Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Hendi Setiawan

Gemar membaca koran, majalah, buku macam-macam, novel, buku-buku tentang Islam. Suka nonton sepakbola, bulutangkis. Senang selengkapnya

Dewi Sartika: Pahlawan Dengan Tanda Jasa, Pahlawan Tanpa dar .. der.. dor

REP | 08 November 2011 | 23:38 Dibaca: 11096   Komentar: 6   1

Kantun Jujuluk Nu Arum

13205775322100929895

Dewi Sartika

Pada suatu masa walaupun belum ada istilah muatan lokal. murid-murid sekolah dasar di Jawa Barat diperkenalkan pada pahlawan-pahlawannya, baik pahlawan nasional dari daerah lain seperti RA Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dien dan tentu saja Raden Dewi Sartika yang asal Jawa Barat. Mereka telah meninggalkan nama yang harum, kantun jujuluk nu arum, kata orang Sunda.

Saya sengaja menulis pahlawan wanita Indonesia untuk mengingatkan bahwa kaum wanita  berperan dalam gerakan-gerakan mengangkat derajat bangsa Indonesia, baik melalui perjuangan bersenjata seperti dilakukan Martha Christina Tiahahu dan Cut Nyak Dien, melalui karya tulis ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ seperti dilakukan RA Kartini,  maupun melalui dunia pendidikan seperti dilakukan oleh Raden Dewi Sartika.  Padahal pada zaman mereka pendidikan dan posisi kaum wanita masih demikian tertinggal, sehingga apa yang dilakukan keempat perempuan yang saat itu berusia muda tentu saja luar biasa untuk ukuran zamannya, bahkan diukur dengan ukuran prestasi zaman sekarang sekalipun.

Salah satu cara mengingatkan pahlawan bangsa yang paling dekat ke rumah anak-anak sekolah dasar di Jawa Barat pada tahun 1960-an , mudah-mudahan sampai sekarang , adalah dengan mengajarkan kawih atau nyanyian mengenang Raden Dewi Sartika.   Saya bersyukur pada Tuhan sampai hari ini masih hafal syair dan langgam kawih Dewi Sartika, yang diajarkan bapak dan ibu guru SD Pengadilan I Bogor untuk menyanyikannya dalam suatu paduan suara atau rampak sekar.

Berikut ini kawih mengenang Dewi Sartika, pelopor gerakan kemajuan perempuan Jawa Barat,  Syair asli dalam bahasa Sunda, disamping kanan  saya tulis terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia :

Kantun jujuluk nu arum   ……………………………………………. Tinggal namanya yang harum

Kari wawangi nu seungit …………………………………………… Tinggal wangi yang semerbak

Nyebar mencar sa Pasundan ……………………………………… Menyebar ke seluruh Tanah Sunda

Nyambuang sa Nusantara …………………………………………. Mewangi ke seluruh Nusantara

Sari puspa wangi arum ……………………………………………… Sari bunga semerbak wangi

Seungit manis ngadalingding ……………………………………… Wangi tercium ke mana-mana

Sari sekar nyurup nitis ………………………………………………. Sari bunga yang menitis

Kana sukma isteri Sunda ……………………………………………. Pada jiwa wanita Sunda

Bagi saya syair lagu ini sangat dalam, bukan hanya untuk Raden Dewi Sartika, dan pasti bukan untuk kultus individu, kita dapat sekalian mengingat, mengenang ibunda masing-masing yang telah melahirkan kita, membesarkan, mendidik dalam segala kelimpahan rezeki dan sebagian malahan dalam kekurangan.   Ibunda adalah pahlawan kita. Bila ibunda telah tiada, anak adalah warisan yang sangat berharga, terutama kesalehannya yang akan memberi manfaat kepada orangtua dan lingkungan di sekitarnya.

Pahlawan Tanpa dar ..der ..dor *)

Dewi Sartika  lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 dan wafat di Cineam, Tasikmalaya pada 11 September 1947.  Dewi Sartika wafat saat sedang mengungsi di Desa Rahayu, Kecamatan Cineam, Tasikmalaya. Ketika itu Wilayah Republik Indonesia diserang oleh tentara NICA - Belanda pada peristiwa agresi militer I Belanda tahun 1947.

Kedua orangtua Dewi Sartika, Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Raja Permas, dibuang Pemerintah Hindia Belanda ke Ternate karena tuduhan memberontak pada Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1893.  Sebelum dibuang ke Ternate,  Raden Rangga Somanagara adalah seorang Patih di Bandung.  Patih itu jabatan di pemerintahan lokal satu level di bawah Bupati, kira-kira setara jabatan Sekretaris Daerah atau Wakil Bupati zaman sekarang. Dengan dibuangnya sang ayah sebagai pemberontak, Dewi Sartika tidak melanjutkan lagi sekolahnya setelah kelas tiga di Lagere School.

Kiprah di dunia pendidikan beliau mulai sejak 1902 dengan mengajarkan membaca, menulis, memasak dan menjahit bagi kaum perempuan di sekitarnya.  Pada 16 Juli 1904 Raden Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri atau Sekolah Perempuan, Tahun 1914 Sakola Istri diubah namanya menjadi Sakola Kautamaan Istri atau Sekolah Keutamaan Perempuan.  Pada tahun 1929 Sakola Kautamaan Isteri diubah namanya menjadi Sakola Raden Dewi.  Selain tersebar di kota kabupaten Pasundan, Sakola Kautamaan Istri sempat pula menyebar ke luar pulau Jawa.

Pemerintah Hindia Belanda pada 16 Januari 1939 memberi bintang jasa kepada Dewi Sartika atas jasanya memajukan pendidikan kaum perempuan.  Penghargaan pemerintah kolonial menunjukan bahwa perjuangan Dewi Sartika dilakukan secara koperatif, bukan perjuangan yang diramaikan dengan dar der dor suara senapan.   Selanjutnya Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1966 mengakui Raden Dewi Sartika sebagai pahlawan nasional.

Untuk perempuan yang hidup pada abad ke 19 sungguh luar biasa aktivitas Raden Dewi Sartika ini, yaitu mengajar dan mendirikan sekolah.  Pada saat Insinyur Soekarno baru belajar berjalan dan belum lancar bicara, Dewi Sartika sudah berinisiatif mengajar membaca, menulis dan keterampilan yang harus dimiliki seorang wanita.  Pada saat Bung Hatta baru berusia dua tahun, Dewi Sartika sudah mendirikan sekolah untuk kaum perempuan.  Visi beliau benar-benar melampaui zamannya.

Patutlah kita kenang Dewi Sartika sebagai pahlawan pendidikan bangsa, setara dengan orang Indonesia yang dar ..der…dor .. mengangkat senjata, atau berdiplomasi, bersilat lidah mempertahankan kemerdekaan melalui jalur perundingan.   Bentuk penghargaan lainnya adalah penamaan jalan Dewi Sartika, diantaranya di Bandung, Bogor, Bandar Lampung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Samarinda, Palu  dan Jakarta.

*). Beberapa data detail dikutip dari Biografi Dewi Sartika, Bapusipda Provinsi Jawa Barat dan  Gentra Pancaniti http://gentrapancaniti.wordpress.com/author/gentrapancaniti/

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 8 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 14 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 15 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 16 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Pengumuman Kabinet, di Istana Atau Dimana? …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Dilan dan Milea: Kisah Manis ABG ala Tahun …

Nurussakinah | 9 jam lalu

Nora Samosir, Bintang Indonesia Bersinar di …

Adi Supriadi | 9 jam lalu

Preman …

Bhre | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: