Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Harta Karun di Petilasan Sriwijaya

REP | 07 July 2012 | 15:15 Dibaca: 2470   Komentar: 2   0

SETELAH enam tahun lebih berkeliling di Sumatera Selatan, tak disangka begitu berlimpah sumber daya alamnya. Kandungan hasil bumi seperti minyak dan gas, misalnya, masih belum bisa dinikmati oleh masyarakatnya. Selain terdapat barang-barang berharga dengan berbagai bentuk, ukuran, dan kadarnya; di Sumatera Selatan juga terdapat sejumlah sisa bangunan pada masa Kerajaan Palembang dan petilasan bersejarah lainnya.

Munculnya pabrik-pabrik dan museum-museum yang sengaja dibangun di Palembang Sumatera Selatan itu, diduga hanya untuk mengaburkan benda-benda berharga bersejarah. Ditambah masyarakatnya yang membungkam karena alasan yang tidak jelas. Padahal pada abad ke-7 hingga 17, kerajaan-kerajaan di Nusantara pernah menginjakkan kakinya di Sumatera Selatan. Barangkali salah satunya adalah Kerajaan Siwijaya.

Merujuk pada Kitab Babad Tanah Jawi, pada kejayaannya tertulis bahwa Sriwijaya pernah menaklukkan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Philipina. Bahkan di Sumatera, Sriwijaya meninggalkan sisa-sisa kejayaan pada zamannya. Sedangkan di Sumatera Selatan−yang diyakini masih terdapat emas sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan setelah pecahnya Sriwijaya−di bagian lain, diduga masih terdapat benda-benda berharga peninggalan VOC, yang lokasinya tidak bisa dijamah oleh siapapun.

MENJELAJAHI Sumatera Selatan, saya pernah bertemu dengan seorang warga yang mengaku menemukan senjata dan patung kecil dari emas. Namun ia mengurungkan niat untuk memilikinya, lalu mengembalikan benda tersebut ke tempat asalnya. Ia takut jika benda tersebut justru malah membawa bencana.

Tak hanya itu, di tempat lain juga pernah ada yang memperlihatkan saya sebuah arca emas. Arca-arca itu merupakan peninggalan dari kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Tanah Sumatera Selatan. Ada pula yang menyesal karena terlanjur menukar benda peninggalan bersejarah dengan mobil senilai Rp 1.2 Miliar.

Di Pagaralam pernah ada kejadian seorang keturunan Belanda mengambil emas berbentuk pusaka di bungker batu. Kata orang: bungker itu adalah rumah batu. Semenjak kejadian itu, kini bagi pengunjung yang ingin melihat bungker batu harus mengisi buku tamu terlebih dahulu. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Pernah suatu ketika saya dimintai bantuan membuat ilustrasi untuk sampul buku cerita dan kamus dalam tiga bahasa: Daerah, Indonesia dan Inggris. Buku tersebut adalah hasil riset bahasa seorang Profesor dari Ohio University. Jauh-jauh dari Amerika datang ke Sumatera untuk riset bahasa daerah?

Saya merasa aneh mengapa harus Sumatera yang dipilih? Apa yang membuat Profesor itu sangat tertarik untuk meneliti salah satu bahasa di Sumatera? Atau jangan-jangan hanya ingin mencari “emas” ? Sebab mendengar cerita-cerita yang beredar, dulu pada waktu Perang Dunia II banyak orang asing menyimpan emas di tanah Sumatera. Mereka tidak sempat membawanya, melainkan hanya peta—petunjuk lokasi disimpannya emas-emas mereka—yang dibawa pulang ke negaranya.

Belum banyak orang mengetahui tentang Tanah Sumatera, khsusnya Sumatera Selatan. Saya berharap benda-benda peninggalan bersejarah yang tidak ternilai harganya itu, jangan dijamah oleh siapapun! Termasuk Pemerintah Indonesia sendiri. Biarlah benda-benda yang bernilai sejarah itu tersimpan di tempatnya, agar kelak penerus bangsa ini bisa mengetahui perjalanan sejarah yang sebenarnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 6 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 9 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 11 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 11 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Perempuan Berkabut Musim …

Budhi Wiryawan | 7 jam lalu

Kado Berwarna Biru Dari Alex …

Agustina | 7 jam lalu

Cerita dari Kotamobagu, Kota Terkecil di …

Ferdinand Mokodompi... | 7 jam lalu

Rakyat Miskin Tidak Boleh Sakit …

Emilia . | 8 jam lalu

Tak Ada Tionghoa Kristen atau Islam, Semua …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: