Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Iskandar Zulkarnain

coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://iskandarzulkarnain.com/

Benteng Malborough, Satu Lagi Ikon Bengkulu

REP | 05 December 2011 | 04:00 Dibaca: 570   Komentar: 2   0

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 < ![endif]-->

Oleh-oleh lain setelah mengunjungi Bengkulu, selain rumah Soekarno dan Masjid jamik, adalah Benteng Malborough.

1323009830215720998

Papan nama Benteng Malborough di sisi depan Benteng

Jika kita menyusuri sisi pantai Panjang, pada ujung pantai, yang konon merupakan obyek pesiar pantai terpanjang di dunia, maka kita akan sampai pada lokasi benteng di pusat kota, yakni Jln Jendral Ahmad Yani, berbatasan dengan Perkampungan China, Banteng Marlborough (Inggris:Fort Marlborough) adalah benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu. Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 1713-1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris. benteng yang konon merupakan benteng terkuat Inggris di wilayah Timur setelah benteng St. George di Madras, India. ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan membelakangi samudera Hindia.

1323009941672591436

pintu utama menuju halaman dalam Benteng Malborough

Benteng Marlborough merupakan salah satu warisan sejarah panjang penjajahan Inggris di Bumi Andalas ini, lebih kurang 140 tahun (1685-1825) kolonialis Inggris berada di Bengkulu. Asal kata nama benteng Malborough ini menggunakan nama seorang bangsawan dan pahlawan Inggris, yaitu John Churchil, Duke of Marlborough. Benteng ini tergolong terbesar di kawasan Asia. Peninggalan sejarah ini memiliki daya tarik yang besar karena kelangkaannya.

13230100521567319117

Ramp menuju dinding sisi atas Benteng

Konstruksi bangunan benteng Marlborough ini memang sangat kental dengan corak arsitektur Inggris Abad ke-20 yang megah dan mapan. Bentuk keseluruhan komplek bangunan benteng yang menyerupai penampang tubuh ‘kura-kura’ sangat mengesankan kekuatan dan kemegahan. Detail-detail bangunan yang European Taste menanamkan kesan keberadaan bangsa yang besar dan berjaya pada masa itu. Desain tata ruang Benteng Marlborough mencerminkan keragaman aktivitas masyarakat. Kompleks bangunan ini 44.100,5 meter persegi, tetapi total bangunan dalam benteng hanya sekitar 20 persen. Bagian benteng selebihnya berfungsi sebagai ruang terbuka. Bangunan fisik Benteng Marlborough sangat kokoh, antara lain terbukti ketika gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter meluluhlantakkan ribuan bangunan gedung dan permukiman Bengkulu tahun 2000 maupun gempa bumi dengan 7,9 skala Richter, benteng ini tak mengalami kerusakan berarti. Padahal, konstruksi benteng ini tidak menggunakan beton bertulang.

13230101441810877240

Meriam sisi belakang mengarah samudra Hindia

Pada tahun 1824 Inggris pun melepaskan wilayah Bengkulu ke tangan Belanda. Bengkulu ditukar dengan Singapura melalui Traktat London. Meskipun pada era tersebut Singapura masih berupa rawa-rawa, Raffles berhasil mengubahnya menjadi pelabuhan yang ramai.

1323010238534902717

Barak militer di sisi dalam Benteng

benteng Marlborough masih berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia-Belanda tahun 1825-1942, masa Jepang tahun 1942-1945, dan pada perang kemerdekaan Indonesia. Sejak Jepang kalah hingga tahun 1948, benteng itu manjadi markas Polri. Namun, pada tahun 1949-1950, benteng Marlborough diduduki kembali oleh Belanda. Setelah Belanda pergi tahun 1950, benteng Marlborough menjadi markas TNI-AD. Hingga tahun 1977, benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.

1323010323635888696

sisi belakang Benteng menghadap samudra Hindia

1323010448168409431

Meriam yang menakutkan itu, kini hanya menjadi pajangan di halaman tengah Benteng Malborough


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 8 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 10 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 12 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: