Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Rz Hakim

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.

Jember, Kota yang Bingung dengan Sejarahnya

HL | 31 December 2011 | 00:23 Dibaca: 8272   Komentar: 63   5

13252482451919012756

Sepuluh peraga busana menampilkan 10 kreasi terbaik saat Pre Press Exhibition Jember Fashion Carnaval X di Gedung Ciputra World Marketing Galerry, Jakarta Selatan, Sabtu (19/2/2011)./Admin (KOMPAS.com/Agus Setiawan)

Sebelumnya, ijinkan saya memberi gambaran singkat. Tulisan ini menjelaskan tentang sejarah kota kecil Jember. Mungkin akan menjadi tulisan yang agak panjang dan menjemukan. Mohon maaf.

Baiklah, segera akan saya mulai tulisan tentang kota kecil Jember.

Pada saat orang orang sedang sibuk meniupkan terompet tahun barunya, kota kecil Jember justru konsentrasi merayakan Hari Jadinya. Ya benar, pada 1 Januari 2012, Jember genap berusia 83 tahun.

Bercermin pada 1 Januari 1928, secara fakta dan hukum mulai saat itu Jember berubah menjadi ibukota Kabupaten. Dimulai dari ketentuan no 322 tanggal 9 Agustus 1928, berdasarkan staatblad. Jember ditetapkan sebagai Regentschap Djember. Tadinya Jember adalah salah satu wilayah Distrik dari Afdeling Bondowoso.

Kota ini terletak di bagian timur Propinsi Jawa Timur. Jaraknya dari Surabaya 198 km. Sebelah utara berbatasan dengan Bondowoso dan Probolinggo. Sebelah timur berbatasan dengan Banyuwangi. Sebelah barat berbatasan dengan Lumajang. Dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra Indonesia.

Jika kita menengok papan nama di Stasiun Jember, maka kita akan tahu ketinggian daerah kota, kurang lebih 87 meter diatas permukaan laut. Dan bila dirata rata, ketinggian di Jember 0 sampai dengan 3300 mdpl. Itu bila diukur bersama ketinggian Gunung Argopuro yang sebagian masuk wilayah Jember.

Hmmm, membicarakan sejarah memang seringkali menjemukan. Apalagi bila harus memperinci gambaran tentang sebuah kota mulai dari garis meridiennya, temperatur udara, musim, tata wilayah, SDA yang ada, dan sebagainya. Agar lebih terlihat menarik, mari kita tengok asal usul Jember dari sudut pandang mitologi.

Asal Usul Jember

Ada banyak versi tentang asal usul kota Jember. Saya akan mencomotnya satu saja, yang menurut saya (ubyektif) paling masuk akal.

Pada jaman dulu. Saat pulau Jawa masih lebih banyak hutan belantara dibanding populasi yang ada. Manusia seringkali melakukan perpindahan untuk mencari tempat yang lebih baik. Ini bercerita tentang dua kelompok migrasi.

Kelompok pertama berasal dari suku Jawa. Jawa timur pedalaman. Seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo dan sekitarnya. Kelompok migrasi kedua adalah Dari suku Madura. Kedua kelompok tersebut mencari tempat yang lebih baik dari sebelumnya. Keduanya bertemu pada satu titik.

Kelompok pertama dari suku Jawa berkata,”Nang kene ae, lemahe sik jembar”. Artinya, disini saja tanahnya masih luas. Kelompok kedua dari suku Madura juga berujar, “Iyeh, neng dinnak beih, tananah gik jembher”. Artinya, Iya disini saja, tanahnya masih luas. Begitulah awal terjadinya akulturasi. Percampuran kebudayaan.

Seiring dengan berjalannya waktu, kata kata jembar dan jembher berevolusi menjadi seperti yang kita tahu sekarang, JEMBER.

Itulah Jember bila dilihat dari legenda yang ada. Saya tampilkan asal asul di atas dengan harapan, akan lahir imajimasi tentang Jember tempo dulu. Bahwa kota ini lahir bukan diebabkan oleh reruntuhan kerajaan, namun memang sengaja dibangun. Pernah saya singgung di tulisan perdana saya di sini, berjudul Jember. Akan saya ceritakan kembali dari sudut yang tidak sama.

Jember dalam lacakan sejarah

Sejarah hanya berhasil melacak daerah ini sampai dengan 1859. Sebelum itu, hanya berupa praduga. Bisa jadi ini karena Jember bukanlah daerah reruntuhan kerajaan. Adapun benda benda kuno yang ditemukan di daerah ini disinyalir merupakan peninggalan kerajaan Majapahit atau Blambangan (Atau kerajaan lain yang sempat melintas di sini.

Saya akan menggambarkan tentang bagaimana Jember sebelum 1859.

Jember hanya merupakan sebuah hutan yang luas dengan pohon pohon yang besar. Tanahnya berawa hingga menyuburkan segala jenis penyakit seperti wabah kolera dan disentri. Bila ingin tinggal di daerah ini, anda harus bisa mengatasi ganasnya alam. Itu gambaran singkatnya (ini benar benar saya gambarkan secara singkat).

Jember pada 1859

Dimulai dari sebuah perkebunan di Jember. Namanya LMOD. Atau lebih lengkapnya, N.V. Landbauw Maatshcappij Oud Djember. Berdiri di Jember tahun 1859. Pertengahan abad 19 Masehi.

Siapa pendirinya? Pendirinya adalah pengusaha asal Belanda. Ada 3 leader. George Birnie, Matthiasen dan Van Gennep. Adanya LMOD ini melahirkan beberapa hal. Pertama, mengundang perusahaan swasta lain untuk menanamkan modalnya ke daerah Jember. Berikutnya, kebutuhan akan tenaga kerja.

Berhubung pribumi Jember sedikit, maka dihadirkan tenaga kerja dari luar wilayah. Ohya, tentang masalah pribumi Jember yang sedikit, itu hanya asumsi dari saya saja. Soalnya sampai saat ini saya masih belum menemukan data tentang itu.

Dihadirkanlah tenaga kerja dari Madura. Dengan alasan mempunyai karakter pekerja keras dan ulet. Namun demikian, pihak colonial kesulitan untuk masalah pengaturan. Maka dari itu lahir kebijakan berikutnya. Mendatangkan tenaga kerja dari wilayah pedalaman Jawa timur. Ini untuk memudahkan control dan pengaturan. Menurut pihak koloni, masyarakat Jawa tidak banyak melahirkan pertentangan. Mempunyai kecenderungan watak penurut.

Alasan kedua kenapa suku Jawa dan Madura tertarik ke Jember. Karena lancarnya Jalur transportasi.

Pada akhirnya, daerah ini semakin berkembang. Untuk mengangkut hasil bumi dan sebagainya, pihak kolonial butuh alat transportasi sebagai solusinya. Lalu dibukalah jalur kereta api dan selesai pada awal abad 20.

Dibukanya jalur kereta api tahun 1912 dari Surabaya-Probolinggo-Jember dibarengi dengan membuat jalan darat (rintisan) yang menghubungkan daerah terpencil menuju Jember. Itu membuat terjadinya gelombang migrasi yang besar. Terutama dari daerah daerah di bagian barat.

Jember dianggap memiliki prospek yang lebih baik. Ditempat yang baru dibuka ini mereka menaruh harapan untuk diri dan keluarganya. Mereka ingin memperoleh penghasilan yang lebih baik. Perpindahan penduduk Madura, Jawa serta suku suku lain ke Jember juga terjadi di wilayah karesidenan Besuki. Alasannya karena Jember termasuk wilayah Afdeling Bondowoso. Bondowoso sendiri termasuk wilayah dari karesidenan Besuki.

Perpindahan itu menggunakan berbagai macam cara. Seperti perdagangan, sebagai tenaga kerja buruh dan ekspedisi Militer.

Kenapa mereka memilih Jember untuk dijadikan areal perkebunan?

Jember mendapat perhatian dari pengusaha swasta Belanda karena beberapa hal berikut ini :

1. Masalah pengairan
Tersedianya air yang sangat cukup

2. Tanahnya Subur
Kesuburan tanah ini cocok untuk perkebunan

3. Masalah infrastruktur transportasi dan komunikasi
Infrastruktur transportasi dan komunikasi di Jember relatif bisa berkembang dibanding dengan wilayah yang lain. Ini sudah menjadi gambaran dan pertimbangan pihak kolonial.

4. Sudah ada masyarakat lokal di Jember (sebelum 1859).
Masyarakat lokal Jember ini sudah bisa menanam tembakau. Meskipun dengan jumlah yang sedikit dan untuk keperluan lokal saja.

Masih banyak lagi sejarah kota kecil ini yang terlacak, meskipun jauh lebih banyak lagi yang belum terlacak. Pemerintah Kabupaten Jember juga tidak tinggal diam. Di situsnya saya temukan kata kata seperti berikut ini.

Berbagai upaya baik seminar maupun penelitian yang telah dilakukan oleh lembaga penelitian, Perguruan Tinggi maupun oleh sejarawan belum bisa mengungkap kejelasan yang pasti tentang kapan Kabupaten ini lahir. Pemkab Jember masih memberi Kesempatan luas untuk menampung sumbangan pemikiran untuk dijadikan bahan kajian dalam menentukan fakta sejarah guna mengetahui kapan hari jadi Kabupaten Jember sebenarnya.

Begitulah, Jember kesulitan menentukan hari lahir yang sebenarnya. Dari kesulitan menentukan hari lahir, merembet pada kesulitan kesulitan yang lain. Contoh paling nyata, Jember selalu bingung menentukan arah budayanya. Istilah kasarnya, orang Jember selalu minder manakala harus membicarakan makanan khas, oleh oleh khas Jember dan kesenian milik Jember.

Alhasil, Jember sengaja membuat tarian bernama tari lahbako. Jember juga memproduksi jajanan suwar suwir dan dikatakan sebagai ‘asli Jember’ padahal jelas jelas suwar suwir terbuat dari sari tape. Sedang tape sendiri sudah terlalu identik dengan Kota Bondowoso.

Jember adalah sebuah daerah pandalungan. Tempat bertemunya berbagai budaya. Dua kebudayaan besar yang mendominasi adalah Jawa dan Madura. Adalah tidak mungkin mencari keaslian budaya. Apalagi bila dari sudut pandang saya pribadi yang tidak percaya dengan adanya budaya asli. Semua pasti mengalami akulturasi.

Solusi subyektif

Berbicara mengenai solusi, saya jadi teringat akan musik tradisional patrol. Musik ini tumbuh dan berkembang di kota kecil Jember. Sangat disayangkan, semakin hari musik rancak yang selalu dirindukan kehadirannya ini semakin terengah engah dan ditinggalkan. Ada anggapan bahwa patrol merupakan seni asli Madura (di sana dikenal dengan nama musik thong thong). Beberapa kota lain juga memiliki seni musik tradisional yang semacam ini.

Bila masyarakat Jember jeli, mereka akan menemukan sesuatu yang khas di musik patrol. Perbedaan yang sangat nampak adalah dari alat musiknya. Musik thong thong Madura menggunakan saronen sebagai alat tiupnya. Sementara musik patrol menggunakan seruling. Lagu yang dinyanyikan juga lebih berwarna. Kadang lagu Madura kadang  lirik lirik Jawa. Inilah bukti adanya perkawinan budaya jawa madura.

Dilihat dari namanya, patrol. Dulunya musik ini digunakan oleh masyarakat Jember untuk memanggil burung dara peliharaannya. Selain itu juga sebagai media komunikasi. Ini untuk mengatasi jarak antar rumah yang berjauhan, juga sebagai penanda manakala sewaktu waktu terjadi sesuatu. Misalnya bencana alam, pencurian, kematian dan sebagainya. Mengenai model ketukannya, tergantung kesepakatan.

Seiring perkembangan areal perkebunan, musik patrol juga digunakan untuk berpatroli keliling kebun, demi memastikan semuanya baik baik saja.

Begitulah, tak ada yang asli di Jember. Kita harus mengesampingkan kata kata asli. Karena memang lebih bijak bila kata asli diganti dengan kata khas.

Tentang sejarah

Saya tahu, penarikan  sejarah yang dimulai pada 1859 lahir di wilayah akademisi Universitas Jember. Tapi itu bukan final. Terbukti, di sana terdapat celah. Disebutkan bahwa pihak kolonial tertarik membangun perkebunan tembakau karena sudah ada masyarakat lokal Jember yang bisa meracik tembakau. Nah, tugas kita hanyalah mencari data di tahun sebelum 1859. Dan ini bukan sebuah kemustahilan.

Saya contohkan tentang kerajaan Sriwijaya. Ada peninggalan prasasti dan diyakini, keberadaan Sriwijaya sudah ada pada abad ke tujuh. Karena peperangan di abad 12, kerajaan ini jatuh dan terlupakan. Eksistensinya baru diketahui lewat publikasi tahun 1918 dari sejarawan Perancis.

Saya yakin Jember bisa melacak kembali sejarahnya bila dilakukan benar benar, bukan hanya sambilan. Dan tidak hanya terjebak pada pembangunan identitas yang bersifat populer.

Memberikan porsi yang cukup pada sejarah itu indah. Setidaknya, dengan menghargai sejarah, Jember akan terlihat lebih anggun dalam menghadapi era global.

Bagaimana memulainya?

Kenapa tidak dimulai dengan pembangunan Jalan Deandles? dari sana saja, itu sudah mematahkan teori bahwa Jember hanya terdeteksi sejak 1859. Atau kalau ingin yang lebih prestisius lagi, mari kita tengok tahun 1359. Saat itu Raja Hayam Wuruk sedang melakukan perjalanan darat menuju Panarukan (Panarukan memiliki pelabuhan internasional di jamannya, dan letaknya sangat strategis). Nah, mungkin kita bisa menggalinya dari sini.

Baiklah, itu saja sedikit urun rembug dari saya, seorang rakyat biasa yang gelisah dengan sejarah kota kecilnya sendiri.

Dirgahayu Jember

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Berani Duduk di Bangku Paling Depan—Cupu …

Frida Kurniawati | | 22 December 2014 | 18:22

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 2 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 4 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 6 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 7 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: