metode periwayatan dalam Islam. Jadi,riwayat orang terpercaya dari orang-orang yang terpercaya pula sampai tidak terputus perawinya hingga kepada Nabi Muhammad SAW  .                                                                           

Sementara periwayatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum Islam,bersifat mursal dan mu’dal atau suatu periwatan yang terputus tidak dekat dengan sumbernya,Musa misalnya bagi periwayatan yang dilakukan oleh orang-orang yahudi,sebagaimana tidak dekatnya proses penulisan mereka dengan Isa  Ibnu Maryam dalam kalangan Nasrani.Ada kitab-kitab sebelum Islam ditulis sekitar 15 abad sesudah Musa wafat ,demikian pula halnya dengan kitab yang diturunkan kepada Isa yang ditulis berabad -abad sesudah beliau . Konsekuwensinya terjadi berbagai intervensi tangan-tangan manusia dalam ajaran-ajaran Tuhan yang suci ,suatu hal yang tidak dijumpai dalam periwayatan dalam Islam.  Karenanya jika terdapat sedikit saja benda asing dalam kitan suci  al Qur-an segera diketemukan,sebagaimana juga hal serupa terhadap Hadist Rasulullah SAW.                                                                        

 

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | | 26 November 2014 | 04:01

Ikuti Lomba Resensi Buku “Revolusi …

Kompasiana | | 08 November 2014 | 15:08


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 7 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 7 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 12 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 13 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Demi Sepak Bola Indonesia… …

Benediktus Andre Se... | 8 jam lalu

Habeslah Kau, Indonesia …

Irfan M | 8 jam lalu

Merantau …

Dian Wisnu Al Afdho... | 8 jam lalu

Kisah “Kaos Kaki Bolong” …

Fathan Muhammad Tau... | 8 jam lalu

Produsen Kok Masih Impor Garam? …

Irene Noviani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: