Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Arif Rahman Hakim

Hobi membaca dan menulis. Bekerja di Jakarta dan berdomisili di Bekasi, Jawa Barat.

Gus Dur

REP | 20 December 2011 | 06:54 Dibaca: 620   Komentar: 2   1

Memperoleh kesempatan mewawancarai tokoh-tokoh nasional tentu merupakan hal yang menggembirakan bagi wartawan. Demikian juga yang aku rasakan saat menjadi wartawan majalah politik dan gaya hidup MEN’S OBSESSION (2004-2008). Salah satu tokoh yang aku wawancarai adalah KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur, mantan Presiden RI keempat (1999-2001). Seperti kita ketahui, Gus Dur mengalami kebutaan akibat kecelakaan lalu lintas jauh sebelum terpilih Presiden.

Aku mendapat kesempatan wawancara khusus dengan Gus Dur di rumahnya, Ciganjur, Jakarta Selatan, 7 Maret 2006. Aku diberitahu oleh ajudannya, Gus Dur berkenan menerimaku seusai sholat subuh. Aku berangkat dari rumah pukul 03.40 WIB. Sesampai di kompleks rumahnya pukul 05.00 WIB, lalu sholat subuh di masjid yang terletak di depan rumahnya. Kemudian sekitar pukul 06.00 WIB Gus Dur menerimaku. Dia didampingi dua stafnya.

Sekitar satu jam aku mewawancarainya diselingi guyonannya yang segar. Gus Dur memang gemar bercanda. Salah satu yang diceritakannya adalah pengalamannya saat menjadi Presiden RI dan bertemu dengan Presiden Kuba Fidel Castro di Havana tahun 2000. Gus Dur menerima kunjungan Fidel Castro di kamar hotelnya. Dalam kesempatan itu Gus Dur memberikan pertanyaan pada Fidel Castro, yakni apa perbedaan empat tokoh Indonesia (Gus Dur menyebutkan nama mereka). Fidel Castro menggeleng, tak mengerti apa yang dimaksud Gus Dur. Rupanya Gus Dur memang tak memerlukan jawaban Fidel Castro. Ia lalu bercerita tentang perbedaan keempat tokoh Indonesia tersebut.

Tokoh pertama, kata Gus Dur, banyak anak, sebab isterinya banyak, alias doyan kawin. Sedangkan tokoh kedua didikte anak. Apapun yang diinginkan anak-anaknya pasti dituruti. Lalu, tokoh ketiga dinilai Gus Dur kekanak-kanakan karena memiliki baby face.

Fidel Castro mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Lalu, bagaimana dengan tokoh yang keempat?”

Gus Dur dengan penuh semangat menjawab,”Tokoh Indonesia yang keempat ini nyentrik, kalau berjalan dituntun oleh anak-anaknya karena buta.”

Ha ha ha……….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 6 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 7 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 11 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 11 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: