Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Dekurisme

Penggemar Arsenal dan teman orang-orang baik. @dekurisme on Twitter :)

Menengok Masa Lalu, Menatap Masa Depan

OPINI | 04 December 2011 | 23:18 Dibaca: 346   Komentar: 0   0

Teman saya yang sedang mengerjakan skripsi yang tema-nya tentang Cina dan Asia Timur mengatakan pada saya “sejarah itu penting, kehidupan masa lalu perlu dikorek sebagai batu loncatan di masa depan”. Lalu, saya bertanya “seberapa penting sejarah itu?”, dengan lantang dia menjawab “penting banget, lihat Cina bisa maju sekarang tidak terlepas sejarah masa lalunya”.

Benar juga statement teman saya itu, kita semua sangat mengerti kalau Cina (bisa disebut Tiongkok) mempunyai catatan sejarah yang manis khususnya dalam hal perdagangan. Saya jadi ingat pelajaran sejarah waktu SMP yang menceritakan bagaimana saat Dinasti Han membuka Jalan Sutra melalui tangan seorang Jendral yang bernama Zhang Qian untuk untuk menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara di dunia khususnya negara utama peradaban kuno. Jalan Sutera ini merupakan akses perdagangan Tiongkok pada masa itu.

Cina pernah mengalami pasang surut, setelah kejatuhan dinasti-dinasti Cina sampai revolusi Mao Zedong keadaan kala itu bisa dikatakan suram, baru ketika Deng Xiaoping memimpin dan menerapkan sistem “sosialis pro pasar” ekonomi Cina berkembang pesat. Kita bisa melihat kemajuan Cina sekarang dengan ekpansi pasar ke berbagai negara persis seperti sejarah masa lalu dimana pedagang-pedagang Cina masa dinasti-dinasti dulu melakukan perdagangan lintas negara dan mampu merebut pasar.

Cina sadar dengan perdagangan mereka kuat, produksi dalam negeri digenjot dan ekspansi pasar besar-besaran. Hasilnya, produk-produk Cina menyerbu pasar global, ekonomi China maju. Bayangkan dalam dua dekade terakhir pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 7-8 persen setiap tahun, angka pertunbuhan ekonomi yang fantastis. Di Indonesia serbuan produk Cina makin massif, seakan tidak ada produk Cina yang tidak dikonsumsi, dari mulai elektronik sampai peniti pun “made in China”.

Bagaimana dengan Indonesia? Bukankah dulu kita punya catatan sejarah yang cukup manis  seperti kegagahan  kerajaan Majapahit saat dipimpin Hayam Wuruk dengan patih yang terkenal “Gajah Mada” yang mengikrarkan “Sumpah Palapa” untuk melebarkan kekuasaan dan membangun kemaharajaan. Sumpah itu terbukti dengan majunya kerajaan Majapahit bahkan ekpansi kekuasaanya sampai sebagian kepualaun Filipina. Sepertinya kita perlu membedah kembali sejarah masa lalu, yang manis perlu kita pahami bagaimana itu menjadi manis dan yang pahit perlu kita pahami mengapa menjadi pahit. Sejarah menjadi penting karena pada dasarnya hidup adalah pengulangan sejarah. Bung Karno pernah berpesan “Jas Merah” alias jangan lupakan sejarah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuna Netra, Tuna Rungu, dan Tuna Wicara yang …

Mbah Ukik | | 23 May 2015 | 09:25

Langkah Ekspatriat Spanyol Menuju Kursi …

Ardiansyah | | 23 May 2015 | 18:26

[Blog Competition] Ceritamu bersama …

Kompasiana | | 08 May 2015 | 18:25

Fitriya N A Dewi, Peneliti Daun Katuk untuk …

Gapey Sandy | | 20 May 2015 | 20:03

Kota Batam Gandeng Yokohama untuk Menjadi …

Isson Khairul | | 23 May 2015 | 20:23


TRENDING ARTICLES

Menyoroti Pembangunan Rel Kereta Api di …

Johanis Malingkas | 3 jam lalu

Dua Kali Ke Toilet, Saldo Multitrip Dipotong …

Endang Priyono | 4 jam lalu

Air Mata Ema Tumpah di Korem 151 Binaya …

Rusda Leikawa | 5 jam lalu

500 Becak Disiapkan Menjemput Tamu …

Niken Satyawati | 6 jam lalu

Skripsi, Thesis, Disertasi dan Budaya …

Amirsyah | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: