Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Harta Karun di Tanah Sriwijaya

REP | 07 July 2012 | 15:15 Dibaca: 2348   Komentar: 2   0

SETELAH enam tahun lebih berkeliling Sumatera Selatan, begitu luar biasa sumber daya alamnya. Selain bertebaran emas, beragam bentuk, dan jenis kadarnya, di beberapa tempat di Sumatera Selatan; sejumlah petilasan kerajaan pun masih ada. Meski keberadaannya terkesan ditutup-tutupi.

Beberapa bangunan pabrik, maupun museum, didirikan sekedar untuk mengaburkan keberadaan peninggalan bersejarah, dengan alasan: untuk kepentingan negara. Padahal sebenarnya punya maksud dan tujuan lain. Atau bungkamnya warga setempat karena takut diintervensi oleh pihak-pihak tertentu. Entah kenapa kisah bertebaran emas di Tanah Sriwijaya dibuat ‘merancu’.

Kalau mau diteliti lebih jauh, Tanah Sumatera Selatan ternyata pernah menjadi persinggahan kerajaan-kerajaan tertentu, mulai dari abad ke-7 hingga ke-17. Jika merujuk pada Kitab Babad Tanah Jawi, pada masa itu (abad ke-7), adalah masa kejayaan sekaligus runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, yang meninggalkan sisa-sisa peradaban pada zamannya, setelah sempat menaklukkan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Philipina.

Ada beberapa tempat−di Tanah Sumatera Selatan−yang diyakini masih terdapat emas, peninggalan masa kerajaan-kerajaan, setelah pecahnya Kerajaan Sriwijaya. Begitu pula di bagian lain, masih di Tanah Sumatera Selatan, terdapat harta peninggalan VOC yang lokasinya tidak bisa dijamah, karena katanya dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata.

Menjelajahi Sumatera Selatan, saya pernah bertemu dengan seseorang warga, ia mengaku pernah mendapatkan senjata dan patung kecil, terbuat dari emas. Namun, ia merasa harus mengembalikan benda tersebut ke tempat asalnya. Ia takut, katanya, benda itu bisa membawa bencana. Sementara di lain tempat (di kabupatenyang berbeda), ada juga yang memperlihatkan kepada saya sebuah arca emas. Arca-arca itu merupakan peninggalan dari kerajaan-kerajaan, yang pernah berdiri di Tanah Sumatera Selatan. Sementara di tempat lain, ada pula yang menyesal karena terlanjur menukar benda peninggalan bersejarah dengan mobil senilai Rp 1.2 Miliar.

Selain bertebaran situs bersejarah lainnya, di Pagaralam juga pernah ada seseorang keturunan Belanda, mengambil emas berbentuk pusaka, di rumah batu. Kini semenjak kejadian tersebut, bagi pengunjung yang ingin melihat rumah batu, harus mengisi buku tamu terlebih dahulu. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan.

Pernah suatu ketika, saya dimintai bantuan membuat ilustrasi untuk sampul buku kamus dalam tiga bahasa: daerah, Indonesia dan Inggris. Buku tersebut adalah hasil kajian riset bahasa dari salah seorang profesor Ohio University. Saya sempat menaruh curiga, kenapa jauh-jauh dari Amerika,  datang ke Sumatera, katanya riset bahasa daerah? Jangan-jangan ini hanya kedok, alih-alih hanya untuk mencari keberadaan emas di Tanah Sumatera.

Saya berharap, benda-benda peninggalan bersejarah, yang tidak ternilai harganya itu, jangan dijamah oleh siapapun! Termasuk Pemerintah Indonesia. Biarlah benda itu ada pada tempatnya, agar kelak penerus bangsa ini bisa mengetahui perjalanan sejarah yang sebenarnya.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 5 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 6 jam lalu

Aset Penting “Dikuasai”, SDA …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: