Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Irvan Sjafari

Saat ini bekerja di sebuah tabloid komunikasi dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. selengkapnya

Sejarah Kota dan Kabupaten Sukabumi (2): Api dan Darah di Antara Kebun, Pendudukan Jepang, dan Perang Kemerdekaan (1942-1949)

OPINI | 03 July 2012 | 00:02 Dibaca: 3753   Komentar: 0   0

13412303331333495512

Salah satu bekas pertempuran di Sukabumi 1946 (sumber foto: Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946 dilansir Forum.Detik)

Pendudukan Jepang

Pendudukan Jepang di Sukabumi di mulai dengan  pendaratan di Banten dan Eretan. Dari arah Banten-lah,  Pada hari Jum’at  tentara Jepang memasuki Kota Sukabumi. Mereka membombardir Kota Sukabumi dari Cibadak Dalam waktu yang begitu cepat, Jepang berhasil  menguasai Sukabumi karena mendapat bantuan dari K. H. Ahmad Sanusi yang memerintahkan anggota AII dan BII  untuk menunjukkan pusat-pusat pertahanan Hindia Belanda di Sukabumi. Dengan menerapkan strategi menyerang dari arah belakang, satu per satu pusat pertahanan Hindia Belanda dapat dikuasai oleh Jepang.

Seorang pegawai kantor pos bernama Sutan Iskandar pada waktu akhir masa Hindoa Belanda melukiskan deskripsi menarik tentang mausknya tentara Jepang ke  Sukabumi. Di kantor pos semua orang Belanda hilang, apakah ditangkap atau melarikan diri. Jadilah Sutan Iskandar sebagai pemimpin PTT de fakto di Sukabumi.

Sukabumi katanya adalah kota yang tenang. Malahan bendera merah putih telah berkibar setelah Belanda menyerah ke Jepang.   Namun di suatu minggu, terjadi kerusuhan dan penggarongan yang dilakukan oleh orang –orang tertentu. Kekacauan berlangsung selama 3 hari, kemudian datanglah tentara Jepang dengan berbagai peralatan militernya. Kota Sukabumi dalam waktu relatif singkat menjadi aman, akan tetapi kini semua kantor kantor pemerintah dibawah orang Jepang. (http://dryuliskandar.wordpress.com/2011/07/05/awal-zaman-jepang/)

Pada masa pendudukan,  Jepang   melakukan mobilisasi rakyat Indonesia, pasukan pendudukan Jepang membentuk organisasi Gerakan Tiga A yang dijiwai oleh semboyan Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia pada 29 April 1942. Tujuannya  adalah sebagai upaya menanamkan tekad penduduk agar berdiri sepenuhnya di belakang pemerintah militer Jepang.

Untuk mencapai tujuannya itu, Gerakan Tiga A kemudian menerbitkan surat kabar Asia Raja. Gerakan ini dipimpin oleh Mr. Sjamsudin, Ketua  Muda Partai Indonesia Raya (Parindra) yang pernah memegang jabatan sebagai wakil wali kota Sukabumi pada masa penjajahan Belanda . Sjamsudin ini anak Penghulu Sukabumi, R. Achmad Djuwaeni.

Dalam  menghadapi berbagai persoalan keagamaan dan nasionalisme, ia berseberangan dengan ayahnya. Dalam masalah ini, ia justru sepaham dengan K. H. Ahmad Sanusi dan memutusan untuk menjadi anggota AII yang pada waktu itu sangat dominan di Sukabumi.

Pada masa pendudukan Jepang orang Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi Walikota. Yang menjabat mula-mula Raden Rangga Adiwikarta, kemudian Raden Abas Wilagosomantri. Keduanya menjabat dalam hitungan bulan saja. Yang menjadi Walikota kemudian adalah Raden  Syamsudin 1942 hingga 1945.  Pada masa kemerdekaan Raden  Syamsudin menjabat juga menjadi walikota pertama zaman Republik.

Pendudukan Jepang di Sukabumi juga meninggalkan catatan kelam. Di antaranya adalah penculikan sejumlah perempuan untuk dijadikan jugun lanfu (pelayan seksual tentara Jepang).  Anna Mariana dalam tulisannya Tiada Rotan Akar pun Jadi: Kisah Gedung Inspektorat Sukabumi ( dalam http://etnohistori.org/tak-ada-rotan-akar-pun-jadi-kisah-gedung-inspektorat-sukabumi.html ) ditulis pada Juli 2011.

Dalam paparannya Anna menyebutkan tentara Jepang mengambil sebuah rumah orang Belanda (yang mungkin bernama Kipers) untuk dijadikan rumah bordil.  Para perempuan direkrut secara paksa dan bukan hanya mengalami perkosaan tetapi juga penyiksaan.  Terdapat ratusan perempuan di Sukabumi dan sekitarnya menjadi korban perbudakan seksual.   Kekuatan tulisan dari Anna Mariana ini ialah pada oral history atau keasaksian para pelaku yang mengalami masa itu.

Sukabumi  1945-1946:  Pertempuran-pertempuran Besar

Hampir seluruh referensi yang saya dapatkan mengungkapkan bahwa masa 1945-1946 untuk kawasan Sukabumi adalah bagian Perang Kemerdekaan paling berdarah baik di pihak Indonesia maupun di pihak Belanda dan Sekutu.  Beberapa kali terjadi pertempuran secara frontal.

Di Jawa Barat, BKR tidak hanya dibentuk di tingkat propinsi saja, melainkan juga dibentuk di tiap-tiap kabupaten bahkan sampai di tingkat kecamatan. Di Sukabumi, proses pembentukan BKR tidak dapat dilepakan dari peranan K. H. Ahmad Sanusi. Dengan mempergunakan Pesantren Gunung Puyuh, pada akhir bulan Agustus 1945,

Ajengan Sanusi beserta dengan para tokoh masyarakat lainnya memutuskan untuk membentuk BKR di Sukabumi.

Pada 27 Agustus 1945, KNID  Keresidenan Bogor berhasil dibentuk dengan ketuanya dijabat oleh R. S. Suriadiredja. Tidak lama kemudian, K. H.Ahmad Sanusi beserta segenap tokoh masyarakat Sukabumi lainnya membentuk KNID setempat. Dr. Abu Hanifah kemudian ditunjuk oleh mereka sebagai Ketua KNID Kotapraja Sukabumi (Tjahaja, 4 September 1945)

Proses pengambilalihan kekuasaan di Sukabumi tidak selancar yang diharapkan. K. H. Acun Basyuni dan Dr. Abu Hanifah memastikan bahwa baik Bupati Sukabumi tidak bersedia menyerahkan kekuasaannya.  Mr.Sjamsudin dan Mr. Harun masing-masing sebagai Walikota dan Bupati Sukabumi.

Pada Senin, 1 Oktober 1945 ribuan rakyat Sukabumi membanjiri Gedung Societet Soekamanan yang kemudian menjadi Gedung Juang 45 dan Kantor  KNID/BKR. K.Acun Bacuni menjadi Kepala BKR.  Bendera  Merah Putih kemudian dikibarkan  di seluruh jawatan dan instansidi Kota dan Kabupaten.  Sejumlah bangunan dan pabrik diambil alih. Di antaranya Pabrik Mesin PT. Indonesia Sukabumi.

Pabrik ini di zaman Belanda merupakan pabrik mesin berat untuk kepentingan para onderneming.  Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pabrik ini diberi nama RI  Salamat.  Setelah terbentuknya TKR, pabrik mesin tersebut dirubah menjadi pabrik senjata, dipimpin oleh Kapten Saleh Norman dan Rd, O. Atmadja sebagai Kepala pabrik. Senjata yang diproduksi antara lain granat tangan, senapan mesin ringan, sten gun hingga meriam berat,

Pada 2 Oktober 1945 perjuangan dilanjutkan dengan perebutan kekuasaan di daerah sekitar Sukabumi seperti Jampang Tengah, Jampang Kulon, Pelabuhan Ratu. Perebutan kekuasaan ini diikuti oleh perebutan senjata. Sejumlah pabrik yang direbut antara lain pabrik Kina di Tegal Panjang, Pabrik Teh Goal Para.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai anggota KNIP, K. H. Ahmad Sanusi berupaya mempersiapkan para  santrinya dan masyarakat umum untuk mempertahankan kemerdekaan. Untuk menunjang itu, Barisan Islam  Indonesia (BII), yang didirikan oleh K. H. Ahmad Sanusi tahun 1937, dijadikan sebagai laskar perjuangan.

Dalam perjuangan kemerdekaan, Sukabumi mencatat suatu peristiwa heroik pada pertempuran di kawasan Bojongkokosan pada  9 dan 10 Desember 1945. Dalam pertempuran ini terlibat tidak  hanya TKR tetapi juga berbagai elemen laskar perjuangan. Di antara laskar itu adalah Barisan Hisbullah, Barisan Sabilillah,  Barisan Banteng, Barisan Pesindo hingga Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi.

Pasukan-pasukan mencegat konvoi sekutu yang hendak memasuki Sukabumi dan dicurigai membawa unsur-unsur NICA yang maksud tersembunyi mengambil alih pemerintahan RI. Dalam pertempuran itu sejumlah kendaraan sekutu dihancurkan atau rusak. Sekalipun pasukan sekutu akhirnya bisa memasuki Sukabumi, namun ditaksir sekitar 50 tentara mereka terbunuh dan puluhan lain luka-luka.

Sekutu akhirnya melakukan perundingan pemerintahan Sukabumi. Perundingan dilakukan di rumah Mr. Samsudin dan dihadiri oleh Dr. Abu Hanifah, Mr.Harub Bupati Sukabumi, pihak TKR diwakili oleh Letnan Kolonel Eddie Soekardi (dalam litreratur lain kerap disebut Edi Sukardi) dan Mayor Omar Abdurrahman Komandan Batalion IV TKR.  Pihak sekutu sendiri mengutus Mayor Erwin Singh dari markas Briagde Inggris di Bogor dan Sukabumi.

Korban pertempuran Bojongkokosan dan pemboman di Cibadak di pihak Republik dirawat di rumah sakit Sekarwangi dan Rumah Sakit Santa Lidwina Sukabumi. R. Abu Hanafah Kepala Rumah Sakit Santa lidwina mendirikan organisasi Palang Merah dibantu dr. Tjong Nyan Han. Dapur juga difungsikan untuk logistik makanan didirikan di bawah pimpinan Ny. Hadi Atmojo.

Fakta yang menarik patut dicatat ialah terlibatnya dua orang bekas tentara Jepang melatih perang para pemuda di Hotel Warna Sari. Dua orang Jepang ini tidak mau pulang ke negrinya dan mereka masuk Islam mengganti namanya menjadi Karta dan Soma.

Tak banyak catatan yang saya dapat mengenai pertempuran setelah peristiwa Bojongkokosan. Di antara yang saya dapat Harian Kedaulatan Rakjat pada 15 Maret 1946 menulis:

Chabar terachir tentang keadaan di Soekaboemi menjatakan padab tgl 12-3 pesawat2 terbang Inggris menembaki Soekaboemi dari atas.  Pasoekan-pasoekan mereka datang dari Bogor masih tertahan di loear kota Soekaboemi.

Atas perintah Pemeirntah Poesat kita, maka pada tgl. 13-3 poekoel 23.00 pertempoeran dihentikan oleh pihak kita. Sampai pagi keesokan harinja pasoekan2 Indonesia tidak melepas tembakan2 lagi. Tetapi meskipoen demikian tadi pagi poekoel 11.00 pesawat2 terbang Inggris menembaki dan membom desa Waroengkandang dengan bom2 pembakar.  Serangan ini oleh pihak Indonesia tidak dibalas karena mengingat disiplin.

Dalam berita itu juga disebutkan tentara Inggris juga mengirim bala bantuan dari jurusan Cicurug yang terdiri dari 3 tank, 15 truk sedang, 4 truk besar, sebuah panser dan 4 meriam. Karena perinath penghentian pertempuran masih berlaku bala bantuan ini tidak diganggu tentara Indonesia.  Namun hingga Maret 1946 disebutkan Inggris sudah kehilangan tiga buah tank hancur, sekitar 30 truk mengalami kerusakan. Sedang korban jiwa belum diketahui.

Sebuah referensi lain menyebutkan pada  13 Maret 1946, Komandan Divisi ke-23 Tentara Inggris di Bandung  memerintahkan Brigadier N.D.Wingrove untuk membantu kelancaran jalannya konvoy dari Sukabumi menuju Bandung dengan kekuatan pasukan Brigade I, yang terdiri dari 2 Kompi Pasukan Zeni tempur, disertai dengan satuan-satuan pengawalnya.

Sepanjang rute perjalanan menuju Bandung pertempuran terus berkecamuk di sekitar Cisokan, Citarum dan Purabaya. Asrama-asrama pasukan kita ditembaki dengan meriam. Di daerah Padalarang musuh mengadakan pembersihan sampai jauh sekelilingnya. Beberapa perwira TRI tertawan antara lain Mayor Sidik Brotoatmojo. Kepala Staf Resimen 9.

Serangan malam hari terhadap Tentara Sekutu di kota Sukabumi (11 dan 12 Maret 1946)  yang dilakukan pasukan Indonesia  telah menimbulkan korban pada hari pertama, tewas 2 orang opsir Inggris dan 26 serdadu India. Pada hari kedua tewas 3 orang opsir Inggris, 1 orang opsir India dan 37 orang serdadu India (Djuju Amidjaja dalam Pertempuran Convoy Bojong Kokosan 1945-1946 dalam http://pertempurandijawabarat.blogspot.com/)

Data yang juga menarik adalah kesaksian  KH.  Sholeh Iskandar (pimpinan pasukan santri)  seperti  yang ditulis oleh blogger http://azies-site.blogspot.com/2012/01/kh-sholeh-iskandar-peranan-pondok.html (penulis mengutip Al-Muslimun- Halaman:267 (Edisi: 39 Zulhijjah 1412 H/ Juni 1992) yang melukiskan pertempuran di bawah pimpinan KH Jamsari dengan tentara sekutu di Sindangbarang (Bogor) menyebabkan gugurnya 26 syuhadah  (waktunya tidak disebut tetapi saya perkirakan pada 1946) dan pertempuran tentara atau sekutu atu Belanda dengan pasukan Hizbullan di Babakan, Parung, Ciseeng, menyebabkan ustad M Muchtar, Kompi Komandan Iyon Hizbullah pimpinan Effendi gugur sebagai syuhadah, terjadi tanggal 13 Juni 1946.

Front Sukabumi di Bawah Kawilarang

Dalam buku yang ditulis Ramadhan KH AE Kwilarang: Untuk Sang Merah Putih memang disebutkan bahwa pada Agustus 1946 Kawilarang diangkat sebagai komandan Brigade Dua (Divisi Siliwangi)  yang meliputi wilayah tugas Bogor-Sukabumi-Cianjur dengan pangkat Letkol.  Dia menggantikan Letkol Edi Sukardi yang dipindahkan ke Tasikmalaya.  Kawilarang bukan saja menghadapi persoalan menghadapi tentara Belanda, tetapi juga mengatur laskar-laskar yang ada di wilayahnya.

Dalam buku itu diungkapkan di wilayah Sukabumi pada waktu itu ikut beroperasi apa yang disebut  Laskar Rakjat Djakarta Raja (LRDR). Apa yang menjadi tuga smereka di Sukabumi menjadi tanda tanya. Yang jelas menurut penuturan Kawilarang mereka tidak disiplin dan tidak pernah membantu garis depan.  Mereka melepas tembakan dengan semau-maunya dan sering tidak membayar atau menggagu toko-toko dan restoran-restoran.

Sesudah berapa kali memberikan peringatan kepada komandannya yang rupanya tidak dapat mengatur anak buahnya, pada Agustus  1946 itu juga Kawilarang  dan Kepala Stafnya Mayor Akil memutuskan mengambil tindakan.  Sekitar 200 anggota LRDR ditangkap dalam dua jam dan ditahan selama dua hari.  Mereka kemudian diperintahkan kembali ke Jakarta atau bergabung dengan akwan-kawan mereka di Kerawang.

Kawilarang juga menangkap anggota tentara yang tidak disiplin terutama yang suak menganggu toko-toko milik orang Tionghoa dan suka bertindak kobow-koboy-an. Akhir September 1946 Brigade Dua berhasil membuat wilayah Sukabumi aman.

Brigade Dua Siliwangi membawahi lima batalion. Batalion 6 eks Resimen Tangerang di Sukanagara menghadapi musuh di Cibeber dan Cianjur di abwah pimpinan Mayor Kusno Utomo, Bataklyon 7  di daearh Sukabumi menghadapi musuh yang ada di gekbrong dipimpin Kapten R.A.Kosasih, Batalyon 8 di Bogor dipimpin Mayor Ibrahim Adjie. Batalyon 9 di pimpin Kapten effendi , serta Batalion 10 dipimpin Kapten H. Dasuki Bakri  mengahdapi Belanda di sekitar Rumping, Ciampea, Kracak dan Gunung Menyan.

Dalam menghadapi Belanda sewaktu Agresi pertama Kawilarang tidak saja hanya memikirkan pertempuran, tetapi juga logistik. Sekalin wilayah sukabimi mempunyai Perkebunan Teh dan Karet yang kaya , wilayah itu sebetulnya minus beras.  Untuk mencari beras harus ke wilayah Cianjur dan Pagadegan.

Kami mesti  mencari beras. Kami dapatkan jalannya melalui orang Tionghoa bernama Oey Ek Koey. Bagian perlengkapan di bawah pimpinan Kapten Louis Yahya mengaturnya. Oey Ek Koey mengangkut hasil perkebunan ke Jakarta dan menjualnya. Kami ketahui ia harus kongkongklingkong denagn orang Belanda di Jakarta.  DEia menyuap basis komando Belanda sebesar F 10.000 untuk tiap kali pengangkutan beras ke Sukabumi.

Pertempuran besar di wilayah Sukabumi terjadi pada waktu Agresi I   21 Juli 1947. Tentara Belanda lengkap dengan persenjataan lebih modern masuk dari arah timur melalui jalan raya dan jalan-jalan kecil di dalam kota Sukabumi pada hari itu sore harinya.  Pertempuran terjadi di batas kota.  Malam harinya Sukabumi jatuh ke tangan Belanda.

Bupati M. Suardi dan para stafnya mengungsi ke daerah Nyalindung. Walikota Sukabumi dan dr. Abu Hanifah ditangkap pasukan Belanda dan dibawa ke Jakarta. Belanda mengangkat Hilman Jayadiningrat sebagai Bupati NICA Sukabumi. Kepala Kepolisian Sukabumi Bidin Suryagunawan dan pejabat kepolisian Bogor Sumbada bersama sebagian polisi kota menggabungkan diri dengan TNI membentuk markasnya di Naylindung di bawah pimpinan Kolonel Kawilarang.

Namun seperti yang ditulis dalam  buku AE Kawilarang  untuk Sang Merah Putih hingga beberapa  hari sesudah Agresi Belanda sejumlah wilayah masih 100% dikuasai pihak Republik. Secara de facto pasukan Kawilarang mengusai sebelah tenggara dari garis Cibeber, Lapengan (Cianjur) Jembatan Cireunghas, Jembatan Leuwiliang  dan Jembatan Padabenghar  (Sukabumi). Sebagian daripada pasukan Batalyon 7 tetap berada di Gung Gajah di selatan Cisaat, sebelah utara Cisaat-Cibadak.  Patroli Belanda takut melintasi jalan-jalan di daerah de facto.

Dalam buku itu banyak fakta yang menarik betapa adaptasinya tentara Republik. Misalnya untuk mobilisasi sebuah Sedan Ford 1929 dimodifikasi bagian belakangnya hingga menjadi sebuah truk kecil yang dapat mengangkut 20 orang.  Untuk bahan bakarnya digunakan bensin karet.

Setelah perjanjian Renville 17 Januari 1948  tentara Siliwangi sesuai perintah Kolonel A.H. Nasution sebagai panglima meninggalkan kantong-kantong di Jawa Barat untuk Hijrah ke Yogyakarta.

Sukabumi 1949

Tidak terlalu banyak sumber saya dapatkan mengenai situasi Sukabumi periode 1948-1949. Saya menemukan sebuah artikel menarik berjudul Years of living dangerously: The Memoirs of Princen (Part One) yang dimuat dalam Inside Indonesia, 1992 memberikan beberapa informasi tentang kiprah mantan tentara Belanda yang membelot memihak Republik ini.

Dalam artikel itu disebutkan pria bernama Haji Johannes Cornelius Princen ini dilahirkan di The Hague, Belanda pada 1925. Ayahnya Arnoldus Petrus Paulus Princen adalah guru menggambar dan ibunya bernama Theresa Maria Anna kerap menulis sajak.  Sejak masa anak-anak dan remaja kecintaan terhadap hak asasi manusia tertanam. Ibunya pernah menulis puisi yang memprotes intervensi Italia (di bawah Mussolini) ke Albania dan Etophia.

“Kita harus menjadi kekuatan merdeka melawan serangan fasisme”.  Demikian tulis sang Ibu. Pengalaman engeri Belanda ketika diduduki Jerman membentuk ideologi anti penjajahan pada diri Princen. Dia pernah dimasukan ke dalam kamp konsentrasi di Belanda oleh Jerman. Ketika dia menjadi tentara Belanda dengan pangkat Kopral dikirim ke Indonesia, hati nuraninya pun bergolak: Apa bedanya Belanda meyerang Indonesia dengan Jerman menyerang Belanda?

Pada 26 September 1948 berbagai kebrutalan yang dilakukan tentaranya membuatnya muak dan Princen meninggalkan KNIL di Jakarta menyeberangi garis demarkasi dan bergabung dengan pihak lawan yakni Tentara Nasional Indonesia di sekitar Semarang.  Ketika tentara Belanda menyerang Yogyakarta, Princen bergabung dengan tentara Siliwangi dan ikut Lonchmarch ke Jawa Barat.

Diceritakan Princen ke Sukabumi yang masih diduduki tentara Belanda dan sempat bersembunyi di rumah Aoh K. Hamidjaya, seorang kawannya. Kemudian bergabung dalam sebuah unit TNI yang pernah bersama dia waktu longmarch.  Unit ini menyerang sebuah pabrik tekstil di Sawalega, Cisaat, Sukabumi yang dijaga 30 tentara Belanda pada Maret 1949. Dengan hanya membawa tujuh orang, pasukan ini berhasil merampas sejumlah senjata mauser mereka dan memuatnya ke truk lalu pergi ke Gunung Gede. 1

Menurut memoar tersebut unit Princen terlibat pertempuran di Salabintana dan menyerang sebuah pos polisi di Sukaraja dan merebut 30 pucuk senjata. Unit ini juga terlibat kontak senjata di stasiun Gandasoli dengan polisi belanda yang datang dengan sebuah kereta api.  Seorang polisi Belanda tewas dan sebuah senjata dirampas. 2

Tentara Belanda sangat marah pada Princen. Diam-diam pada 8 Agustus 1949  Pasukan Istimewa Belanda dengan pimpinan Letnan Henk Ulric dengan tipu muslihat menyamar sebagai tentara TNI  memburu  unit Princen di Perkebunan teh Gunung Rosa.  Penyergapan gagal, namun istri Princen bernama Odah yang sedang hamil terbunuh.3

Tragisnya dalam sidang Dewan tanggal 1 Agustus 1949 dikeluarkan satu seruan kepada kedua belah pihak yang sedang bermusuhan (Indonesia – Belanda) untuk segera menghentikan tembak-menembak; menyelesaikan pertikaiannya dengan cara perwasitan (arbitrase) atau dengan cara-cara damai yang lain dan melaporkan tantang hasil-hasil penyelesaian itu kepada Dewan Keamanan. Demikianlah  pada  4 Agustus 1949 ekdua eblah pihak mengumumkan berlaku gencatan senjata .

Irvan Sjafari

Catatan Kaki

1 Dalam tulisan di Serdadu Bernama Princen dalam Politikana 19 April 2011 yang ditulis Hendijo( http://politikana.com/baca/2011/04/19/serdadu-bernama-princen-2.html) disebutkan yang menjaga itu milisi Poh An Tui (milisi orang Tionghoa yang dipersenjatai Belanda) dna yang dirampas bebrapa karaben.

2 Ibid

3 Ibid

Sumber lain:

Riwayat Perjuangan K.H. Ahmad Sanusi yang ditulis Miftahul Falah, diterbitkan pada 2008 oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia

Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Jilid VI, Jakarta: Balai Pustaka 1984

Ruyatna Jaya, Sejarah Sukabumi, Pemkot Sukabumi,  2003

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 7 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: