Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Bembeng Je Susilo

Trainer@fimakahasigma. Tourguide@hpijakarta. Motto; hidup mesti dilakoni dan dimaknai, berhenti berarti mati. Static means death. selengkapnya

Pangeran Kornel Vs Daendels

REP | 06 December 2011 | 02:09 Dibaca: 2542   Komentar: 2   0

13231333391256423703

Jika kita menelusuri jalan di ruas Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang, akan menemui sebuah monumen patung dua lelaki sedang bersalaman, uniknya, yang satu pakai tangan kanan, yang satu lagi pakai tangan kiri. Konon, yang menggunakan tangan kanan adalah Herman Willem Daendels, Gubernur Jendral Hindia Timur tahun 1808-1811, sementara yang menggunakan tangan kiri adalah Pangeran Kornel. Siapakah Pangeran Kornel, dan mengapa memakai tangan kiri?

Daendles, seperti diketahui adalah pemrakarsa pembangunan Jalan raya Pos (De Grote Postweg) dari Anyer ke Panarukan yang dimulai pada tahun 1808. Karena anggaran pembangunan terbatas, Daendels meminta (memerintahkan) para bupati untuk menyediakan tenaga kerja wajib tentu dengan upah murah, maka terjadilah mobilisasi besar-besaran tenaga kerja wajib dari masing-masing kabupaten. Mobilisasi kerja wajib yang lebih tepat dikatakan kerja paksa itu, ternyata banyak memunculkan terjadinya ketegangan antara penduduk pribumi dan penguasa Belanda.  Ketegangan terjadi karena para pekerja menanggung beban kerja amat berat, apalagi dalam kondisi perbekalan yang minim, upah yang sangat kecil, peralatan terbatas dan di banyak lokasi  harus menembus medan yang amat berat.

Ketegangan itu pula yang muncul tatkala pembangunan jalan harus  menembus ruas Cadas Pangeran, Kabupaten Sumedang, di mana para pekerja harus membelah bukit di medan yang curam, dengan peralatan amat sederhana, berupa linggis!

Alkisah, Bupati Sumedang saat itu, Pangeran Kusumadinata IX atau yang dikenal sebagai Pangeran Kornel, tidak rela, tak berkenan, melihat rakyatnya diperlakukan semena-mena dalam pembangunan jalan itu, dan dia pun menumpahkan kekesalannya itu kepada Daendels ketika Daendels sedang menginspeksi pembangunan jalan di ruas Cadas pangeran. Diceritakan bahwa ketika menyambut Daendels, Pangeran Kornel berjabat tangan dengan tangan kiri sementara tangan kanannya memegang keris, seolah-olah menantang. Jabat tangan yang tak lazim itu, tidak sekedar menunjukkan protes Pangeran Kornel terhadap Daendels, tetapi juga sebagai ancaman.

Keberanian Pangeran Kornel itu kini diabadikan melalui patung yang terletak di batas ruas Cadas Pangeran, dan merupakan salah satu kebanggaan rakyat Sumedang hingga sekarang.

132313629413480172Bukan Daendels?

Namun, Sejarawan Djoko Marihandono (UI) berujar, kepahlawanan Pangeran Kornel dibangun dengan pijakan cerita rakyat sehingga memiliki banyak peluang untuk di kritisi. Berdasarkan prinsip dekontruksi, sejarah harus dibangun di atas bukti, seperti arsip.Dalam tradisi administrasi kolonial, setiap peristiwa penting di daerah yang berkaitan dengan pemerintah, pasti akan langsung dilaporkan . Pertemuan antara pangeran Kornel dan Daendels bisa dianggap penting mengingat Pangeran Kornel berani bersalaman menggunakan tangan kiri. Namun, ternyata tak ada satu pun arsip yang menyebut pertemuan tersebut.

Djoko menyimpulkan, dengan melihat prasasti yang menyebut bahwa Cadas pangeran dibobok pada  26 November 1812, patut diduga bahwa yang datang meninjau pembangunan jalan dan bersalaman dengan Pangeran Kornel bukanlah Daendels, karena Daendels sudah meninggalkan Nusantara pada 29 Juli 1811. Wassalam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Matinya Filsafat, Matinya Kemanusiaan …

Herulono Murtopo | 8 jam lalu

Jadilah Peniru …

Wiwik Agustinanings... | 8 jam lalu

Belajar Ungkapan (Idiom) Amerika - Part 7 …

Masykur | 8 jam lalu

Sempatkan Berwisata ke Sumatra Barat …

Nurul Falah Elyandr... | 8 jam lalu

Pesan Membaca di Film The Book of Eli …

Eko Prasetyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: