Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Harta Karun di Tanah Sriwijaya

REP | 07 July 2012 | 15:15 Dibaca: 2427   Komentar: 2   0

SETELAH enam tahun lebih berkeliling Sumatera Selatan, begitu luar biasa sumber daya alamnya. Selain bertebaran emas, beragam bentuk, dan jenis kadarnya, di beberapa tempat di Sumatera Selatan; sejumlah petilasan kerajaan pun masih ada. Meski keberadaannya terkesan ditutup-tutupi.

Beberapa bangunan pabrik, maupun museum, didirikan sekedar untuk mengaburkan keberadaan peninggalan bersejarah, dengan alasan: untuk kepentingan negara. Padahal sebenarnya punya maksud dan tujuan lain. Atau bungkamnya warga setempat karena takut diintervensi oleh pihak-pihak tertentu. Entah kenapa kisah bertebaran emas di Tanah Sriwijaya dibuat ‘merancu’.

Kalau mau diteliti lebih jauh, Tanah Sumatera Selatan ternyata pernah menjadi persinggahan kerajaan-kerajaan tertentu, mulai dari abad ke-7 hingga ke-17. Jika merujuk pada Kitab Babad Tanah Jawi, pada masa itu (abad ke-7), adalah masa kejayaan sekaligus runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, yang meninggalkan sisa-sisa peradaban pada zamannya, setelah sempat menaklukkan Thailand, Malaysia, Singapura, dan Philipina.

Ada beberapa tempat−di Tanah Sumatera Selatan−yang diyakini masih terdapat emas, peninggalan masa kerajaan-kerajaan, setelah pecahnya Kerajaan Sriwijaya. Begitu pula di bagian lain, masih di Tanah Sumatera Selatan, terdapat harta peninggalan VOC yang lokasinya tidak bisa dijamah, karena katanya dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata.

Menjelajahi Sumatera Selatan, saya pernah bertemu dengan seseorang warga, ia mengaku pernah mendapatkan senjata dan patung kecil, terbuat dari emas. Namun, ia merasa harus mengembalikan benda tersebut ke tempat asalnya. Ia takut, katanya, benda itu bisa membawa bencana. Sementara di lain tempat (di kabupatenyang berbeda), ada juga yang memperlihatkan kepada saya sebuah arca emas. Arca-arca itu merupakan peninggalan dari kerajaan-kerajaan, yang pernah berdiri di Tanah Sumatera Selatan. Sementara di tempat lain, ada pula yang menyesal karena terlanjur menukar benda peninggalan bersejarah dengan mobil senilai Rp 1.2 Miliar.

Selain bertebaran situs bersejarah lainnya, di Pagaralam juga pernah ada seseorang keturunan Belanda, mengambil emas berbentuk pusaka, di rumah batu. Kini semenjak kejadian tersebut, bagi pengunjung yang ingin melihat rumah batu, harus mengisi buku tamu terlebih dahulu. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan.

Pernah suatu ketika, saya dimintai bantuan membuat ilustrasi untuk sampul buku kamus dalam tiga bahasa: daerah, Indonesia dan Inggris. Buku tersebut adalah hasil kajian riset bahasa dari salah seorang profesor Ohio University. Saya sempat menaruh curiga, kenapa jauh-jauh dari Amerika,  datang ke Sumatera, katanya riset bahasa daerah? Jangan-jangan ini hanya kedok, alih-alih hanya untuk mencari keberadaan emas di Tanah Sumatera.

Saya berharap, benda-benda peninggalan bersejarah, yang tidak ternilai harganya itu, jangan dijamah oleh siapapun! Termasuk Pemerintah Indonesia. Biarlah benda itu ada pada tempatnya, agar kelak penerus bangsa ini bisa mengetahui perjalanan sejarah yang sebenarnya.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 9 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: