Back to Kompasiana
Artikel

Sejarah

Ajinatha

Kaum Proletar buruh para Kapitalis yang kebetulan saja hobby menulis..

“Konflik” Menjelang Proklamasi Kemerdekaan

OPINI | 09 August 2012 | 20:40 Dibaca: 2703   Komentar: 6   4

foto : redblood.blog.fisip.uns.ac.id

foto : redblood.blog.fisip.uns.ac.id

Banyak peristiwa sejarah yang cukup penting terjadi menjelang Proklamasi RI tahun 1945, tapi dalam tulisan ini saya mengkhususkan untuk menulis tentang sisi pemuda, tentang patriotisme pemuda indonesia di saat itu yang menurut saya punya peranan yang cukup penting di dalam memproklamasikan Indonesia. Pada setiap jamannya Pemuda selalu menjadi inspirator Pembawa Perubahan, dalam setiap negara setiap perubahan selalu ada pemuda yang terlibat. Makanya peran pemuda dalam sebuah negara itu mempunyai arti yang sangat penting, kualitas pemuda pada suatu negara akan sangat menentukan kualitas suatu negara di masa depan.

Jakarta kala itu sangat tegang. Golongan tua termasuk Bung Karno dan Bung Hatta berpendapat sebaiknya kemerdekaan dicapai tanpa pertumpahan darah. Ini dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak Jepang. Sebaliknya kelompok pemuda sudah tidak sabar lagi. Kemerdekaan harus segera diproklamasikan tanpa bantuan dan melibatkan bangsa asing mana pun. Kelompok pemuda malah menganggap Bung Karno dan Bung Hatta kejepang-jepangan, padahal ini adalah strategi Diplomasi yang harus dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta.

Pada 15 Agustus 1945 pukul 20.00, di salah ruangan Lembaga Bakteriologi, di Pegangsaan Timur 17 (sekarang Fakultas Kesehatan Masyarakat UI), para pemuda dan mahasiswa mengadakan pertemuan di bawah pimpinan Chaerul Saleh. Hasilnya, pukul 23.00 mereka mengutus Wikana dan Darwis mendatangi Bung Karno dan mendesak agar esok hari (16/8) memproklamasikan kemerdekaan. Bung Karno menolak. Alasannya ia dan Bung Hatta tidak ingin meninggalkan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Apalagi PPKI esoknya akan rapat di Jakarta.

foto : rosodaras.files.wordpress.com

foto : rosodaras.files.wordpress.com

Bung Karno dan Bung Hatta menginginkan kemerdekaan ini bisa dicapai dengan cara negosiasi dengan jepang, namun dengan cara demikian Bung Karno dan Bung Hatta di cap ke jepang-jepangan oleh Syahrir. Perbendaan pandangan antara Bung Syahrir dengan Bung Karno dan Bung Hatta, tidaklah ditanggapi secara serius oleh Bung Karno, tapi dengan cara itulah Bung Syahrir memanasi Pemuda agar mendesak Bung Karno dan Bung Hatta segera memerdekakan Indonesia. Apa yang dilakukan Bung Syahrir adalah demi kemerdekaan Indonesia, hanya saja caranya dipandang oleh Bung Karno dan Bung Hatta terlalu radikal, Bung karno dan Bung Hatta tidak menginginkan adanya pertumpahan darah.

foto : 1.bp.blogspot.com

foto : Chairul saleh - 1.bp.blogspot.com

Adalah AM Hanafi, seorang tokoh Angkatan ‘45 dan mantan dubes RI di Kuba, dalam buku Menteng 31 menulis, ”Tanggal 14 Agustus 1945 pukul 15.00 beberapa pemuda radikal berkumpul di sebuah pekarangan yang banyak pohon pisangnya, tidak jauh dari lapangan terbang Kemayoran. Mereka adalah Chaerul Saleh, Asmara Hadi, AM Hanafi, Sudiro, dan SK Trimurti. Kami menantikan kedatangan Bung Karno dan Bung Hatta dari Saigon. Kami pikir keduanya diiming-imingi Jepang dengan janji kemerdekaan kelak di kemudian hari. Janji yang kami anggap menghina bangsa Indonesia. Kami para pemuda tidak mau kemerdekaan hadiah.”

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta hendak masuk mobilnya, Chaerul Saleh menghampiri mereka, dan berkata, ”Proklamirkan kemerdekaan sekarang juga.” Bung Karno yang tidak senang didesak mengatakan, ”Kita tidak bisa bicara soal itu di sini. Lihat itu, Kempetai mengawasi kita.” Lalu ia masuk ke mobil di mana Hatta sudah berada di dalamnya.

foto : WIKANA- upload.wikimedia.org

foto : WIKANA- upload.wikimedia.org

Ketegangan antara Pemuda Indonesia dengan Bung Karno dan Bung Hatta ini memang hanya disebabkan perbedaan persepsi anatar generasi, para pemuda menginginkan sesuatu segera terwujud, sementara Bung Karno dan Bung Hatta masih menginginkan meraih kemerdekaan dengan cara yang damai tanpa pertumpahan darah, makanya ketika Wikana mengancam, ”Kalau Bung Karno tidak mau mengumumkan proklamasi, esok akan terjadi pertumpahan darah di Jakarta.” Bung Karno pun naik pitam, ”Ini batang leherku. Potonglah leherku malam ini juga.” Wikana terkejut melihat kemarahan Bung Karno itu.

Namun para pemuda tidak terus putus asa, tetap berusaha untu memaksa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Ancaman para pemuda rupanya bukan omong kosong. Pada 16 Agustus 1945 pukul 04.00, setelah sahur, mereka menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Di sini sekali lagi para pemuda di bawah pimpinan Sukarni gagal memaksa keduanya untuk memproklamasikan kemerdekaan.

‘Perdebatan’ kelompok muda dan tua terjadi kembali pada menit-menit menjelang proklamasi. Meski proklamasi diputuskan akan dibacakan pukul 10.00 di kediaman Bung Karno, para pemuda tetap gelisah. Mereka khawatir tentara Jepang akan menggagalkannya. Mereka mendesak Bung Karno segera membacakannya tanpa menunggu Bung Hatta.

”Saya tidak akan membacakan teks proklamasi kalau Bung Hatta tidak ada. Jika Mas Muwardi tidak mau menunggu, silakan baca sendiri,” kata Bung Karno dengan lantang. Tak lama kemudian terdengar teriakan, ”Bung Hatta datang… Bung Hatta datang….” Tepat pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan RI pun diproklamasikan.

Jadi sangat jelas peran pemuda Indonesia saat itu demi untuk kemerdekaan Indonesia, andil pemuda indonesia cukup besar dalam detik-detik menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, namun peran pemuda ini hanya ada tercatat dalam sejarah, nama-nama mereka jarang sekali disebutkan pada setaiap acara-acara proklamsi kemerdekaan. Setelah kemerdekaan juga peranan pemuda dalam membawa perubahan bangsa sangatlah menonjol, saat Bung Karno turun juga, pemuda cukup berperan dalam memberikan tekanan-tekanan, begitu juga ketika pemerintahan Orde Baru Lengser. Jadi kalau Bung Karno pernah mengatakan Beriakan aku pemuda, maka aku akan mengguncangkan Dunia. Jadi begitu bangganya Bung Karno pada pemuda Indonesia. Akankah Pemuda Indonesia terus membuat sejarah ? Pastinya akan terus, karena pemuda itu sangat identik dengan semangat perubahan. SALAM MERDEKA….

Tulisan ini sengaja saya tuliskan untuk mengenang kembali berbagai peristiwa menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tulisan ini saya kutip dari berbagai sumber, baik dari buku, media on line juga dari blog pribadi saya. Semoga saja tulisan ini bisa menggugah semangat kaum muda, betapa pentingnya peranan kaum muda terhadap sebuah perubahan sebuah bangsa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 7 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 8 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 9 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 11 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: