Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Sejarah Bogor Itu Penting

OPINI | 06 March 2012 | 00:14 Dibaca: 165   Komentar: 0   0

Bogor sebagai daerah yang dekat dengan Ibukota sangatlah strategis sebagai tempat singgah para perantau. Padatnya kota Jakarta tak jarang membuat banyak orang memilih bertempat tinggal di Kota Beriman ini, walaupun mereka bekerja di Ibukota. Tak ayal, beragam suku banyak terlihat disini, dari mulai Jawa, Batak, Padang, dan banyak lagi.

Kemajuan zaman di bidang teknologi dan informasi membuat Bogor pun berubah, sedikit demi sedikit kebudayaan mulai terdistorsi, apalagi ditambah faktor banyaknya penghuni rantau disini. Bukan bermaksud menyalahkan warga pribumi ataupun warga rantau, namun realita fakta ini erat kaitannya denagn perubahan zaman.

Mungkin berbeda apa yang terjadi di lingkar kota Bogor dan yang terjadi di pedesaan, namun agaknya tetap terlihat bahwa zaman telah mengikis keunikan budaya Bogor. Jika pada tahun 90an sampai 2000an dahulu anak-anak (termasuk saya) masih bermain gatrik, engkle, dan permainan tradisional Bogor lainnya, kini kita sudah kehilangan itu semua.

Maka, rencana akan pembuatan Buku Sejarah Bogor sangat perlu diapresiasi dalam bentuk dukungan pemerintah dan masyarakat Bogor. Sebagai artefak yang kemudian hari akan mengingatkan kita tentang akar kehidupan yang ada disini. Terlebih bagi generasi muda Bogor. Sebagaimana kita ketahui, dari sejarahlah kita akan membangun masa depan yang lebih baik. Harapan besar agar jati diri masyarakat Bogor tidak akan tercerabut hilang di makan zaman harus dimunculkan kembali.

Akan lebih baik lagi jikalau sejarah Bogor dimasukkan sebagai mata pelajaran muatan lokal dalam  kurikulum pendidikan di Sekolah. Kecintaan dan kebanggan akan Bogor akan tumbuh saat masyaraktnya mengetahui perihal kegemilangan Bogor di masa lalu. Spirit membangun Bogor pun tertular tak hanya di kalangan warga pribumi, namun juga perantau. Jangan sekali-sekali engkau melupakan sejarah, begitu kata Bung Karno.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 11 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 12 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 13 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 14 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 12 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 12 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 12 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 13 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: