Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Anang Wicaksono

"Temanmu yang sesungguhnya adalah orang yang mau melarangmu (dari berbuat dosa), dan musuhmu yang sebenarnya selengkapnya

Bertindak Adil (Sekalipun) Terhadap Musuh

OPINI | 20 March 2012 | 17:10 Dibaca: 353   Komentar: 0   0

Barangkali ini adalah sebuah tindakan yang sulit atau mustahil dilakukan oleh sebagian orang. Pada tulisan kali ini saya akan mengetengahkan sebuah contoh yang bagus tentang hal ini.

Peristiwa ini terjadi pada masa kekhalifahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan di Bashrah dalam perang Jamal, Imam Ali harus menghadapi pemberontakan lain yang dilakukan oleh Muawiyah.

Pemberontakan terhadap khalifah yang sah ini dilakukan oleh Muawiyah di tahun 37 H. Pertempuran hebat antara kedua pasukan berkobar di daerah yang dinamakan Siffin.

Pasukan pemberontak tiba terlebih dahulu di daerah Siffin. Di dekat situ terdapat sebuah sungai yang airnya bening dan mengalir deras. Muawiyah dan pasukannya menggunakan air sungai tersebut untuk minum dan memberi minum kuda-kuda dan unta-unta mereka. Muawiyah memerintahkan pasukannya untuk menjaga sungai tersebut dan menghalangi pasukan Imam Ali untuk menggunakan air sungai itu nantinya.

Tak lama berselang pasukan Imam Ali pun tiba di daerah Siffin. Dalam keadaan kehausan pasukan Imam Ali meminta izin pada pasukan Muawiyah untuk menggunakan air sungai tersebut tapi mereka menolaknya dan menghalang-halangi.

Pasukan Imam Ali mendatangi Sang Imam mengadukan masalah tersebut. Imam Ali mengerti akan kelicikan Muawiyah. Beliau berkata pada pasukannya,”Bila kalian menginginkan air, basahilah pedang-pedang kalian dengan darah.”

Yang maksudnya adalah bila kalian menginginkan air maka berjuanglah untuk mendapatkannya. Maka pertempuran berkecamuk di sepanjang sungai. Pasukan Imam Ali berhasil menghalau pasukan Muawiyah dari sungai. Mereka lalu menggunakan air sungai tersebut sebaik-baiknya.

Mereka berkata pada Imam Ali,”Wahai Amirul Mukminin, kami akan menjaga sungai ini agar pasukan Muawiyah tak bisa minum di sini.”

“Jangan lakukan hal itu,” kata Imam Ali.”Itu tindakan tidak adil dan sangat pengecut. Allah menciptakan air untuk semua makhluk-Nya. Biarkan mereka meminum air sungai ini bila mereka menginginkannya.”

“Tapi Muawiyah telah melakukan hal itu.”

“Itulah bedanya Ali dan Muawiyah,” ujar Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Java Jazz On The Move” di Kota Batu …

Wahyu Jatmiko | | 04 March 2015 | 23:39

Masjid Vs Televisi; Kisah Kerisauan Moral …

Subronto Aji | | 05 March 2015 | 00:05

Kompasiana Drive&Ride: ”Be Youthful, …

Kompasiana | | 26 February 2015 | 22:29

Ruki : “Menjadi Ketua KPK Itu …

Abanggeutanyo | | 05 March 2015 | 01:25

Move On Agriculture di Purworejo …

Saryanto Bpi | | 04 March 2015 | 21:26


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Negara Bekas Jajahan Belanda …

Rudi Hartono | 3 jam lalu

Coretan Tangan Ahok: “Pemahaman Nenek …

Edi Abdullah | 3 jam lalu

Horree! Indonesia Punya Polisi Terjujur …

Anton Kapitan | 5 jam lalu

Ekuivokasi di Sekitar Kisruh Ahok-DPRD …

Nararya | 9 jam lalu

Ahok Vs. M. Taufik dan Kutukan Kulminasi …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: