Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Christie Damayanti

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', traveller, also as selengkapnya

Kantor Gubernur Jakarta: Konsep Bangunan Jaman Belanda yang ‘Tersingkirkan’

HL | 11 January 2012 | 21:59 Dibaca: 1805   Komentar: 24   3

By Christie Damayanti

1326271545886521943

Illustrasi - engineear.net

Di Jakarta banyak sekali terdapat bangunan2 tua jaman Belanda, secara dulu Indonesia merupakan jajahan Belanda. Jujur, sebenarnya sayang sekali bahwa pemda Jakarta tidak terlalu memikirkan bangunan2 klasik tersebut. Sejarah Jakarta salah satunya berasal dari bangunan2 tua tersebut. Beberapa di antaranya, aku aku tuliskan dari sejarahnya dan arsitektur serta lingkungannya. Dengan banyaknya bangunan2 tua Belanda tersebut, aku sangat menginginkan bahwa Jakarta menjadi kota yang bisa dinikmati oleh dunia, bukan karena ke’modern’annya, tetapi justru karena ke’klasik’annya serta kota yang apik dan cantik sebagai kota tua ……

Kantor Gubernur Jakarta, merupakan tulisanku yang pertama. Konsepnya adalah bahwa Gubernur Jakarta merupakan orang pertama Jakarta, yang sayang sekali belum bisa mencerminkan ‘pemilik’ Jakarta, dengan tidak / belum adanya ‘kepedulian’ tentang apapun tentang Jakarta. Tetapi kantornya merupakan salah satu bangunan tua dan klasik di Jakarta yang HARUS dipelihara dan dilestarikan.

Dulu, kantor Gubernur Jakarta merupakan rumah biasa, ‘Residentie Huis’ dalam gaya ‘Indische Woonhuis’ antara tahun 1850-an sampai tahun 1942, sebelum pendudukan Jepang. Sampai sekarang, sudah beberapa kali gedung ii dipugar, diubah, ditambah dengan ruang2 baru. Dan pada tahun 1995, Gedung Balaikota dipugar secra menyeluruh, untuk memenuhi kebutuhan sebagai Kantor Gubernur Jakarta.

‘Indische Woohuis’ adalah bentuk rumah jaman Hidia Belanda, muncul pada awak abad ke-19. Dibanguna dengan gaya ‘klasisisme tropis’ dengan ketajaman unsur2 klasik yang agak luntur. Materialnya biasanya menggunakan metrial lokal yang tersedia sehingga ‘melunakkan’ gaya klasisk Eropanya. Untuk kaum Eropa, bangunan ini tidak bernilai tinggi dipandang dari sudut ukuran klasik, namun sangat cocok untuk iklim yang panas dan lembab seperti di Jakarta, khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Selalu terdapat teras besar yang terlindungi dari sinar matahari dengan adanya atap tambahan dan tiang2 besar dan di sekitanya selalu terdapat taman luas, yang sekarang jarang ada di Jakarta. (Wikipedia)

13262717491837133600

1326271775598694888

Contoh2 bangunan ‘Indische Woonhuis’ di Indonesia. Dengan tiang2 besar dan tipis dan mempunyai teras depan dan belakang untuk terhindari dari sinar matahari. Dan di sekelilingnya merupakan taman luas.

Konsep bangunan ini, salah satunya adalah ‘Indhische Woonhuis’ seperti aku tulis diatas. Dasarnya adalah tiang2 Dorik Romawi yang pada teras depan merupakan daya tarik utamanya.  Kolom Dorik Romawi ini merupakan hasil renovasi, tahun 1995. Sedangkan kolom2 didalam bangunan ini masih merupakan kolom2 asli sejak bangunan ini berdiri sebelum tahun 1900.

1326271792487160288

Contoh lain : Istana Cipanas, dengan konsep ‘Indische Woonhuis’, sama dengan bangunan2 lain di Jakarta dari pemerintahan Hindia Belanda.

Seperti jaman dahulu, bangun induk ( sekarang merupakan Kantor Gubernur ) diapit dengan  bangunan2 yang disampingnya. Tetapi sayang sekali, bangunan2 sampingnya tidak sesuai dengan bangunan induknya.  Begitu juga ruang2 didalamnya. Konsep bangunan klasik, salah satunya adalah ruang2 simetris antara kanan dan kirinya, dimana sebelah kanan dan kirinya seharusnya tetap terdapat pintu dan jendela2 samping yang menuju taman. Tetapi sayang sekali, semua pintunya ‘tertutup’ untuk menjadikan beberapa ruangan yang merupakan kebutuhan kantor. Begitu juga dibagian belakangnya, yang seharusnya merupakan ruang terbuka dan membentang taman belakang, tetapi daerah ini sudah tidak ada lagi …..

13262718191181765564

Teras depan bangunan Kantor Gubernur Jakarta sekarang, untuk kegiatan resmi kenegaraan. Cukup cantik, walau ‘dipandang’ sedikit tidak berharga oleh warga Eropa, kecuali ‘nilai sejarahnya.’

Di teras depan, kantor Gubernur ini lebih banyak digunakan untuk kegiatan resmi kenegaraan, sedangkan sehari2nya yang sifatnya lebih private, berlangsung di bagian belakang. Jadi sebenarnya konsep ‘Indische Woonhuis’ sudah tidak dipakai lagi, karena desain ini sebenarnya sudah standard.

Di ruang tangah bangunan ini, lantainya bagian belakang biasanya lebih tinggi dan ruang ini ( yang lebih tinggi ) merupakan ruang yang lebih ‘penting’. Konsep ini juga dipertegas dengan menambah kolom di antara 4 kolom lama, sehingga seluruh ruang dikelilingi kolom2 yang tampak berlebihan. Sebenarnya cukup cantik, tetapi sayanganya ruangan ini tidak luas, jika ruangan ini luas akan menambah kecantikannya.

1326272023424446867

Kolom2 didalam, sesuai dengan konsep aslinya walau banyak materialnya yang sudah direnovasi, untuk digunakan sebagai Kantor Gubernur Jakarta.

Walaupun pola bangunan asli diubah, gedung ini tetap menampakkan citra bangunan klasik. Dan sekali lagi, sayangnya bangunan ini tetap tidak bisa di’maintenance’ sebagai bangunan klasik. Bangunana2 modern di kanan kirinya akhirnya akan ‘menggusur’ bangunan ini, sehingga karena tidak ter’maintain’ dengan baik, banyak dari mereka justru ‘geregetan’ untuk menjadikan tempat ini sebagai bangunan2 modern.

Dengan memugar, merenovasi atau apapun namanya, bukan berarti bangunan ini tetap eksis sebagai bangunan peninggalan Belanda. Konsep2 awal yang aku tuliskan di atas, yang merupakan konsep asli jaman Belanda, dirubah, dipugar dan direnovasi untuk menjadikan kantor Gubernur. Itupun sebenarnya, sah-sah saja. Tetapi bila ingin menjadikan Jakarta sebagai ‘kota tua’ yang klasik, antik dan menarik, kita masih harus belajar dari banyak negara2 Eropa disana.

Konsep2 bangunan2 tua mereka, tetap terpelihara, semua konsep walanya masih dipeergunakan, hanya fasilitasnya di perbaiki bahkan membuat bangunan2 tua mereka menjadi ‘bangunan pintar dan modern’ walau semua konsep awalnya tetap terjaga. Jika mereka memang ingin membuat bangunan2 modern dan super modern, mereka akan membuat kota baru yang moden sebagai kota ‘pendamping’. Contohnya, kota Amsterdam adalah ‘kota tua’ yang indah, cantik dan sangat klasik. ‘Pendamping’ kota ini adalah kota Rotterdaam, merupakan kota modern. Bukannya membuat kota Amstrdam menjadi kota ‘modern’. Justru Amsterdam memiliki daya tarik magis bagi banyak wisatawan dunia …..

Dan bukan hanya kota2 di Belanda, tetapi semua di dataran Eropa sangat menghargai bangunan2 tuanya untuk kelestarian negara mereka.

13262720531710408109

13262720721147016724

Amsterdam sebagai daya tarik magis bagi wisatawan dunia …..

Demikian juga untuk Jakarta. Dengan banyak bangunan2 tua dan klasik peninggalan jaman Belanda, setidaknya Jakarta bisa melestarikan bangunan2 tua dan klasik ini sabagai warisan atau ‘heritage’ bangsa, bukan menjadikan warisan ini sebagai ’sampah’ yang tidak berguna ….. sebagaimana bangunan2 tua di ‘kota tua’ yang tidak dipakai dan dibuang seperti ’sampah’ ……

1326272100453057477

13262721241803373392

Bangunan2 peninggalan jaman Belanda di Jakarta yang ‘dibuang’ ….. Seharusnya bangunan2 seperti ini dilestarikan untuk nilai2 sejarah serta pelestarian lingkunan Jakarta …..

Jangankan warga Jakarta biasa, arsitekpun tidak banyak yang mendalami dan peduli dengan bangunan2 tua dan klasik. Aku adalah salah satu arsitek yang sangat peduli dengan bangunan2 tua dan klasik. Dengan kepedulian beberapa orang tentang ini, aku ingin membuat sebuah konsep ‘kota tua Jakarta untuk dunia’, seperti di tulisan2ku tentang Jakarta ( lihat tulisanku  Sedikit Pemikiran untuk Jakarta: Manajemen Pembangunan terhadap Pertumbuhan Fisik Kota (Bagian: 19) , sampai bagian 26 ) …..

Sumber gambar : beberapa dari Google.

Profil | Tulisan Lainnya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Buruk untuk Pengguna APTB, Mulai Hari …

Harris Maulana | | 01 August 2014 | 11:45

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Mendekap Cahaya di Musim Dingin …

Ahmad Syam | | 01 August 2014 | 11:01

Generasi Gadget dan Lazy Parenting …

Umm Mariam | | 01 August 2014 | 07:58

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 8 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 10 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: