Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Muhammad Arief Rosyid Hasan

Aku adalah aku. Banyak kurang, sedikit lebihnya. Masih belajar menyempurna. Yakin Usaha Sampai

Tan Malaka, Jejak Sang Revolusioner*

REP | 24 March 2012 | 06:10 Dibaca: 891   Komentar: 1   0

Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum, segenap waktu ia harus siap sedia dan ikhlas buat menderita “kehilangan kemerdekaan diri sendiri” (Tan Malaka)

Sekumpulan kata di atas menggambarkan bagaimana secuil ide Tan Malaka tentang sebuah arti kemerdekaan. Kemerdekaan itu tidak sederhana yang kami tangkap secara tersirat. Butuh kerja keras, bahkan harus rela menekan segala potensi mengembangkan kepentingan sendiri untuk kepentingan yang lebih besar atau umum.

Dulu kita tak banyak tahu, tentang sejarah Tan Malaka. Ibrahim Datuk Tan Malaka nama lengkapnya, sengaja dihilangkan oleh orde baru karena semangat revolusionernya yang menembus batas kelaziman.

Gerakannya yang bersentuhan langsung dengan rakyat untuk melawan ketertindasan mungkin menjadi salah satu alasan Orde Baru untuk menghilangkannya. Orde baru dengan sangat rapih mengkonstruk sejarah demi kelanggengan kuasanya.

Tokoh-tokoh nasional yang cenderung moderat  seperti Soekarno, Hatta, Kartini, dan lain-lain dengan massif diperkenalkan, meskipun juga banyak yang dimodifikasi sejarahnya. Berbeda dengan tokoh-tokoh nasional yang memiliki karakter radikal, militan, dan revolusioner seperti Marko Kartodikromo, Tan Malaka, dan lain-lain dengan sengaja dilupakan bahkan dihilangkan dari jejak sejarah Republik Indonesia.

Baru setelah orde baru tumbang, sedikit demi sedikit kebenaran sejarah terungkap. Di beberapa gedung yang menampilkan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi penting tentang sejarah Republik Indonesia dengan legowo telah memajang tokoh seperti Tan Malaka. Bahkan di setiap toko buku, tak asing lagi kita temukan buku karya Tan Malaka atau buku-buku yang membahas khusus Tan Malaka.

Harry Poeze seorang sejarawan asal Belanda, menulis buku tentang biografi Tan Malaka : Pergulatan Menuju Republik menggambarkan Tan Malaka dalam tiga makna. Pertama, Tan Malaka sebagai anak manusia yang mengalami suatu proses kehidupan yang penuh konflik dan dramatis. Kedua, Tan Malaka sebagai sebuah tokoh aktivis politik yang berkembang menjadi seorang pejuang yang milian, radikal, dan revolusioner. Ketiga, Tan Malaka sebagai intelektual-pemikir yang melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot, dan brilyan.

Tan Malaka, lahir dari keluarga terpandang secara adat di sebuah desa kecil Pandan Gadang. Meskipun tak dapat diketahui tanggal, bulan, dan tahun kelahirannya, namun Poeze cenderung memilih tahun 1897. Asumsinya sederhana bahwa sekoah waktu itu baru menerima murid baru pada usia 6 tahun, dan Sejak 1903, Tan Malaka terdaftar sebagai murid sekolah rendah (sebutah Sekolah Kelas Dua) di Suliki pada tahun 1903.

Dengan bantuan gurunya G.H. Horensma di Sekolah Raja, Bukit Tinggi, Tan Malaka melanjutkan sekolahnya ke Negeri Belanda. Tak hanya kecerdasannya yang membuat gurunya tersebut tertarik kepadanya, tapi juga perangainya yang sopan, lincah, dan riang. Seiring dengan ketertarikan gurunya, Tan Malaka juga sangat menghargai gurunya tersebut. Di dalam diri gurunya tersebut, Tan Malaka menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang agung yang mampu menembus segala batas perbedaan.

Corak pandangan bahwa di dalam diri setiap manusia terus-menerus terjadi pertarungan antara nilai kebaikan dan keburukan, dan bagaimana memenangkan nilai kebaikan atau keluhuran terhadap keburukanlah yang banyak mempengaruhi sepak terjangnya di dunia politik dan sejarah perkembangan pemikirannya.

Nilai-nilai kemanusiaan yang beradab tersebut terus terasah ketika ia sakit di luar negeri kemudian dirawat oleh ibu kos dan teman-temannya. Di tempat yang lain, teman-temannya dari beragam latar belakang seperti buruh, komuns, orang-orang cina, orang filipina, dan lain-lain juga memiliki kontribusi yang besar terhadap Tan Malaka tentang nilai-nilai kemanusiaan yang beradab tersebut.

Di perkebunan Deli, mata tan Malaka terbuka tentang betapa kejamnya sistem kapitalis yang dipraktekkan. Mereka memperlakukan keji kuli-kuli kontrak bangsanya sendiri. Kapitalis melahirkan dan menyuburkan kolonialisme dan imperialisme yang menjadikan bangsanya terjajah dan diperbudak secara tidak manusiawi.

Kekecewaannya terhadap Sarekat Islam, Budi Utomo, dan Indisce Partij disebabkan oleh ketidakberdayaan organisasi-organisasi tersebut membela nasib bangsanya yang melarat dan sengsara di perkebunan. Menjadilah Tan Malakah seorang Marxis dan Komunis, tetapi bukan yang dogmatis dan fanatik sempit.

Gagasannya tentang Republik Indonesia mendahului Soekarno dan Hatta. Buku dengan judul Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925 menjadi bukti otentik pemikirannya tentang Republik Indonesia. Bung Hatta baru menulis brosur Indonesia Merdeka pada tahun 1930 dan Bung Karno  menulis brosur ke arah Indonesia Merdeka pada tahun 1932. Kemerdekaan yang dicita-citakannya bukan hanya sekedar kemerdekaan politik, tetapi kemerdekaan dalam segala aspek.

Massa Actie (Massa Aksi) terbit pada tahun 1926, sebagai analisis yang tajam terhadap revolusi atau perjuangan politik yang memerdekakan bangsa dan tanah airnya hanya mungkin berhasil kalau mendapat dukungan yang besar dan kuat dari massa rakyat. Pada tahun 1942-19443, Madilog : Materialisme,, Dialektika, dan Logika lahir sebagai buah karyanya yang terbak.

Madilog mengandung esensi pemikiran Tan Malaka tentang bangsa dan tanah airnya. Dengan berani ia menganalisa nasib malang bangsanya, dan berdasarkan itu mengemukakan jalan keluar dari rundungan nasib yang buruk itu. Tan Malaka menggugat lamanya bangsa Indonesia terjajah, kemudian harus di apakan Bangsa Indonesia agar mampu mengusir penjajah seutuhnya.

Perbudakan dan kezaliman terhadap bangsanya dianggap Tan Malaka sebagai efek sistem kapitalis dan sistem feodalis yang dibangun oleh kaum kolonial. Sistem kapitalis berhasil menjajah dan memperbudak bangsanya, lalu sistem feodal yang juga memperbudak bangsanya kemudian memungkinkan datangnya penjajahan asing.

Kematiannya yang tragis pada tanggal 19 Februari 1949 mengakhiri seluruh kisah heroiknya dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Tan Malaka ditembak mati oleh sekelompok tentara Republik Indonesia di zaman revolusi. Lebih menyesakkan, karena tidak seorangpun tahu tempat Tan Malaka dikuburkan.

* Tugas Resensi Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 6 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 14 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 16 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 9 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 9 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 9 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: