Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Dalang Pembantaian G30S/PKI

OPINI | 06 May 2012 | 14:01 Dibaca: 26125   Komentar: 10   5

perambah.wordpress.com


Antara 50 sampai 100 anggota PKI dibunuh setiap malam di jawa timur dan jawa tengah oleh pasukan anti-komunis sipil dengan restu Angkatan Darat. sebuah misionari disurabaya melapor bahwa 3.500 PKI dibunuh antara tanggal 4 sampai 9 November 1965 di kediri dan 300 orang dibunuh di pare.

(Dokumen CIA)

Sejarah kelam bangsa ini terjadi ditahun 1965-1966 dimana pembantaian saudara sebangsa terjadi, di awali dengan tindakan sewenang-wenang PKI merampas tanah milik rakyat dan tanah milik negara. tanah milik rakyat dirampas karena menurut PKI menganggap itu berlebihan maksudnya kekayaanmu berlebihan maka kami mengambilnya.

Dibanding era Musso, PKI di jaman D.N Aidit lebih disukai rakyat, PKI yang dikenal sebagai partai rakyat dengan simbol palu arit yaitu petani dan kuli bangunan yang berjanji memajukan para petani disamping janji lain PKI  memberikan tanah bagi rakyat yang bergabung dengan PKI.

PKI yang dikenal sebagai tak bertuhan walau pemimpinnya DN Aidit pendiri perkumpulan keagamaan, “Nurul Islam” tetapi bagaimana bisa membiarkan anggotanya melakukan pesta mabuk-mabukan dan tarian telanjang pria dan wanita menjadi satu di tempat umum.

Perang dingin yang telah terjadi di dalam negara ini telah sampai puncaknya dimana PKI melakukan G30S/PKI.  Pemberontakan itu terjadi, akan tetapi seperti era musso pada era D.N Aidit mengalami kegagalan. Dampak dari pemberontakan sangatlah dahsyat, Semua agama di indonesia mengakui pembantaian terhadap PKI harus terjadi, sehingga di pelosok negeri ini terjadi pembantaian manusia, diperkirakan 500 ribu sampai 1 juta tewas dalam pembantaian, yang sebagian di bantai hanya cap PKI bukan anggota PKI sesungguhnya.

Untuk kita yang hidup dijaman sekarang pasti berpikiran bahwa pembantaian itu tidak terjadi akan tetapi untuk orang-orang yang masih hidup dan melihat kejadian tersebut, pembantaian itu harus terjadi. Mungkin, jika pemberontakan itu sukses, bisa jadi kita tidak mengenal apa itu internet, karena mungkin orang tua kita telah dibantai.

Siapakah yang salah?

Bangsa ini hanyalah sebuah pion kecil dari 2 kekuatan besar di dunia. Semua tidak dapat terelakkan dari perseteruan 2 paham kapitalis dan sosial komunis.

Pemberontakan PKI terjadi setahun sebelum revolusi kebudayaan di china, jika Musso lebih pada Unisoviet, maka D.N Aidit pada china. Banyak perkiraan apabila pemberontakan ini berhasil, maka indonesia menjadi negara komunis terbesar ke-3 setelah china dan unisoviet, tentu komunis sudah menjadi setengah dari populasi penduduk dunia.  Amerika pun beranggapan jika itu sampai terjadi, apa gunanya menang perang dari vietnam. sehingga kekuatan bawah tanah pun dibangun.

Di era Demokrasi Terpimpin, antara tahun 1959 dan tahun 1965, Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam bentuk bantuan militer untuk jenderal-jenderal militer Indonesia. Menurut laporan di media cetak “Suara Pemuda Indonesia”: Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43 batalyon angkatan bersenjata Indonesia. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militer sayap kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun.

Negara ini bagai pion dalam permainan catur, pengorbanan pion untuk mendapat perwira besar adalah taktik yang selalu dijalankan. Suatu contoh korban dari perseteruan dua kekuatan besar ini adalah Jerman Barat dan Jerman Timur. Sedangkan korban yang sampai sekarang masih berseteru adalah Korea Selatan dan Korea Utara.

Negara ini memiliki beragam agama,suku dan kebudayaan, akankah kita kan menjadi pion dari dua kekuatan besar.akankah kita harus saling serang padahal kita lahir di tanah yang sama, Tanah Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelantikan Presiden Jokowi Menggema di …

Ely Yuliana | | 20 October 2014 | 20:18

Jokowi Jadi Cover Story Tabloid ChinaDaily …

Rahmat Hadi | | 20 October 2014 | 20:13

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15

Hampir Tertipu dengan ‘Ancaman’ Petugas …

Niko Simamora | | 20 October 2014 | 19:49

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 6 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 7 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 12 jam lalu

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 12 jam lalu

SBY Purna Tugas, Akun @SBYudhoyono Ikut …

Dody Kasman | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pelantikan Jokowi, Antara Prabowo, Narsis …

Rahab Ganendra 2 | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | 10 jam lalu

Ekspresi Optimisme Indonesia dalam Pesta …

Suryani Amin | 10 jam lalu

Ahh, Setelah Euforia Ini, Aku Harus Bekerja …

Tjia Cn | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: